Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 125 (S2)



EPISODE 125 (S2)


Berdosakah aku jika terus menerus berbohong mengenai tragedi ini?


Masa lalu merupakan sejarah yang diiringi oleh sebuah fenomena. Fenomena memicu sebuah mementum masa lalu yang menentukan bagaimana kelangsungan masa depan. Selanjutnya apakah kita akan memperingati sebuah kebahagiaan atau tragedi, tergantung bagaiaman fenomena memicu momentum. Terkadang realitas tak berkerja bagaimana idealnya ekspetasi. Bukan pula bagiku jalan dari sebuah takdir, melainkan sebab akibat yang berasal dari fenomena yang kompleks.


Aku pernah berdiksui dengan teman-temanku bagaiamana dunia ini bekerja. Aku tegas menjawab bahwasanya dunia ini bekerja atas dasar hukum alam yang ditentukan oleh Tuhan. Tentu aku libatkan Tuhan dalam hal ini. Segala bentuk dan rupa di dalam realitas merupakan kolaborasi empiris yang sedemikian rupa menciptakan lukisan yang aku sebut sebagai dunia. Dunia ini pun kita pijak dan dibentuk sebagaimana rupa tingkah laku manusia. Apabila serakah, lihatlah rupa kotaku ini yang penuh dengan kesombongan duniawi.


Namun, perdebatan terjadi. Aku memaklumi hal tersebut bagi sesama orang yang idealis. Dunia ini dibentuk bagaimana dunia idea yang berasal dari pikiran subjektif manusia. Aku tahu mereka terlalu fanatik dengan Plato dengan teori dunia idea. Ia memakaikanku kacamata hitam yang ia bawa, lalu disuruh memandang ke sekitar. Yang menjadi pertanyaannya adalah, dapatkah kini aku menyebutkan dunia berdasarkan pendapat yang aku pertahankan? Apakah langit di siang hari tetap cerah dengan kacamata hitam? Apakah rupa kulit wajah teman-temanku tetap sawo matang?


Ternyata jawabannya tidak, menurut pendapat mereka. Dunia ini dibentuk bagaimana manusia melihat dunia itu sendiri. Sebagaimana Descartes berkata bahwasanya Aku ada karena aku berpikir. Aku berpikir, maka aku ada. Kacamata yang aku pakai tersebut manifestasi dari perspektif sudut pandang pikiran. Sebagai contoh, mereka yang di desa dengan serba kekurangan tetapi masih tetap bisa berbahagia, atau pun dirimu yang bertahun-tahun tak memiliki pacar, tetapi masih menyerbak senyum bahagia tanpa pendamping.


Maka, aku dapat mengambil kesimpulan bahwasanya dunia ini dibentuk bagaimana prinsip empirisme. Setiap hal di dunia ini berasal dari sebab akibat dan aku tak mempercayai hal yang bersifat tahayul, kecuali mataku sendiri yang melihatnya. Tetapi, dari balik fenomena empirisme dunia tersebut, dunia dirasakan sesuai dengan perspektif pikiran masing-masing. Jalan cerita dunia dalam bentuk konkrit ini berkisah sesuai dengan subjektifitas.


Aku berdiri kali ini di depan rumah. Aku tatap langit dalam-dalam, merasakan sukmaku bergetar di bawah naungan kegelapan yang memancar membelai wajahku. Benar semuanya sudah terjadi, tidak ada kata setuju dari Pak Bernardo. Aku hanya mengambil pusing tanpa ingin mengubah perspektif pribadi. Namun, semakin aku mengubah perspektif pribadi, semakin goyah Reira akan bertahan bersamaku. Aku kurang memiliki perspektif pribadi yang menguatkan diri. Ketika aku mengubah sudut pandangku bahwasanya semua ini adalah tantangan yang harus dihadapai, terbesit rasa takut aku akan digulung oleh ombak.


“Apa yang sedang lo pikirin?” tanya Reira. Ia melihat ke bawa. “Songket lo bagus.”


“Lo cantik, pakai selendang. Lama banget make up-nya.” Jemariku menyentuh ujung selendang miliknya.


Reira tersenyum dari bibirnya yang merah merekah. Bedak sedikit lebih tebal dari biasanya. Tak pernah diriku melihatnya yang memakai bulu mata tambahan, tetapi kali ini Reira melakukannya. Harum semerbak parfum mahal menyeruak ke hidungku, membuatku ingin selalu berdekatan bersamanya. Ia sungguh cantik malam ini, seakan diri kami yang sedang bersanding pada acara ini.


“Namanya juga cewek.” Ia tersipu malu.


“Haha ... kadang gue lupa lo juga cewek.”


