
EPISODE 101 (S2)
“Gue naik dulu.” Mawar berdiri di air yang tergenang sampai ke dadanya. Sontak aku mengalihkan pandangan dengan berpura-pura menghisap rokok.
Setelah ia pergi, barulah aku bisa bernapas dengan lega. Aku pun segera memberesi diri agar bisa kembali melanjutkan tulisan.
Tak ada lagi yang harus aku debarkan, maka aku bergegas naik untuk mengeringkan diri. Mawar sudah keluar dari ruangan ini, dengan jelas aku menatap bagian tubuh belakangnya yang bening itu tadi. Berkemilau oleh basah yang tersisa dan pijar lampu yang mengenainya. Ya memang, baru kali ini aku berada di situasi seperti itu. Seakan dihujam ribuan pisau, jantungku terus berdetak dan berdetak. Tak sempat diriku menenangkan diri, kecuali di kala sempit hisapanku di pangkal tembakau. Kemudian, ia kembali mengajak berbicara dan situasi yang sama pun terjadi.
Ia berkata bahwasanya kami berdua aman.
Maka, aku bisa tafsirkan tidak ada apa pun yang terjadi di dalam hati dan yang bergejolak memainkan perasaan. Aku dan ia masih sama seperti yang sebelumnya, walaupun selubung waktu mengantarkan kami ke arah ruang-ruang di mana kami akan terus bercerita, bahkan situasi seperti ini. Aku senang mendengarkan hal itu.
Keringnya badan kembali membawaku ke hadapan laptop untuk menuliskan cerita. Ujung keputusanku telah telak, aku akan tetap melanjutkan cerita mengenai gadis laut yang senang mengarungi lautan luas. Karakter itu begitu dekat denganku, seperti semilir angin yang berhembus di ujung kapal Leon. Tingkah yang aku buat pun sama. Gadis itu tak kenal takut, ingin bertemu dengan naga laut di Laut Cina Selatan, memberi makan pinguin di Antartika, serta mencari kodok sebesar kucing di daratan Afrika.
Imajinasi itu sangatlah luas, tak gentar pikiranku untuk terus bertuang cerita pada halaman kosong itu. Aku turut dibawa bersamanya, layaknya Reira yang menarik tanganku untuk terus bersama. Ujung jemari menjadi saksi terbangunnya alur cerita dari baris demi baris, bagian demi bagian, hingga titik ujung nantinya. Reira sama sekali belum mengetahui bahwasanya aku menceritakan dirinya sendiri, aku pun tak ingin memberitahukannya. Biarkan ia yang melihat bukti bahwasanya aku dan karyaku benar-benar ada.
Seminggu yang lalu aku disarankan oleh salah satu senior komunitas sastra di kampusku, bahwasanya jika ingin memulai karir menulis, cobalah memulainya di platform online yang menyediakan fasilitas membaca dan menulis. Aku pun memahami hal itu karena aku pernah membaca di salah satu platform online tersebut. Batu pijakan penulis ada di sana, sembari menunggu naskah dipinang oleh penerbit-penerbit besar lainnya. Inisiatif pun bergerak, aku mencoba mencari platform lainnya.
Namun, aku cukup terpelongo di mana barisan papan atas diisi oleh cerita-cerita yang berjudul sama, tetapi tidak mengikuti kaedah penulisan yang benar. Tawaku kecil di bibir ketika menyadari seberapa rendahnya kesadaran para penulis untuk memperbaiki kemampuan menulisnya. Tenggelamlah aku lihat cerita yang berkualitas, tetapi tidak ada di jalur pasar selera pembaca. Entahlah, aku rasa platform ini lebih diuntungkan oleh tema-tema yang seperti itu, seperti wanita-wanita yang tak diberikan kesempatan memilih.
Apakah cinta itu ada karena terpaksa?
Mengapa cinta itu dipaksakan kepada seorang wanita?
Aku rasa budaya mengakar dari nenek moyang bagaimana perjodohan masih tertanam dalam pikiran masyarakat. Dipopulerkan oleh novel-novel dan sinetron tidak bermutu. Perempuan disiksa batinnya dengan keterpaksaan cinta dan ketidakbisaan memilih. Dihantui oleh janji kemewahan oleh pria-pria berdasi, sehingga betulkah wanita berkacamata seperti itu? Belum lagi dengan sang pria atau suami arogan yang tak tahu diri, menyombongkan diri atas dominasi patriaki.
Entahlah, aku pun bingung dengan selera itu. Jika aku bawa berdiskusi dengan komunitas sastra di kampus, sudah pasti menjadi bahan candaan bagi kami. Baiklah, aku mengapresiasi jika ada pesan-pesan yang bisa diambil dengan teknik penulisan yang benar. Aku setuju dengan penulis-penulis yang seperti itu. Namun, ketika kualitas hanya dinilai dari selera tanpa ada keteraturan isi, kami mengecam itu sebagai penulis yang sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia itu.
