Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 35 (S3)



Waktu berjalan merubah banyak hal sesuatu yang tidak akan pernah berhenti. Menjadi menua bukanlah pilihan, melainkan sebagai satu-satunya jalan untuk hidup di atas dunia ini. Kulit yang mengeriput, mata yang mulai lemah, serta tubuh yang tidak sekuat dulu menjadi konsekuensi berjalan di atas waktu. Hanya kematian yang memisahkan manusia dari waktu, berpindah dimensi dengan sistem waktu yang sangat berbeda.


Ia di sini berada di sampingku, tertawa sebagaimana ia bercerita di puncak Gunung Bromo mengenai amarah Kakek Syarif kepada Razel yang dikenal sebagai anak nakal. Tidak beda ceritanya di sini, ia pun mengenang kembali masa-masa dulu. Berjalan di atas kalimat yang sangat aku rindukan, mengenai ekspresi, intonasi, serta serat kata yang mengandung makna. Benar, ia ada di sini … aku dapat menyentuhnya secara langsung.


“Satu hari di mana aku menembak Bernardo tepat di lengan, Kakek berencana untuk menetap di Australia bersama salah satu  teman. Kakek yakin kalau Bernardo memburuku …..”


“Tapi Kakek, informasi yang kami dapatkan kalau Kakek menggelandang di sana?”


“Ya, kapal kami benar-benar hancur di hantam ombak. Aku, Erasmus, dan Andalas yang selamat dari orang-orang kalian kenal. Lima orang awak kapal lainnya aku pulangkan oleh kedutaan besar. Sementara Erasmus minta aku buat menggelandang saja karena takut aku dikejar interpol.”


“Papa enggak ada melaporkan Kakek, aku yakin itu. Bunda bilang sendiri sama aku, Kakek,” balasku.


“Kakek mana tahu, yang aku tahu Benardo punya kekuatan hukum, dia anggota legislatif. Kakek bisa dijerat pasal pembunuhan berencana, paling berat dihukum seumur hidup atau dihukum mati.”


Shelter tiga merupakan tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda. Kami membentuk lingkaran untuk mendengarkan Kakek Kumbang bercerita. Ia membuatkan kami sup ayam dari stok persediannya selama mendaki. Kopi pun ia seduh, sementara rokok tidak hentinya mengepul di tengah-tengah kami. Hanya aku dan Semara yang tidak menyebabkan polusi.


“Kenapa Kakek enggak bawa bapakku?” tanya Razel.


“Dia sebenarnya mau mengantarkan aku, tapi aku larang karena …. Kau harus tahu, Syarif itu paling setia. Dia bisa tinggal bersamaku nanti. Tapi itulah untungnya, Syarif enggak jadi korban pecahnya kapal.”


“Kakek harus tahu apa yang selama ini aku perbuat,” ucapku.


“Reira, apa Erasmus pernah bilang kalau aku lebih mudah menyentuhmu daripada kau yang mencariku. Aku tahu semuanya. Itulah kenapa aku seperti melihat Fany.. Kau liar sekali, Reira. Kakek harap jangan lakukan itu lagi. Nikmati masa mudamu di Kota.”


“Enggak … aku bakal ikut dengan Kakek,” pintaku sembari menepuk tanah. “Kakek selama ini tinggal di mana? Aku pingin ke sana.”


“Ada saatnya nanti kau menyesal, Reira. Cinta, kesuksesan, gairah di masa muda ini penting. David butuh kau,” balasnya.


“David?”


Mataku memandang kosong, David telah membenciku. Tamparan itu sudah menguak semuanya. Tidak ada lagi tempat untuk kembali. Lagi pula, janjiku kepada Mawar tidak akan pernah luntur. Mawar pun enggan menyerahkan David begitu saja.


Kakek Kumbang minta izin untuk berkeliling sebentar. Aku takut jika ia akan pergi lagi sehingga aku mengeko ke mana saja ia pergi. Yang lain terlihat berkumpul di dalam tenda untuk bermain kartu remi yang aku curi dari rumah Kakek Tarab. Kakek Kumbang menuntunku ke sebuah tumpukan batu, lalu duduk di sana. Ia tampak kaget tatkala aku mengeluarkan wine dari tas.


“Sejak kapan kau minum alkohol, Reira?” tanya Kakek Kumbang.


Aku menuangkan satu gelas kecil untuknya, beruntung ia tidak menolak.


“Sejak kehidupan anak muda kota merusakku, Kakek.” Aku tersenyum sembari mencicipi wine stok dari Kapal Leon.


“Kau lihat itu?” Ia menunjuk ke salah satu arah yang terlihat jelas garis perbatasan antara darat dan lautan.


“Itu pantai. Gunung Kerinci tinggi banget.”


“Ya … itu Kota Padang. Kalau yang di sana, Kota jambi. Kita berada di atas Sumatera. Jadi, kau bisa melihat ke segala arah.”


