Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 114 (S2)



EPISODE 114 (S2)


Aku rasa Reira tidak memiliki sensor penat di tubuhnya. Tak cukup tidur bukanlah satu hal yang berat, hingga kami kembali melanjutkan perjalanan ke kediaman Kakek Syarif. Beliau sudah datang sejak hari kemarin dan menanyakan bagaimana kelanjutan kisah cinta seorang Dika. Bisa jadi Dika berubah pikiran atau sudah ada pria yang meminangnya semenjak Kakek Syarif pergi.


Sayang sekali jika itu terjadi, Kakek Syarif tak jadi mendapatkan menantu angkat. Lagi pula, aku yakin Dika akan depresi berat jika Kak Rani sudah dipinang pria lain. Dari kemarin-kemarin Dika mengangguku dengan pertanyaan kapan Kakek Syarif akan pulang.


Hangat perutku di samping Reira yang sedang mengemudi dengan mata hitam di bagian bawah. Ia tentu saja mengantuk, tetapi tak ingin melanjutkan istirahat, malah memintaku untuk kembali berpergian. Sampailah kami di muka rumah panggung arsitektur khas Melayu tersebut. Berbunyi kokok ayam di halaman tatkala kami baru saja keluar. Angin dari laut berhembus kencang menggoyangkan ikatan rambut Reira. Wanita itu tersenyum lebar dengan membuka tangan seakan ingin memeluk gerai terpaan angin. Di atas teras panggung tersebut, duduklah seorang anak muda dengan handphone baru pemberian Reira. Ia pasti bangga sekali memiliki handphone semewah itu. Tatap wajahnya tertuju kepada kami tatkala Reira menyahut namanya dengan sebutan kucing air.


Entahlah, aku tidak tahu artinya, yang penting Razel merespon dengan melambaikan tangan.


“Wah, udah sampai, nih. Oleh-olehnya mana?” tanya Razel.


“Ada jambut tiga warna,” balas Reira tatkala naik menuju teras.


“Jambu tiga warna?” Razel kebingungan.


Teras panggung ini berlantaikan kayu tanpa cat, berwarna cokelat tua. Sedikit terdengar decitan apabila kaki tepat memijak di kayu lapuk. Reira duduk di hadapan Razel, berbincang sebentar mengenai aku yang muntah di akhir perjalanan. Sibuklah Razel menertawaiku sebagai orang kampungan yang tak bisa naik mobil. Ingin kupecut ubun-ubun Reira sekarang, tetapi Razel meminta kami untuk segera masuk. Kakek Syarif sedang ada di dalam rumah menunggu kami sedari tadi.


Rumah Kakek Syarif mendominasi terbuat dari kayu, tetapi kokoh dan terawat. Tidak ada aku lihat kayu dengan celah lecetan, semuanya dicat sempurna berwarna kuning. Hampir sama seperti rumah Pak Cik Milsa, bagian kiri merupakan perabotan jamuan tamu, sedangkan sebelah kanan terdapat karpet di hadapan TV tempat keluarga berkumpul. Dua bagian ini tanpa sekat, tamu pun bisa dengan jelas jika Reira mengangkang sambil nonton TV. Bedanya dengan rumah Pak Cik Milsa ialah kediaman ini terdiri dari dua kamar yang di di hadapannya terdapat jalan yang berbatasan dengan jendela luar. Kami bisa melihat halaman samping Kakek Syarif sebelum turun menuju dapur. Aku berhati-hati tatkala turun menuju dapur. Terdapat anak tangga kayu kecil sebelum kami menginjak lantai semen dingin. Menyapa Kakek Syarif di luar pintu dapur, ia sedang duduk pada sebuah kursi dengan kopi di atas meja. Nyaman sekali Kakek Syarif menikmati angin di luar sana sembari memberi makan ayam dengan butiran beras.


“Kapan kalian balik ke sini?” tanya Kakek Syarif. Tangannya meminta kami untuk uduk di seberangnya, tepat di papan duduk yang disusun memanjang.


“Baru satu jam yang lalu. Singgah sebentar ke ruma Reira dan langsung ke sini kemudian.”


Kakek Syarif mengangguk senang. Ia hisap rokok beratnya di ujung bibir, lalu berhembusla asap dibawa angin lalu. Beliau masih dengan gaya khasnya yang memakai topi koboi berwarna cokelat. Topi itu pernah dibawa oleh Reira tatkala gagah berani orasi di depan gedung DPR.


