
Dudukku seakan sedang memandang seorang Bunda. Aku mengingat di mana masa kami berdua duduk di depan rumah yang biasa penjaja bakso gerobak berhenti, lalu ia berbicara dengan Bahasa Jawa yang entah darimana beliau mempelajari. Setahuku, Bunda tidak pernah bergaul lama di lingkungan Jawa, tapi ia mampu menuturkan untuk bahasa sehari-hari. Bunda selalu menanyakan apakah aku suka mie putih atau mie kuning, setelah itu kami makan berdua sembari bercanda ria.
Sederhana itu Bunda di dekatku, tanpa ada embel-embel kemewahan yang sebenarnya bisa ia tunjukkan jika ia mau. Ia selalu berpakaian biasa, sepatu buatan lokal yang tidak terlalu mahal, pembicaraan ringan tanpa menunjukkan status dirinya. Aku tahu Bunda mempunyai banyak rekan bisnis yang sering diundang ke rumah. Pembicaraannya selalu tinggi dengan diselingi Bahasa Inggris, terkadang membuatku jijik karena salah penyebutan. Bunda tetap dengan logat Melayu khas dengan nada lembut tiada meninggi.
Wanita itu menatapku seraya tersenyum. Sementara aku terpaku duduk di samping Razel yang sedang tidak selera makan.
“Ibu … mau pesan apa?” tanya penjaja bakso.
“Biasa … sepuluh bungkus bakso jangan pakai penyedap ya.”
“Wah, lagi ramai di rumah?”
Ia mengangguk. “Iya, Bapak lagi di rumah. Ponakan sedang ngumpul semua.”
“Sebentar ya Bu, saya buatin dulu.”
Sementara ia duduk berjarak dua langkah dariku, aku memerhatikannya dari samping. Secara wajah, ia mirip dengan Bunda, hanya saja postur tubuhnya sedikit lebih lebar. Ia sempat memandangku yang sedang menoleh, tetapi aku mengalihkan perhatian dengan berpura-pura melihat gerobak bakso.
“Lo tahu apa yang gue pikirkan?” tanyaku secara berbisik kepada Razel.
“Apa?” Razel meletakkan mangkuk bakso di samping.
“Dia mirip Bunda, gue rasa dia sepupunya Bunda.”
Razel menoleh ke samping, tepat pada wanita itu. “Kak, lo gila Bunda punya sepupu sanak dari Bupati?”
“Satu alasan gue ke sini karena Bupati itu sepupu dari Kakek Kumbang. Itulah kenapa mereka bisa foto berdua. Ceritanya panjang … sulit gue jelasin di sini.”
Ia tampak tidak bernapas, hingga klakson truk fuso mengejutkannya. “APA?”
“Jangan keras-keras, goblok!” Aku mencubit pingganya. “Gue bertemu dengan Bapak Bupati. Dia bilang kalau dirinya itu sepupu kandung Kakek Kumbang dari sebelah ibu. Itu berarti dia juga kerabat jauh elo!”
“Satu-satunya kerabat jauh gue yang pejabat cuma Pak Bernardo,” balasnya.
“Ini beneran! Kapan gue bohong sama elo?”
“Jadi, ada rencana?”
“Kita jadi bajak laut malam ini!” tekanku padanya.
“Jangan lakuin hal gila yang bikin kita berakhir di kantor polisi. Kak, kita ini orang jauh dan enggak punya siapa-siapa di sini!”
“Sepupu kakek gue itu Bupati! Lo kira bukan siapa-siapa?”
“Plis bunuh gue malam ini.”
Pelaut jahat suka membajak kapal orang lain. Kami tidak sampai mencurinya, hanya saja memasuki kapal tersebut untuk mencari perhatian. Aku harus bisa bertemu dengan Bapak Bupati atau orang yang ia minta aku panggil dengan sebutan Datuk itu. Van merah muda kami parkirkan sementara di minimarket terdekat, lalu kami berjalan menuju samping rumah pribadi Bapak Bupati yang relatif sepi. Tubuh Razel menjadi pijakan bagiku untuk memanjat pagar. Tentu saja rumahnya tidak seperti penjara yang langsung berbunyi suara serine, jadi aku dengan bebas menginjakkan kaki ke seberangnya.
Rumah tingkat dua itu memiliki halaman yang besar. Aku berharap rumah sebesar itu tidak didapat dari uang suap pembukaan lahan sawit dari oknum perusahaan nakal. Razel aku pinta untuk menunggu di tepi dinding pagar agar aku mampu untuk kabur secepat mungkin. Pertama, aku menyelinap ke belakang rumah. Sangat naif rasanya langsung masuk melalui pintu depan, aku bisa dikejar oleh satpam kemudian,
Bagian belakang rumah terdapat sebuah dapur dengan jendela yang terbuka. Terlalu banyak sanak saudara perempuan dari Datuk Bilal yang sedang merumpi. Aku mencoba menguping, hanya saja aku tidak mengerti dengan bahasa mereka. Berharap Borneo ada di sini sebagai translator, sudah aku pastikan ia akan memakiku untuk menolaknya. Beruntung tatkala berjalan ke samping rumah kutemukan tangga menuju balkon lantai dua. Balkon tersebut memiliki sebuah pintu. Dugaanku tepat tatkala aku menaiki tangga tersebut, pintu mengarah langsung ke lantai dua, bukan sebuah kamar. Mungkin saja sanak saudara yang sedang berkumpul tidak memedulikan mengenai pintu, aku bisa memasukinya dengan gratis.
