Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 27 (S2)



EPISODE 27 (S2)


Malam aku lalui dengan perasaan cemas akan buaya yang marah. Bisa jadi kakinya yang senyap itu merayap ke pondok untuk sekadar menyapa. Namun, ia cukup berterima kasih karena dapat ayam kampung betina gratis tanpa merasakan cemas untuk ditangkap warga. Buaya itu tak lagi kelaparan di malam hari ini, seperti aku dan Reira yang kenyang oleh sebungkus mie instan yang kami seduh diam-diam. Sementara itu, Candra dan Razel masih jauh tenggelem dalam tidur mereka.


Itulah sekelumit cerita Reira malam hari ini ketika ia berhasil membuktikan buaya itu benar adanya. Umpan ayam hidup yang masih berkotek ternyata memancing kehadiran buaya yang dicari-cari. Buaya tersebut menyambar umpan hingga melepaskan kayu pancangan yang ditancapkan dengan kuat oleh Reira. Benar kata wanita itu, tidak mungkin ikan bisa menarik kayu tersebut kalau bukan sosok yang memiliki kekuatan besar. Hanya saja, kami tak sempat melihat bagaimana buaya tersebut menarik umpan. Ia hadir tatkala kami tertidur, terutama Reira yang turut tertidur dan terbangun ketika mendengar riak air yang cukup besar di sungai.


Subuh hari menanti kami di kota Manggar. Waktu menunjukkan pukul lima pagi tatkala kami bersiap-siap untuk melangkah pulang. Hanya empat buah ikan yang kami dapati malam ini dengan ukuran sedang. Satu di antaranya yang paling besar kami berikan kepada Pak Cik pemilik pondok. Kami cukup berterima kasih karena sudah diberikan tempat untuk bertamasya malam dengan rasa cemas akan kehadiran seekor buaya.


Betapa senangnya wajah Pak Cik tersebut ketika memindahkan ikan tersebut ke wadah miliknya, walaupun hanya seekor. Ya ... begitulah rasa terima kasih yang ditunjukkan oleh orang-orang tua yang penuh dengan nilai moralitas. Rasa syukur itu masih aku ingat hingga sesampainya di tepian dermaga.


Matahari muncul pukul enam lewat sedikit.


Reira melambai di tepian dermaga menyaksikan kapal leon kebanggaannya itu pergi perlahan menuju tengah laut. Tatap ia dan seluruh awak kapal yang ada di sana seakan menyimpan rindu teramat dalam, terutama kepada beberapa anak remaja jalanan yang Reira bawa. Enggan baginya untuk bersedih wajah, ia tetap memancarkan cahaya senyum seakan ingin mengalahkan mentari yang bersinar redup di sebelah timur.


“Gue harap Kakek Syarif tiba ke sini lagi tepat waktu,” ucap Reira dengan pelan.


“Iya, kita akan ke pernikahan Fasha,” balasku.


“Bukan itu, gue ingin mengajaknya berenang di laut. Sudah lama bapak tua bangka itu tak berenang. Apa ia masih sangup atau tidak, gue enggak tahu.”


Kami yang sedang berdiri sejajar pada batas beton tepian dermaga langsung melihat Reira. Anak itu memang tidak ada habis-habisnya. Jika kau berpikir hal itu hanya sekadar wacana, maka aku sarankan untuk berbalik arah dan minum air secukupnya. Aku ramal ia pasti akan menyeburkan Kakek Syarif untuk diajak berenang bersama, lalu menyelam bersama demi membuktikan napas siapa yang paling bertahan lama.


“Ayo kita jualan.” Candra berbalik langkah lebih dulu.


“Ayo ... ada rejeki yang menyambut kita.”


Hari ini kami kehilangan personil penting sebagai juru kunci penarik pelanggan, yaitu awak kapal Reira. Merekalah yang berjasa melangkah ke sana dan ke mari untuk mempromosikan barang dengan cara mereka masing-masing. Mungkin saja Reira akan menugaskan Razel untuk melakukan hal itu. Namun, anak pemalu itu mana mau melakukannya. Ia mungkin lebih memilih menjadi juru keamanan lapak kami, walaupun postur tubuhnya tak mendukung mendukung menjadi security.


