Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 40 (S3)



Tanganku menyentuh bayang-bayang wajahku di atas bantal. Begitu nyamannya berbaring di atas kasur dan ruangan perpendingin udara. Terasa sejak dan tidak memberikan kami waktu untuk merasa gerah. Mata dimanjakan oleh lampu cerah yang nyaman sekali ketika aku pandang sekitar, memperlihatkan kamar mewah dengan dua ranjang besar di kiri dan kanan. Entahlah, jika aku duduk termenung, ingatanku tertuju kepada rumah yang sungguh menyendiri sekarang. Tidak ada orang yang menghuninya, bahkan hantu pun enggan masuk karena tidak ada yang bisa diganggu.


Wajahku tampak lusuh di cermin. Mataku lemah berkeriput di bagian kantung mata yang menghitam. Aku rasa pipiku sedikit lebih tirus semenjak jauh dari keramaian. Aku ingat sekali jika David pernah mengatakan jika pipiku mulai membengkak ketika kurang lebih sebulan menetap di Singapura. Tidak sampai setahun kemudian, aku mungkin tubuhku lebih terlihat seperti masa-masa SMA, hanya saja dengan muka yang menua. Aku dimakan perubahana itu sendiri, waktu mempermainkannya.


Aku lelah, aku akui itu. Sering kali aku berniat untuk pergi ke spa agar merelaksasi otot, hanya saja tidak cukup waktu bagiku untuk menghabiskan hari di sana. Aku akan terus berjalan dan terus terjaga demi tujuan itu. Lelah bukanlah sebagai keluhan. Selagi aku masih bisa terlelap dua sampai tiga jam semalam, itu saja sudah cukup bagiku sebagai bekal keesokan harinya. Namun, tidak ada yang bisa mengira panjang esok hari. Setiap saat selalu lama terasa, aku dipermainkan oleh relativitas karena terus mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dicari.


Datuk Bilal membuka pintu kembali, ia meminta aku untuk berkumpul di meja makan untuk memperkenalkan orang-orang yang merupakan saudara dekat dariku. Aku dirangkul olehnya sembari diperkenalkan jika aku masih satu keturunan dengan mereka.


“Reira … anak dari Fany, cucu dari Kumbang.” Aku memperkenalkan diri.


Mereka tampak tercengang padaku. Seseorang yang sudah lama menghilang, tiba-tiba saja salah satu keturunannya berada di sini untuk berkumpul kembali. Terdapat beberapa orang bibi dan paman yang masih berkesempatan diasuh oleh Kumbang muda, sehingga mereka memelukku begitu erat, termasuk seseorang yang sangat mirip Bunda. Aku turut diperkenalkan kepada sepupu dan pondakan kecil yang sedari tadi bermain sambil berlari. Aku seketika merasakan hangatnya lingkup keluarga yang selama ini tidak pernah aku dapatkan lagi secara utuh.


Setelah itu, supir pribadi Datuk Bilal mengantarkan kami ke penginapan.  Aku dibekali oleh berbagai makanan yang sengaja dititipkan agar bisa kami makan di penginapan. Sesampainya di sana, alangkah terkejutnya Borneo dan Semara mendengar fakta tersebut. Satu orang lagi yang ingin aku beritahu ialah Kak Reina. Ia harus tahu berita ini, sekaligus membawakan Kakek kepadanya.


Malam berlalu dengan mimpi. Mimpi berakhir pada semerbak cahaya pagi yang membangunkanku dengan begitu manja. Aku membuka handphone-ku menggunakan jaringan Wifi penginapan. Terdapat pesan langsung Instagram dari Kak Reina yang menyatakan jika ia sedang berada di Pekanbaru. Aku tertawa kecil tatkala Kak Reina berkata tidak bisa diminta tolong karena ia sangat sibuk sekarang mengurusi perusahaan peninggalan Bunda.


“Gue mau berkeliling dulu.” Aku menepuk kaki Semara.


Ia masih memejamkan mata. Setelah mengiyakan, ia kembali larut di dalam tidur.


