
EPISODE 52 (S2)
Suami dan istri merupakan kata perpaduan yang sangat sakral di dalam suatu hubungan percintaan. Diikat dengan kata janji suci untuk hidup semati di bawah kitab suci, atau akad yang disebutkan atas nama ibadah terhadap Tuhan. Pertanggungjawaban mulai dipertaruhkan semenjak kata terkahir di dalam janji itu terucap, ucapan doa daripada saksi menjadi penyemangat untuk melancarkan hak dan kewajiban. Tidak ada lagi kata aku dan kau, melainkan akan menjadi kata kata yang akan terucap setiap awal pagi dan malam yang lelah. Begitulah sakral dari istilah suami dan istri, apalagi gelak manja seorang buah hati yang menginginkan untuk diminta dikeloni.
Begitu sakralnya kata-kata itu, seharusnya tidak menjadi sebuah permainan seperti hubungan percintaan muda-mudi jaman sekarang. Terkadang ada yang menyebut diri pacarnya dengan kata 'mama' atau 'papa, atau yang lebih lebay lagi 'papi dan 'mami`. Semudah itukah kita menyebutkan kata yang begitu sakral tanpa pertanggungjawaban yang berat itu, tanpa janji tulus di bawah kitab suci. Naif sekali gaya berpacaran muda-mudi di zaman sekaang.
Aku menggeleng setelah menyebut Reira sebagai istri. Naif memang jika aku berpikiran seperti ini, namun aku malah melakukannya tanpa pertanggung jawaban yang telah aku sebutkan tadi. Namun, kali ini konteksnya berbeda. Aku hanya berimprovisasi tanpa penghayatan. Dipicu oleh keadaan yang tidak sengaja dan aku arahkan sebagai sebuah candaan yang dianggap serius oleh lawan bicara. Selain itu, aku lihat di sini memang diisi oleh bapak dan ibu yang sedang membeli pakaian keluarga. Mana ada anak muda yang ingin berbelanja fashion tradisional daerah nusantara. Sudah pasti membeli merek terkenal yang dijual di mall-mall atau toko online.
Reira sangat senang memperlihatkan padaku gaya centilnya ketika memakai pakaian baju kurung khas Melayu. Warna kuning cemerlang menandakan bahwasanya Melayu sangat identik dengan warna kuning. Kerudung yang ia kenakan menjadi identitas Melayu sebagai suku beragama Muslim, walaupun aku membebaskan ia memakainya atau tidak.
Reira berputar di hadapanku seperti seorang gadis Melayu asli. Ditambah lagi ia bercakap Melayu seadanya.
“Cantik aku atau tak?” tanya Reira.
“Kaulah gadis paling sempurne yang aku pernah aku lihat,” balasku.
Aku melipat kembali sarung songket Melayu yang sudah aku cobakan tadi. Pakaian Melayu pria yang aku coba tadi begitu gagah ketika dikenakan di hadapan cermin bilik ganti. Ditambah lagi dengan peci hitam yang aku kenakan, rasa-rasanya aku sedang menjadi orang Melayu dalam satu malam.
Reira meminta pakaian kami untuk dibungkus kepada pramuniaga. Lalu, kami melangkah kasir untuk mengambil pakaian yang sudah dibeli. Tidak hal sulit baginya untuk menghabiskan uang setengah juta dalam satu malam. Anak orang kaya itu seakan punya uang yang bisa berkurang, walaupun gaya hidupnya seperti orang yang kesulitan uang. Bayangkan saja, mana ada wanita yang pergi kencan hanya mengenakan sendal jepit lusuh. Jika ia merupakan Fasha, sudah pasti dirinya akan memakai sepatu hak tinggi dengan tas bermerek yang akan dipamerkan kepada setiap orang. Namun, Reira tidak. Membawa tas pun tidak, mungkin saja ia tidak punya.
Dewi cinta menggema dunia apabila malam bersemayam di antara bulan dan gemintang. Tatap wajah Reira di dalam mobil membuatku menghampirinya dengan mengelus lembut rambut terikat ekor kuda. Ia memeluk belanjaan kami seakan itu merupakan sebuah boneka.