Mataku lelah, tetapi bukan jam malamku untuk tidur. Reira sedari tadi mengirimkan foto-fotonya di cafe milikku. Sama seperti kemarin, selalu ramai. Aku putuskan dari langkah menuju keluar kamar, aku harus mendapatkan pegawai tambahan. Tidak mungkin aku dan Mawar bisa mengurusi pengunjung sebanyak itu.
Aku membuka pintu rumah untuk menikmati angin malam yang dingin. Terlihat Pak Dadang tengah duduk di pos security dengan menikmati senandung Sunda dari handphone-nya. Aku tak mengerti Bahasa Sunda, tetapi tetap aku turut langkahku ke sana.
“Pak Dadang, boleh gabung?”
“Ya, boleh dong. Masuk-masuk ....” Ia menepi untuk memberikan aku ruang.
Pos kecil ini terdiri atas sebuah ranjang kayu dan televisi yang terletak di sudut pos. Paling depan merupakan kaca lebar untuk melihat keluar, sedangkan pintu ada di sampingnya.
Kami duduk di lantai bersimbah debu yang kasar di telapak kakiku. Ia menyodorkan aku rokok tembakau lintingan miliknya beserta asbak yang bertumpuk puntung rokok. Aku lebih memilih rokok faforitku daripada selera yang sangat tua itu.
Kami menghembuskan asap bersama-sama.
“Lumayan lancar, Pak. Soalnya Mawar udah terlatih buat wawancra,” balasku.
“Oh, gitu. Saya kira kalian berdua pacaran. Benar begitu?” tanyaku.
Aku menggeleng lambat. “Wah, Bapak salah. Hahah ... bisa dibilang kami ini sahabatan. Saya itu pacarnya Reira, Pak.”
“Wah, Reira ngizinin kamu buat berdua sama Mawar?” tanya Pak Dadang.
“Malah Reira yang maksa saya buat ngejagain Mawar selama penelitian. Ya, begitulah Pak .... rasa saling percaya aja, kok. Lagi pula, kami itu semuanya temen deket banget. Mana ada yang begituanlah."
Ia menepuk lenganku. “Hahaha ... teruslah begitu. Jaga terus kepercayaan Reira, jangan dikecewain anak nakal itu. Soalnya, dia kalau sekali enggak percaya, susah baikannya. Contoh, dulu saya bohong sama Reira waktu nyupirin Pak Bernardo. Setiap apa yang saya bilang setelah itu, dia susah percaya. Dia bilang saya selalu bohong.”
“Reira segitunya?” tanyaku penasaran.
Pak Dadang mengangguk. Kembali ia hisap rokoknya dengan panjang. “Iya, coba aja tes kalau enggak pecaya ... haha .... Tapi, saya lebih dekat sama Reina daripada Reira. Kalau dibandingin, saya rasa lebih nakal Reina. Dia pernah bolos sekolah seminggu tanpa ketahuan, cuma buat main warnet. Ketahuannya waktu ada temennya ngadu ke saya kalau Reina jarang muncul. Tapi kan saya selalu jemput dia di sekolah. Eh, ternyata setelah cabut dia pura-pura ke titik di mana saya sering jemput. Setelah itu, barulah Reina dibelikan komputer sama game-game sekalian.”
“Cewek kok cabutnya main warnet. Hahaha!”
Aku tertawa keras. Dulu, biasanya yang berkelakuan seperti itu selalu para anak lelaki, tetapi malah Kak Reina sendiri yang main di sana.
“Iya, saya nasehatin dia biar minta komputer sama papanya. Papanya kan berduit. Karena kasihan, saya enggak kasih tau sama Pak Bernardo, asalkan jangan cabut lagi. Dia itu nurut sama saya. Coba aja Reira, pasti udah ngejekin saya dengan cibir bibirnya itu. Nah itu pula anehnya, Reira lebih nurut sama kakeknya.” Ia menepuk dahinya sendiri. “Saya heran Bu Fany bisa punya anak kelakuan kaya anak syaithon semua. Padahal, Bu Fany itu orang yang lembut banget. Pak Bernardo orang berpendidikan. Tapi, untung aja mereka udah gede-gede dan udah sadar tanggung jawab.”
Mendengar Pak Dadang bercerita tentang kedekatan Reira dan kakeknya, telingaku sontak berdiri.
“Bapak dekat sama Pak Kumbang."
“Oh, jelas, dong!” Ia menunjukkan jemarinya, Terdapat sebuah cincin batu berwarna hijau terang. “Ini pemberian darinya.”
“Kalau begitu, bapak tahu masalah antara Kakek Kumbang dan Pak Bernardo?”
Ia terdiam sejenak. Bibirnya bergerak-gerak untuk membuang serpihan tembakau yang menempel.
“Kamu benar-benar ingin tahu?” tanya Pak Dadang. “Apa Reira tahu sesuatu?”
“......”
***