Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 108 (S2)



EPISODE 108 (S2)


Tercebur bersama-sama ke dalam air yang dinginnya menusuk tulang. Bayangkan saja, aku tak ingin berenang di sini di siang terik pun. Malam yang dingin ini seakan membuat darahku membeku. Bergemuruh air masuk ke dalam telinga, bergemeretak gigiku tatkala muncul ke permukaan. Hanya hangatnya senyum Reira yang menghiasiku sembari mengatakan aku adalah orang bodoh. Sudah sekian kali dirinya menyebutku dengan kata itu, tetapi kali ini aku yakin wanita itulah yang bodoh. Ia gila dan tak terkendali.


Memang benar yang ia katakan, aku ada sebagai penyeimbang dirinya yang selalu mengikuti kemauannya sendiri. Jikalau aku turut serta mengikuti paksaan tangannya yang mengekangku untuk menjadi waras, sudahlah semuanya akan terjadi. Aku ingin sekali menjamah tubuh kecil dengan sentuhan lembut yang menggairahkan, tetapi bukan waktuku kali ini melakukan hal tersebut. Ingin sekali aku lihat Reira yang memejamkan mata dengan ujung bibir tergigit begitu nikmat, tetapi tak tega hatiku melakukan itu padanya. Sudah aku bilang, aku juga pria. Namun, aku hanya ingin ada di waktu yang tepat, di kala cinta kami benar-benar satu, kucurahkan seluruh ragaku untuk ia nikmati sesukanya.


Sentuhan tangannya pada wajahku yang basah menyadariku satu hal. Ia hanya ingin menghibur diri dengan seluruh kesedihan yang tengah ia tampung di belakang wajah. Hatinya rapuh seperti gabus yang digosokkan pada permukaan kasar, lalu kuhembus kuat-kuat hingga melayang-layang ke seluruh arah. Beginilah Reira yang sedang di hadapanku, hanya dengan pakaian dalam tali temali. Hanya saja, anak ini selalu mengelabuhi orang-orang sepertiku dengan senyum lebar manja itu. Ia berusaha untuk terlihat kuat di hadapan orang lain.


Sekilas aku mengingat bagaimana desah Reira yang memejam mata. Hanya setengah pupil kecilnya yang bisa aku l ihat dari wajah pasrahnya untuk jatuh ke pelukanku. Jujur, ia sungguh menggairahkan, atau hanya karena aku baru pertama kali berada di momen seperti itu. Wajahnya mengernyit itu akan selalu aku ingat sebagai ekspresi terpanas yang pernah aku lihat. Hanya sentuhan sekilas dari yang ia paksakan, cukup membuatnya melayang untuk sejenak.


Aku menghela napas di atas permukaan air.


“Lo wanita tergila yang pernah gue lihat,” ucapku.


Ia menaikkan alisnya untuk menyombongkan diri. “Baru kali ini dengerin wanita mendesah buat lo? Tapi, tadi cukup bikin curiga kalau lo itu orang yang cukup handal. Sudah berapa wanita?”


Seketika aku menenggelamkan wajahnya ke dalam air. Sesuka mulutnya saja memvonisku sebagai pria yang suka bermain wanita. Aku tak tahu defenisi handal yang ia berikan, tetapi setiap pria memiliki insting untuk melakukan itu, tanpa diajari sekali pun.


“Mulut itu dijaga, ya. Enak aja ngatain gue sering begituan.”


Reira tersenyum. “Makasih udah perhatian sama gue.”


Aku terdiam mengatakannya mengatakan hal tersebut. Bukankah di sanalah peran setiap pasang kekasih untuk menaruh perhatian satu sama lain? Aku rasa ia tidak perlu berterima kasih untuk itu.


“Itu memang tugasnya seorang pacar, bukan?” tanyaku kembali.


“Tugas seorang pacar itu bawain belanja ceweknya, jemput antar ceweknya, bayarin kalau lagi jalan. Itu ....”


“Hahaha ... emangnya lo suka belanja? Trus mau gue anter jemput? Kemarin aja lo ngelarang gue buat jemput lo di sekre Mapala gara-gara lebih suka pakai motor Bang Ali. Lah, gue harus ngapain? Hahaha ....”


Ia mengusap wajahnya yang basah, lalu bergantung ke keda bahuku menggunakan tangan. “Ya, romantis kita berbeda. Romantis kita waktu mengundang buaya di Sungai Mirang, atau menerjang badai di tengah lautan. Hahaha ....”


Aku mengangguk. “Gue tahu malam ini enggak bakalan tidur.”


Wajahnya memereng. “Emangnya kenapa?”


