
EPISODE 118 (S2)
Aku sama sekali tidak tahu bagaimana proses lamaran yang sebenarnya. Dalam budaya, kami tak pernah dibekali mengenai hal tersebut. Jikalau Rio masih hidup dan kedua orangtua kami masih ada, tentu saja kami akan tahu bagaimana prosesi lamaran tersebut, sesuai latar belakang budaya yang kami miliki. Namun, hal itu tidak pernah kami dapatkan. Secara budaya, kami tak jelas identitas yang akan dipilih. Jikalau aku yang melamar seorang wanita, maka akan aku pilih prosesi yang lebih umum, tidak berlatar belakang budaya apa pun.
Aku tak yakin Kakek Syarif akan sepenunya menerapkan budaya Melayu pada kami. Kami sama sekali tidak ada keturunan lelaki Melayu karena Melayu diturunkan melalui silsilah orangtua lelaki. Aku hanya mengikuti bagaimana Kakek Syarif akan menghelat seluruh prosesi, jikalau lamaran ini diterima oleh Pak Ucok. Pak Ucok pun aku rasa membebaskan kami melakukannya sesuai adat apa, karena anak yang akan menikah merupakan perempuan, bukan laki-laki.
Siapa yang tidak kaget ketika ada dua orang mendatangi dan menyatakan bahwasanya ingin melamar anaknya. Jikalau aku menjadi dirinya, sudah berkali-kali jantungku ingin pecah karena hal tersebut. Pak Ucok masih tak bergumam sedikit pun, menatapi kami berdua yang tiba-tiba datang dengan maksud tak biasa. Mungkin selama ini setiap orang datang padanya, jika tidak ingin membeli barang harian, maka meminta tanda tangan untuk surat-menyurat. Sebenarnya kami ingin meminta tanda tangannya, legalitas sakral tersirat yang diucapkan dari orangtua lelaki sang calon. Sama saja, bukan?
“Tunggu sebentar .... Pak Syarif kan namanya?” Ia menggelengkan kepala tanda masih tidak yakin. Kakek Syarif meresponnya dengan mengangguk, tetapi hal tersebut tak bisa menghindari wajahnya yang kaget. “Ingin melamar anak saya?”
“Oh, maksud saya ... bukan saya yang melamar anak bapak. Saya udah punya istri, masa nambah lagi. Dan bukan anak ini juga yang melamar. Kami datang untuk menyampaikan pesan bahwasanya anak kami ingin mempersunting anaknya Bapak,” balas Kakek Syarif.
“Siapa?” tanya Pak Ucok kembali. “Ini bukan prank di tipi-tipi, kan?”
Aku sontak menyembunyikan tawaku di balik wajah. Kami tak mengais rejeki dengan cara itu, masih banyak cara yang lain.
“Dika ....” Kakek Syarif menoleh padaku kemudian. Ia mendekat ke telinga. “Siapa nama lengkap abang kau itu?”
“Andika Reymond,” balasku padanya. Namun, aku potong pembicaraan antara mereka berdua. “Iya, benar. Abang aku, Pak RT. Dia cinta mati kali sama anak bapak. Tiap malam menanyakan anak bapak sama aku, ya aku mana tahu tentang Kak Rani.”
Aku sedikit menirukan logat Bataknya yang khas.
“Dika anak Reymond yang dulu kecil sering main ke sini?”
Kini, aku baru tahu bahwasanya ia sering main ke sini sejak kecil. Setahuku, ia selalu bergaul sama anak belakang komplek yang terkenal bandel dan juga anak komplek sebelah untuk diajak berkelahi ketika bermain bola. Entah bagaimana anak itu bisa lepas main ke sini semenjak kecil. Setahuku, Kak Rani sangat jarang keluar rumah, kecuali untuk bekerja. Dulu pun seperti itu, ia merupakan anak rumahan.
“Dika sering main ke sini waktu kecil?” tanyaku dengan heran.
Kakek Syarif yang tak mengerti hanya bisa diam mendengar kami saling bertanya.
“Kau mana tahu, masih kecil kau dulu. Dia kalau pulang MDA, selalu beli es kiko ke kedai ini. Aku masih ingat di tasnya banyak sekali kartu gambar mainan anak SD. Setiap pulang dari MDA, selalu sama Rani. Mainlah dia di teras sama Rani. Sampai-sampai, bapak kau Reymond itu, mencarinya ke sini karena tak pulang-pulang.”
