
EPISODE 121 (S2)
Ada dimensi yang tak akan pernah disentuh kembali, tetapi berbayang di ingatan tatkala suatu momen menyentuh ruang dan waktu. Itulah yang aku sebut sebagai masa lalu. Terikat sekali masa lalu bersamaan dengan masa kini, seakan seirinh berjalan satu waktu, tetapi sudah pernah dilewati. Masa lalu termasuk hal yang membingungkan bagi orang-orang sepertiku, mungkin saja kalian. Bagaimana sebuah sentuhan kecil di ujung jari seakan menyedot kembali diri ke sebuah masa yang pernah terjadi. Apa yang dihadapan pun terasa kosong, seketika kita berlalu ke lembaran hitam putih yang terputar di dalam ingatan.
Teori bodohku tentang ketidakbisaan seorang manusia berdamai dengan masa lalu tetaplah aku pertahankan. Masa lalu akan selalu melekat pada diri seseorang, tanpa persetujuan berdamai dengan apa yang namanya masa lalu. Ada banyak masa kelam yang dilalui orang tanpa bisa berdamai dengan hal tersebut. Ada pula yang terlalu larut dalam romanstisme masa lalu, terngiang-ngiang akan adanya sejarah yang terulang kembali. Semuanya berkontraversi antara masa lalu dan masa kini. Realitas dihajar habis dalam ingatan, digodok untuk mengikuti khayalan.
Sebagai contoh bagaimana usaha Kekaisaran Jepang yang pernah menguasai Asia Pasifik dan hancur seketika, lalu bangkit dalam cemerlang teknologi masa depan. Namun, mereka masih terdapat sisa luka yang tak akan bisa dihilangkan, sebagaimana sifat mendarah dari Jepang yang tinggi akan harga diri. Kekalahan adalah hal yang memalukan. Banyak mereka di masa sekarang tidak tahu bahwasanya pendahulu mereka pernah menjajah Nusantara, padahal momen itu paling krusial dalam sejarah peradaban Jepang. Ditutupi sejarah itu agar generasi tak pernah tahu bahwasanya mereka pernah kalah. Mereka tidak akan pernah berdamai dengan kekalahan Perang Dunia Kedua.
Romantisme masa lalu berjalan seiringan dengan menggebu-gebunya idealisme konservatif teologi yang membuat mereka larut di dalam keindahan abad pertengahan, tatkala berhasil merebut kota suci tiga teologi besar dunia oleh sebuah negeri bersistem monarki pada saat itu. Dalam filsafat romanistme, sejarah sangat diperlukan. Orang sekarang pun larut dalam hal tersebut hingga mengkampanyekan romantisme itu agar bisa terwujudkan saat ini. Mereka mengingat-ingat bagaimana kebijaksanaan Raja Ottoman di Instanbul―dulu bernama Bizantium sewaktu masih dalam kekuasaan Romawi―yang mampu menjadi poros kekuatan besar di Eropa dan Timur Tengah pada saat itu.
Hal yang terjadi ialah peperangan, saling mencurigai, mendiskriminasi kaum berbeda, dengan atas nama Tuhan yang diucapkan secara lantang. Aku tidak tahu apakah agama mengatur cara manusia membentuk sebuah negara, kitab suci bukan buku undang-undang, bukan pula buku mata kuliah politik anak Fisipol. Aku juga tidak tahu relevansi sistem negara dari kepemimpinan ke-khalifahan di zaman nabi pembawa teologi Islam yang berdasarkan hasil dari musyawarah, sedangkan kekhalifahan selanjutnya malah berbentuk monarki yang diturunkan secara generasi.
Semuanya karena masa lalu yang tak akan berdamai, termasuk aku dan Fasha yang pernah terjebak di masa lalu. Aku saja yang terlalu berlebihan menghubungkan semua ini dengan sejarah dunia. Oh tidak, cinta pun butuh sejarah. Tanpa sejarah, cinta tidak akan pernah tumbuh di dunia ini. Di mulai dari sejarah orangtuamu yang mungkin bertemu di angkot sewaktu muda, lalu menyambung kasih tersebut kepada setiap dirimu. Diri yang sudah dirasuki oleh cinta butuh untuk memberi cinta kepada orang lain. Cinta bersemi atas nama sejarah tersebut.