Aku memulai langkah, dirinya ketinggalan di belakangkun. Namun, ia menyusulku segera. Berhati-hati Reira berjalan dengan baju kurung berwarna kuning yang kami beli waktu itu. Pakaiannya kali ini bukan seperti baju kaos dan celana jeans untuk mengejar Bang Ali yang usil, tetapi memberikan makna anggun dari seorang gadis Melayu.


“Mereka mana?” tanya Reira.


Telunjukku menunjuk ke depan. “Udah duluan. Gue sendiri yang nungguin lo masih memperbaiki riasan.”


Sanding langkah kami sejajar bersamaan dengan bulan yang seakan mengikuti, tersenyum melihat ritme hati yang berbicara di antara kami.


“Akhirnya Dika lamaran juga, ya. Gue senang banget lo bisa dapat keluarga baru. Kalian sebentar lagi enggak bakal kesepian lagi di rumah. Ada yang masakin sarapan, ada yang ngebuatin kopi waktu sore, terus ada temen bercanda baru. Soalnya lo sama Dika itu hubungannya serius banget, enggak ada santai-santainya.”


“Gue lebih senang lagi, Rei. Dia itu abang gue, keluarga satu-satunya yang gue punya. Kini dia sedang berbahagia, bentar lagi Dika ngedapatin separuh hatinya yang hilang.” Aku menghadap ke depan. “Iya, memang ... gue dan Dika itu orangnya serius. Soalnya, sedari kecil kami memang enggak akrab. Kami akrab karena terpaksa untuk hidup berdua. Jika Rio masih ada, paling dia yang gue ajak bercanda.”


“Itu namanya liver. Ini defenisi hati yang berbeda. Hahaha ....”


“Hahaha ... tapi kan kita nyebutinnya hati juga.” Reira memandangku, “Lo ngerasa udah nemuin separuh hati yang hilang?”


Senyumku padam oleh pertanyaan serius itu.


Aku tatap balik dirinya segera. “Lo separuh hati gue yang hilang, sejengkal tulang rusuk paling bengkok yang bakalan kembali lagi kepada gue.”


“Kenapa lo yakin banget?” Reira menaikkan alisnya. Aku tahu dirinya hanya ingin menjebakku dengan pertanyaan yang sulit.


“Sekarang gue tanya balik, lo ngerasa udah nemuin separuh hati yang hilang?” tanyaku balik.


“Enggak ....” Reira menjawab singkat tanpa ekspresi.


“Kok gitu, sih?”


Langkah kami makin mendekat ke luar simpang menuju lintas jalan besar. Tidak ada rombongan kami yang terlihat di depan sana, sudah berbelok ke kiri menuju rumah Pak RT.


“Gue enggak menemukan karena gue ditemukan. Sebagai contoh, lo berusaha nemuin koin yang hilang di kamar, belum tentu koin itu yang menemukan lo.”


“Oke, gue paham. Tapi, lo yakin kan gue orang yang tepat?”


“Iya ... gue yakin banget.”


“Sekarang jawaban kita sama.”


Reira seketika menggenggam tanganku. Mesra berselimut pada langkah kami yang seiring waktu, seiring tujuan. Lembut telapak tangannya yang kurasakan, ingin aku elus ke wajahku agar aku simpan kenangan itu hingga tidur nanti. Telah terjadi fenomena di malam ini bahwasanya ada dua hati yang sedang bermadu kasih seiring sejalan, memicu moementum yang akan menjadi sejarah, hingga suatu saat nanti sama-sama kami kenang berdua.


Tibalah kami di rumah bahagia ini. Tetangga sekitar duduk di atas kursi plastik dengan naungan tenda sederhana. Terhidang prasmanan makanan untuk hidangan malam ini. Aku senang Candra, Bang Ali, dan Razel turut membersamai di acara lamaran Dika, termasuk pula Mawar dan Fasha. Sayang sekali Zainab tidak turut hadir karena sudah terlebih dahulu balik ke Kota Bandung.


Sebagai anggota keluarga inti, aku pun masuk ke dalam. Sederhana sekali acara ini. Mereka yang akan berunding duduk melingkar bersama-sama di hadapan hidangan dan hantaran yang kami sediakan untuk lamaran. Duduklah diriku di antara Kakek Syarif dan Pak Cipto. Sementara itu, Dika tengah pucat berdampingan dengan calon mertuanya.


Acara pun dimulai. Mata Dika berdiri ketika calon pasangannya bersembunyi di balik tubuh orangtua perempuan. Aku melihat dua hati yang tak sempurna bentuknya, menunggu untuk dipersatukan kembali. Inilah namanya cinta.


***