
Menjadi dewasa adalah tujuan, tetapi kedewasaan bukanlah semulus yang diharapkan semua orang. Hidup tidak cukup dengan terus bermain dengan semua hal yang ada di sekitar karena dituntut oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu yang membentuk sebuah tekanan. Insekuritas pun timbul, rasa cemas berlarut-larut di dalam hati yang menyurutkan cahaya bulan tatkala ditatap melalui jendela. Betapa cerahnya rembulan bagi orang-orang, tetapi tidak begiitu cukup untuk dipandang
Aku pernah berada di kehidupan itu. Kebencian itu menjadi dendam terhadap keluarga sendiri. Aku menyalahkan semua orang, menjadi egois, dan terus bergerak sendiri. Langkahku sudah terbiasa saat itu untuk berdiri sendiri hingga aku sadar jika aku harus keluar dari sana. Hidup di keluarga toxic sangatlah melelahkan mentalku. Kelelahan demi kelelahan pun terjadi hingga membentuk diriku yang sekarang.
Aku berharap dirinya mati, sekasar itu diriku kepada Papa. Mungkin ia menganggapku sebagai bagian dari dirinya, aku adalah benih darinya. Namun, aku tidak menganggapnya begitu. Ia berdampak buruk bagiku yang terlalu bebas. Aku anarkis, enggan untuk dikendalikan oleh orang lain, bahkan oleh Bunda yang sangat aku sayangi.
“Ceritakan aku bagaimana keluarga kamu, Semara,” ucapku ketika kami makan ayam goreng cepat saji restoran kapitalis dengan icon bapak tua berjenggot putih. Kami kini berada di dalam mobil, lebih nyaman di sini daripada bertemu dengan orang lain.
“Aku?” Ia meminum cola miliknya. “Aku ndak terlalu ingat muka orangtuaku. Mereka ngebuang aku di tepian pantai Kuta di umur tiga tahun. Mungkin karena masalah ekonomi.”
“Kamu tahu, aku punya keluarga yang luar biasa kaya. Papa dan Bunda itu seorang pengusaha, bahkan Papa juga jadi politisi karena dia kaya. Entah kenapa aku kadang jadi kaya orang yang enggak bersyukur ….”
“Semua orang udah ada jalannya masing-masing. Seperti aku, siapa yang mengira anak empat tahun hidup di jalanan, diasuh oleh orang yang sama sekali ndak aku kenal. Aku dipaksa bekerja ini itu untuk mereka biar aku bisa makan.”
“Kamu hidup di jalanan, tapi kamu tetap cantik. Selama ini yang aku lihat cuma gelandangan muka berdebu,” balasku.
“Mungkin kedua orangtuaku cantik dan tampan, itu menurun padaku. Ya … setiap orang sadar kalau dirinya itu cantik. Aku mengakui itu juga.”
“Bagaimana kamu masuk panti asuhan?” tanyaku.
“Aku kabur dari bos, semacam orang yang mengasuh kami, tapi dieksploitasi. Mungkin aku lebih berpikir logis daripada anak seumuranku, jadi untuk bertahan hidup apa salahnya nawarin diri untuk masuk panti asuhan.”
“Apa? Kami nawarin diri masuk ke panti asuhan?”
Tentu saja aku kaget dengan hal tersebut. Jika anak-anak telantar yang sering aku ajak bermain berpikir seperti itu, mungkin banyak di antara mereka yang tidak akan hidup di jalanan lagi.
Semara mengangguk. “Iya, aku ngelakuin hal itu. Aku juga bersekolah, lalu diadopsi sama sepasang suami istri kaya. Aku kabur lagi waktu SMP, jadi anak jalanan lagi. Ya, kita sama … selalu kabur di dalam hidup ini.”
Tanganku merangkul tubuhnya. “Jika kamu masih bisa kabur, berarti kamu masih hidup. Sesimpel itu …..”
“Ke mana kita selanjutnya?” tanya Semara.
“Kamu mau kuliah?” tanyaku.
“Apa? Kuliah? Bagaimana bisa?”
“Kita hari ini ada jam perkuliahan. Kalau enggak masuk, bakalan dapat nilai E ….” Aku melihat jam tanganku.
Aku mengingat perkuliahan itu merupakan bagian dari mata kuliah pilihan di Fakultas Psikologi. David selalu kesal dengan caraku memanjat fakultasnya setiap siang pukul dua, lalu aku tambah lagi dengan cara memasuki jam kuliah darinya. Entah kenapa David tidak menyukai mata kuliah itu, padahal berkaitan dengan masalah mental seseorang. Aku masuk saja tanpa memedulikan aku mahasiswi mana, lagi pula dosen tidak peduli dengan siapa saja mahasiswa yang masuk.