“Gue enggak sabar kalau kita besok akan melenggang seperti sepasang kekasih Melayu. Gue semakin dekat dengan identitas asli gue,” ucap Reira.
“Gue harap Candra tidak mengacaukan momen kita besok.”
“Besok gue akan kirimin dia uang buat beli baju baru.”
Aku menepuk tangannya. “Jangan hambur-hamburkan uang buat hal yang tidak berguna. Candra juga tidak akan mau mengunakan uang lo untuk itu.”
“Iya, deh ... gue enggak bakalan ngelakuin itu. Tapi, janji ya setelah itu kita bikin foto di studio. Trus, biar gue pajang di kamar gue. Kalau bisa, kita besok sama-sama foto sama Candra, Bang Ali, dan Mawar. Oh iya, gue harap Mawar pakai baju khas Tionghoa.”
“Mawar itu karakternya metropolitan banget. Paling tidak, pasti ia akan memakai warna merah. Dia suka warna merah.”
Reira memandangku. “Wow ... ada apa ini ... sejauh apa lo mengenal Mawar hingga tahu warna kesukaan Mawar?”
Aku menyentuh bibirnya agar tak berbicara lagi. “Udah gue bilang, jangan pernah berpikiran berlebihan. Gue sebagai anak Psikologi, harus bisa mengobservasi orang lain. Dia memang suka memakai hal-hal berwarna merah.”
Ingat sekali saran dari Mawar agar bisa lebih peka terhadap orang lain. Bukan maksud untuk memata-matai, melainkan kemampuan observasi memang dibutuhkan sebagai skill khusus sarjana di jurusan ini. Aku pun meniru kata-kata darinya untuk diucapkan kembali kepada Reira.
“Oh iya, jangan lupa kita mampir ke mall dulu. Sekalian ke cafe gue minum kopi. Gue mau beli alat make up,” ucap Reira.
“Lo beneran mau geluti dunia make up dan dunia pen-skincare-an?” tanyaku.
“Gue akhirnya sadar kalau gue ini adalah wanita. Maksud gue, gue bukan buat make up diri sendiri. Gue mau belajar merias orang lain.” Ia tersenyum padaku.
“Hahaha ... gue kira selama ini gue pacaran sama cowok,” balasku sembari membelokkan arah mobil ke arah jalan menuju mall tersebut.
Ia menepuk tanganku yang sedang memegang gagang porsneling. “Emangnya menjadi wanita harus seperti standar cantik wanita jaman sekarang? Standar cantik wanita jaman sekarang hanyalah mengikuti standar patriaki. Lelaki lebih tertarik terhadap defenisi cantik tersebut sehingga wanita berlomba-lomba untuk menjadi seperti itu.”
“Sok feminisme lo ... hahaha ....”
Ia menyandarkan tubuhnya ke bangku. “Gue ingin wanita lepas dari sudut pandang tersebut. Wanita harus menjadi dirinya sendiri untuk standar kecantikan, bukan menjadi budak industri kecantikan atau budak standar kecantikan para pria. Wanita adalah dirinya sendiri.”
“Gue bangga punya pacar seperti ini.” Aku tersenyum ketika berhenti di lampu lalu lintas berwarna merah.
“Unch ... unyu banget lo kalau bilang itu ke gue.”
“Enggak, gue cuma bercanda.” Aku mencibir bibirku padanya.
Sesampainya di areal mall, Reira menuntun langkahku menuju toko make up yang ia maksud. Aku sebagai pria mana tahu lokasi-lokasi seperti itu. Dari luar kaca toko tersebut, sudah tampak jelas bahwasanya toko itu menjadi sebuah surga para wanita. Lalu-lalang para wanita yang sedang memilih alat rias dan produk perawatan menjadi daya tarik tersendiri dariku. Bukan aku ingin melihat wanita-wanita cantik yang sedang tersenyum ria di sana. Melainkan bagaimana bisa wanita bisa sangat antusias dengan hal yang seperti ini, menghabiskan uang yang banyak per bulannya hanya untuk membeli produk kecantikan.
Namun, tentu saja cantik harus memiliki perawatan, tak sekedar air suci sebelum beribadah seperti kata para-para wanita muda baru pulang pengajian. Namun, mengapa hal tersebut kini sangat mahal dan rela dibeli mati-matian oleh para wanita hanya untuk kecantikan.
