
EPISODE 151 (S2)
Adakah seorang kekasih menyebut kekasihnya merupakan pasangan dari orang lain? Kalian tidak akan menemukan orang itu jika tidak ke daerah Kuantan Singingi. Reira namanya, alien betina itu dengan mudah membodohi gadis polos yang tidak tahu apa-apa, sehingga ia menafsirkan bahwasnya Mawar kekasihku. Aku sontak terkejut tatkala ia mengatakan hal tersebut. Mawar tak mampu menyembunyikan wajahnya yang malu, sementara aku menahan kesal di telapak tangan. Ingin aku cubit pinggang wanita itu sekarang.
Langkahku cepat berjalan untuk mencari Reira. Aku lihat di dapur, ia tidak ada. Setahuku, ia sedang membuat minum tadi. Kini, aku beranjak ke depan rumah. Tepat di teras, aku melihat Reira dengan dua orang tua bercengkrama satu sama lain. Alangkah terkejutnya diriku tatkala Reira seperti kera, berjingkrak di atas dahan pohon rambutan untuk menggapai buahnya. Bergoyang dahan itu, sementara dua orang tua di bawahnya siap menyambut seranting kecil buah rambutan.
Aku segera menghampirinya ke sana. Kesalku harus disampaikan. Bisa-bisanya ia menyebutku pacar orang lain. Tidak ada emang!
“Rei!” panggilku.
Ia melihatku di atas sana. Aku belum sampai ke sana, setengah jalan dari teras rumah. Tangannya menunjukku.
“Itu David.” Ia menyampaiak namaku pada dua orang itu. “Dave, ini orangtua Bang Ali.”
Paras riang wajah bapak tua menyambutku dengan ramah. Ia memakai kopiah berbaju batik warna hitam. Sarungnya tergantung di atas mata kaki, terikat kuat di bagian pinggang. Hitam bibirnya menghisap rokok yang tak ingin lepas meskipun sudah dihisap berkali-kali. Aku berhenti sejenak mencerna, beliau merupakan bapak Bang Ali yang sudah merendamnya di sawah sewaktu kecil. Di sampingnya terdapat ibunda Bang Ali yang tengah berpakaian daster. Ia terlihat unik di bagian penutup rambut. Sarung dilipat sedemikan rupa hingga runcing dibagian sudut kiri dan kanan, seperti tanduk kerbau tumpul.
“Hah, teman-teman kalian pergi mencuci perut kambing.” Logat setempat terdengar bercampur dengan Bahasa Indonesia. Terdengar sedikit berirama, tak seperti tutur bahasa yang sering aku dengar.
“Iya, Pak? Wah, ketinggalan saya. Hahah ....”
Aku mencoba bersikap tenang, meskipun kesalku masih bertahan terhadap Reira. Aku salami dua orangtua tersebut, lalu menyebutkan nama untuk berkenalan.
“Panggil aja Pak Uwo sama Mak Uwo. Itu bahasa sini untuk sebutan oom atau tante paling tua. Sepupu-sepupu Ali juga panggil begitu.”
Aku mengangguk paham. Kosa kata budaya baru aku dapati dari tutur katanya. “Iya, Pak Uwo ... Mak Uwo ... makasih udah ngebolehin kami tinggal di sini.”
“Kaya mana Ali di kampus?” tanya Mak Uwo padaku.
Aku bingung menjawabnya karena aku tidak pernah satu fakultas dengan Bang Ali. Kami lebih sering bertemu di luar kampus. “Dia mahasiswa aktif, Mak Uwo. Reira lebih dekat sama Bang Ali karena sering main di Mapala.”
“Nah, itu ntah apalah Mapala-Mapala itu ... sibuk mau panjat-panjat gunung, main ke sana-sini, kuliah pun tujuh tahun jadinya,” balas Pak Uwo. Ia sepertinya kesal dengan keaktifan Bang Ali di organisasi mahasiswa alam itu. Aku tak menolak bahwasanya ia sering bertandang ke banyak tempat, sehingga tak jarang meluangkan waktu kuliah.
“Hahah ... yang penting Bang Ali udah mau wisuda. Sekarang pun udah mau nikah.”
“Iya, semoga besok acaranya lancar,” jawab Pak Uwo padaku.
Reira melempar buah rambutan, tepat mengenai dadaku. Berjongkok wanita itu di atas dahan. Pipinya kembung oleh biji rambutan yang belum dibuang.
“Itu buat lo ....”
Rambutan pemberiannya sudah di tanganku. Ingin aku lempar balik karena kesal.
“Rei, ikut gue bentar. Ada yang harus di bantu.”
“Sejak kapan lo nyuruh gue?” tanya Reira balik.
“Hmmm ...” Aku bergumam kecil. Ia masih sama saja tak berubah. “Yaudah, deh ....”
Wanita itu tiba-tiba meloncat dari atas sana. Ia menarik diriku sembari meminta izin untuk pamit kepada Pak Uwo dan Mak Uwo. Tak tahu tujuannya ke mana, aku hanya mengikuti langkahnya saja. Yang pasti, kini mengarah ke rumah panggung kayu itu. Lambat langkahnya ketika naik ke anak tangga kecil pintu rumah kayu, lalu menguap besar sebelum aku masuk.
