
Kecemasan selalu akan datang tiap waktu. Tidak akan pernah ada orang yang mampu untuk menghindarinya karena bagian dari mekanisme pertahanan diri. Rasa cemas menjadi reaksi terhadap hal-hal yang membahayakan diri, bahkan jika itu cinta maupun rindu. Terhempas di dalamnya bukan hal yang terlalu buru karena pembelajaran untuk bangkit lagi. Namun, tenggelam jatuh dalam larutnya alunan kecemasan sungguh menyakitkan. Tidak ada tempat untukmu tersenyum. Hari demi hari diakhiri dengan tangis, meskipun tetap tersenyum di kepada orang lain.
Aku pernah mengidap anxiety di kala masa abu-abu masih berbungkus di tubuhku. Permasalahan keluarga benar-benar menyita perhatianku dan menyingkirkan fokus terhadap hal-hal penting lainnya. Hari demi hari aku habiskan untuk menangis dan kekhawatiran yang mendalam, terkadang aku tidak pernah mengerti apa yang sedang aku tangisi, Jika kalian menghujat Nauren, dirinya punya sisi baik untuk selalu menemani, meskipun aku sama sekali tidak pernah jatuh cinta padanya.
Tidak salah Alfian khawatir ketika melihatku sedang terjatuh. Ia pernah jadi saksi hidup mengenai diriku yang terluntang lantang di bawah kecemasan dan minum obat-obatan untuk psikosomatis. Aku akui, dua orang itu pernah ada di kala sayapku patah, meskipun jika itu Nauren sekali pun. Bahkan, David tidak pernah berada di masa-masa kelam diriku.
Kami tiba di Bandara Fatmawati Kota Bengkulu di tengah hari. Hal yang pertama kali yang aku lakukan tatkala sampai ialah membuang kartu perdana ponselku yang dibeli tatkala di Bali. Tidak akan ada lagi yang bisa menghungiku setelah itu. Semara tentu saja belum tahu mengenai peraturan pelarangan menggunakan handphone, tetapi ia masih aku izinkan untuk menggunakan handphone agar Razel menjemputku.
“Jemput gue di bandara sekarang ….” Bunyi musik keras terdengar dari balik telepon. Telingaku berdiri karena hal tersebut. “Kalian ada di club⸺”
“Bukan … kami sedang main biliyard. Tunggu di sana, kami bentar lagi berangkat,” balas Razel.
Cukup lama menunggu mereka di parkiran, aku sampai gabut dengan mengejek anak-anak yang sedang bermain di taman parkiran. Tatkala Semara sudah menguap untuk kelima kalinya, tampak sebuah van warna merah muda yang jika aku perhatikan lagi lebih mirip dengan van eskrim. Kaca film gelap di sana semakin mempertegas Razel tidak akan nampak. Mereka berputar-putar beberapa kali di parkiran, hingga mereka menemukan kami sedang duduk berjongkok seperti anak muda Rusia berpakaian adidas yang sedang minum vodka di tepi jalan.
Razel turun dengan panik, mungkin saja ia sadar kalau lama sekali. Sementara Borneo seperti biasa, selalu menyulut rokok di hadapanku dengan santai.
“Kalian ke mana aja?!” Aku memukul lengan Razel.
“Aduh …!” keluh Razel sembari menggosok-gosok bagian yang aku pukul. “Itu … mubazir kalau waktunya enggak dihabisin.”
“Mubazir … mubazir … gue yang jadi ikan asin di sini!”
“Kau bawa siapa?” tanya Borneo.
Aku menoleh kepada Semara. Tangannya aku tarik untuk bersalaman dengan kedua pria awak kapalku itu. “Kenalkan ini Semara … Semara, kenalkan ini cowok keling ini Razel, sedangkan yang rambunya kaya Jhon Lennon ini Borneo.”
Mereka pun bersalaman untuk berkenalan. Senyum bersemat satu sama lain pertanda pria berdua itu menerima keberadaan seorang wanita. Ya tentu jelas mereka pasti senang jika aku membawa wanita cantik yang bisa digoda. Mereka tidak akan sanggup menggodaku.
“Aku itu ….” Semara terdengar bingung tatkala ditanya latar belakangnya oleh Razel.
