
Bagaimana caranya ia melukiskan aksara hingga membekas padaku. Jatuh tulisan-tulisan itu menjadi sebuah rindu, lalu aku baca diam-diam ketika di malam hari. Padahal, semuanya hanyalah secarik kertas kerimuk coretan gabutnya, aku dengan bodoh membaca. Meskipun aku ganggu dengan jenaka pria itu, ia tetap memberikan kertas-kertas itu padaku padaku sebagai penilaian awal, bahkan jika aku robek sekali pun. Ia tulus menulisnya, tidak menuntut apa pun.
Suaranya jelek, ia bukan pujangga seperti Sudjiwo Tedjo yang ia eluh-eluhkan. Nada cempreng menurutku tidak cocok berpuisi layaknya penyair dahulu. Ia lebih modern, berkata datar dengan menekankan rima dan kekuatan makna. Aku rasa lebih cocok untuk diucapkan pada popcast mengenai rindu malam, bukan dipanggung seperti itu. Namun, aku tetap suka ketika ia berada di hadapan orang banyak. Aku hanya merasa bangga, ia mampu menuntun dirinya sendiri.
Malam ini entah kenapa terbesit namanya. Mungkin saja hujan terlalu deras mengguyur pikiranku, lalu elektron-elektron otak mulai tidak sinkron, memunculkan tabiat untuk merindu. Sepenggal misi rahasia terucap kepada Semara, meskipun aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Aku menggerakkan mobil menuju area kampus, lalu berhenti di seberang jalan. Di sanalah David dan Mawar berada, melayani pengunjung yang tidak seberapa itu. Mahasiswa pasti lebih memilih bertahan di kosan ketika hujan mengguyur seperti ini.
“Apa yang gue lakuin sih?!” tanyaku pada diri sendiri sembari memegang kepala.
Aku menguntit seseorang sekarang. Memerhatikan mereka berbicang berdua berderu senyum bahagia, sementara aku di sini kecut tidak ingin mendekati. Beberapa kali tanganku memegang setir untuk memutar balik mobil, tetapi kakiku menahan untuk tidak menginjak pedal gas. Aku ingin pergi, tetapi sebagian dari diriku ingin tetap bertahan di sini, meskipun sesak sebenarnya.
Seseorang mengetok kaca mobil. Ia seorang remaja yang sedang memegangi payung. Aku membuka sedikit celah agar bisa berbicara dengannya.
“Mbak … kalau mau parkir, di dalam ya. Ini ada mobil yang keluar.”
“Oh iya, gue lupa ….”
Aku segera memajukan mobil. Ternyata remaja tersebut petugas parkir café milik David. Setengah mati aku mengambil keputusan, tidak sengaja tanganku membelokkan ke parkiran café. Berdesir bunyi pasir basah ketika mobil berhenti. Remaja itu pun tiba, ia menawarkan untuk dipayungi hingga ke café.
“Makasih banyak ….” Tanganku mengusap tangan yang basah.
David dan Mawar sedang duduk bersama dua orang temannya. Aku sama sekali tidak mengenal orang-orang itu. Bahkan, karyawan yang dimiliki David sudah berganti. Maklum, lima tahun lebih aku tidak menginjakkan kaki ke sini, meskipun aku memiliki andil yang cukup besar untuk mendirikan usahanya. Masih ingat jika coran semen pada lantai ini dari uang pribadiku.
Kupluk hoodie kini menutupi kepalaku, lalu aku duduk di hadapan meja barista.
“Ada bir atau alkohol yang lain?” tanyaku.
“Maaf, Mbak … kami enggak jual minuman begitu ….”
Baru aku ingat, ini bukan bar.
“Cappucino aja.”
Aku memerhatikan barista meracik kopi. Ingin rasanya aku sendiri yang membuanya. Barista milik David terlihat masih amatir, mungkin baru mengenal kopi.
Cappucino telah datang di hadapanku. Terlalu banyak crimer, aku rasa. Seperti jomblo gabut yang tidak punya kerjaan, aku hanya duduk sendirian di sini tanpa siapa-siapa. Sementara itu, David dan Mawar tetap asyik bersama teman-temannya tanpa menyadari jika aku sudah ke sini.
“Berapa gaji lo di sini?” tanyaku kepada barista agar tidak suntuk.
“Dua juta Mbak.”
“Full time?”
Ia mengangguk. “Iya, full time.”