Mendengarnya, aku sekan mendapatkan bahan ejekan baru yang akan diucap sewaktu di bengkel nanti. Semakin seru apabila Reira tahu mengenai hal ini. Ia pasti malu ketika aku sebut cinta ini merupakan cinta lama yang baru tersampaikan sekarang, atau bisa jadi cinta yang terlambat untuk diakui dan dirasakan. Aku tak menyangka Dika sejak dahulu memiliki teman secantik Kak Rani. Aku kira teman-temannya kurang lebih sepertinya yang berandal.
“Sebaiknya kita bicarakan ini sambil ngopi atau ngeteh, Pak.” Kakek Syarif mengucapkan tanpa basi-basi.
“Alamak Jang! Enggak sopan kali aku, bah!” Ia bergerak keluar dari kasir kedai. “Mari, Pak Syarif ... kita masuk dulu.”
Bergerak kami menuju ruang tamu kediaman Pak Ucok. Istrinya pun terkejut tatkala bisikan Pak Ucok mengatakan maksud kedatangan kami. Tak bisa ia menyembunyikan wajah panik tersebut darinya. Berkali-kali ia menyentuh dada. Entahlah, mungkin begini debar-debar kedua orangtua ketika gadisnya ingin dipinang oleh seorang pria. Tidak hanya pria yang merasakan degupan jantung tersebut.
Seperti yang dikatakan oleh Pak Ucok, dirinya memang sudah berkedai semenjak kami kecil. Namun, kedai harian miliknya tidak sebesar sekarang. Dahulu hanyalah kedai kecil yang berisikan jajan anak-anak.
Didatangi oleh kami untuk membeli air dingin selesai main bola, atau mampir sebentar ketika pulang dari sekolah umum atau MDA. Pada masaku, Kak Rani jarang sekali keluar rumah. Aku tahu bahwa Pak Ucok memiliki anak perempuan pada saat itu, tetapi aku sama sekali masih belum tahu rupa wajahnya. Ketika remaja tatkala gelora hasrat melihat wanita tengah timbul, barulah kami bertanya-tanya siapa gerangan mutiara komplek yang selalu bersembunyi di rumah ini, meskipun aku dan teman-temanku terlampau jauh umurnya dari Kak Rani.
Pak Ucoknya meminta izin untuk berbicara. Mereka masuk ke dalam, sementara itu kami diizinkan untuk duduk di ruang tamu. Kakek Syarif merokok lintingan setelah sebelumnya meminta izin untuk menghisap tembakau di sini. Seperti biasa jika pertama kali masuk ke rumah orang, selalu saja ada ada keinginan untuk memerhatikan setiap detail rumah ini. Aku tahu itu tidak sopan, tetapi jika pemilik rumah sedang di sana, aku rasa tidak apa-apa.
“Seberapa cantik anaknya Pak Ucok?” tanya Kakek Syarif pelan-pelan.
“Kenapa kita membicarakan cantiknya dahulu, Kakek. Harusnya bagaimana baiknya Kak Rani. Tapi, cukup cantiklah.”
“Haha ... kau benar. Tapi, itu cukup perlu untuk perkenalan.” Ia mengeluarkan asap rokoknya. “Cantikan mana, Rani itu atau Fany?”
“Wah, perbandingan umurnya jauh sekali. Jelas cantik Kak Rani.”
“Oh, iya juga .... dibandingkan Reina atau Reira.”
Aku memilih membandingkannya dengan Kak Reina. Jujur, di antara kedua bersaudara itu, Kak Reina yang paling estetik wajahnya.
“Tentu saja Kak Reina. Tapi, beda-beda dikit lah. Kak Reina itu cantik karena anak orang kaya, banyak perawatan. Nah, kalau yang ini cantik alami.”
“Dika punya selera yang bagus.” Kakek Syarif mengangguk.
Barulah Pak Ucok tiba dan duduk di sofa tunggal di seberang kami. Melihat Kakek Syarif yang sudah menghisap tembakau duluan, ia turut membakar rokok mild yang biasa dijadikan faforit bagi anak-anak muda. Istri Pak Ucok datang membawakan tiga cangkir kopi untuk kami berdua, kemudian ia menarik kursi kayu untuk berdiskusi bersama.
“Beneran Dika suka sama Rani, David?” tanya istri Pak Ucok. Dari dulu kami selalu memanggilnya dengan sebutan Ibu Nasution. Hal itu dikarenakan suaminya bermarga Nasution. Meskipun beliau sama-sama keturunan batak, tetapi logatnya sudah bercampur dengan budaya sekitar.