Reira dengan tubuh kumuhnya itu berbaring terlentang di atas lantai kayu. Berdecit kayu ketika ia hantam dengan tubuhnya, sekaan rumah panggung kayu ini ingin runtuh. Tampak keringan membasahi dahinya, tak sepertiku yang masih belum cukup berkeringat. Matanya memicing, napasnya kembang-kempis di dada. Yang tak bisa aku hindari ialah dadanya yang yang melekuk indah ketika terlentang.
“Rei, lo kenapa bisa nyebut gue pacarnya Mawar sama adiknya Bang Ali?!” Aku duduk di atas kursi sembari melipat tangan di dada.
“Hah? Aisyah bilang begitu?” tanya Reira.
“Hmm ... jangan mengelak lagi. Dia bilang begitu sama gue!”
*Apa maksudnya itu*? Wajahku diam menatapnya yang tengah memicingkan mata.
“Rei, gue serius ... lo kenapa, sih? Aneh banget,” sindirku.
“Gue rasa setiap orang kalau disebutin pacarnya Mawar, pasti bakalan senang.”
Aku menggeleng. “Kecuali gue!”
“Berarti lo kesal?” tanya balik Reira.
Rambutan yang aku genggam kini dilempar tepat di perut buncit Reira. Ia terduduk setelah itu. Bukannya membalas, ia malah membuka kulit rambutan itu dan memakannya dengan nikmat. Wajahnya menciut karena rasa dari rambutan.
“Tadi malam kan gue cerita-cerita sama Aisyah, Mawar udah tidur waktu itu. Siapa sih yang enggak bisa gue akrabin? Termasuk anak itu. Jadi, waktu itu dia nanyain siapa abang yang makai *hoodie* warna hitam itu, berarti dia nanyain nama lo. Trus, gue tanyain balik kenapa. Dia jawab lo cukup manis, cukup aja, enggak berlebihan. Ya ... gue enggak rela, dong! Gue bilanga aja lo pacarnya Mawar!”
Aku tidak tahu apakah akal Reira sependek itu untuk mencari alasan. Yang pasti, Aisyah salah paham antara aku dan Mawar. Aku tidak suka itu.
“Emangnya lo enggak bisa bilang lo pacarnya gue? Atau alasan lain gitu."
“Kalau gue bilang lo pacarnya gue, itu berarti gue sombong. Gue enggak mau itu. Lebih baik dia mencari jawabannya sendiri, ya kan?” Ia tersenyum padaku. Dari balik wajahnya yang memereng, ada tangan yang menepuk lantai di sampingnya. “Ke sini dulu ....”
Lambat langkahku mengiyakan permintaan anak itu.
“Gue suka bau keringat lo.” Sebelah alis Reira naik memujiku.
“Apa lo *fetish* keringat cowok?”
“Bukan, gue suka bau tubuh cowok gue. Apa itu salah?” tanya Reira.
Tangannya merayap ke tanganku. Sentuhannya lembut, bergesek jemarinya tepat di telungkup tangan. Ada bola hitam di tengah permukaan putih, mengkilap bagaikan kelereng yang berguling di atas tanah landai. Itulah matanya kini, lurus menatapku jauh menuju bayang-bayang yang terpantul pada pupil. Tak ada kata semerbak harum di antara kami. Kami sama-sama berbau anyir persawahan dengan noda lumpur yamg masih menempel pada pakaian. Namun, tak ada satu pun kami merasa terganggu dengan itu. Aku menyukainya apa adanya.
“Ada banyak yang enggak lo ketahui tentang gue di masa lalu. Suatu saat gue bakalan cerita.”
“Lo aneh hari ini. Kenapa?”
“Enggak ada ... udah waktunya aja kita saling terbuka. Suatu saat gue bakalan cerita panjang lebar di atas gedung rumah sakit milik keluarga Alfian. Gue bakalan beli nasi goreng double buat kita berdua, lalu kita tidur di sana.”
“Gue enggak perlu masa lalu lo, Rei.”
“Jangan terlalu idealis ... masa lalu gue itu perlu karena itu adalah jejak-jejak yang bisa menemukan gue nantinya. Ketika gue hilang arah, lo bakalan bisa nemuin gue dari masa lalu.”
“Jangan pakai metafor, lo bukan sastrawan.”
“Gue kira lo pintar buat nyimpulin.”
“Jadi, kesimpulannya apa?”
“Gue pernah bilang sama lo kalau masing-masing dari kalian adalah tempat gue belajar. Tapi, gue lupa bilang kalau gue adalah juga tempat belajar kalian. Tapi, bukan dari gue yang sekarang, tapi di masa lalu. Kita enggak perlu bentuk dari hasil, tapi dari proses. Dan itu menyimpan segudang nilai yang enggak bakalan bisa gue beli.”
“Oke, gue bakalan nungguin itu, tepat setelah kita pulang. Sekalian minum arak Bali yang lo beli waktu ngehilang.”
Reira mengangguk lambat. Bibirnya mendekat mengecup diriku. Setelah itu ia pergi, menghilang di ujung pintu.
\*\*\*