Captain Reira

Captain Reira
43



Sebelum menginjak badan gunung, kami berjalan melalui jalanan datar berpasir. Kaki kami dipaksa berjalan kira-kira sepanjang tiga kilometer. Reira memimpin petualangan kali ini. Tampak semangat yang ia tunjukkan begitu kuat, tidak ada raut wajah getir darinya. Sementara itu, aku mengikutinya dari belakang sembari menggeretakka gigi karena dingin yang menusuk.


Bergerak! Itulah ucapannya ketika aku mengeluh mengenai dingin. Dengan bergerak, tubuh akan tetap hangat. Sering kali aku memandangnya sebagai seorang lelaki, daripada seorang gadis. Ia begitu tangguh, bahkan melebihi diriku.


Badan gunung kami daki setelah melewati lautan berpasir hitam. Anak-anak tangga menyambut kami menuju ke puncak. Para pendaki sudah mulai melewati anak tangga. Mereka terlihat terburu-buru demi menjemput cahaya mentari terbit yang akan timbul satu jam lagi. Reira berada pada lima anak tangga di depanku.


Ia berhenti sejenak.


"Lo dengar itu?" tanya Reira.


Aku menggeleng. "Suara apa?"


"Suara gunung. Dia memanggil kita."


Kepalaku kembali menggeleng. Terkadang ia berceloteh mengenai imajinasinya yang ia paksakan untuk kupercayai.


"Tidak ada suara apa pun, kecuali suara langkah kita, Rei," balasku.


"Terkadang lo harus peka dengan alam biar bisa mendengar suaranya." Ia melanjutkan langkahnya.


Ada banya hal yang belum kumengerti darinya. Mungkin, aku mengetahui namanya, tetapi tidak pada ceritanya. Pengalaman-pengalaman yang pernah ia rasakan, membawa seperangkat misteri yang hanya ia sendiri yang mengerti. Benar kata Candra, ia adalah Reira. Seorang gadis dengan semua hal langka yang bisa membuatnya tertarik. Kita mungkin kita hanya bisa menggeleng dikarenakan filosifi hidup yang unik.


Peluhku mengalir di pelukan dingin hawa gunung. Tanganku seakan mati rasa walaupun sudah memakai sarung tangan tebal. Tiga puluh menit rasanya kaki dipaksa untuk digerakkan menuju ke puncak. Masih ingat olehku bagaimana melawan demam di suhu sedingin ini. Hingga pada akhirnya aku tiba-tiba terbangun di kamar penginapan.


Para pendaki sudah berkumpul di puncak lebih dulu dari kami. Wajah-wajah penat mereka menadah ke langit gelap dengan sedikit bintang redup. Bulan masih tersenyum di bumi bagian barat untuk menunggu sosok yang akan menggantikannya. Reira berjalan ke tepi puncak untuk lebih dekat ke arah barat. Tangannya menuntunku untuk mengikuti langkah kakinya yang kecil.


"Suatu hari nanti gue ingin ke bulan," ucap Reira pelan.


Aku menelan ludah. Ia kembali berangan-angan gila.


"Melaut saja lo belum pernah, apalagi ke bulan," balasku.


"Setelah ke bulan, gue mau ke bintang-bintang kecil di sana. Tentu saja setelah gue bertemu dengan naga di Laut Cinta Selatan, pinguin di Antartika, dan kodok sebesar kucing di Afrika. Lo selalu menemani gue, kan?"


Wajahnya menatapku dengan sebuah harapan gila. Aku tidak bisa mengelak dari sorot matanya yang tegas. Terlalu memaksakan benih-benih yang tengah merekah di dalam hati.


"Ke mana pun, apa pun harapan lo itu, gue bakal menemani. Kecuali, ke bulan gue enggak sanggup."


"Lo menjawab dengan setengah keyakinan." Ia menggeleng, lalu menatapku kembali. "Tahu kenapa dunia terlalu kejam sama lo?


"Kenapa?" tanyaku.


Aku menelaaah kalimat panjangnya yang filosofis. Harapan-harapanku telah sirna semenja tidak ada lagi orang yang begitu berharga. Ayah, Ibu, dan Rio telah lama tiada. Hilang sudah tempat aku mengadu, Tidak ada lagi orang-orang yang selalu memberikanku semangat hidup. Dika? Aku tidak yakin ia akan selalu ada untukku. Suatu saat ia akan berkeluarga, sementara aku akan tetap sendiri.


