
EPISODE 131 (S2)
Semuanya sudah terjadi. Tidak ada satu pun yang bisa menangkalnya, kecuali Tuhan sendiri. Keesokan harinya Reira memberitahukan diriku bahwasanya ia sudah menghubungi seluruh teman-teman mengenai hal tersebut. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, mereka akan mengonfirmasikannya padaku. Ucapan duka cita terucap dari kepedulian hati para sahabat. Tidak satu pun yang tidak terkejut, terutama menyadari wafatnya Bu Fany ketika ia tersenyum riang di sebuah acara.
Sungguh aku akui, ia sangat handal menyembunyikan hatinya tersebut. Masih aku juluki sebagai manusia yang tidak dapat ditebak, begitulah dirinya tatkala bersedih hati menanggung sesautu. Kesedihan ia pendam dengan topeng persona yang dipakai dan ditunjukkan kepada orang lain. Terkelabuhi mereka-mereka yang menatap persona tersebut. Reira berkelut di dalam dirinya sendiri tanpa ada satu pun yang mengetahui.
Subuh hari aku beranjak ke rumah Reira setelah sebelumnya aku memberitahukan hal ini kepada Dika. Dika seakan tidak percaya ketika aku mengatakan hal tersebut dan mengira bahwasanya aku sudah berbohong. Ya, aku berterus terang dengan menunjukkan segala bukti berupa pesan singkatku kepada Reira subuh ini. Dititipkannya padak ucapan duka tersebut dan aku renungkan ketika berkendara sendirian di waktu fajar yang dingin. Aku dan Dika sama traumanya karena telah melewati dua titik krusial yang mengubah hidup kami seratus persen. Aku mengerti tatapan pupilnya yang bergetar tatkala bertanya berkali-kali mengenai kebenaran kabar itu. Kami sama-sama benci kehilangan.
Matahari memunculkan diri sedikit, mencuat seperti kepala anak ayam yang ingin melihat keluar kandang. Namun, cahayanya kuat berwarna jingga es krim mangga yang aku jilati di kala senja, sama-sama jingga. Dingin masih menusukku yang sedang menggigil di atas tunggangan vespa. Berkali-kali aku menghembus telapak tangan ketika di jalan agar sedikit terasa hangat. Hembusanku beriring dengan hiruk pikuk Ibu Kota yang selalu terlalu pagi untuk beraktifitas, seakan tidak pernah ada waktu untuk berhenti menggeraki detak jantung sebuah kota. Vespaku melambat selambat mentari yang mengikutiku, hingga sampailah aku di depan gerbang rumah Reira.
Rumah sudah dibuka di pagi hari seperti ini. Tampak beberapa tetangga yang berdiri di depan rumah, berbincang sembari menikmati tembakau pagi. Reira sudah memberitahukan tetangga sekitar. Terdapat pula mobil pick up di seberang rumah yang membawa seperangkat tenda untuk para pelayat, tetapi masih belum dipasang. Aku salami satu per satu bapak-bapak yang sedang berdiri di ujung pagar. Mereka menyebutkan bahwa Reira dan keluarga sedang berada di dalam rumah.
Aku ketuk pintu rumah dua kali, menatap Ibu-Ibu yang sedang membentang tikar. Terdapat salah satu orang yang paling sibuk sedang mengangkat meja yang ukurannya dua kali lebih besar darinya. Masih dengan pakaian Melayu tadi malam, berkerudung hingga terjulur ke dada. Reira menyadari kehadiranku. Tatapannya lurus seiring dengan langkah yang menghampiri. Dugaan mengenai ia akan memelukku ternyata salah, ia berdiri dengan tatapan tak berekspresi.
“Gue enggak nangis tadi malam setelah sampai di rumah.”
“Udah gue bilang, jangan pernah menahan tangis,” balasku.
“Gue ketiduran, itulah kenapa gue enggak nangis.” Ucapannya terdengar sangat tennag tatkala ia berbalik diri. “Kakek Syarif dan yang lain ada di belakang. Mereka lagi nyiapin tempat mandiin jenazah.”
“Kami berduka banget Rei, terutama gue dan Dika.”
Dirinya menggeleng. “Gue udah bosan dengerin itu sejak tadi. Apa ada kalimat lain.”
Ia seakan mengajakku berdebat, tetapi tidak ingin aku ladeni hal tersebut. Aku ikuti saja Reira ke belakang. Aku dapati Mawar sudah lebih dahulu datang ke sini daripada diriku. Ia menunduk di atas meja teras belakang untuk meletakkan teko teh. Baru kali ini ia menutup rambutnya, meskipun dengan seutas selendang tipis yang dililit. Memang, tidak ada waktu bagi kami untuk menebar senyum di saat-saat yang seperti ini. Setiap pertemuan akan hanya dihiasi dengan tatapan datar yang menatap.
“Mawar ke sini sebelum mereka yang di sini datang.” Reira menuangkan teh ke dalam gelas plastik. Lalu, ia menyicipnya sedikit sebelum diberikan kepadaku.
“Jam?”
“Dua ....”