Kalimatnya jelas aku potong agar Semara tidak terlalu polos menyebutkannya.
“Semara ini orang salon di Bali. Dia bantuin gue waktu digangguin sama bule nakal. Beruntung dia mau ikut dengan kita. Ya … penghasilan jadi awak kapalku lebih besar daripada kerja di salon.”
“Wah … bagus banget dong. Aku udah empat bulan enggak potong rambut,” balas Razel.
“Bukan potong rambut, dia bagian make up. Lo mau di make-up kaya orang nikahan?” tanyaku sembari masuk ke dalam mobil. “Ayo masuk … ada yang harus gue lakukan di kapal.”
“Sudah pasti melakukan hal bodoh itu lagi.” Borneo tampak merebut kunci van.
“Ya sudah jelas, kita lakukan upacara pengangkatan awak kapal,” pungkasku.
Kapal Leon megah bersandar di tepian dermaga. Semara tidak sanggup menyembunyikan rasa kagumnya karena benar aku memiliki sebuah kapal. Ucapanku selama ini bukanlah dongeng. Mungkin hanya aku gadis perempuan yang mempunyai kapal nelayan secara pribadi di kotaku. Seperti biasa, Semara bingung tatkala aku mengacungkan ujung pedang ke arahnya. Matanya melebar seakan takut dipenggal. Namun, ia tidak menolak tatkala aku pinta mengikuti setiap kalimat yang terucap. Tepuk tangan aku paksa dari Razel dan Borneo, terutama Borneo yang selalu bersikap cuek di tengah situasi yang mengharukan.
“Sekarang⸺” Razel baru saja ingin menyodorkan tongkat pel, tetapi aku tepuk tangannya.
“Perempuan itu spesial, kalian yang mengepel lantai,” ucapku hingga ia mengurungkan senyum liciknya.
“Kayanya cuma aku yang langsung disuruh ngepel,” sindir Borneo.
“Jadi … tugas aku bagaimana Reira?” tanya Semara.
“Cukup di samping aku, hindari Borneo. Itu saja.”
“Kenapa aku?!”
Tentu saja Borneo marah dengan sindiranku. Ya, aku tidak mau Semara diundang diam-diam ke van sebagaimana yang pernah aku pergoki sebelumnya.
“Ya karena kau malas gosok gigi kata Kakek Tarab,” jawabku.
Semara tertawa mendengar ocehan tidak jelas kami. “Aku akan memasak untuk kalian.”
“Nah itu … sebenanrya tugas di kapal ini enggak berat. Cukup kalian ikut, itu sudah menjadi tugas bagi gue.” Aku merangkkul mereka berempat untuk keluar dari kapal. “Ayo kita ke pasar ikan. Beli ikan tuna besar untuk dimakan.”
Pasar ikan tepi pantai memang selalu ramai, tidak pernah sepi oleb penjaja ikan. Kami menemukan tuna belasan kilo segar di pasar. Ikan tersebut dibeli sebagai hadiah kepada keluarga Pak Salman. Mereka berjasa untuk memberikan dua anak asuhku itu tempat tinggal, sekaligus menanggung makan mereka berdua selama dua minggu ini. Sesampainya di rumah, Pak Salman terkejut melihatku yang sudah sampai di Kota Bengkulu. Ia merasa tidak percaya jika seorang gadis berani pergi jauh-jauh seperti ini tanpa seorang teman, meskipun aku membawa Semara pada akhirnya. Tuna dimasak oleh Ibu Rodiyah untuk makan malam hari ini. Aku pun ikut mendapatkan resep masakan asam pedas dari beliau.
Malam yang tiba membawa kami untuk menggelar makan bersama. Perut diisi oleh protein yang bagus agar tidak tumbuh seperti Razel, ia sering ingin dilempar ke laut oleh Kakek Syarif karena nilai pelajarannya jelek di sekolah. Sehabis makan, aku pergi ke belakang untuk menemui Pak Salman yang sedang memberi makan burung hiasnya. Sedangkan anak muda lainnya sedang bermain kartu di teras depan. Seru sekali permainan mereka hingga terdengar sampai ke belakang.
“Bapak pernah mendengar kalau Kakek Kumbang sering membawa orang-orang ke kapalnya,” ucap Pak Salman sembari duduk di kursi dan menyeruput kopi hitam malamnya.