“Oh iya … aku baru ingat.” Aku mengeluarkan benda terbalut kain putih yang tersimpan di dalam tas. “Aku mau menunjukkan ini, Kakek.”


Ia terkejut tatkala melihat emas seberat satu kilo yang hampir saja membuat nyawa kami melayang. Tangannya menyentuh emas itu, mengetuk-ngetuknya seperti mendengar sesuatu dari dalam.


“Oh ini sudah aman. Tarab meletakkan sesuatu di dalamnya.’


Dahiku menyerngit. “Sesuatu?”


“Hal yang bikin dua orang sebelumnya mati. Ada makhluk yang harusnya enggak kau lihat. Jadi, Tarab tahu ada orang yang mengincarnya. Udah Kakek bilang ke dia buat buang semua ilmu itu. Nanti dia susah matinya.”


Aku kembali menutup emas itu. “Aku mau bersama Kakek, ke mana pun Kakek berada. Rumah bukan lagi seperti rumah. Papa udah punya calon baru. Kak Reina juga benci sama dia.”


“Reira enggak perlu masa muda, Kakek. Tujuanku sudah bulat, aku mau punya sepetak kebun dengan rumah sederhana, lalu hidup sampai tua.”


“Lalu kau enggak mau punya suami dan anak? Siapa yang menurunkan semua harta-hartamu yang sebanyak itu?”


“Aku punya belasan anak, bahkan mau puluhan. Lebih baik memelihara yang sudah ada daripada menambah anak baru.”


Ia menggeleng. “Kau masih belum mengerti hidup, Reira. Kau masih muda dan belum pernah merasakan pahitnya hidup. Yang kau lewati selama ini bukan apa-apa.”


“Atau Kakek yang ikut dengan aku.” Aku tidak mau kalah.


“Ke mana? Kembali ke kota? Kota itu enggak baik untuk kesehatan,” balasnya.


“Pokoknya … aku mau Kakek jangan pergi lagi. Cuma Kakek yang jadi tujuan aku selama ini.”


“Ada tujuan lain yang harus kau capai. Lihat dirimu Reira ….” Ia melihatku dari kaki hingga ujung kepala. “Tumbuh jadi gadis manis, kaya, dan berbakat. Jangan pernah mengubur potensi atau kau yang menyesal.”


“Aku enggak mau, TITIK!”


Selama ini ia belum mengenalku sepenuhnya. Namun, aku tidak ingin menyembunyikan karakter pelawan yang sungguh menggema pada diriku. Kakek Kumbang tidak bisa menyembunyikan ekspresi kesal dari wajahnya.


“Sekali lagi kau harus mencari aku. Kita sekarang bertaruh, jika kau berhasil … Kakek turuti semua kemauanmu.”


“Mencari lagi⸻”


Tiba-tiba saja otakku seakan melemah. Matahari menjadi bola basket yang bisa aku sentuh. Hutan yang aku pandang kini bisa aku sentuh, lalu aku gerakkan dengan semauku. Entah apa yang terjadi dengan diriku sesaat ini. Seketika, mataku memudar dari pandangan. Botol wine yang aku sentuh hampir saja pecah jika Kakek Kumbang tidak mengambilnya segera. Aku pun terjatuh ke pundak Kakek Kumbang dengan mata tertutup. Semuanya benar-benar gelap dan menghilang. Cahaya mentari sirna, senyum dari hijaunya pemandangan dunia lenya[ begitu saja.


Sial … ia menghilang dari pandanganku.


Entah berapa lama aku tertidur, yang pasti pipiku ditepuk dengan keras oleh Borneo. Kini, aku sudah berada di dalam tenda.


“Reira!” panggilnya.


Lemah tatap mataku memandangi tiga orang di hadapan.


“Kakek Kumbang mana?” tanyaku.


“Menghilang,” balas Razel sembari memegang kepalanya. “Kami semua tiba-tiba aja berhalusinasi.”


“Efek yang lebih dari ganja,” ucap Borneo.  “Kakek Kumbang memasukkan sesuatu ke dalam sup.”


Aku dengan cepat keluar. Hamzah jongkok di hadapan panci sup yang masih terpasang di atas panggangan. Di tangannya sudah ia kumpulkan bahan-bahan yang tadi ada di dalam sup.


“Kau tahu apa ini?” tanya Hamzah.


Jelas aku menggeleng. Yang aku tahu itu hanyalah jamur. Namun, jamur itu tidak pernah aku lihat sebelumnya. “Apa itu?”


“Mushroom, orang biasanya makan ini untuk berpesta. Jamur ini secara alami biasanya ada di kotoran sapi  Kita halusinasi karena ini.”


Panci dengan keras aku tendang hingga berserakan.


“SIAL! KAKEK BODOH!”


Hanya dirinya yang pernah menyusupi benda-benda seperti itu kepadakku.


***