
EPISODE 68 (S2)
Teruslah bermimpi, kalimat dari sekian banyak petuah yang masih aku ingat dari gadis berambut terikat itu. Ia yang menyarankanku untuk terus bermimpi, ia pula yang selalu menawarkanku untuk sebuah mimpi. Reira hidup di dalam mimpi-mimpi itu, suatu dunia abstrak yang fiktif, namun akan diusahakan untuk menjadi sebuah realitas.
Tak pernah aku dengar perkatannya yang menyatakan ada suatu hal yang tak mungkin bisa terwujud, bahkan untuk memberi makan pinguin di Antartika sekali pun. Ia akan terus memelihara lilin mimpi untuk tidak redup dengan kedua tangannya yang menelungkup melindungi terpaan badai.
Itulah mimpi. Ketika kami berempat duduk di tepian Sungai Mirang untuk menangkap ikan dan memancing amarah sungai muara, di sana pula kami diajari oleh Reira. Masing-masing dari kami menyebutkan mimpi kami satu per satu, dan dirinyalah yang berperan sebagai penguat-penguat itu. Tersebutlah bahwasanya aku tak terlalu berminat untuk menjadi orang kantoran berdasi yang kaku, melainkan ingin menciptakan sebuah tempat dengan senyum manja diskusi, atau sebagai media jumpa kangen wajah-wajah yang lama tak ditemui, dan bisa pula tempat mengadu bagi kepala-kepala yang pusing oleh skripsi.
Tidak lain dan tidak bukan hal yang aku maksud itu ialah sebuah tongkrongan yang mengasyikkan.
Ada banyak orang yang terpaksa memendam mimpi oleh paksaan dari berbagai pihak. Yang harus diketahui bahwasanya mimpi atau dream itu merupakan nilai etik yang sangat subjektif, individual, bebas tak bisa diintervensi. Aku rasa banyak di antara temanku yang terpaksa mengubur mimpi berkat orang-orang terdekat, termasuk keluarga, termasuk pula aku sendiri yang mengalami. Mental swasta dari papaku mengajarkanku untuk menjadi seorang pimpinan perusahaan, begitu pula aku, Dika, dan Rio yang selalu ditekankan untuk menjadi hal-hal yang seperti itu. Namun, kami tak satu pun yang memiliki pemahaman yang sama.
Rio sangat tertarik dengan dunia akademisi karena hobinya membaca buku-buku, walaupun ia telah naif jatuh di lubang yang salah. Dika lebih tertarik bekerja dengan usaha sendiri daripada menjadi pemikir bagi orang-orang banyak, hal itu pula yang membawanya untuk membuka usaha bengkel sesuai dengan keahliannya.
Begitu pula aku sendiri yang memilih jalan lain. Aku lebih memilih menjadi penyair daripada seorang perwira polisi yang pernah diharapkan oleh Ibu. Aku lebih memilih duduk berlama-lama di depan laptop sembari menulis daripada menjadi atasan perusahaan seperti yang diharakan oleh Ayah. Aku telah memilih mimpiku sendiri dan aku sadar hanya aku sendiri yang bisa menuai mimpi itu, hanya aku, bukan orang lain.
Lagi-lagi Reira tak bisa ditemui. Setelah ia mengatakan sedang membangun kandang ayam dua hari yang lalu, kini ia benar-benar tidak bisa ditemui. Aku pun bertanya kepada Bang Ali, ternyata Reira sedang membangun kandang ayam di pekarangan belakang rumah. Ia meminta beberapa anak Mapala untuk dipaksa membangun kandang ayam, seperti seorang kompeni kolonial Belanda.
Beranjaklah aku ke pet shop-nya Candra untuk sekadar berkunjung. Aku merasa kesepian karena Reira tidak bisa ditemui, sedangkan Candra semakin jarang saja berkunjung ke rumahku karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Entahlah, orangtuanya tidak mau menyewa pegawai. Lebih baik mereka mempekerjakan anak sendiri daripada membayar orang lain. Candra pun mendapatkan penghasilan sampingan yang lumayan untuk kantongnya sendiri.
Aku terhenti ketika dimuka pet-shop. Terdapat sebuah sepeda keranjang yang selalu terparkir di parkiran fakultas khusus sepeda. Aku tahu sekali letak stiker yang ditempel tepat di muka keranjang.
Tanganku membuka gagang pintu pet-shop. Berbunyilah gemerincing lonceng pintu saat aku lewati. Terlihat seorang gadis yang tengah menggendong seekor kucing di depan meja kasir, tepat sekali sang kasir merupakan pemuda berambut keriting tersebut. Kami bertiga saling bertatap. Mawar ternyata tengah berada di sini.
“Ternyata ada elo,” ucapku pada Mawar.
Lambaian tangan kecilnya tertuju padaku, lalu menunjukkan betapa gemasnya wajah lucu kucing yang sedang ia gendong.
