
EPISODE 18 (S2)
Kapan terakhir kali aku menggenggam tangan seorang anak kecil?
Jauh sebelum momen di mana langkah kami bersanding bertiga, aku pernah memiliki perasaan yang sama ketika aku kilas balik masa laluku.
Tepat bertahun-tahun sebelum semuanya tidak baik-baik saja, ketika aku masih bersama hangatnya sebuah keluarga, tatkala Rio yang hangat itu membelikan kami eskrim di kedai simpang komplek. Kira-kira aku masih SMP dan masih banyak keluarga yang mengunjungi rumah kami. Tentu saja aku punya sepupu yang masih sangat belia saat itu, entahlah mungkin saja ia sudah menjadi seorang gadis sekarang. Ia lucu bermata bulat dengan garis-garis wajah yang sedikit kemerahan. Tidak hanya dirinya seorang, namun masih ada beberapa sepupu kecil yang memanggilku dengan sebutan abang.
Betapa lembutnya tangan anak kecil yang bermanja dibelikan sesuatu, hingga Rio berusaha mencuri uang ayah di dompet untuk membelikan dirinya barang yang ia inginkan. Memang, ada banyak sepupuku yang berada di rumah saat itu, namun hanya aku dan adik sepupu kecilku itu yang dibelikan oleh Rio.
Tatkala aku mendapati Rio membuka dompet ayah, hal itu aku jadikan kesempatan untuk memalak dirinya dengan meminta dibelikan hal yang sama. Pergilah kami ke sebuah kedai dengan menggunakan sepeda, lalu mampir di taman bermain komplek untuk menghabiskan eskrim kami. Rio takut Dika akan menggangguku jika dirinya tahu aku dibelikan, sedangkan ia tidak.
Indah sekali ketika bersama-sama dengan anak kecil, apalagi dengan adik-adik sepupu. Hanya mereka yang bisa aku anggap adik karena kebetulan sekali aku merupakan anak bungsu di keluarga kecil kami. Kami bisa berbagi tawa bersama, saling mengejek tanpa ada rasa amarah, saling berguling di atas kasur untuk bermain perang bantal. Aku ingat sekali momen-momen itu di masa lalu. Bulir kecil ingatan yang sampai saat ini masih terkenang, apalagi menyangkut hal kepada Ayah dan Ibu. Tanpa mereka berdua, aku tidak akan pernah merasakan hal\-hal hangat yang akan aku bawa hingga sekarang.
Namun, semuanya berubah tatkala Ayah tiada. Di sinilah aku membenci arti keluarga besar. Aku tidak tahu menahu dengan keluarga besar Ibu, hanya dengan keluarga Ayah yang tanpa Nenek dan Kakek karena mereka berdua sudah meninggal. Aku mempunya paman, bibi, serta sepupu-sepupu kecil itu. Tatkala Ayah tiada, mereka menghindari kami karena menganggap kami sudah tidak lagi berguna untuk menunjang mereka.
Aku tidak pernah berdamai dengan masa laluku sendiri. Perihnya tatkala tak ada satu pun dari mereka yang mengunjungi Ibu yang sakit, menjadi titik terakhir bagiku untuk mengingat mereka. Berkali-kali Dika mencoba untuk menghubungi mereka dan meminta mengunjungi Ibu yang sakit, namun hanya lorong kosong rumah sakit yang kami tatap tatkala dokter menyatakan jika Ibu tidak bisa bertahan lagi. Masih segar di dalam ingatanku sumpah serapah Dika di malam tahlilan Ibu, ia memaki mereka melalui telepon. Bayangkan saja, tidak ada satu pun keluarga besar yang mengunjungi kami, kecuali tetangga dekat, teman-teman Ibu, dan kolega Ayah semasa hidup.
Jujur, sampai saat ini aku masih membenci mereka. Ingin aku maki mereka untuk mengembalikan semua uang yang telah diberikan Ayah sebagai pengganti betapa susahnya hidup kami yang berjalan sebatang kara, tanpa siapa-siapa. Perlahan, hidupku dan Dika semakin baik berkat usaha bengkelnya yang lumayan besar. Ia memintaku untuk tidak lagi mengingat itu dan fokus dengan masa depanku yang ia percaya akan lebih cerah dari hidupnya saat ini. Itulah Dika kawan. Orang yang paling aku benci di rumah sewaktu kecil, kini menjadi orang yang paling aku sayang berkat kepeduliannya padaku.
