
EPISODE 70 (S2)
Cinta adakah bahaya yang lekas jadi pudar, Aku mengutipnya dari salah satu kalimat dari penyair klasik Chairil Anwar. Penyair mana yang tak kenal beliau yang sudah melantunkan syair Binatang ****** itu. Aku rasa, aku pun sedikit bercondong kiblatnya kepada beliau dan penyair yang seangkatan dengan beliau. Ada banyak yang aku pelajari mengenai cinta. Cinta yang mendendangkan risalah hati di kemelut rindu pijar cahaya malam. Cinta yang didambakan rasa di masing-masing pancaran cahaya senja balik sorot matanya yang dalam. Cinta yang dihempaskan badai pada gemeretak suara hati yang dipatahkan oleh Tuhan untukmu agar engkau sedikit merasa kelam.
Ya ... begitulah cinta dengan segala keanugerahannya agar bisa membolak-balikkan hati insan manusia. Benar juga terkadang jika Tuhan itu Maha Membolak-Balikkan Hati. Hati ternyata selunak itu untuk dihempas dan dilambungkan dalam satu waktu, lalu kembali bercinta di waktu lainnya. Salah satu cara Tuhan untuk membolak-balikkan hati manusia ialah cinta. Jika kata Sudjiwo Tedjo bahwasanya Tuhan itu Maha Asyik, maka cinta merupakan bagian dari keasyikan Tuhan yang tampak melekat pada setiap hambanya.
Aku pernah dahulu berpendapat bahwasanya cinta itu adalah beban. Memang, dari serangkaian sejarah cinta yang aku tempuh, jatuh bangun diriku melihat dirinya, isak tangis hatiku setelah menyadari realita, maka aku putuskan bahwasanya cinta itu adalah beban-beban yang harus dibuang. Aku tidak ingin mencintai, meskipun aku tetap ingin dicintai. Aku tidak ingin rindu, meskipun aku sangat ingin dirindu. Begitu egosinya cinta membentuk pikiranku yang bodoh itu. Menutup rapat-rapat mata hati untuk melihat realita bahwasanya Tuhan sendiri yang menciptakan cinta.
Seberusaha mungkin aku membuang cinta jauh dari pelupuk mata, jauh dari sentuhan hatiku yang diam merengkuh cinta bertepuk sebelah tangan. Bagaimana aku tidak terkiuk melihat dirinya berpegangan tangan dengan orang lain? Atau pun duduk berdua di halte simpang sekolah di kala hujan yang dingin meratapiku dengan angkuh. Hujan pun terasa angkuh saat itu. Kenapa Tuhan menciptakan hujan yang sebegitu menancap? Aku benci kepada hujan sebagaimana yang aku katakan kepada Reira di kala awal kami bertemu. Hingga aku sadar, bahwasanya hujan itu sangatlah indah.
Aku bawa cinta di telapak tangan, lalu lari menelururi dimensi abstrak yang kusebut sebagai ruang hampa. Pernah aku sebutkan sebelumnya bahwasanya ada sebuah tempat untuk orang-orang yang terbuang, di sana kuingin lupakan cinta itu sendiri. Namun, kalian harus paham satu hal. Semakin aku buang cinta, semakin erat dekapan tangannya mencekik diriku yang ingin bebas untuk bernapas. Semakin aku bawa lari cinta jauh-jauh agar tak aku ingat, semakin brutal ia menghantui mimpiku yang ingin indah seperti sunset di akhir musim panas. Cinta tak ingin lepas dari pemiliknya karena Tuhan sendiri yang menitipkan kata itu. Dengan kuasa Tuhan, Ia sendiri yang turut mencabutnya.
Berdiri aku di depan calon tempat usaha yang sedang berlangsung pemasangan kanopi serta renovasi lantai. Di sana terpikirkan satu kata sakral yang kau sebut sebagai cinta.
Hmmm ... sebegitu panjangkah aku menjelaskannya, atau terlalu dalam diriku yang pernah di dalam lembah sehingga tahu betul rasa itu. Di sampingku kali ini seorang mentor mengapit lenganku dengan erat. Ia sangat senang karena sebentar lagi akan melihatku berusaha sendiri untuk membangun usaha. Ya ... alat-alat dapur sudah berada semuanya rumahku. Baru saja kemarin kami pergi ke salah satu hypermart alat-alat rumah tangga untuk berburu peralatan masak dan seduh minuman.