Dahiku mengernyit. “Apakah itu aneh?”
Ya memang, semua ini terasa aneh karena aku tidak pernah ke sini lagi sejak lama. Fasha pun mengacak rambutku tatkala aku sendiri sedang berjongkok di hadapan perutnya yang besar.
Aku tersenyum ketika ia melakukan lagi padaku. Masih segar di dalam ingatanku bahwa hanya ada satu orang yang bersedia membelai rambutku atau pun mengacaknya, menyediakan lembut permukan tangannya untuk aku maknai sementara. Meskipun hatiku meringkuh pedih olehnya yang tak ingin berkisah bersamaku, aku senang selagi dirinya selalu menyediakan waktu untukku yang sendiri.
“Kenapa senyum?” tanya Fasha.
“Udah lama aku enggak diacakin rambut sama kamu.”
“Aku enggak seceroboh dulu waktu aku selalu lupa ngikat tali sepatu, terus kamu berinisiatif buat ngikatinnya.”
“Wah, masa lalu sekali.” Aku berdiri.
Fasha menarik napas. “Jadi, apa gerangan ke sini?”
“Rindu kepada sahabat sendiri. Apa lagi?”
“Sejak kapan kamu nganggap aku sahabat?” Ia menahan senyumnya. “Ayo kita ke tempat biasa. Mau minum?”
“Boleh, pokoknya yang berasa. Jangan kopi, kamu enggak pandai bikin kopi.”
Jujur, hanya pada dirinya panggilan kami mesra ber-aku dan kamu. Terkadang tidak sengaja tersebut pula kata lo dan gue, tetapi ia lebih suka dipanggil dengan kata kamu. Jijik rasanya, tapi Fasha lebih suka panggilan itu.
Duduk aku di ayunan besi besar yang bisa menampung empat orang di dalamnya. Taman samping rumah Fasha sering kami jadikan tempat bersantai ketika membuat tugas, lalu asisten rumah tangga rumahnya akan mengantarkan cemilan-cemilan lezat. Sebegitu spesialnya anak-anak orang kaya seperti dirinya, termasuk pula Reira. Cemilan pun diantar oleh orang lain, tak pernah mereka bersin ketika menyapu lantai, dan hal-hal lain yang seperti itu. Walaupun begitu, aku tetap tidak suka.
Fasha tiba dengan memberikan aku cola botolan, lalu duduk di hadapanku. Sedangkan dirinya meminum susu kotak untuk ibu hamil.
“Anugerah Fajar.” Wajahnya berdiri menatapku. “Itu nama anakku.”
“Wah, itu nama pemberian dari aku. Kamu enggak ngasih kesempatan sama Bagas buat ngasih nama?” Aku melihat ke sekitar. Tidak aku lihat Bagas sedari tadi. “Bagas ke mana?”
“Kami sekarang punya usaha toko musik. Setelah dari kuliah, dia di sana.” Ia tersenyum kemudian sembari menggelengkan kepala. “Bagas itu orangnya sok keren, nama anak yang disaraninnya malah kebarat-baratan. Aku enggak suka.”
Aku tertawa mendengarnya. Memang benar aku rasa, kebanyakan pasangan muda memberi nama anak bernuansa barat, terutama pasangan muda yang besar di komunitas urban perkotaan. Salah satunya mungkin aku yang bernama kebarat-baratan. Namaku David dengan nama belakang Reymond dari Ayah. Tidak ada sastra Indonesia di sana. David adalah nabi agama Abrahamik, sebutannya Nabi Daud dalam keyakinanku. Memang, aku rasa sama saja. Yang penting adalah arti dari nama tersebut, terlepas dari bahasanya apa saja.
“Iya, memang benar. Tapi, Bagas lumayan tertarik dengan musik. Dia pernah nge-band sewaktu SMA jadi drummer.”
“Beda banget ya sama aku waktu SMA jadi anak pojok belakang kelas.”
“Dan selalu baca buku aneh,” lanjutnya.
