
Persetan dengan masa muda. Aku tetap berada di idealisme sendiri, meskipun aku harus turut mati di dalamnya. Sulit sekali untuk bergabung seperti dulu, atau aku harus membentuk dunia baruku sendiri di kota setelah semua hal yang pernah terjadi. Entah siapa yang akan menerimaku di sana lagi. Aku harus tetap bersembunyi, bergerak dari luar untuk mengendalikan semuanya.
Jika kami dites urin oleh BNN hari ini, niscaya kami akan dijebloskan ke panti rehab karena dianggap sudah mengonsumsi narkoba. Magic Mushroom, aku mengenal kalimat itu dari teman-teman kampus. Mereka sering menyandingkannya dengan LSD atau Lysergic Acid Diethulamide berbentuk kertas perangko yang diletakkan pada langit-langit mulut untuk mendapatkan efek terbaiknya. Halusinasi berat diceritakan teman-teman kampusku yang pernah mengonsumsi benda-benda itu, seperti muka teman berwajah dua, rumput-rumput yang berjalan, atau bahkan timbulnya monster-monster di sekitar.
Dirinya curang telah meracuni kami untuk kabur. Aku mengingat pertaruhan yang ia sebut sebelumnya, aku harus menemukannya kembali agar ia mau menuruti keinginanku. Ya, ia sama keras kepalanya denganku. Mungkin karena kami satu garis keturunan, tidak terlalu ingin diintervensi oleh orang lain. Namun, aku sudah memastikan jika Kakek Kumbang masih hidup dengan mata sendiri. Semua ini tidak sia-sia, ada satu hal yang bisa aku ambil darinya
Kami turun ke lembah setelah itu. Aku berterima kasih kepada Hamzah yang telah menuntun kami menuju ke puncak. Walau bagaimana pun, ia turut andil dalam perjuangan ini. Tentu saja Bang Andalas terkejut mendengar ceritaku mengenai Kakek Kumbang yang benar-benar mendaki sendirian. Ia yang semulanya tidak percaya, kini bergeming tatkal aku tunjukkan foto Kakek Kumbang yang aku ambil secara diam-diam. Kakek Kumbang terlalu privat hingga berfoto dengan cucunya saja tidak mau.
Halaman depan rumah Bang Andalas tampak terang di malam hari ini selayaknya bintang di hamparan langit yang hitam. Kami bisa menyaksikan gelapnya kebun teh dan bawah yang terhampar di depan sana.
“Satu alasan aku berhenti melaut karena maut menjadi taruhannya,” ucap Bang Andalas di hadapan panggangan barbekyu yang sedang memanggang ayam makan malam.
“Ceritakan bagaiman kalian bisa selamat,” pintaku.
Asap menyeruak ke tengah-tengah kami tatkala Razel membantu mengipas panggangan ayam. Tatkala aku menoleh, Borneo sedang berbincang bersama Serama yang memakai jaket kulit milikku di atas teras. Terdengar riang dua anak Bang Andalas yang sedang bermain di sekitar kami, hingga ayahnya sendiri marah karena hampir menabrak panggangan.
“Ombak hampir dua puluh meter kira-kira. Petir menyambar keras sampai telingaku ingin pecah. Satu hal yang kau pikirkan Reira di saat seperti itu. Jika mati, lebih baik mati ditembak tepat di kepala daripada mati tenggalam. Mati tenggelam itu lebih sakit.” Ia membalikkan ayam-ayam yang mulai matang. “Sebagian awak kapal udah mulai bersiap dengan sampan darurat. Kapal oleng karena bagian samping yang hancur dihantam ombak. Aku, Pak Erasmus, dan Pak Kumbang paling terakhir. Enggak ada satu pun sampan darurat yang tersisa karena Kakek Kumbang berencana untuk menumbalkan dirinya sendiri. Namun, Pak Erasmus malah ikut dengan menahanku juga.”
“Berapa lama kalian terombang-ambing di laut?” tanyaku.
“Sekitar dua hari. Kami bertiga selamat dari badai berbekal pelampung. Pak Kumbang memegangi kami berdua agar enggak berpisah. Sementara aku menangis, Pak Erasmus sibuk berdoa dengan salib. Beruntung kami menemukan satu sampan darurat yang udah enggak ada orangnya. Itu tanda kalau awak kapal lain udah meninggal.”