Kakek Syarif berdehem. “Jadi sebenarnya, kedatangan kami ke sini untuk menyampaikan pesan bahwa Dika pengen mempersunting anak Ibu. Sebelum kami secara resmi melamar, alangkah lebih baiknya dulu mengirim perwakilan untuk berunding. Apakah kami diizinkan untuk datang di kemudian hari atau tidak.”
Kedua pasangan suami istri tersebut saling bertatap mata. Terlihat sekali Bu Nasution tidak sanggup untuk menjawabnya. Tangan ibu tersebut mempersilahkan bagi Pak Ucok yang lebih berhak untuk menjawab pernyataan tersebut.
“Sebelum aku menjawab itu, Pak Syarif. Aku mau bilang kalau selama ini kami tak pernah mendengar jika anak aku punya pacar atau tidak, apa dia sedang ada suka sama cowok atau tidak. Ini mengenai masalah hati dan kita enggak mau serta merta menjawab hal tersebut.”
“Dika dan Rani benar-benar saling kenal sebelumnya?” tanya Kakek Syarif untuk memperjelas informasi tersebut.
“Memang, bisa dibilang mereka itu teman masa kecil. Sewaktu masih balita, ibunya David ini sudah membawa Dika buat main ke kedai kami sekalian belanja harian. Waktu malam, terkadang Pak Reymond bermain domino di sini sambil membawa Rio dan Dika jajan. Mereka masuk di SD yang sama dan sekolah agama yang sama. Seperti yang aku bilang, Dika selalu mampir ke sini untuk jajan kalau pulang dari MDA. Tapi, mereka enggak pernah ketemu lagi waktu SMP. Rani aku kirim ke pesantren, lalu masuk di MAN dekat rumah, tapi Dika itu sekolahnya di STM. Ditambah lagi Rani itu makin gadis makin tertutup, jarang bergaul, sampai udah bekerja seperti sekarang.”
Ternyata ada masa lalu yang melekat di antara mereka berdua. Seperti lembaran kertas lama usang yang sudah lama melekat, lalu dibuka kembali di kemudian, masih terdapat sisa-sisa bekas tempelan yang mengukir. Ada sebuah ingatan masa lalu yang tak bisa mereka berdua hindari dari kejadian demi kejadian, peristiwa demi peristiwa. Ternyata, bekas lekatan tersebut sangat tertanam benak Dika hingga timbullah sebuah rasa yang merundungi hatinya saat ini.
“Kakek Syarif ini kami jadikan sebagai orang terpercaya kami karena seperti yang bapak tahu, kedua orangtua kami sudah enggak ada. Keluarga kami semuanya entah ke mana. Aku jujur-jujur aja, Pak. Memang begitulah keadaan kami.”
Beliau pun mengangguk. “Sebagai RT, saya tahu apa yang terjadi sama kalian. Sejak Pak Reymond meninggal dan ibumu juga, kalian hidup sendirian tanpa keluarga. Aku masih ingat waktu Dika yang meradang waktu enggak ada satu pun keluarga dari kalian yang datang melayat.”
Ingat sekali aku kejadian itu. Sama sekali tidak ada keluarga dari kedua belah pihak keluarga Ayah dan Ibu yang datang. Kami hanya dihibur oleh teman-teman Ayah dan Ibu, serta tetangga sekitar yang menaruh peduli.
“Seperti yang Bapak tahuy, Dika sudah punya usaha. Lumayan besar untuk satu keluarga kecil. Aku bukan melebihkannya karena Dika adalah saudaraku sendiri. Ya, itulah jerih payah Dika untuk membangun sisa-sisa dari keluarga kami. Alangkah dia dapat pelengkap yang baik, seperti hatinya yang baik.”
Pak Ucok menatapku lurus. Bibirnya masih terselipkan sebatang tembakau yang belum dihisap sama sekali. Seketika ia menghela napas sembari meletak batang rokoknya di atas asbak.
“Baiklah, aku bukan menolak, bukan pula menerima. Semuanya ada di tangan Rani, anakku. Aku tak bisa langsung bilang iya karena ini masa depan anakku sendiri. Rani sudah dewasa untuk memilih pasangannya. Jadi, biar dia sendiri yang menentukan pilihan.”
Kakek Syarif mengangguk paham, walaupun tanpa menoleh pada Pak Ucok.
“Untuk tidak memperpanjang diskusi kita, jadi bagaimana kesimpulan dari Bapak sendiri? Apakah kami masih diizinkan datang untuk datang di kemudian hari? Keputusan memang ada di tangan anak Bapak, tetapi keputusan diperbolehkannya kami datang keeseokan hari ada pada Bapak sendiri.”