Aku menghela napas menatapa adik kecil bermata sipit yang sedang menggenggam handphone mahal Reira. Aku cemas jika ia menjatuhkan handphone itu karena harganya sebanding dengan jajan bulananku selama setahun. Tampak Reira tidak mengkhawatirkan hal itu.
Di ujung pasar, kami menjumpai sebuah warung kecil harian di mana anak-anak sedang berkumpul untuk membeli mainan seribuan. Mereka berebut mencabut mainan-mainan kecil yang tertempel pada selembar karton di dinding karton. Tatkala Reira menanyai mereka, tidak ada satu pun yang mengetahui siapa gerangan adik kecil yang sedang kami tuntun ini.
“*Nak beli ape?” tanya Ibu pemilik warung.
Nak berarti mau dalam Bahasa Melayu. Aku mengingatnya karena sering menonton salah satu film kartun Malaysia yang sering muncul di televisi. Sedikit banyaknya, aku mengerti beberapa kata dan logat Melayu, walaupun Melayu Belitung dan Melayu Negeri Jiran tentu saja berbeda.
“Oh, bukan. Kami nak cari rumah adik ini. Dia menangis waktu kami temui,” balas Reira.
Ibu itu pun segera memasang kacamatanya, lalu mendekat untuk melihat adik ini dengan jelas.
“Oh, ini anak warung kopi Cina simpang jalan dermaga. Ibu tak kenal Ibunya, tapi tahu ini anaknya.” Ia menatap Reira. “Kalian bukan orang sini?”
Reira menggeleng seraya tersenyum. Jelas sekali logat kami berbeda dengan dialek mereka.
“Jadi, kami ke mana dulu, Bu? Kami enggak tahu jalan,” tanyaku.
Ia memanjangkan tangannya ke arah Barat sambil memejam mata membayangkan lokasi warung kopi tersebut. “Kalian keluar pasar dulu, nanti kalau lihat pohon pisang banyak, belok kanan. Lurus saja sampai jumpa simpang tige. Kedai kopinya tu ade di sebelah kanan. Kau tanyelah dengan orang di sana, pasti tahu anak ini.”
“Oh, begitu ya, Bu?” Reira menggapai tangan pemilik warung untuk menyalaminya. “Kami ke sana dulu.”
“Lumayan jauh ... kenape anak ini bisa sampai sini?”
Aku mengangkat bahu. “Nah, itu kami enggak tahu juga, Bu. Ngomong-ngomong, kami pergi dulu, ya.”
Kami bergegas menuju keluar pasar. Reira terlihat aneh tatkala menjadikan lemang bambu itu sebagai pedang, sembari berharap adik kecil ini terhibur karenanya. Namun, ternyata kartun di layar sentuh lebih membuatnya tertarik. Ia pun tertawa sendiri menyadari bahwa leluconnya tidak berhasil.
Berhubung kami melihat sebuah pangkalan becak motor jalan keluar pasar, tepat di titik di mana terdapat banyak pohon pisang itu, Reira pun membawa kami ke sana. Berbekal dengan kelihaian Reira berbicara dengan orang baru, akhirnya kami mendapatkan harga yang relatif lebih rendah. Reira pun diam-diam menunjukkan jempolnya padaku tatkala kami sudah naik ke atas becak motor.
Becak motor menggelegar di jalanan dengan bunyi knalpot berisik yang khas. Tubuh kami bergetar oleh getaran motor yang kuat. Mesin dua tak itu ternyata ternyata membawa kami sedikit kencang, hingga rambut Reira tergerai ke segala arah. Satu hal lain yang aku sukai dari Reira ialah tatkala ia mengikat rambutnya dengan ikatan berwarna merah. Tangannya meliuk indah memutar rambutnya untuk masuk ke dalam ikatan, lalu sedikit menggoyangkan kepalanya demi memastikan jika ikatan itu sudah terpasang dengan benar.
“Kenapa?” tanya Reira.
“Enggak ada,” ucapku, lalu membuang muka.
Ia tampak cantik ketika mengikat rambut.
Aku mulai berpikir di dalam hati memiliki ruang\-ruang kosong kedap suara yang apabila dibuka, menyeruaklah udara cinta ke dalamnya. Layaknya gerak tangan lentik menjuntai jemari Reira pada rambutnya, mengisi ruang-ruang hatiku yang sedang menatap matanya. Oh Tuhan ... bagaimana engkau ciptakan manusia sesederhana dirinya, namun tampak terlalu sempurna dengan ketidaksempurnaan itu sendiri.