Kata itu membuatku menatap kepada Mawar. Aku mengantarnya pulang hampir jam satu dini hari. Ia pasti tak sempat tidur hingga langsung beranjak ke mari.
“Jadi, rombongan dari Singapura udah ke sini?”
Reira duduk di atas kursi. Ia lipat kakinya ke atas. “Papa dan jenazah Mama bakalan berangkat lebih cepat, nanti siang akan sampai. Sedangkan keluarga Papa yang ada di sana, mungkin sampainya besok. Begitu pula keluarga Mama di Kepulauan Rian dan di Riau. Ya ... satu-satunya keluarga gue di sini Kakek Syarif, oh tidak ... kalian juga.”
“Kenapa enggak di rumah Papa lo aja disegerakan jenazahnya?” tanyaku.
“Kakek Syarif melarang karena dia tahu Kakek Kumbang akan sama-sama marah kalau dia tahu.”
Pagi menunjukku cerahnya di senyum Reira kali ini. “Itu yang gue mau. Manusia cuma sadar di kala nuansa kematian. Barulah semuanya sok merasa sejajar dengan yang lain.”
Tanganku menyentuh rambut Reira. “Gue ngebantu yang lain dulu.”
Matanya hanya micing untuk sebuah respon. Ia biarkan diriku bergabung dengan yang lain. Terlihatlah Kakek Syarif dan beberapa bapak-bapak sedang membentang tirai penutup pemandiang jenazah. Intruksinya terdengar ketika memperbaiki ikatan simpul tali untuk tirai. Sementara itu, aku lihat Bang Ali duduk di bawah pohon rambutan berakar. Terdapat pula Razel yang duduk berjongkok untuk menggergaji papan kayu. Merasa lebih cocok bekerja di sana, aku segera menghampiri mereka.
“Akhirnya datang ....” Bang Ali berkeringat peluh di dahinya. “Bantuin kami bikin papan nisan.”
Aku lemparkan kotak rokokku padanya. “Dibawa nyebat dulu.”
“Nah, gitu dong perhatian.” Ia menepuk papan sebagai kode terhadap Razel. “Lo jangan ngerokok dulu, ada bapak lo itu. Haha ....”
“Idih ... malah ketawa. Enggak tahu lagi ada di suasana duka, apa?!” Razel kembali menggergaji papan tersebut.
Melihatnya yang sudah bernapas payah, aku pun berinisiatif untuk menggantikan Razel. Ia akhirnya bisa bernapas duduk untuk minum air putih. Papan nisan yang telah dipotong sedemikian rupa, kini diperhalus dengan menggunakan amplas sederhana. Giliran Bang Ali yang memahatnya hingga membentuk runcingan ke atas. Kami menyerahkan tulisan nama Bu Fany kepada Razel. Ia terlebih dahulu bertanya kepada bapaknya sendiri apa saja yang akan ditulis, lalu kembali lagi ke tempat kami.
Duduklah Razel membelakangi pohon rambutan berakar ini. Berkokok ayam menyambutnya yang sedang melukis nama ibunda dari Reira di permukaan papan. Razel baru berani menghisap rokok karena terhalang penampakannya berkat batang rambutan. Lidahnya muncul di ujung lidah, cermat memerhatikan setiap goresan yang ia buat. Habis sebatang rokok kami hisaps sembari berjongkok, selesailah satu papan nisan beserta tulisannya.
“Raja Fany Isyraq binti Raja Ishak Al-Kuantany ....” Aku membaca dua nama yang ada di papan tersebut. Terdapat dua nama yang melekat di sana dan nuansa nama tersebut sangat identik sebagaimana Melayu yang islami.
“Abang tahu arti kata Raja di nama ini?” tanya Razel sembari melepaskan rokok dari bibirnya.
Kami sama-sama tidak mengetahuinya. Sontak kami berdua menggeleng.
“Raja adalah salah satu gelar kebangsawanan Melayu. Setiap dari keturunan ini, pasti cerdas. Aku tak pernah melihat orang yang bergelar Raja, Tengku, Sutan, Daeng, dan lain sebagainya yang tak pintar. Pasti pintar semua.”
Mata kami tercengang mendengar kalimat dari Razel. Ibu Fany memiliki gelar yang merupakan gelar kebangsawanan Melayu, diturunkan dari Kakek Kumbang secara langsung.
“Gue enggak ngelihat ada gelar Raja di nama Reira.”
“Gelar ini putus di garis Bu Fany karena Datuk Kumbang enggak punya anak laki-laki. Secara garis keturunan, Kak Reira seharusnya orang Jawa, bukan Melayu. Tapi, secara budaya ... ia dibesarkan di Budaya Melayu.”
Bang Ali menunjuk ujung nama dari Kakek Kumbang. “Al-Kuantany ini nama gelar, kah?”
“Al-Kuantany berarti orang Kuantan. Batang Kuantan itu sebuah sungai besar di Riau, bermuara ke Selat Malaka. Kakek Kumbang lahir di atas Batang Kuantan waktu perjalanan pulang ke Siak Sri Indrapura.”
Hatiku berdecak kagum dengan nama penuh arti ini.
***