Bersatu dengan gelap teras belakang, jatuh ke bawah kantung mata Pak Salman membentuk bayang-bayang kecil. Aku menatapnya yang sedang memejamkan mata tatkala rokok kretek dihisap panjang.
“Iya, Reira tahu itu. Ada banyak buktinya.”
“Jadi, bagaimana keadaan Pak Erasmus?” tanya Pak Salman.
“Dia di kursi roda. Punya rumah seperti pura yang banyak orang berlatih kesenian di sana. Jadinya aku pengen ke sana lagi karena suasannya asri,” balasku.
Ia mengangguk sembari tersenyum. “Sepuluh peraturan di Kapal Leon, aku pernah baca ada nama Erasmus. Ternyata dia masih hidup. Mungkin kau Reira enggak akan ketemu dengan orang bernama Tabrani.”
“Tabrani itu orang yang paling tua, pastinya dia sudah mati.”
“Ke mana kau setelelah ini?”
“Besok kami akan ke Kerinci. Ada awak kapal Kakek Kumbang yang lain di sana,” balasku.
“Andalas … aku pernah ketemu dia dulu.”
“Bapak tahu dia?” tanyaku.
“Kami pernah ketemu di rumah Kakek Syarif. Tentu aja Kakek Syarif juga tahu siapa dia. Tapi kalau kau penasaran di mana dia, aku juga enggak tahu.”
Ia sudah pasti menebak aku akan bertanya di mana pria bernama Andalas tersebut.
“Iya juga, pasti Bapak enggak tahu.” Aku berdiri dari tempat duduk. “Besok pagi subuh kami sudah pergi. Kami enggak mampir dulu Pak, takutnya mengganggu waktu subuh hari.”
“Iya, enggak apa-apa Reira. Mengenai Kapal Leon, dia aman kalau di sini. Enggak akan ada orang yang masuk.”
“Ada banyak barang berharga di ruangan pribadi Kakek Kumbang. Jika ada yang masuk mencuri, dia pasti kaya mendadak.”
Pak Salman tertawa pelan. “Hahah … orang nelayan mana tahu cara menjual barang-barang antik seperti itu. Mereka mana ngerti lukisan, hewan yang diawetkan, mungkin kalau emas bisa diperhitungkan.”
Ia memelankan suaranya agar tidak terdengar tetangga.
“Itu aku amankan sendiri, Pak.”
“Tapi tenang.” Ia memperlihatkan pistol yang diselipkan pada sela celana bahannya. “Aku juga punya pemberian Pak Syarif. Ini pasti berguna nanti.”
“Ingat Bapak ….” Aku menunjuknya sembari tersenyum. “Jangan pernah membunuh.”
“Peraturannya memang begitu, tapi enggak dilarang untuk membolongkan kaki seseorang. Hahaha!” Ia tertawa keras.
Kami berpisah di malam hari ini, mungkin untuk waktu yang masih belum bisa ditentukan. Aku memeluk Pak Salman, Bu Rodiyah, serta Nisa yang sudah menemani kami di sini. Baiknya Pak Salman, ia malah memberikan kami uang saku selama perjalanannya. Padahal, aku ingin mengganti seluruh uang kebutuhan Razel dan Borneo yang sudah terpakai sebelumnya. Pak Salman menyarankan agar lewat jalan lintas saja karena tidak banyak pembelokan. Setelah itu, ia melambai kepada kami yang beranjak pergi ke kapal. Malam ini harus istirahat yang cukup agar tidak kecapekan ketika panjangnya esok hari.
“Lo udah nyimpen nomor Nisa?” tanyaku ketika di dalam van
“Pegang hape aja enggak boleh, jadi buat apa minta nomor dia.”
“Berarti kalau dibolehin megang hape, lo bakalan minta gitu?” pancingku lagi.
“Alah … kemarin aja dia jalan berdua sama Nisa. Aku ditinggalin di kosan Pak Salman sendirian,” balas Borneo yang sedang menyetir.
“Lo jalan sama Nisa?” tanyaku dengan kaget. Bisa-bisanya anak itu jalan berdua.
“Lah … gue disuruh nemenin Nisa ke swalayan buat belanja bulanan. Itu kan disuruh Pak Salman,” balas Razel dengan cepat.