"Dulu gue bermimpi menjadi dokter. Semenjak Ayah meninggal, gue mengubur mimpi gue itu. Lalu, Ibu mendapatkan uang yang besar dari perusahaan dan ia meminta gue untuk menjadi perwira polisi dengan uang itu. Semuanya sia-sia semenja Rio dan Ibu sakit. Uang itu dijadikan untuk biaya pengobatan. Enggak ada tempat untuk gue bermimpi. Mimpi gue sirna, Rei."


Bulir tangisku mengalir di ujung mata. Isakku terdengar walaupun masih sempat kutahan. Aku rindu semuanya. Hatiku telah lama membeku oleh rasa sepi yang mereka tinggalkan. Reira menarik kepalaku untuk jatuh ke pundaknya. Tidak ada raut wajah sedih yang ia dapati dari mendengarkan pernyataanku. Ia tersenyum, benar-benar tersenyum.


"Lo masih punya Dika. Tuhan bisa saja kejam dengan merenggut semua anggota keluarga lo. Tapi, kenapa Tuhan menyisakan Dika? Karena Tuhan tahu lo butuh tempat untuk mewujudkan mimpi. Alasan Dika capek-capek buka bengkel, biar lo bisa kuliah. Dengar dan ingat kalimat gue sampai kapan pun. Lo harus tetap bermimpi."


Jam tangan berdenting di pukul setengah empat. Semburat cahaya yang sempat kulihat hari kemarin, kini kembali dapat kutangkap melalui serat-serat cahaya yang merambat di garis bumi timur. Mentari perlahan menunjukkan eksistensinya kepada kami. Penjuru bumi perlahan dibelai oleh cahayanya. Masing-masing mata kami menatap takjub kepada bukti kebesaran Tuhan. Tuhan begitu agung menciptakan sang mentari. Begitu besar rasa syukur yang terucap dalam gema sorak gembira yang kami kibarkan.


Memandang wajah cerah Reira, membuatku tersenyum senang. Garis wajahku terukir dalam terpaan cahaya mentari fajar. Dapat kulihat dengan jelas bayang-bayang bulu matanya yang jatuh pada kedua pipi merahnya. Tanganku merangkulnya untuk tetap bersandar padaku. Kuharap ia tidak akan melepaskan tangannya yang melingkar hingga momen ini berakhir.


Inikah momen yang ingin ia tunjukkan padaku? Sebegitu spesialnya setiap detik yang ingin ia bagi. Sangat berarti setiap helaan napas yang terhembus ketika diriku bersamanya. Tidak pernah kuingat latar belakang pengalaman cinta yang pernah kurasakan, bahwa aku mencintai seseorang yang acap sekali menggali lembah luka pada hatiku. Tangis yang kuisakkan darinya, selalu dihapus oleh sosok Reira. Kini, aku punya yang lebih berarti. Hanya saja aku terlalu lambat untuk mengakui.


"Sekarang gue tahu ke mana gue akan mewujudkan mimpi gue," ucapku sembari menadahkan mata ke langit yang terang.


"ke mana?" tanya Reira.


"Pertama adalah Dika, yang kedua adalah lo. Ayo, kita ke Antartika, ke Afrika, bahkan ke ujung dunia pun demi mewujudkan hal gila yang selalu lo tuntut dari gue." Aku tersenyum.


Ia diam sesaat. Aku hanya melihat anggukan kepalanya yang pelan.


"Lo lihat itu? Mentari membalas senyum gue di puncak Bromo. Surat itu nyata, karena gue yang menuliskannya. Gue benar-benar merasakan itu."


Aku menarik napas dalam-dalam. Seperti Reira, aku juga ingin merasakan titik dari kepekaaanku pada alam.


"Gue juga merasakannya," balasku.


"Enggak," jawabnya dengan cepat. "Lo enggak bakal bisa."


"Kenapa?"


"Karena mentari yang gue maksud adalah lo, Dave."


Sungguh, ia terlihat cantik saat mengatakan kalimat itu. Aku ingin sekali mengulang adegan ini berkali-kali demi mengingat setiap huruf yang ia katakan. Cinta yang dulu hanya berupa benih tak tumbuh, kini merekah menjadi sebuah kelopak bunga yang indah. Aku mencintainya, sekarang aku mengakui untuk menegaskan keraguanku yang pernah terpikir.


Bibir kami saling bersentuhan. Puncak Bromo dan cahaya mentari pagi menjadi saksinya.


***