Tinggal Reira yang nantinya memasok bahan dasar minuman kekinian karena bisa sekalian ketika ia melakukan restock untuk cafe yang sedang ia pimpin sendiri.
“Apakah ia masih merengek?” tanya Reira padaku. Aku langsung paham jika ia merujuk kepada Dika.
“Enggak, sih. Tapi beberapa hari yang lalu dia bertanya siapa yang akan menjadi perwakilan lamaran karena enggak bisa langsung dia sendiri kan yang ke rumah calon. Pasti ada perwakilan dulu,” balasku.
“Trus, apa yang lo jawab?” tanya Reira kembali.
Aku menyorot matanya. “Hmm ... malamnya gue datengin ke tetangga yang gue anggap paling dekat. Secara tertutup, kami bicarakan hal ini. Kami jujur kalau kami enggak ada kontak sama sekali sama keluarga sebelah Ayah atau pun Ibu. Dia setuju, sih ... tapi kalau ada yang lebih bisa dipercayai lagi, silahkan ....”
“Bagaimana dengan Kakek Syarif?”
Seakan ada lampu yang bersinar di atas kepala, aku merasa cemerlang ketika ia menyebutkan nama kakek harmonika itu. Kami memang jarang bertemu. Namun, semenjak perjalanan ke Belitung, aku jadi merasa memiliki kakek kandung.
“Bener juga, ya ... kenapa lo baru bilang sekarang?”
Aku mengangguk. “Wah, betul juga. Kakek Syarif pembawaannya pas banget dijadiin perwakilan. Pasti langsung mau tuh Kak Rani.”
“Hehehe ... lo jangan remehin pandangan kakek bodoh itu. Bisa-bisa Kak Rani yang mau sama dia.”
“Hahaha ... bisa-bisa aja sih. Kok bisa ngelucu?” Aku mengacak rambutnya. “Ke rumah Kakek Syarif, yuk. Gue kangen sama dia sekaligus bilang rencana itu.”
Reira tersenyum senang. “Baiklah ... tapi mobil gue dibawa Bang Ali buat jalan sama ceweknya. Gue enggak mungkin bawa mobil Papa karena Kakek Syarif selalu enggak suka kalau gue bawa itu. Dia bilang kalau dia enggak pengen gue dekat sama barang mewah seperti itu.”
“Mawar kan ada ... bener, kan? Coba hubungi dia. Kalau dia enggak ada kendaraan, gue terpaksa pakai vespa ini di perjalanan jauh. Sesekali enggak apalah kalau kita ngedorong. Hahahaha ....”
“Bentar ....”
Ia menelepon langsung Mawar untuk melancarkan rencana kami ke rumah Kakek Syarif. Baru saja Reira berbicara sebentar, nadanya terdengar naik karena girang. Tatkala aku bertanya mengenai respon Mawar, ia pun memberikan jempolnya padaku. Hal itu menjadi pertanda jika Mawar mengizinkan kami memakai mobil milik kakaknya. Sudah pasti ia akan ikut bersama kami nanti.
Aku dan Reira berangkat ke kediaman Mawar yang begitu estetik. Reira mendorong sendiri gerbang rumah Mawar seakan rumah tersebut merupakan miliknya, tanpa memencet bel atau pun meneriaki nama Mawar untuk membukakan gerbang. Aku pun melarangnya untuk membuka gerbang tersebut itu tanpa izin dari pemilik rumah.
“Hey, lo kira ini rumah lo?” tanyaku.
Tepat ia membuka gerbang dengan panik. Tampaklah Mawar yang berlari di ujung garasi. Seekor anjing berlari mengejar seseorang yang sudah membuka gerbang tersebut. Sontak Reira kalang kabut, bukannya berlari, ia malah mengejar balik. Mataku terbelalak melihat Reira yang mengejar balik anjing milik Mawar.
“Woi, Reira!” teriakku.
Reira langsung berjongkok tepat di garis lampu pertama. Ia pernah berkata bahwa satu-satunya cara menghadapi kejaran anjing selain berlari ialah berjongkok.
“AYO SINI!” tantang Reira.
***