“Aku enggak kebayang bagaimana bertahan dua hari tanpa makan dan minum,” sambung Razel.
“Pak Erasmus bilang itu makanan dari surga. Yesus pernah menurunkan makanan dari surga. Kami menangkap burung yang hinggap di atas sampan, atau menerkam ikan yang sempat mendekat. Tapi percayalah, ombak selalu mengarah ke darat. Kami sampai di bagian utara Australia setelah itu. Ada kota kecil, kami diselamatkan warga sekitar. Semenjak aku dipulangkan oleh Kakek Kumbang, aku berhenti melaut.”
Aku menghela napas. Perjuangan mereka sungguhlah berat daripada diriku yang hanya sekadar berani melaut di sekitar daratan. Lagi pula, selama perjalanan tidak ada badai yang berarti. Kami bisa melewati hujan dengan ombak berukuran sedang.
“Kakek Kumbang kembali hilang. Aku bingung mau cari ke mana,” ucapku.
“Kak, coba tunjukkan foto Kakek Kumbang yang bersama seseorang itu. Mana tahu Bang Andalas kenal orangnya,” pinta Razel.
“Pak Kumbang foto dengan seseorang?” tanya Bang Andalas.
Aku segera mengambil handphone milikku yang tampa sinyal. Terpaksa aku mengirim foto menggunakan bluetooth seperti metode lama ketika dulu sekali. Tanganku menunjukkan foto tersebut kepada Bang Andalas.
“Ini Bang … Abang tahu siapa dia?” tanyaku.
Ia sejenak menganalisa pria yang ada di samping Kakek Kumbang. Tidak lama kemudian ia menggangguk kecil.
“Jadi siapa?”
“Bupati Kuantan Singingi. Dia pengusaha sawit yang terpilih beberapa bulan lalu. Kenapa aku tahu? Adik iparku tinggal di Teluk Kuantan, jadi aku sama istri pernah ke sana.”
“Kuantan Singingi?” Aku seakan tidak asing dengan daerah tersebut.
“Itu … nama kabupaten di Riau. Kalau kalian tahu Festival Pacu Jalur, di sanalah dia berada.”
“Oh iya … aku pernah ke Teluk Kuantan.”
Razel menoleh padaku. “Oh iya, kita pernah ke sana waktu Bang Ali nikah. Bang Ali pernah bilang kalau setiap tahun pasti diadain lomba pacu jalur antar desa.”
“Nah itu, jalur itu sampan panjang yang muat sampai dua puluh orang. Nanti, setiap jalur berpacu di lintasan sungai sampai ke pancang yang terakhir.”
“Tunggu dulu, Abang bilang jalur ke pancang yang terakhir?”
Ia mengangguk. “Iya … ada yang aneh?”
Aku membuka cincin pemberian Kakek Kumbang. Di sana tertuliskan sebuah kalimat yang sangat identik dengan perbicangan kami kali ini.
“Jalur didayung pada pancang terakhir. Itu dituliskan pada cincin ini.” Aku berikan cincin itu kepada Bang Andalas.
Bang Andalas membuka cincin miliknya yang berbatu sama. “Tapi, di punyaku enggak ada kalimat itu.”
Aku menepuk Razel dengan kuat sampai pria itu merintih sakit. “Razel, sekarang aku tahu kita akan ke mana.”
“Jangan pukul-pukul dong! Aduh ….”
“Jangan bilang kalian⸻” Kalimat Bang Andalas aku potong.
“Iya benar, kami ke Teluk Kuantan. Pinjam dulu hape Abang.” Aku mengambil paksa handphone milik Bang Andalas. Dengan kata kunci pencarian Festival Pacu Jalur, aku menemukan jika event tersebut sudah berlangsung hari ini. “Pacu Jalur sedang diadain hari ini. Ada dua hari lagi hingga ke final. Itu artinya, besok hari kedua.”
“Ini pasti semuanya berhubungan, Kak. Kakek Kumbang akan ada di pancang terakhir,” jelas Razel.
Aku senang dirinya cerdas malam ini karena selalu aku yang menyimpulkan teka-teki. Hari esok pun akan menjadi panjang. Van merah mudaku kembali merangkak di atas aspal selayaknya kapal di permukaan laut. Aku tidak sabar mengalahkan musuh terakhirku, yaitu kakek sendiri.
***