Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 69 (S2)



EPISODE 69 (S2)


Dika merasa risau seperti orang yang baru saja kena pelet, merenung seakan tidak ada lagi wanita yang lebih indah daripada sang pujangga. Benar kata orang, mengalahkan orang yang kuat tidak akan berhasil menggunakan fisik, melainkan hancurkan saja hatinya. Ia akan merengkuh kesakitan hingga berlutut untuk diampuni. Begitu pula sekarang Dika. Seseorang yang aku kenal paling cuek sedunia, kini terlihat seperti anak usia sembilan tahun yang mengharapkan sebuah eskrim. Ia memegangi kakiku dengan mengelus-ngelus sembari mengatakan, gue pingin kawin!


“Gue enggak suka dengan PDKT-an atau apalah itu karena udah enggak jamannya seusia gue pake yang begituan,” ucapnya sebelum masuk ke rumah.


Penyataannya berubah menjadi petanyaan bagiku. Bagaimana bisa dia bisa mendekati pujaannya apabila tidak melakukan pendekatan. Aku pun belum menikah, bagaimana pula aku tahu cara meminang seorang wanita. Jangankan meminang, memulai percakapan dengan wanita saja aku gugup, apalagi untuk mengajak menikah. Bisa-bisa pulang sembari kayang untuk memikirkannya. Dika pun sudah waktunya untuk menikah, ia harus memikirkan matang-matang keputusan ini.


Ingatlah aku dengan kalimat para playboy klasik yang sering dikatakan oleh Kakek Syarif. Mendekati seorang wanita tak cukup dengan syair-syair cinta yang mendayun untuk meluluhlantakkan dinding baja pembatas hati, namun dekati orangtua lelakinya. Izin dari hati seorang gadis, diujung tanduk lidah sang bapak. Jika kau mampu memetik buah manis di persalaman dengan orangtua, resmilah engkau menggandeng gadisnya yang mulia. Sebegitu sakralnya izin dari seorang bapak dalam dunia percintaan mendekati seorang dara.


Aku merenung di atas ranjang dengan memangku kepala di atas tangan. Sama sekali aku tidak mengenali orangtua lelaki Reira. Aku hanya mengenali mamanya, bahkan sudah akrab karena sering berbicara. Namun, sebagai orangtua asuh Reira, aku sama sekali tidak pernah dipertemukan empat mata dengannya. Aku pernah melihat sosok Bernardo itu ketika mengawani Reira ketika pemeriksaan di kantor polisi atas kasus vandalisme rektorat. Saat itu aku memeluk Reira dengan erat, tanpa sadar bahwasanya pria bertubuh tinggi tegap itu berdiri jauh di belakangnya. Aku tak sempat menyalami Pak Bernardo. Ia hanya menunduk sedikit, lalu mengenakan kacamata petaknya sebelum masuk ke dalam mobil. Begitulah pertemuan kami yang singkat itu, tanpa basa-basi, tanpa persinggahan kata darinya padaku.


Mungkin saja karena Pak Bernardo sangat sibuk menjadi politisi. Dan ia juga punya usaha bisnis yang dijalani setelah aku ketahui dari Reira. Ia tak seperti orangtua Zainab yang saban hari bisa ditemui bersarung-singlet di teras rumah, sembari menghisap rokok dan mengopi. Mungkin saja aku tak bisa diterima ketika mengunjungi rumah Reira atas nama pribadi. Selama ini, kami masuk secara diam-diam melalui pintu samping tanpa sepengatahuan.


Satu hal yang menjadi pertanyaan ialah, apakah papanya tahu jika kami berpacaran?


Okelah, aku jangan berharap dulu jika ia tahu mengenai hubungan kami. Namun, apakah ia akan menerimaku sebagai kekasih anaknya?


Hubungan antara dua insan akan semakin rumit jika ada pihak inti yang tidak mengetahui hubungan mereka. Pihak inti itu tentu saja keluarganya yang sehari-hari selalu bersamanya. Aku simpan pertanyaan itu. Suatu hari akan terjawab dengan sendirinya.


Aku diizinkan untuk datang ke rumah Reira setelah pemilik tanah calon tempat usaha telah memberikan tarif yang sebanding untuk usaha rintisan baru. Ternyata, pemilik tanah tersebut merupakan pemilik ruko yang berada di kanan sepetak tanah kosong tersebut.


Beliau memiliki satu buah usaha kos-kosan dua tingkat yang juga turut dihuni oleh teman satu angkatan. Berangkatlah aku ke rumah Reira untuk bercerita menganai hal tersebut.


Sesampainya di belakang rumah, aku terheran dengan kokok suara ayam jantan yang lumayan besar. Pemandanganku dihalangi oleh mobil yang melintang dengan penutup mesin yang terbuka. Di bawahnya berserakan alat-alat bengkel. Seperti yang aku bilang sebelumnya, anak ini lebih tahu membongkar mesin daripada menata sebuah taman seperti para wanita lainnya. Barulah aku lihat pemandangan yang berbeda ketika mendongak untuk melihat suasana yang dihalangi oleh mobil sedan tua itu.


Pekarang sudut belakang rumah kini berubah menjadi sepetak tempat bermain ayam. Ada dua buah kandang ayam dengan kayu yang terlihat masih baru. Sekeliling area tandus tanpa rumput―tapi masih ada pohon rambutan yang tumbuh menjulang―dipasang pagar jaring besi. Reira berjongkok di sana sembari memberikan dedak makanan ayam di atas tanah. Bebarapa ayam kampung yang terdiri dari dua pasang langsung menyambar area tanah.