Jika aku bandingkan dengan barista milikku, sungguh terlalu jauh perbedaanya. Barista di cafeku mendapatkan sekitar empat jutaan, di luar uang bonus dan makan. Itu pun ia masih ngeluh dengan gaji yang tidak sebanding.
“Belajar bikin kopi dari mana?”
“Dari Bos. Dia yang ngajarin aku.”
“Oh dari Bos ….” Aku mendekatkan wajahku padanya. “Lo harus tahu, gue yang ngajarin dia bikin kopi.”
“Oh ya? Berarti Mbak kenal dong sama bos saya?”
“Ya … kira-kira begitu.”
Tidak lama kemudian, terdengar suara wanita memanggilku. Aku pun menoleh, Mawar dengan pakaian warna merahnya beralih padaku. Dengan pandang mata tidak percaya, ia melambai sembari mengetuk pundak David. Sayunya mata David menyelinap, aku dan ia saling memandang.
“Sini … gabung sama kita!” panggil Mawar.
Mau tidak mau, aku bergabung dengan mereka. Dua orang teman mereka tersenyum padaku.
“Reira, kenalin ini Luna dan Alan,” ucap David dengan lemah.
Aku menatap sepasang manusia yang tersenyum padaku tersebut, lalu menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan mereka. Mungkin saja mereka merasakan betapa dinginnya tanganku saat ini.
“Gue Reira … temen kampus David dulu.”
“Luna ini owner Restoran Chicken Yummy. Kalau Alan ini yang punya usaha franchise minuman Boba yang lagi viral itu, Lan`s Bob.”
Dua merek dagang tersebut memang aku kenal. Chicken Yummy punya banyak cabang di Jakarta, salah satunya di mall CSA tempat cafeku berada. Sedangkan Lan`s Bob sekarang sudah bertebaran di mana-mana. Mereka memang punya paket usaha franchise yang menguntungkan untuk saat ini.
“Wah … lo udah upgrade sirkel? Temen-temen lo pengusaha semua,” ucapku pada David, sebenarnya itu menyindir.
“Diam ….” Suaranya seperti tidak berselera.
“Gimana omset kalian? Pasti gede dong,” tanyaku pada Luna dan Alan.
Alan menyinggung siku Luna. “Anak ini paling gede. Restorannya udah di mana-mana.”
“Ya Alhamdulillah, mah.”
“Aduh … pasti enak jadi pengusaha kaya kalian. Pasti hidupnya mewah, kan? Lah gue anak kosan begini,” tanyaku sembari melihat jam Longines Heritage yang dikenakan oleh Alan. Papa punya satu jam itu. Harganya bisa dua puluh jutaan.
Berbeda dengan Luna, ia memerkan kunci mobil lambang BMW. Sementara aku hanyalah kunci lusuh mobil sedan tua.
“Ah enggak juga kok,” balas Alan sembari menutup jam miliknya. “Masih muda mari kita nyari cuan, heheh itu sih intinya.”
Aku mengangguk paham. Tidak ada yang salah, aku juga terkadang berpikir seperti itu.
“Jangan bicara harta di sini,” sambung David sembari menghisap rokoknya. Sikapnya seperti tidak selera berbicara.
“Reira ini yang punya Rei`s Café loh. Kalian pasti suka es kopinya,” balas Mawar untuk mencairkan suasana.
“Loh? Lapak kita satu mall dong? Masa iya lo yang punya Rei`s Café? Soalnya gue tiap pagi pasti beli kopi di sana.” Luna antusias padaku.
“Ah … itu punya Bunda gue. Gue cuma melanjutkan aja.”
“Gimana omsetnya? Gue denger kalian bisa survive selama pandemi. Soalnya kan café pada tutup. Gue aja kalau enggak ngurangin karyawan, gue bisa bangkrut.”
“Lah, kalau kena razia … izinnya bisa balik lagi,” balas David sembari melihatku. Aku sudah tahu ke mana ujung pembicaraan ini.
“Bayar polisi, hehehe ….” Aku tertawa.
“Anjir, beneran? Gue sumpah panik banget waktu pandemi. Gue kira outlet gue enggak bakalan bisa bertahan. Orang mau makan tapi ga boleh,” balas Luna.
“Bukan bayar polisi, bapaknya itu Bernardo.”
Luna dan Alan terdiam. Sementara itu, asap rokok kretek milik David menyelinap ke hidungku. Menyengat sekali bau cengkehnya. Perkataannya pun cukup menyengat.
***