Bagiku, pria dan wanita pun sama akhir-akhir ini. Pria tak ubahnya seperti wanita yang begitu fanatik dengan barang-barang ketampanan. Siapa bilang kini pria tidak memiliki barang-barang perawatan wajah? Tren dunia pertampanan pun berubah di awal tahun 2000-an. Di kala orang-orangtua kita dulu mengatakan bahwasanya pria tampan itu ialah pria-pria yang bangun pagi lebih cepat untuk bekerja dan pulang sebelum magrib dengan peluh keringat perjuangan. Sexy sekali pria apabila bisa mengotak-atik sebuah mesin mobil dengan keringat yang membasahi dada mereka, ditambah pula dengan kumis tebal dan brewok tipis-tipis. Seperti aktor india, katanya.
Namun, kini trend itu pun berubah. Pria cenderung memiliki perkembangan pada sifat-sifat feminim, seperti perawatan-perawatan wajah yang dulu tidak pernah dilakukan oleh para pria pada umumnya. Setiap bulan datang ke barbersop dengan belahan rambut samping yang dikikis oleh pisau cukur, lalu dilumuri dengan pomade mahal yang dibeli tiap pulan pula. Pria yang seharusnya berkeringat di sore hari, kini berubah tak ingin keluar. Jika ingin olahraga, hanya untuk kebutuhan panjat sosial dengan sepeda-sepeda mahal, sepatu keren, kaos harga lima ratus ribuan, serta headset di telinga yang terpasang lagu trending.
Begitulah zaman berkembang dengan pesat, hingga untuk urusan muka masing-masing pun bisa berkembang. Orang terlalu suka mengomsumsi asumsi umum, tanpa pernah mau dan bisa berusaha untuk menciptakan defenisi masing-masing mengenai hal itu. Sifat ingin ikut-ikutan pun selalu tertanam menjadi sebuah jati diri manusia yang ingin sama dengan lingkungannya. Bagiku, itu bukanlah hidup yang memiliki makna karena mengikuti selera umum, tanpa pernah tahu selera diri sendiri. Perlahan, selera umum itu pun perlahan menjadi selera sendiri karena selalu dilakukan setiap hari. Yang menjadi pertanyaannya adalah sampai kapan kita harus seperti itu? Sebagai makhluk yang memiliki sifat eksistensialisme, manusia telah kalah menjadi makhluk yang unik.
Reira tidak memilih langsung alat tata rias yang ia inginkan, melainkan dari secarik kertas yang berisikan list nama-nama alat tata rias. Aku pun menggeleng ketika aku membaca setiap list tersebut. Mana aku tahu benda yang dituliskan di sana. Reira berkata bahwasanya kertas ini dituliskan oleh Zainab untuk rekomendasi alat tata rias seperti yang dirinya punyai. Reira tentu saja tidak ingin ambil pusing dengan membandingkan produk satu dengan produk yang lainnya. Lebih baik menyodorkan kertas tersebut kepada pegawai toko dan langsung dipilihkan. Jika, salah satu barang ada yang tidak tersedia, Reira langsung meminta alternatif pilihan terbaik tanpa memikirkan harga.
Awalnya kondisi hatiku seperti biasanya. Kini aku tertarik dengan gadis-gadis di sini, tidak lagi dengan mencari alasan mengapa wanita bergitu fanatik dengan barang-barang kecantikan. Rasa bosan menuntunku untuk sedikit melirik ke wajah mereka. Namun, aku seakan ingin menganga besar di hadapan pegawai kasir.
“Semuanya dua juta, Mbak ....”
“Oh, bentar ya ....” Reira membuka dompet kulitnya tersebut. Terlihat berlembar-lembar uang pecahan seratus ribuan. “Ini ....”
“Baik, Mbak. Uangnya pas ya ....” Kasir tersebut memberikan barang belian Reira dengan senyuman. “Terima kasih banyak. Cantik setiap hari ....”