Kami sama-sama tertawa mengingat hal tersebut. Ia sering menyelip ke sampingku tatkala itu karena penasaran aku sedang membaca apa. Setelah itu ia akan menghujat bacaanku membosankan karena berisikan kumpulan puisi, bukan sebuah novel remaja yang biasa dibaca oleh orang seumuran kami.
“Sebenarnya aku ke sini pengen cerita,” ujarku padanya.
Dirinya meletak susu kotak tersebut di samping. Tubuhnya bersandar ke belakang. “Ceritalah, bukannya kita selalu cerita?”
Aku tersenyum. “Papanya Reira enggak setuju dengan hubungan kami. Entahlah, mungkin aja aku kurang tampan. Tapi, aku ngerasa dia masih nganggap aku belum sebanding dengan ekspetasi calon masa depan Reira dari kalangan kaya atau apalah itu. Aku jadi orang bodoh seharian gara-gara itu. Aku juga bohong sama Reira tentang itu. Aku ngebohongin orang paling jujur yang pernah aku kenal.”
“Tapi. Reira bukan orang yang kaya gitu, kan?” tanya Fasha.
“Iya, Reira itu enggak pernah sekali pun mandang orang dari status sosial.” Aku menyentuh dadaku. “Tapi dari ini, dari hati. Kamu harus tahu suatu hal, Reira sama papanya itu bagai lautan dan daratan, kaya langit dan bumi. Sifatnya jauh berbeda.”
“Sayang sekali kamu orang yang enggak percaya takdir. Tapi ... kalau dia memang jodoh kamu, enggak bakalan pergi juga, kok. Kamu harus yakin bagaimana pun hal yang terjadi, Reira tetaplah jodoh kamu nanti.”
“Gue bukan orang yang percaya hal kaya gitu. Di antara bapak-bapak punya empat istri, yang mana satu jodohnya?” Kepalaku turun menatap rumput. “Walaupun begitu, gue tetap yakin kalau Reira adalah masa depan gue.”
“Dari keyakinan itu kamu bisa tahu jalan keluarnya buat mempertahankan Reira. Aku setuju banget kamu sama Reira, sayang banget kalau kalian enggak bisa bertahan karena hal itu.”
“Menurut kamu, apa yang harus aku lakukan?” tanyaku.
“Percayalah kalau Reira adalah orang yang ditakdirkan sama kamu, terus dari sana kamu punya kekuatan buat bertahan. Kamu lebih berani buat ngehadapin dinding yang dibikin papanya sendiri.”
“Papanya bukan orang kantoran yang pergi pagi pulang jam empat sore. Dia itu orang penting,” balasku.
“Dia tetap manusia, sepenting apa pun jabatannya.”
Mataku berdiri mendengar hal tersebut. Kemudian kembali lemah tatkala mengingat sesautu. “Aku kemarin terpukul banget. Aku ngisap ganja. Sisa dari Rio itu.”
Sangat berbahaya sekali memberitahukan hal ini kepada seorang anak perwira tinggi polisi. Di dalam rumah sana pasti tersedia borgol yang siap kapan pun untuk mengikat tanganku.
Fasha hanya terdiam melihatku tanpa berbicara sepatah kata pun. Tiba-tiba Fasha bergerak di sampingku, lalu menarik kepalaku agar bersandar pada pundaknya.
“Seberapa berat beban kamu itu? Biar aku ringankan sedikit di sini. Tidurlah.” Ia menyandarkan kepalaku pada pundaknya. “Pundak selalu mencari kepala untuk disandari. Sekarang kita gantian. Nangis aja kalau perlu. Jangan ulangi lagi perbuatan itu. Aku enggak bakalan marah karena setiap orang enggak ada yang sempurna, cuma berbeda di jalan kesalahannya.”
Pundak selalu mencari kepala untuk disandari, ucapku tatkala dirinya begitu sedih dimarahi oleh papanya yang melarang Fasha untuk menjadi musisi cafe. Kalimat filosofis itu ia kutip dariku yang pernah terucap sebelumnya. Ya, memang ... salah satu tujuan terciptanya pundak ialah sebagai sandaran ketika realitas terlalu angkuh untuk kau maknai.
Aku tak menangis, malah tersenyum. Ia masih menghargaiku hingga saat ini. Aku merasa spesial di matanya.
***