Beliau menoleh pada Kakek Syarif. Matanya serius tak biasa. “Aku ingin besok Dika datang bertemu denganku langsung. Akan aku dengar pernyataan seriusnya kepada anak aku. Setelah itu, Dika akan tahu jawaban apakah Pak Syarif dan rombongan bisa datang di kemudian hari.”
Tangan Kakek Syarif langsung menjulur untuk bersalaman. Kebiasaan bernegosiasi, menurutku.
“Saya setuju. Biarkan Dika sendiri yang menghadap ke orangtua pujaan hatinya.”
Pak Ucok pun tersenyum. Ia seruput kopi di hadapannya. “Akan aku pertemukan langsung Dika dengan anakku, Rani. Jika Rani setuju, Dika akan jadi anakku nanti.”
Dika menjadi anakku nanti ....
Kalimat itu sangat membekas di dalam hatiku. Betapa sensitifnya hati ini terhadap mereka yang mengakui eksistensi masing-masing dari kami. Betapa bahagia ketika kami diangap oleh orang lain, termasuk memiliki sosok figur orangtua baru yang bisa dijadikan tempat mengadu di kemudian hari. Hatiku menangis haru mendengar hal tersebut. Aku rasakan Ibu dan Ayah tersenyum di alam sana, mendengar anaknya yang sedang berusaha mencari pendamping hidup. Aku tak bisa membayangkan mereka berdua menggendong cucu mereka sendiri. Namun, aku hanya bisa mernapas penuh kerelaan terhadap semua yang terjadi.
“Apakah ada lawan domino di sini?” tantang Pak Ucok tiba-tiba.
Sontak Kakek Syarif melihatku. “Akan kita coba keberuntungan aku dan kau.”
“Hahah ... tunggu sebentar aku telepon yang akan jadi teman aku nanti.” Ia menoleh pada istrinya. “Buatkan dulu pisang goreng sama teh telur buat mereka. Mereka pasti belum pernah minum teh telur.”
“Teh telur? Ah, jangan bercanda Bapak. Saya ini juga lama di Sumatera.” Kakek Syarif memberesi plastik tembakaunya untuk dimasukkan kembali ke sebalik jaket.
“Ayo, kita ke meja depan!” seru Pak Ucok.
Seru sekali bermain domino bersama Pak Ucok. Aku beruntung bisa menjadi rekan Kakek Syarif melawan kolaborasi partai bapak-bapak Kedai Pak Ucok. Namun, aku dan Kakek Syarif tidak mampu menyaingi mereka berdua. Akhirnya, kami pun mengalah berkat selalu dibantai habis-habis. Walaupun begitu, aku menikmati permainan ketika menjadi rekan Kakek Syarif.
Kami pun pamit pulang setelah puas menikmati teh telur dan pisang goreng buatan Bu Nasution. Baru kali ini aku mencoba minuman ini. Memang, aku pernah melihat menu tersebut sewaktu mampir di salah satu gerai minuman. Namun, tidak pernah ingin aku mencobanya. Menurut Kakek Syarif, minuman ini merupakan minuman khas Sumatera Barat dan banyak ditemui di Sumatera.
Terkejut Dika sewaktu aku katakan ia harus bertemu Pak Ucok hari esok. Namun dari balik itu, ia senang bukan main bahwasanya ia diterima untuk berkunjung ke rumah calonnya tersebut, apalagi ia akan dipertemukan langsung dengan Kak Rani.
Aku beritahu seluruh informasi yang didapat dari sana, Dika sangat berterima kasih kepada kami berdua karena hal tersebut.
Penat menjulang di atas ubun-ubun kali ini. Pasrah aku masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan tidur, meskipun belum makan besar.
Namun, aku terkejut ketika pintu utama yang aku lewati terdengar ditutup tiba-tiba. Tatkala aku menoleh, di sana ada Kakek Syarif yang menghampiriku dengan cepat. Sontak aku panik tatkala Kakek Syarif menghantamku ke tepi dinding sembari mengangkat kerahku. Aku menjinjit karena hal tersebut. Mataku melebar melihat kepalan tangan Kakek Syarif di hadapan keningku. Darahku berdesir karena takut.
“Kau kira aku anak kemarin sore yang tahu tentang ganja? Di mana kau hisap? Di mana kau simpan?” tanya Kakek Syarif.
***