
Hela napasku searah dengan angin laut tatkala kami berlayar. Cuaca tenang bak hati seorang pecinta tanpa badai terasa di balik lembut belaian mentari yang kini aku rasakan. Selaras senyumku dengan senyumnya di atas sana, lembut yang aku lambai berpadu suara burung laut mencari ikan. Tipis awan yang aku liha, terkadang hanya berupa garis-garis yang enggan untuk hujan. Aku harap begitu sepanjang hari ini dan hari-hari berikutnya, mengingat perjalanan ini merupakan perjalanan laut terpanjang yang pernah aku lakukan.
Seperti janji tadi, aku menjumpai Borneo yang sudah sampai di dermaga yang tidak jauh dari tempat kami berlayar. Aku menceritakan semuanya jika Kakek Tarab sudah mengetahui rencana itu. Entah bagaimana ia mengetahuinya, yang pasti nalarku tidak akan sanggup menjangkaunya. Tidak ada rencana yang selalu tepat sesuai harapan, bahkan Razel pun kali ini tetap bertahan di kapal menuju dermaga pemberhentian selanjutnya. Sementara itu, aku biarkan Borneo sendirian. untuk melanjutkan perjalanan ke sana.
Sudah aku bilang, kali ini merupakan perjalanan yang sangat jauh. Aku bahkan melebarkan tanganku tatkala menggambarkannya kepada Razel. Butuh dua hari lebih di laut dengan kecepatan normal dan cuaca yang bagus. Kakek Syarif sudah memberitahukan kami wejangan sebelum pergi. Jika badai terlalu besar, segeralah menepi dan cari dermaga terdekat. Pantau terus tepian karena akan tampak mercusuar yang menjadi tanda ada tepian tidak jauh dari sana.
“Bengkulu … lo pernah ke sana, Razel?” tanyaku padanya. Perjalanan sudah lebih dari lima jam semenjak kami bertemu Borneo tadi.
“Belum Kak … kawasan Sumatera paling jauh yang gue pijak itu cuma Bandar Lampung. Selebihnya, gue belum pernah ….”
Razel sibuk di kemudi kapal sembari merokok. Aku di belakangnya menyaksikan langit terang bersih tanpa awan sedikit pun. Doa mujarab Kakek Syarif sudah dibacakan tadi pagi. Katanya, ritual itu ampuh untuk mengusir badai dari kapal.
“Semakin jauh kita berjalan, semakin lepas kita dari pengawasan. Di sana kita sadar kalau kita udah semakin besar.” Aku berdiri memegangi kedua pundaknya. “Lo dulu cuma bocil yang mengadu minta beli eskrim sama gue. Sekarang lo udah bujangan.”
Razel tertawa tatkala aku katakana hal itu. Meskipun kami tidak saudara kandung, tetapi kelekatan kami sangatlah dekat. Bahkan, aku lebih dekat dengan Razel daripada Kak Reina sendiri. Reina itu sibuk belajar, jadi jarang mau bergaul denganku dulu. Sehari-hari sibuk les Bahasa Inggris, Matematika, serta piano. Sedangkan aku mengamuk tidak ingin diantarkan oleh supir. Jikalah diantarkan, aku minta ia mengantarkanku ke rumah Razel. Kami bisa bermain layangan di sana.
“Aneh banget Bapak ngizinin aku berkelana seperti ini. Bahkan, Ibuk juga enggak ngelarang. Andai aja dia tahu kita sendirian di tengah laut begini, pasti dia juga khawatir ….”
“Iya, tentu aja mereka khawatir. Membayangkan anaknya beradu dengan badai itu sangat menguras pikiran. Tapi, pendahulu kita semua berasal dari laut, Razel. Kalau dijilat kulit lo sendiri, itu rasanya asin ….”
Ia malah mencoba menjilati kulit tangannya. Sudah aku bilang, dia itu memang punya wajah sangar, tapi sangat polos sekali.
“Iya Kak, rasanya asin ….”
Tanganku menempel di kepalanya. “Itu karena lo belum mandi. Sana pergi mandi dulu. Tadi pagi gue suruh lo mandi, malah dibilang dingin. Mana ada air pagi itu hangat, goblok!”
“Iya nih, kulit gue gatal-gatal. Apa karena makan masakan yang Kakak buat ya? Hehehe ….”
“Sana pergi mandi!” Aku menggesernya dari kemudi kapal.