Setelah sarapan di kedai lontong di mana pernah makan sebelumnya, motor melaju di jalan bersamaan dengan angin laut kota Manggar yang dingin. Pagi masih terlalu pagi untuk beraktifitas berat, namun pasar sudah ramai oleh para ibu-ibu yang membeli bahan masak harian. Para nelayan bolak-balik mengangkut wadah ikan menuju pengepul. Tentu saja Reira sudah tidak sabaran untuk segera menjajakan jualan kami. Ia memintaku untuk menambah kecepatan hingga ke rumah Zainab, padahal dingin menusuk tulangku saat ini.


Paha Reira basah oleh tumpahan air dari ember ikan yang ia bawa. Bagaimana tidak tumpah jika ia memintaku untuk melaju seperti remaja tanggung yang sedang balapan liar. Semula ember diisi air hingga setengah, namun kini hanya tinggal sebatas ikan untuk bernapas. Ia malah tertawa melihat ikan itu sudah mengap-mengap kekurangan air.


“Pak Cik, kami bawa ikan!” teriak Reira dari bawah rumah.


Keluar kepala Pak Cik dari jendela ruang utama. “Wah, kalian udah pulang. Mana ikannya?”


Reira mengangkat ember tersebut ke atas sembari menunjukkan ekspresi bahagia. Persis seperti bocah yang baru saja menangkap belut dari comberan, lalu menunjukkan kepada orangtuanya betapa berbakat dirinya berkutat di dunia permancingan.


“Wah, lumayan besar-besar. Nanti Mak Cik kau panggang.” Ia mengayunkan tangannya untuk mengajak kami kami naik ke rumah.


“Ayo ke atas, ada teman kalian yang menunggu.”


“Teman siapa?”


“Hmm ... anak pemilik kopi cina dekat dermaga,” balasnya.


“Mawar?” tanya Reira kembali.


“Nah, itu namanya. Baru ingat aku namanya sama dengan nama kedai kopi orangtuanya.”


Reira memimpin kami naik menuju ke teras rumah. Belum sempat kami masuk melewati pintu, hentak kaki kecil beradu mengejar kami. Sosok wajah mungil bermata sipit menyambut kami di depan pintu. Ana tengah bersama-sama kami di rumah ini, namun aku belum melihat Mawar. Melihat adik kecil tersebut, Candra terheran-heran, apalagi mendengar nama Mawar.


“Anak siapa ini?” tanya Candra.


“Adik Mawar teman angkatan kita,” balasku.


Ana memeluk Reira dengan erat sembari menyebut nama wanita berikat rambut merah itu. Sebelah tangan Ana memegang tali karet yang biasanya dimainkan oleh anak perempuan.


“Mawar si jenius?” Wajah Candra heran.


“Iya, anak itu.”


“Bagaimana bisa ada di sini?” tanya Candra kembali.


“Ceritanya panjang. Pokoknya yang jelas, dia asli anak kota Manggar.”


Tiada aku sangka, Ana turut menyalami kami bertiga dengan penuh sopan santun. Lirik matanya yang kecil, mengingatkanku bagaimana tangis manja Ana ketika merasa kehilangan di tengah pasar. Aku pun mengelus rambut kepang duanya itu, ia memicing menikmatinya.


“Mana cece-mu?” tanyaku pada Ana.


“Ada di belakang sama Kak Zainab.”


Anak menuntun kami ke belakang untuk mempertemukan kami dengan kakaknya. Terlihat Zainab dan Mawar sedang memotong bawang di atas meja sembari berbincang kecil. Selain itu, Mak Cik Siti tampak memasak sesuatu di atas kompor minyak. Kedatangan kami yang tiba-tiba membuat aktifitas mereka berhenti.


“Hai,” sapa Mawar. “Wah, ada Candra juga.”


Candra membalasnya dengan senyum. Anak itu harus berterima kasih karena telah pernah terselamatkan olehnya ketika presentasi materi di depan kelas.


“Wah, sejak kapan lo di sini?” tanyaku.


“Oh iya, ini ada tumis kepiting sama sotong dari Mama untuk kalian,” balas Mawar tanpa menjawab pertanyaanku.