Merayap di atas lantai seperti predator pemburu kini aku lakukan. Lantai dua ini hanya memiliki sedikit lantai, aku bisa melihat lantai satu dari atas ini. Di sana sanak saudara pemilik rumah sedang berkumpul dengan hidangan makanan. Anak-anak berlarian mengejar satu sama lain, sementara para remaja duduk bermain ponsel mereka. Pembicaraan hangat terjadi pada sanak saudara yang dewasa. Sementara mataku paling fokus kepada orang paling tua di antara mereka, yaitu Datuk Bilal.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan Kakek Kumbang di sini. Aku kecewa dengan itu, hingga aku memutuskan untuk kembali lagi kepada Razel. Namun, di saat itu ingin pergi, tertunduk seorang pria yang digiring masuk secara paksa. Itulah Razel yang tertangkap basah oleh petugas keamanan rumah pejabat.
“SIAL!” Aku menepuk keningku.
Siapa yang tidak panik setelah teman tertangkap basah? Hatiku benar-benar berbebar tidak karuan. Dengan napas tergesa-gesa, aku berlari ke bawah menuju lantai pintu utama depan.
Tampaklah Datuk Bilal memejam mata karena kelakukan kami. Bibirku pucat karena ekspresi tersebut. Bayangkan saja siapa yang rasanya tidak ingin mati karena ketahuan menyelinap ke rumah orang nomor satu di kabupaten ini.
“KALIAN SIAPO!” tanya satpam itu dengan keras.
“Kami … kami ….” Aku menghela napas. Kalimatku tidak memiliki tujuan untuk terucap, sudah tertangkap basah. Wajah Razel rasanya seperti ingin menangis. Hal itu membuatku semakin cemas. “Kami jurnalis.”
Kalimat terakhirku begitu pasrah, jawaban yang sama seperti di tribun arena pacu jalur. Mungkin saja Razel sedang mencaruti diriku dengan jawaban tersebut.
“Antar mereka ke kamar. Mereka ini tamu.”
Mataku melebar tatkala Datuk Bilal mengucapkan itu. Jangankan diriku, sanak saudaranya yang lain tampak tidak percaya.
“Kak … gue mau mati aja,” ucap Razel dengan nada bergetar. Bibirnya pucat seperti sehabis melihat hantu.
“Mereka tamu, Pak?” tanya satpam.
“Iya mereka tamu dari Jakarta. Antarkan mereka ke kamar tamu sekarang. Tapi, jangan biarkan mereka keluar lebih dulu.”
Aku dan Razel dibawa ke sebuah kamar sesuai perintah. Pintu kamar pun ditutup. Razel terduduk pasrah di tepi dinding dengan mengeluarkan air mata.
“KAK! GUE SEKALI INI SAJA MASUK KE RUMAH ORANG TANPA IZIN!”
Ia menunduk sembari mengusap air matanya.
“Jangan lemah begitu. Kita aman di sini. Kita ini tamu,” balasku.
“KITA INI JURNALIS! BODOH!”
Aku diam setelah itu, Razel benar-benar marah, tidak pernah ia sekesal ini kepadaku sebelumnya. Membujuknya dengan keadaan seperti itu merupakan hal yang sia-sia. Aku lebih memilih duduk di atas ranjang tamu sembari melihat denting jam yang berbunyi layaknya detak jantungku sekarang.
Tidak lama kemudian, Datuk Bilal datang kepada kami. Ia menutup pintu dengan segera.
“Kau orang luar kedua yang masuk tanpa lapor ke pos satpam. Orang pertama itu Kumbang.” Datuk Bilal menggeleng pasrah.
“Datuk … Reira mohon sekali ….” Suaraku tiba-tiba memelas. “Beritahu kami di mana Kakek Kumbang. Dia itu kakekku. Belasan tahun kami berpisah, cuma ini kesempatan Reira untuk berkumpul lagi dengannya.”
“Reira, Datuk enggak tahu dia di mana. Kau kira dia tinggal di rumah ini? Dia lebih memilih tinggal di emperan toko daripada menginjak ubin keramik granit.”
“Jalur didayung pada pancang terakhir, itu kalimat yang membawa kami ke kota ini. Datuk tahu sesuatu?”
“Iya, Datuk tahu. Itu kalimatku, bukan Kumbang,” balasnya.
“Apa?!” tanyaku tidak percaya. “Bagaimana bisa?”
“Itu kalimat yang Datuk sampaikan ke Kumbang biar dia enggak lupa dengan kampung halaman. Sejauh-jauhnya kau pergi, tujuanmu ialah untuk kembali.”
Jika Borneo mengatakan tafsiran dari kalimat itu bersifat tujuan yang progresif, berarti itu salah. Perjalanan yang progresif hanya berarti jika kau mampu untuk kembali lagi, sempurnalah sebuah perjalanan. Aku pun paham, berlayar sejauh mungkin bukan apa-apa jika kapal tidak mampu untuk menepi kembali ke tempat asal, itulah maksudnya.
“Dia kembali setelah itu?” tanyaku.
“Iya … Kumbang kembali. Kami pun bertemu di satu garis sejajar dengan pancang terakhir arena pacu jalur di hari final. Kejadian itu setelah Kumbang dikabarkan hilang ketika berlayar, Kumbang mampu kembali.”
Penjelasan itu pun mengingatkanku akan sesuatu. Aku seperti tercerahkan oleh tanda-tanda yang dikirimkan oleh debu kosmik dalam bentuk kesadaran.
***