“Tapi kan kau makan dulu di alun-alun kota berdua. Enggak ada janjiannya seperti sebelumnya.”
Aku menunjuk wajah Razel yang mati padam. “Udah pandai lo ya? Gue aduin ke Bapak lo.”
“Ah ga jelas lo pada!” Razel memalingkan wajah.
Kami bertiga tertawa bersama melihat tingkah Razel yang malu-malu.
Subuh hari yang dingin merupakan waktu bagi kami untuk berangkat. Borneo yang biasa tidak tidur malam, tadi aku paksa untuk tidur agar menyetir van saat ini. Matanya masih mengantuk karena sehabis bangun. Lagi-lagi aku membangunkan Razel dengan segelas air yang diguyur tepat di kepala. Selalu saja begitu kalau ia sudah sempat tidur di malam hari. Untuk bangun sangatlah susah. Karena tidak ingin terlambat, aku dan Semara mengangkati barang-barang mereka ke dalam van.
Perjalanan dimulai. Aku melanjutkan tidur di dalam van. Tidak tahu aku tertidur berapa lama, yang pasti cahaya pagi sudah terlihat cerah ketika aku terbangun. Musik semangat DJ angkot dari kaset milik Borneo kembali terdengar. Aku kira aku sedang menghirup udara segar selama tertidur, ternyata lebih banyak asap rokok karena dua pria itu sibuk merokok di bangku depan. Sementara Semara, termenung melihat garis laut yang ada di sebelah kiri kami.
“Wah, udah bangun kau Reira?” tanya Borneo sembari menoleh ke belakang. “Tidur lagi, masih panjang perjalannya.”
“Baru empat jam perjalanan ya?” Aku melihat jam tangan sembari menatap garis laut sebelah kiri. Indah sekali oleh terang mentari yang bersinar di sebelah timur. Angin sejuk semakin menyeruak masuk tatkala aku membuka kaca mobil lebih lebar lagi. “Kamu lapar Semara?”
“Aku biasa enggak sarapan pagi. Jadi, ya biasa aja,” balas Semara.
“Kalau ada restoran ayam goreng di sini, kita berhenti,” ucapku kepada Borneo.
Matanya tampak menyalak kepadaku. “Kau gila ada yang seperti itu di sini?”
“Kalau enggak ada, kita sarapan di tepi jalan aja.”
Borneo menghela napas karena kesal pagi-pagi sudah aku beginikan.
Masih sempat aku melanjutkan tidur karena Borneo tidak kunjung berhenti dan malah makin asyik menambah batang rokok di bibirnya. Tiba-tiba, aku merasakan tubuhku berguncang tatkala van berhenti di atas tanah berkerikil. Mataku yang berbayang segera bangkit untuk melihat tempat sarapan seperti apa yang sedang van tuju. Ternyata aku melihat sebuah tempat sarapan jalur lintas yang ramai dikunjungi oleh orang-orang. Namun, aku lebih terkejut melihat papan namanya.
“Tempat sarapan seperti apa ini?! Kita mau debus?!”
“Apa? Kau ini gila atau kenapa?” tanya balik Borneo tanpa menoleh padaku.
“Sarapan lontong gulai paku ….” Semara mengeja papan nama tempat sarapan tersebut. Label itu pula yang membuatku heran. Sejak kapan orang-orang membuat sarapan berbahan paku.
“Kau ini anak kota!” Borneo membukakan pintu untukku. “Paku itu bahasa setempat buat pakis. Ya … orang Sumatera udah biasa bilang pakis itu dengan paku.”
“Aku kira paku beneran loh ….”
Razel menunjuk Semara. “Kami orang Sumatera sering makan paku loh. Dan di sini … tidak ada kulit celeng. Katanya enak, beneran ya?”
“Ya enak dong … lebih enak daripada paku!” Semara langsung keluar.
Aku baru sadar, setiap daerah mempunyai bahasanya masing-masing. Di tempat sarapan, aku segera memberikan dua cincin batu pemberian Kakek Erasmus. Tatkala Borneo memerhatikan cincin tersebut, ia terkejut melihat tulisan di belakangnya.
Jalur didayung pada pancang terakhir ….
***