“David!” panggil Reira dengan melambaikan tangannya. “Lihat mainan gue yang baru!”


“Wow ... lo semakin tertarik menjadi seorang peternak ayam.”


Ia menaikkan alisnya pertanda setuju.


“Seperti saran lo, gue bentar lagi mau letak bibit ayam organik buat jadi usaha baru. Minerva pasti senang kalau ada ayam berkokok di dekat sini.”


“Hahah ... percuma kalau Minerva dikurung terus.” Aku membuka pintu pagar area kandang ayamnya tersebut. “Itu mobil kenapa?”


“Biasa ... gue ganti busi mobil. Udah soak businya.” Balas Reira.


Tanganku mengapi lehernya agar mendekat ke dada. “Jangan kotori tangan lembut lo itu dengan oli.”


“Fasha enggak bisa begini, makanya lo iri. Hahahah ....” Ia balas memelukku dengan erat. “Gue rindu lo setelah bersemayam di rumah berhari-hari, plus bimbingan sana-sini. Bau tubuh lo gue rinduin banget. Pake parfum apa, sih?”


Kami saling bergenggam tangan, lalu beranjak ke salah satu akar pohon rambutan yang menonjol ke permukaan. Ia duduk di atas sana, sementara itu aku duduk memanjangkan kaki di atas tanah. Sorot mata kami saling beradu melepas rindu. Ia semakin cantik saja aku lihat, walaupun waktu berlalu sekian lama.


“Gue udah dapet tempat usahanya. Dika udah nyariin orang buat masang kanopi. Besok mereka bakalan siap-siap buat masang,” ucapku.


Reira tersenyum. “Gue tinggal ke rumah orangtua awak kapal gue biar bisa ngerenovasi lantainya. Alat-alat masak, kita bisa pergi sama-sama buat beli. Ntar gue kasih tahu tempatnya.”


“Dasarnya, semua manusia itu baik. Pengalaman yang membuatnya menjadi buruk. Untung aja pengalaman ngebikin gue jadi begini.”


Dari atas, aku menjalar ke hidung untuk menekan ujungnya. “Jangan sok filosofis kalau sama gue. Lo pasti kalah untuk hal itu.”


“Hehehe .... Oh iya, Mawar udah tahu, kan?”


“Dia udah tahu. Beberapa hari yang lalu gue ketemu sama Mawar kalau udah dia udah setuju untuk itu.”


Tatapan Reira kosong menatapku. Senyumnya masih ia pertahankan sebelum aku menyinggung lututnya. Tepat ketika aku menarik napas panjang untuk bertanya, ia lebih dahulu untuk berkata.


“Mama komplikasi penyakit stroke. Beberapa keluarga Mama di Pangkal Pinang dan di Siak berangkat buat ngejenguk. Sebelah kiri tubuh Mama mengalami kelumpuhan.” Ia menarik napas panjang. “Gue dilarang buat ke sana sama Mama, padahal gue pingin. Makanya, gue cepet-cepet nyelesaiin skripsi biar bisa wisuda dan ngurusin Mama di sana sampai sehat.”


Aku menempatkan diri untuk duduk di sampingnya. Kepala Reira perlahan jatuh di pundakku. “Tabah ... hanya itu yang bisa gue bilang. Gue paham apa yang lo rasain saat ini. Jadi, yang kuat seperti Reira-Reira sebelumnya.”


“Sejak kapan pundak lo empuk begini? Lo lebih berotot?” tanya Reira. Emosinya seketika berubah. Aku tahu itu hanya dimanipulasi untuk mencairkan suasana.


“Hahaha ... itu karena pipi lo makin tembem semenjak di Singapura,” candaku.


“Hahaha ... iya juga ....”


Kami diam sejenak.


“Dika minta kawin. Dia mau ngelamar gadis yang masih satu komplek dengan gue, kebetulan bapaknya Ketua RT.”


Reira tertawa di atas pundakku. “Beneran? Baguslah ... kalian bisa ada yang ngurusin di rumah. Rumah kalian itu berantakan banget karena isinya laki-laki semua. Dasar!”


“Lo bener juga. Dika juga ada yang ngurusin jadinya. Gue juga senang kalau punya ponakan. Rumah jadi rame dan ga sepi kaya dulu.” Aku menunduk ke bawah untuk membayangkan betapa mengasyikkan rumah kembali ramai seperti di masa lalu. “Rei .....”


“Iya?” Reira menoleh, walaupun masih berada di pundakku.


“Papa lo tahu kalau kita pacaran?” tanyaku seketika.


Ia diam sejenak. Jemarinya menyentuh tanah untuk menggaris satu titik lurus melintang.


“Tenang aja, kok. Gue udah bilang kalau kita pacaran.”


Jawabanku membuatku lega. Ternyata papanya tahu mengenai hubungan kami.


“Apa tanggapannya?”


“Di saat gue ditanya apakah lo orang baik, gue jawab lo adalah orang terbaik yang pernah gue kenal. Setelah itu, ia diam. Diamnya papa gue itu pertanda setuju, kecuali gue berdebat lagi.”


Aku kecup rambutnya. Di dalam hatiku sangat berterima kasih. Aku benar-benar beruntung kali ini.


***