Tepatnya di Gedung Bersama Universitas yang bisa menampung lebih banyak jumlah mahasiswa dalam satu kelas. Karena kelas tersebut merupakan mata kuliah pilihan, jadi yang bergabung merupakan mahasiswa dari berbagai tingkat semester. Aku masuk saja pada saat itu, bergabung untuk menambah kekesalan David.
“Kamu bisa buat kulit aku jadi tambah keling?” tanyaku sembari mengambil tempat make-up yang sudah seperti koper itu.
“Ya bisa … itu mudah.”
“Buat aku jadi tambah keling.”
Semara melakukan keahliannya. Ia merias kembali wajahku agar seperti yang aku pinta. Dasarnya, kulitku tidaklah putih, melainkan sawo matang hasil bermain panasan sewaktu kecil. Hasil yang didapatkan ternyata di luar ekspetasiku. Aku tinggal menambah wig rambut hitam panjang sebahu milik Semara. Lalu, pergi ke gedung tersebut untuk menikmati waktu-waktu perkuliahan kembali.
“Hei … kalau ketahuan kita tinggal kabur. Dosen itu udah tua, enggak mungkin bisa mengejar kita.” Aku memerhatikan setelan pakaian Semara yang sudah seperti anak kuliahan. “Kamu udah cocok kok jadi anak kuliahan. Malah, bisa jadi top girl di fakultas kalau penampilan kamu begini. Asal jangan jadi ayam kampus aja.”
“Temanku banyak jadi ayam kampus, teman-teman seprofesi.”
Wajahku memandang datar. “Ah … jangan bahas itu lagi. Sekarang … pegang buku dan pena ini. Jangan pernah sesekali bertanya. Kalau ditanya sama dosennya, bilang enggak tahu.”
“Kalau dimarahin bagaimana?” tanya Semara.
“Ya udah … kan kita ga ada pengaruh nilai.” Aku menyerahkan tas miliknya. “Kita ini cuma pura-pura jadi mahasiswa. Jadi, jangan cemas kalau kena marah dan diancam nilai jelek.”
“Oke … kamu duluan ….”
“Semara, kalau kamu ikut denganku, siap-siap dengan hal-hal seperti ini,” pungkasku.
Aku tahu jadwal tersebut karena aku melihatnya dari jadwal universitas. Akun mahasiswa di website universitas milik David masih aku ingat, sehingga aku bisa melihat jadwal-jadwal mereka dengan mudah. Beruntung David tidak memasuki mata kuliah tersebut.
Tidak ada satu pun orang di sini yang mengenalku dengan penampilan begini. Walaupun dengan penampilan asli, paling hanya satpam dan cleaning service yang tahu diriku berkat bermasalah dengan peraturan.
Semara tampak cemas memasuki kelas yang masih belum ramai. Jika ia pernah ke sini sebelumnya, pasti ia terkejut dengan membludaknya mahasiswa yang menghadiri. Seperti biasa, aku selalu suka duduk paling belakang agar tidak menjadi perhatian dosen-dosen. Semara aku minta duduk di samping. Tugasnya hanyalah duduk dengan tenang sembari mencatat apa saja yang dikatakan oleh dosen nantinya.
“Sebenarnya kamu ngajakin aku ke sini buat apa?” tanya Semara. Ia kembali melihat ke sekitar. “Aku cemas Reira kalau ketahuan.”
“Pertama aku rindu kuliah, kedua aku pengen kamu bisa ikut kuliah. Enggak semua orang yang bisa kuliah. Kamu harus tahu itu,” balasku sembari melihat handphone.
Tidak banyak yang dapat aku lakukan dengan handphone kecuali membuka media sosial Instagram yang memungkinkan diriku tidak ketahuan. Sedang asyik-asyiknya aku melihat laman Instagram, tiba-tiba saja Semara memukul pundakku berkali-kali.
“Pinjam pena … pinjam pena!”
“Apaan sih?” ucapku dengan nada kecil. Tatkala aku melihat seorang pria yang sedang menoleh ke belakang, mataku seakan dihantam oleh sosok bermata teduh dengan wajah pucat.
“Kalian punya pena? Kalau enggak ada ya enggak apa-apa.” tanya pria itu.
Pena milikku menyusup ke tangan Semara, ia memberikannya kepada pria yang ada di depan.
“Ini ada,” ucap Semara.
“Kalian semester berapa?”
“Hmm … semester tiga.” Semara menjawabnya sesuai intruksi.
“Oke … terima kasih …..”
Pria itu kembali ke depan. Wangi parfumnya hampir sama seperti aroma wanita di mana pernah menemani hari-hariku dahulu. Tidak aku sangka ia sudah punya rambut gondrong yang diikat ke belakang agar terlihat rapi, manis selayak puisi-puisi yang pernah ia kirimkan di malam minggu.
Itu David … Ia sedang beraromakan Mawar.
***