Hanya sekelumit kecil serut senyumnya bisa menggidik hatiku untuk membalas. Hanya sesederhana itu.
Alunan angin masih bercampur dengan pengap udara kota Manggar. Suara becak masih tak berhenti sebelum Reira berteriak kepada pengemudi, bahwasanya matanya terpicing oleh terpaan angin. Bisa saja Reira melakukan hal itu, ia tidak akan segan-segan. Kakek Syarif saja ia teriaki tak ubah layaknya teman sebaya, bahkan aku yang ia jadikan sasaran empuk samsak pengalaman baginya. Seiring tangan Reira melebar merangkul adik kecil yang masih terkatung di depan layar handphone, aku turut melakukan hal yang sama. Tangan kami saling bersentuhan satu sama lain. Saling membalas senyum betapa romantisnya kami di atas tunggangan becak bernomor.
Adakah cerita ini kalian temukan pada cerita-cerita yang pernah kalian baca? Atau hanya berkutat dengan mobil mewah dari anak orang kaya yang memiliki segalanya. Aku rasa kalian harus mencari bacaan lain yang lebih dari itu. Aku rasa ada banyak yang bercerita sepertiku, menyentuh inti jiwa untuk membaca, tak sekedar pandangan mata yang menarik garis lurus pada baris-baris bacaanmu. Aku beritahu satu hal padamu, Kawan. Bawa hatimu turut membaca.
Gemerisik suara gesekan pohon kelapa membuatku menoleh tatkala becak bernomor 10―seperti nomor playmaker pesepakbola pada umumnya―berhenti di tepi jalan. Ia menoleh ke belakang tepat kepada Reira.
Sontak aku terkejut dengan pertanyaan darinya. Bukankah percakapan sebelumnya itu menyiratkan jika Reira bertawar harga tarif, bukannya mendiskusikan bahwa dirinya merupakan seorang cucu dari seorang kakek berkacamata hitam yang ada di foto pada kamarnya? Melentik senyum Reira menanggapi pertanyaan dari bapak itu.
Tangannya memberikan selembar uang dua puluh ribu Rupiah pada pundak pengemudi becak motor.
“Bukan, saya adalah cucunya. Kebetulan sekali kami ke sini dengan Pak Syarif,” balas Reira.
Bapak itu menahan uang yang diberikan Reira. “Ini terlalu besar, tak sebanding dengan jarak. Lagi pule, aku nak beri gratis karena kau cucu Pak Kumbang.”
“Hahah ... ambil aja, Pak. Saya juga ikhlas, kok.”
“Bukan itu, waktu dulu aku pernah kalah main domino dengan Pak Kumbang di kedai kopi tepi dermaga. Taruhannya sebungkus rokok Kansas dan segelas kopi susu yang sampai saat ini tak aku bayar.”
“Bagaimana bisa Bapak bisa kalah? Hahaha,” tanya Reira.
“Hmm ... duet mau Pak Kumbang dan Pak Syarif,” balasnya seraya tertawa.
“Sudahlah ... ambil saje, Pak. Kami nak pergi ke warung kopi itu dulu. Anak ini harus pulang.” Reira turun lebih dahulu, diikuti oleh adik kecil yang sedang kami bawa.
Kami berdiri di depan becak, sementara itu Reira memukul batok kepala stang motor King tua itu. “Kakek adalah orang yang penuh ketulusan. Ia tak pernah menagih utang, bahkan jika ingat sekali pun.”
Bapak itu tersenyum. Ia mengengkol motornya kembali. “Cara berbicaramu seperti dia.”
“Saya cucunya, bukan? Hahaha ... baliklah, Pak. Sampaikan salam saya sama anak bini di rumah.”
Terkuak sudah apa yang dibicarakan Reira di pangkalan becak motor tadi. Ia berkata bahwasanya ia merupakan cucu Kakek Kumbang. Kakek dengan tato kumbang di punggungnya itu ternyata banyak bergaul dengan masyarakat dermaga, tidak heran jika sampai tukang becak sekali pun tahu tentang nama tersohor itu. Tak ubah layaknya Pak Kumbang, Reira pun memulai aksinya. Ia lagi-lagi berlagak seakan seluruh orang di dunia ini pernah ia kenali sebelumnya.