“Jadi, Dika bagaimana?” Ia menoleh padaku.


“Siap lahir dan batin, Kakek. Umur udah cukup, biaya enggak usah dipikirin lagi. Pekerjaan udah ada. Rumah enggak usah nyewa lagi. Pokoknya, insyaallah semuanya siap!” tegasku dengan semangat.


“Bagus kalau begitu, aku tinggal datang ke rumah calon kalian buat bertemu dengan orangtuanya. Tapi, Kakek masih butuh perwakilan dari warga sekitar. Kau bisa cari siapa yang dipercaya buat datang ke sana.”


“Ada, tetangga dekatku, Kakek. Ada warung di samping rumah, bapaknya cukup baik sama kami. Kami sering diberi lauk pauk sama istrinya,” balasku sembari mengaluarkan bungkus rokok dari kantung celana. “Oh, iya ... aku lupa!”


Mereka menatapku tiba-tiba.


“Lupa apanya?” tanya Reira.


“Ada seorang pria baik yang juga teman dekat Ayah. Beliau teman baiknya di masa kuliah, hingga jadi pengacara pribadi Ayah. Pak Cipto namanya, dia juga yang dipercaya Ayah buat nitipin semua warisan sebelum dibagikan ke kami. Pak Cipto pernah bilang kalau kami ingin merasa punya orangtua, datanglah ke dia. Tapi, parah banget gue kok bisa lupa, sih!”


Benar-benar kacau, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan Pak Cipto semenjak ia meninggalkan rumah itu. Padahal, jasanya kepada kami sangatlah besar. Orang kepercayaan Ayah itu sudah berhasil merubah kehidupan aku dan Dika hingga membaik seperti sekarang. Aku bisa membuat usaha dan Dika bisa menambahkan modal nikah itu dikarenakan jasa Pak Cipto. Jahat sekali diriku karena belum memberitahuka rencana ini padanya.


“Nah, sekarang beritahu semua orang yang kau anggap bisa dipercaya. Jadi, tiga hari ke depan, kita bisa pergi sama-sama ke rumah calon istri abangmu.Ingat, hubungi aku biar tidak lupa. Kadang kalau sudah tua ini sering meloncat ingatannya ke mana-mana.”


“Iya, Kakek. Jangan khawatirin itu. Semuanya bakalan lancar terkendali.”


“Oh, iya ... lebih baik besok kita berdua ke sana buat silaturahmi biar bilang kalau tiga hari besok akan ke rumah untuk melamar. Jadi, keluarga mereka bisa berdiskusi dahulu sebelum kata setuju atau tidak setuju.” Kakek Syarif menambahkan.


Aku serahkan kepada Kakek Syarif untuk urusan diplomasi ini. Aku yakin pantun Melayu-nya tersebut bisa meluluhkan hati orangtua Kak Rani untuk melepas anaknya menjadi bagian dari keluarga kami. Akhirnya kata setuju dari Kak Rani sebentar lagi akan kami dengar dengan hati yang penuh rasa penasaran. Tak aku bisa aku bayangkan bagaimana jingkrak tubuh kesenangan dari Dika tatkala sampai di rumah, setelah sebelumnya bersikap cool ketika waktu melamar.


Beruntung kami ketika istri Kakek Syarif tiba dari pasar terdekat, menahan kami di sini untuk makan siang bersama-sama. Aku baru tahu jika istrinya berjualan bermacam bumbu masak gilingan di pasar tradisional. Beliau datang dengan seorang karyawannya yang menyupiri istri Kakek Syarif di sebuah mobil pick up. Reira yang memanggilnya dengan sebutan Nenek, membuatku turut memanggilnya dengan panggilan sama. Beliau berbaik hati untuk memasakkan sejenak, dibantu oleh Reira di dapur.


Sementara itu, Razel langsung kabur karena takut disuruh pergi membeli sesuatu. Benar saja, anak itu berbisik di telinga kecilku. Terpaksa karyawan usaha bumbu gilingan istri Pak Syarif yang pergi keluar.


Aku masih bertahan di sini sembari menikmati harumnya tumisan di dapur. Kakek Syarif bermain harmonikanya di hadapanku dengan tangan masih terselipkan rokok berat.


“Keris itu berpindah, kan?” tanya Kakek Syarif dengan tiba-tiba.


Pertanyaan itu membuatku terkejut.


***