Reira langsung menyambar wadah makanan yang digeser oleh Mawar. Tangan Reira mengangkatnya, lalu menciumnya perlahan.


“Wah, gue semakin lapar kalau begini, makasih banget .... bilang sama Mama di rumah,” puji Reira.


Reira memberikan jempolnya. “Aman, dia sekarang adik gue. Gue enggak punya adik."


“Rei ....” Suaraku memperingati Reira agar menahan diri untuk tidak terlalu berlebihan.


“Haha ... jadi, kalian bawa apa?” Mata Mawar menunjuk ember yang masih ditenteng oleh Reira.


“Oh iya, gue sampe lupa.” Ia melangkah ke Mak Cik Siti yang berada di depan kompor minyak. “Mak Cik ... hari ini Mak Cik tak perlu beli bahan makanan. Kami udah bawa tiga ikan besar hasil memancing tadi malam.”


Tampak ekspresi senang Mak Cik yang menyambut ember dari Reira. “Kerapu payau ... kalian beruntung dapat yang besar-besar. Nanti Mak Cik bakar untuk kalian.”


“Oke, Mak Cik ... Candra nanti bantuin,” balas Reira.


Candra berdehem di sampingku. Ia menoleh dan mendekat ke telinga. “Kenapa gue, sih?”


Aku hanya mengangkat bahu seiring langkah Reira kembali ke hadapan Mawar.


“Gue ada penawaran menarik untuk lo,” tawar Reira pada Mawar.


Sebelah alis mawar naik. Ia tidak mengerti apa yang sedang dimaksudkan oleh wanita itu.


“Maksud lo penawaran apa?” tanya Mawar.


Reira bertegak pinggang. “Jadilah awak kapal gue. Nanti gue izinin lo pulang ke Jakarta dengan kapal Leon punya gue.”


“Apaan sih?” Mawar kembali mengiris bawang yang masih belum selesai di atas papan.


“Reira ... lo ada-ada aja,” sindirku di belakang.


“Apaan?” Ia menoleh ke belakang untuk menyerangku dengan sorot matanya. Aku julurkan ujung lidahku untuk mengejek wanita itu. Tidak lama kemudian, ia kembali melihat Mawar. “Mau enggak?”


“Gue bisa naik kapal travelling yang biasa gue naikin.” Mawar tetap tidak ingin melihat Reira.


“Ayolah ... gue butuh juru masak di kapal gue. Gue enggak mau tiap hari makan mie buatan Razel,” balas Reira.


Razel tersenyum kecut mendengar kalimat itu. Anak itu memang pandai segala hal, namun untuk memasak tentu saja ala kadarnya. Yang penting kami bisa makan dan tidak kelaparan.


“Lo bisa bayar gue berapa untuk jadi awak kapal bodoh lo itu?” tantang Mawar.


Reira tentu saja melipat tangan mendengar hal itu. “Jaga mulut antum, Anak Muda. Anda jangan tanya kepada saya kalau soal uang.”


“Apa untungnya gue jadi awak kapal lo?”


Kepala Mawar memiring menatap Reira.


“Pengalaman ... sesuatu yang enggak bisa lo dapati dari dari segudang buku yang lo baca.” Reira mendempetkan jari telunjuk dan jempolnya, analogi sempitnya dunia yang sering dijalani. “Buku lo itu hanya segini, namun alam lebih terbentang daripada lembaran buku.”


“Gue enggak gila kaya gitu.”


Reira menjentikkan jemarinya. “Nah, justru itu sekarang gue lagi nyari orang waras karena seluruh awak kapal gue ada dari yang patah hati, ada yang enggak suka sama cewek, para remaja yang putus sekolah, dan Kakek harmonika serta anaknya yang sama gilanya. Sekarang gue cari yang waras, itu adalah lo!”


“Bodo!”


“Baiklah ... akan gue buat lo menginjak kapal gue nanti. Hahahah ....” Reira berbalik arah ke arah kami. Ia tepuk pundak kami satu-satu sembari tersenyum sinis. “Ayo, Pemalas ... ada anak-anak yang ingin baju di pasar sana!”