Reira melenggang keluar toko tanpa beban. Ia menenteng sendiri barang belanjaannya tanpa memintaku untuk membawa. Jika aku menawarkan diri, sudah pasti ia menyindirku jika menganggapnya tidak punya tangan untuk mengangkatnya sendiri. Aku pun paham, ia tidak terlalu suka dengan basa-basi palsu yang dilakukan hanya untuk menunjukkan bahwasanya aku adalah pria sejati. Reira mungkin lebih memilih defenisi pria sejatinya dengan meminta seorang pria memancing di laut dan membawakan ikan tuna besar untuknya, lalu dijadikan pakan Minerva.
Aku tidak menananyakan perihal barang yang dibelinya. Hingga kami duduk di dalam cafe-nya, aku belum pula membuka sesi tanya jawab mengapa harga barang tersebut begitu mahal. Sampai pula Reira menyeduh kopi espresso untukku dan dirinya, aku masih belum berkata-kata. Tatkala Reira menaruh belanjaannya dia atas meja, aku pun mengambil struk harga yang terlekat pada plastik tentengan.
Mataku membaca setia baris daftar belanjaan yang sudah dilabeli harga di sampingnya. Walaupun aku tidak tahu bentuk barang yang sedang aku baca, aku tetap mengakhiri bacaanku hingga ke paling bawah, tidak lupa pula aku melihat harganya yang mahal-mahal itu.
“Rei, bagaimana bisa lo beli barang yang sama, tapi lebih dari satu? Pantesan mahal.”
Aku memandanginya yang sedang mengecek satu-satu belanjaannya tersebut.
“Emangnya enggak boleh?” Anak itu malah bertanya balik.
Aku menyeduh kopiku untuk menenangkan diri. Baru saja di mobil aku menasehatinya agar tidak menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak berguna. Memang barang tersebut tetap bermanfaat untuk dirinya, namun kenapa malah membeli barang yang sama lebih dari satu buah.
“Malah nanya balik. Ya ... muka lo kan satu, kenapa jadi banyak barangnya?”
“Kan bisa dipake untuk bulan-bulan berikutnya,” balas Reira seraya tersenyum.
Aku menghela napas panjang. “Rei, ini namanya mubazir. Lo harus bisa mengelola uang lo sendiri. Kan besok masih bisa beli lagi dan gunain uang yang tersisa sekarang buat hal yang lebih bermanfaat. Beli bibit ayam misalnya, pelihara dan kalau besar bisa dijadiin makanan Minerva atau lo sembelih sendiri.”
“Ide yang bagus tuh pelihara ayam.” Ia tertawa dengan menempelkan dahinya dia atas meja.
“Gue serius, Rei. Ini bukan bercanda.”
Seketika wajahnya yang tadi terlihat bercanda, kini berubah menjadi sangat serius. Persis seperti seorang kapten kapal yang ingin menenggelamkan seorang perompak dari kapalnya.
“Gue akan membuka kelas tata rias untuk anak-anak perempun di gedung itu.” Ia menyentuh plastik barang tersebut. “Semua ini untuk mereka. Gue? Gue mana pernah peduli dengan barang-barang ini, mending gue makan bakso sama lo di luar sana.”
Aku memicingkan mata. “Kelas tata rias?”
Ia tersenyum. “Benar ... gue dan Mawar akan langsung mengajari mereka. Gue enggak sabar buat ngelihat wajah bahagia mereka memegang kuas rias mahal untuk pertama kalinya dan melukis wajah teman sebayanya walaupun acak-acakan.”
Baru aku sadari, bahwasanya semua barang ini bukanlah untuk kesenangan pribadi.
“Baiklah ... kalau itu enggak apa-apa. Lo bebas gunain uang lo buat kebaikan.” Aku mendekatkan tanganku ke keningnya, lalu menjentiknya perlahan. “Tapi, tolong ... bawalah tas apabila membawa dompet dengan uang yang banyak. Atau pakai dompet yang lebih besar. Lo bawa uang berapa tadi?”
“Ada empat juta,” balasnya dengan ringan.
Aku pun dibuat menggeleng. Ada seorang wanita yang membawa uang empat juta hanya dengan dompet kecil lusuh, sampai sangat susah sekali untuk dilipat. Untung saja bokongnya tidak terlihat menggembung karena tertutup oleh hoodie lebar yang ia kenakan.
***