Memanipulasi pikiran orang lain, itulah kelebihan Reira. Aku rasa ia diturunkan oleh penjaga halus dari kakeknya yang misterius itu, sehingga daya magisnya masih bertahan kepada Reira.
Jalanan yang tak terlalu ramai mempermudahkan kami melenggang di tengah aspal. Tampaklah rumah tingkat dua dengan sebuah bangunan kecil yang terpampang jelas nama dari kedai kopi itu. Petak bangunan kecil seperti garasi itu terletak kira-kira sepuluh meter di depan rumah tingkat dua. Jarak di antara keduanya berupa tanah berumput dan beberapa pohon kelapa. Tidak ada pagar yang membatasi kawasan rumah dan jalanan, hanya berbatas parit kecil dan jembatan kayu selebar satu mobil.
Belum sempat kami memijak batas tepi aspal, seorang wanita bercelemek warna putih memanggil dari arah kedai kopi. Sontak seluruh pengunjung kedai kopi melihat ke arahnya. Ia berjalan cepat ke arah kami, lalu memeluk adik kecil tersebut.
“Ana! Ke mana aja kamu?” Ia memeluk adik itu dengan erat, lalu mencuil sebuah cubitan kecil pada lengannya. “Cece-mu mencari dari tadi!”
Ia hanya tersenyum tanpa menjawab, walauun wajah khawatir dari ibunya sendiri tidak bisa dihindari. “Ana dibawa sama Kakak dan Abang ini.”
Mata sipit ibu tersebut menatap pada kami. Ia melangkah dan menggapai tangan kami untuk berterima kasih.
“Terime kasih banyak ... kami kehilangan Ana sedari tadi. Tadi pergi same kawan-kawannya yang lebih besar, tapi tak balek same mereka. Mereka kate, Ana tak tampak lagi di pasar.”
“Iya, Bu. Kami ketemu Ana juga di pasar. Trus, kami tanyain kalau rumahnya ada di sini,” balas Reira.
“Kalian bukan orang sini? Berbeda sekali logatnya.”
Kami berdua menggeleng bersamaan. Sudah dua orang hari ini yang memastikan kami jika bukan berasal dari sini.
“Masuklah ... Ibu harus berterima kasih.” Ia menarik Ana untuk masuk.
Sebelum Ana melangkah, Ana menyerahkan handphone itu kepada Reira. “Makasih, Kak!”
“Iya, sama-sama.” Reira memerengkan wajah dengan senyuman.
Ibu pemilik kedai kopi Mawar itu menarik dua buah kursi untuk kami duduki. Ia meminta kami untuk menunggu dirinya yang sementara waktu menuju ke belakang. Seperti orang bingung, kami berdua melihat berkali-kali ke sekitar. Kedai kopi ini cukup ramai oleh para orang tua yang sedang bercengkerama. Budaya minum kopi di kedai kopi sangatlah kental di Manggar. 1001 Kedai Kopi, itulah julukan kota ini. Apalagi dengan komunitas masyarakat Tionghoa yang banyak membuka gerai kopi untuk masyarakat, sehingga aroma kopi selalu tercium di setiap sudut kota.
Kedai kopi cukup luas dengan, kira-kira beberapa kali lebih besar daripada garasi rumah pada umumnya. Meja dan kursi kayu polos memberikan kesan sederhana pada kedai kopi. Aroma tembakau bercampur dengan wangi kopi yang kental. Tawa bapak-bapak menggelegar ke seluruh penjuru kedai. Kami hanya terduduk bingung di sini untuk menyesuaikan suasana.
Tidak lama kemudian, ibu pemiliki warung kopi datang dengan membawa teko berisikan air mineral dan dua gelas. Lalu, ia menunjuk keluar kedai.
“Nah, itu anak Ibu baru pulang dari mencari Ana,” ucapnya sembari meletakkan teko itu pada meja kami.
Aku lihat paras bening bermata minimalis tengah berjalan dengan cepat. Wajahnya cemas dengan kerut keningnya yang begitu khas. Tak ada angin, namun rambut tergerainya bergerak tatkala ia melangkahkan kaki. Tangan putihnya menyentuh wajahnya.
“Ana tak ade di pasar,” ucapnya dengan nada cemas.
Kami pun saling bertatap.
Ingatan kami saling menyatu tiga tahun yang lalu saat pertemuan di tengah sunyinya perpustakaan fakultas.
***