“Kenalin ini Bimbim, kucing gue.”
Kucing persia berbulu tebal itu menoleh padaku dengan mengeong. Wajahnya sinis berwarna cokelat terang. Bulu terbalnya berwarna abu-abu mendominasi, memanjang hingga ke ujung ekor. Tatkala aku elus kepalanya, terasa sekali lembut dan wangi yang menyeruak ke udara. Bimbim baru saja menerima pelayanan grooming dari sang ahlinya, Candra.
“Wah, lucu banget ... enggak kaya kucing gue, makannya ikan asin dan jarang di rumah. Kalau sekali pulang, mukanya pasti bekas berantem. Hahahah ....”
“Kucing tetaplah kucing, walaupun kampung sekali pun.” Candra keluar dari meja kasir. “Enggak ada kucing kampu sebenarnya, sih. Yang ada kucing domestik, khas Indonesia yang begitu. Hahaha ....”
Aku dekatkan jemariku ke wajah Bimbim, ia malah menggapai menggunakan cakarnya.
“Jadi, bagaimana rencana bisnis baru?” tanya Candra.
“Gue barusan tadi dapat harga khusus buat container jualan. Gue tinggal ngedatangin orang yang punya tanah buat negosisasi harga sewa.”
“Kalau lo mau bikin di depan ini, boleh-boleh aja.” Candra menunjuk ke arah muka pet shop.
“Akhirnya rencana lo bentar lagi terwujud, ya ...,” puji Mawar.
“Mau enggak―” Kalimatku langusng terpotong.
Mawar memberikan kucing itu kepadaku.
“Reira udah bilang sebelumnya.”
“Dan?” tanyaku.
Ia tersenyum. “Baik ... gue karyawan pertama.”
Ucapannya membuatku lega. Reira ternyata bukan main-main. Ia malah mendatangi Mawar sebelum aku yang yang mengajaknya duluan. Aku rasa jika aku sendiri yang mengajak Mawar duluan, ia sudah pasti menolak dan lebih memilih membaca buku di malam hari. Wanita itu beruntung dimanipulasi oleh Reira sendiri, akhirnya menyetujui rencana akan menjadi partner kerjaku besok.
Aku habiskan kunjungan ini di ruangan khusus kucing titipan yang ada sekitar belasan kucing. Seru juga bermain dengan kucing-kucing tersebut. Candra yang berpengetahuan luas pun mengedukasi kami mengenai cara memelihara kucing dengan baik. Ternyata, Mawar malah lebih banyak tahunya mengenai sejarah kucing di dunia, spesies kucing yang ada di belahan bumi ini, bahkan kandungan makanan yang baik untuk tumbuh-kembang kucing. Ya, semua itu pasti ia dapati dari membaca buku. Kadang entahlah, aku bingung kadang ia baca buku apa saja.
Ya begitulah, Mawar dengan kelebihan yang ia tunjukkan kepada orang terdekat. Seseorang yang pertama kali aku kenal sebagai gadis misterius dengan tatapan sinis, ternyata ia bisa lebih dekat seperti ini untuk bercerita panjang-lebar. Ia cerdas dengan semua kata-kata dari berbagai keilmuan yang ia ketahui. Aku pun beruntung memiliki teman bertukar pikiran dengannya, daripada berdebat dengan Reira yang aku selalu kalah.
Terkadang, aku ingin melihat kedua wanita ini berdebat. Entah apa jadinya nanti.
Senja berada di ujung, Aku dan Mawar pun undur pamit pulang ke rumah masing-masing. Berbunyilah vespa lamaku di aspal jalan yang gelap, hingga sampai di depan bengkel Dika yang beranjak tutup. Hanya pegawai Dika yang aku dapati sedang beristirahat, sedangkan bosnya sedang tidak di sini. Barulah aku tampak Dika sedang duduk termenung di depan teras. Ia duduk bersila di bawah yang penuh nyamuk, membakar tembakau seakan ingin memanggil roh halus di lampu atas yang tak dihidupkan.
“Mbah, ngapain di bawah?” ucapku.
Ia menyeruput kopinya yang dari setengah sampai habis tinggal serbuk. Lalu, Dika menatapku dengan sorot mata yang sayu.
“Gue mau ngelamar Rani, Dave. Tapi, gue bingung mau bagaimana.” Nadanya terdengar rendah dan tebal.
Aku rasa ia sedang dirasuki makhluk halus sekarang. Bibirku mengucap ayat suci sepenggal, tetapi Dika tetap biasa saja.
“Lo serius?” tanyaku dengan heran. “Magrib-magrib belum mandi udah ngebicarain lamaran.”
“Gue pengen kawin!”
Suaranya yang memelas ingin aku sumbat dengan ujung sepatu.
***
Dika pengen kawin guys ....
oh, iya ... hp author kemarin kecemplung di bak mandi. Hahaha ... makanya enggak update. Baru aja keluar dari perawatan UGD (sebut saja tempat service)