“Setiap kita satu atap, gue belum pernah merasakan tidur yang nyaman.” Aku menekan dahinya kuat-kuat. “Ini di kepala lo sekarang pasti udah ada rencana. Gue yakin banget. Kalau salah, lo potong nih telinga gue.”


Licik sekali senyum wanita itu. Ia mendorongku untuk berusaha ke tepian. Tampaklah punggung Reira yang terikat tali simpul. Sesampainya di tepian, ia mengambil ikat rambut warna merah itu, lalu mengenakannya untuk mengikat rambut.


“Sepertinya lo benar ....” Ia tersenyum, “Gue mau nunjukin sesuatu.”


“Bukan nunjukin kalau bulan terbuat dari keju?” sindirku kembali mengenai leluconnya itu.


“Bulan itu terbuat dari keju!” tegasnya padaku. “Ini yang lain lagi, lo pasti terkejut.”


“Jadi, tentang apa?” Aku berenang menghampirinya, lalu berpangku dagu di atas pahanya yang empuk.


“Mengenai kakek bodoh bertato kumbang.”


Secercah cahaya senter menyorot kami berdua. Reira seketika menutup matanya menggunakan tangan. Melangkah seseorang dari jalan setapak yang tertutupi pot bunga besar. Samar-samar, aku melihat gerai rambut panjang sepinggang yang bergerak diterpa angin malam. Padam wajahnya yang gelap itu karena kurangnya pencahayaan, tetapi kulitnya yang cerah cukup membuatku dengan cepat mengenalinya.


“Reira ... David!” Mawar terkejut.


Ia sontak berbalik, tetapi masih berdiri di tempat. Posisi kami terlalu mesra hingga membuatnya malu sendiri. Reira terduduk di tepian, sementara aku yang masih di air dengan nyaman berpangku dagu di atas pahanya.


“Sorry, gue enggak tahu kalian di sini ....”


Reira tertawa melihat sikap Mawar yang seperti itu.


“Hahah ... santai aja, kalau mau ikut di sini ... silahkan.” Ia menatapku sesaat untuk menertawai Mawar. Lalu, kembali menoleh kepada wanita yang tengah malu-malu itu. “Sorry gue tadi bikin gaduh. Gue tiba di sini sewaktu kalian masih pergi.”


Perlahan ia balikkan kembali tubuhnya.


“Iya, enggak apa. Maaf, gue ke dalam dulu. Sorry gue ngeganggu waktu kalian berdua.”


Tanpa basa-basi, Mawar kembali melangkah menuju villa. Ia tetap saja Mawar dengan sifatnya yang pemalu serta tertutup, terutama ketika ia berada di momen-momen seperti ini.


“Dia enggak berubah, pemalu,” ucap Reira.


Aku mengangguk setuju. “Memang, sih ... itu sifat lucu yang masih ada sama Mawar. Tapi, dia sedikit mulai terbuka, kok. Dia mulai mau bicara sama orang baru. Lo tahu sendiri bagaimana kita kenal sama dia.”


“Semua pasti akan bergerak.” Ia menyentuh rambutku. “Ayo kita masuk. Gue mau makan masakan Mawar.”


Aku sudahi berdingin-dingin di malam ini. Tanganku sudah membeku sedari tadi. Genggaman tangan Reira yang masih bertahan ketika kami melangkah tak urung membuat tanganku berhenti bergetar. Barulah Reira mengajakku berendam di air hangat bersama. Masih dengan satu kolam─padahal aku ingin anak itu ada di kolam sebelah─kami bersamping-sampingan satu sama lain. Hangatlah diri dari kemelut dingin yang aku rasakan sedari tadi.


“Menurut lo gue ini sexy, ga?” tanya Reira tiba-tiba.


Aku siram wajahnya dengan tanganku.


“Pertanyaan macam apa itu?”


“Ya ... kan gue nanya aja. Soalnya ....” Ia melihat dadanya. “Gue rasa lebih menarik Mawar.”


Sekali lagi aku siram wajahnya yang sedang tidak waras itu.


“Sudah gue bilang kan ... sebesar kerbau pun badan Adek, tetap Abang akan sayang. Sebesar kijang tak makan pun badan Adek, tetap Abang akan cinta.” Aku mengulangi kalimat yang pernah aku sampaikan padanya sewaktu di teras kemarin.


“Besok gue nge-gym biar sexy.”


“Terserah lo mau ngapain,” balasku singkat sembari membasahi rambut. “Jadi, kita mau ngapain nanti?”


Ia tersenyum licik seperti biasa. “Hahah ... menggali harta karun berharga.”


Aku tidak tahu imajinasi apa yang sedang ia pikirkan. Pastinya, malam ini aku akan menemaninya untuk melakukan hal gila.


***