Sungguh perjalan yang sangat jauh. Siang berganti sore, sore menggelap di ufuk barat menjadi kemerahan untuk kami nikmati dari anjungan kemudi kapal. Tidak cukup tiga batang rokok dinikmati oleh Razel karena bagusnya pemandangan itu. Gelap jatuh tepat di atas kami, beruntung bulan dengan baiknya datang beserta bintang. Razel membaca garis-garis gemintang di atas sana sebagaimana yang sudah diajarkan oleh bapaknya sendiri. Wajahnya menyimpulkan jika kami berada di jalur yang benar. Aku pun sudah memastikan sendiri jalan yang benar dari membaca peta serta meneropong tepian.
Malam bergulir setiap detik. Gelapnya air laut seperti lautan hitam yang berombak dan bergemericik tatkala menyentuh bawah kapal. Aku berdiri di depan kapal sembari membuka tangan. Hangatnya arak Bali masih terasa di dadaku, dingin pun tidak menjadi masalah. Sungguh rugi Reina tidak pernah belajar bermain di atas kapal. Jika ia tahu sesyahdu ini, pasti ia akan membeli kapal sendiri yang lebih bagus, mungkin kapal besi sekaligus.
Dua puluh jam perjalanan, aku menghitung setiap jamnya dari catatan kecilku. Razel sudah lelah dan tertidur, sementara aku yang menggantikannya ketika subuh hari tatkala mentari sudah seperti cuilan mentega di belahan bumi timur. Jika kalian mengira kami sudah sampai di tempat yang dituju, aku pun menolaknya seketika. Kami hanya bersinggah untuk beristirahat sekaligus menyetok bahan bakar di Way Batang. Hampir seharian di laut, akhirnya kami mendepi di pukul tujuh pagi.
Bendera motif singa berkibar lebih rendah daripada bendera nasional merah putih. Aku menepikan kapal sendiri karena enggan membangunkan Razel yang sudah seperti orang nyabu tadi malam, tidak pernah tidur sedikit pun. Jika tidak disuruh tidur, maka ia tidak akan tidur. Terkadang itu yang membuatku salut dengannya. Maka, aku biarkan Razel beristirahat di dalam kapal tatkala aku kelua untuk mencari Borneo.
“Woy, bangun ….”
Ia seperti sedang dihampiri hantu aku intip dari gelapnya kaca mobil.
“Kau udah datang, Reira. Aku kira kalian datang setahun kemudian.” Ia melihat jam tangan. “Tujuh pagi, hampir seharian kalian di kapal. Razel mana?”
“Tidur di kapal, jadi aku biarin aja. Kau udah sarapan?” tanyaku.
“Dari tadi malam aku belum makan,” balasnya.
Dahiku menyerngit. Aku sudah mengatakan jangan pernah lupa makan. Bahkan, di kapal saja aku dan Razel kerjannya hanya makan dan makan. Percuma aku membawa mereka ke swalayan dua hari yang lalu untuk membeli keperluan perut.
“Mana kunci van? Kita pergi cari makan dulu ….”
Aku dan Razel pergi mencari bubur ayam di sekitaran wilayah ini. Setelah dapat, kami menikmatinya di atas kapal Leon. Ia memintaku untuk membangunkan Razel, tetapi lebih baik ia membuatkan susu pagi hari ini untukku daripada membangunkan Razel. Pria itu tidak akan bangun karena seharian matanya berjaga. Hanya saja, tetap aku letakkan bubur ayam di samping ranjang tempat ia tidur
“Terima kasih,” ucapku tatkala menyambut susu yang diseduh oleh Borneo.
Ia pun membawa satu gelas kopi untuk dirinya sendiri. Berbarengan dengan rokok yang ia sulut, bibirya tersenyum untuk membalas terima kasih dariku.
“Ke dermaga pemberhentian selanjutnya, mungkin setengah hari lebih juga.”
“Benarkah? Baguslah … aku suka di laut,” balasku sembari menoleh padanya. “Kau pernah lebih jauh dari ini melaut?”
“Kau bercanda? Perjalanan aku dengan Kakek Kumbang itu bisa antar pulau bolak-balik mengantar pasokan barang. Kami bisa berhari-hari di atas laut, tapi kalau udah sampai, bisa berhari-hari juga di daratan untuk persiapan pulang.”
“Ternyata jiwa petualanganmu lebih besar dari aku sendiri. Aku salut,” balasku.
“Terima kasih udah bawa aku di petualangan ini ….”
Aku memutar tubuhku ke arahnya. Ada sesuatu yang sedari kemarin mengganjal di kepalaku.
“Ceritakan bagaimana masa lalumu, kenapa kau bisa bersama Kakek Kumbang.”
***