Sudah aku bilang, ia kapten kapal yang tirani dan bertangan besi. Seberapa pun semangat kami mengikuti ide gilanya itu, tetap saja kami dianggap sebagai awak kapal yang sering malas-malasan. Aku turut tertawa ketika ia menjelaskan kepada Mawar mengenai tipe para awak kapal yang ia miliki.


Awak kapal yang dari golongan patah hati tentu saja merujuk kepadaku. Masih segar di dalam ingatan ketika ia berkata bahwasanya Reira membutuhkan awak kapal yang sedang berpatah hati. Lebih parah lagi ia meruju kepada Candra dengan sebutan awak kapal yang tidak suka kepada wanita. Ada-ada saja anak itu. Candra sudah pasti mengutuknya di dalam hati berkat senyuman itu.


Entah apa yang sedang di pikiran Reira untuk mengajak Mawar kepada ide gila ini. Bahkan, ia menyatakan jika sedang mencari awak kapal yang waras karena menganggap seluruh awak kapal yang ia miliki merupakan orang gila, termasuk dirinya sendiri. Aku pun memikirkan itu tatkala Reira menyetir truk kuning di sampingku setelah memaksa Candra dan Razel untuk naik di bak belakang. Zainab tidak akan hadir hari ini karena ia akan menemani Mak Cik Siti memasak. Reira pun tak memaksakannya dan hanya bertanya apakah ia ingin ikut atau tidak.


“Hahah ... Rei, apa lo enggak berlebihan tadi ngajakin Mawar buat jadi awak kapal bodoh lo itu?” tanyaku.


“David, lo kira gue enggak mendengar percakapan lo sama dia ketika di mobil Mawar? Gue tahu dia itu sering baca buku dan tahu banyak hal, namun dia enggak punya banyak teman. Bisa aja tadi itu sebenarnya dia pingin ketemu sama kita, kebetulan banget mamanya itu ngasih kita kepiting tumis.”


“Ah, sok tahu banget lo,” cibirku.


Telapak tangannya menepuk belakang leherku, walaupun tidak keras.


“Gue ngelihatnya dengan jelas. Sebagai orang jarang tersenyum, aneh sekali tersenyum sesenang itu waktu kita datang. Trus, malah nyapa sebelum kita yang nyapa. Lo bagaimana sih, anak Psikologi tapi enggak bisa observasi hal yang seperti itu.”


“Gue tipe mahasiswa yang senang kalau dosen enggak datang,” balasku dengan singkat.


“Aduh! Lo ini!” Ia kembali melihat ke depan, memerhatikan jalanan yang sedang kami lewati. “Gue ingin menyelamatkan orang sebanyak mungkin dengan pengalaman. Biar dia ngerasain hidup yang sebenarnya itu seperti apa. Kaya lo yang udah gue selamatin.”


Kalimatnya membuatku tertegun. Aku tunjuk satu titik di mana aku hanya berkutat dengan dunia sempit, hingga aku bisa menancapkan jejak kaki pada garis-garis samar yang aku sebut sebagai zona luar. Reira sendiri yang menuntun tanganku, menggenggamnya dengan erat, agar aku bisa melenggang bebas melihat dunia. Aku pun sadar bahwasanya dunia yang selama ini aku jalani belum seberapa daripada pengalaman hidup yang sebenarnya. Kini, Reira ingin menyelamatkan satu orang lagi dengan tulus, memberi arti kehidupan padanya.


Aku bisa menyebut diri kami sebagai orang-orang yang terselamatkan. Hidup kami sungguh berbeda semenjak mengenal wanita aneh yang tiba-tiba mengaku menjadi pacarku di malam jamuan puisi kampus. Langkah kami tak lagi beritme alunan yang sama, namun berbeda dengan melodi yang lebih menghidupkan. Tidakkah hidup lebih menarik dengan diberikan sedikit harmonisasi, seperti Reira berikan kepada kami? Tentu saja akan sangat berpijak mengenai inti jiwa kehidupan. Ia yang membuka mata kami untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, tidak terpaku di dalam satu titik hingga terkatung tidak bisa apa-apa.


Kembali kami berkutat mengenai masalah pasar. Reira memulai aksinya dengan lebih ganas.


“TOLONG BELI PAKAIAN KAMI!”


***