Van merah muda aku sambangi. Ternyata Borneo sedang berada di sana sembari minum kopi gratis dari penginapan. Sepertinya ia sudah mandi, rambut panjangnya basah mengkilap. Ia tampak seperti Snape, guru di Sekolah Hogwarts jika bermata sayu seperti itu.


“Aku kira siapa, ternyata kau ….”


Borneo menurunkan kakinya dari kemudi.


“Sarapan dulu di cafetaria, atau kita bisa cari sarapan di luar.”


Aku mendorongnya agar duduk di bangku samping kemudi. “Kita cari sarapan aja dulu berdua. Semara masih tidur, Razel juga pasti masih tidur.”


“Iya … Razel susah dibangunin.”


Kami membeli sate pedas dari penjaja gerobak di pasar hari ini. Bentuknya seperti Sate Padang dengan kuah pedas yang khas, tetapi lebih berwarna kuning. Mungkin saja ada campuran kunyitnya di sana sehingga berwarna kuning, bukan merah seperti sate Padang pada umumnya. Setelah beli empat bungkus, dua di antaranya kami makan di tepian Sungai Kuantan yang berbentuk anak tangga ke bawah.


Angin segar aku rasakan menjalar ke dalam pakaianku. Sementara Borneo kesulitan merapikan rambut panjangnya yang tersapu angin. Sementara bibirku tersenyum kepada pria itu, mataku mengarah ke aktivitas masyarakat di seberang sana yang sudah mulai sibuk. Hari ini merupakan hari terakhir dari Festival Pacu Jalur. Hanya saja, pertandingan dimulai ketika pukul satu nanti.


“Apa yang aku lakukan kalau semua ini berakhir, Reira?”


“Jalur didayung pada pancang terakhir,” ucapku dengan singkat.


“Itu kalimat dari Datuk Bilal, pancang terakhir itu maksudnya tempat asal kita. Kau aku minta buat kembali ke keluarga.”


Ia diam sejenak sembari menggigit daging sate miliknya. “Itu hal bodoh, sama seperti kau yang balik lagi ke Jakarta setelah semua hal besar hasil sebelumnya.”


Aku mengangguk. “Mungkin aku bakal kembali lagi ke Jakarta kalau tujuanku berhasil. Mungkin dengan kehidupan baru dan ruang lingkup pergaulan yang baru. Aku harap kau juga begitu”


“Entah kenapa aku pengen dengan kau sampai waktu yang bahkan aku enggak tahu. Kembali lagi ke Kalimantan bukan hal yang bagus buat sekarang. Aku masih belum jadi apa-apa.”


“Kau mau sekolah? Razel akan sekolah.”


Matanya melebar. “Sudah berapa tahun aku enggak baca buku, mungkin udah membeku.”


“Sekolah itu bukan buat baca buku, tapi buat pemikiran maju. Tapi kau harus baca buku biar bisa dapat pemikiran maju.”


“Ah … aku enggak tertarik,” balasnya dengan singkat.


“Sebutkan alasan aku biar kau bisa tetap bertahan.” Aku menoleh padanya.


Tulang rahangnya yang tegas tampak bergerak tatkala mengunyah. Ia diam sejenak untuk berpikir.


“Setelah bertahun-tahun, aku bisa kembali menjadi hidup, itu karena kau.” Ia tampak malu-malu mengucapkannya. “Kau janjikan aku untuk jadi seniman, aku tagih itu.”


Aku baru mengingat jika janjiku untuk membelikannya peralatan melukis dan ukir batal direalisasikan. Mungkin saja kami terlalu sibuk berkelana.


“Kau tetap bersama aku. Jangan pergi …. Sementara Razel sekolah di Pekanbaru, kau bisa buka galeri sendiri. Aku jamin itu bisa terwujud.”


Ia tersenyum. “Tapi kau bakal pergi juga kan?”


“Iya … harus, ada banyak orang yang menunggu di sana.”


“Aku harap kita bisa berkumpul seperti ini lagi kalau masa-masa itu datang.”


Aku menjatuhkan kepalaku ke pundaknya. “Sepertinya kau mirip seseorang …..”


Mataku memandang ke atas langit. Hari ini akan menjadi saksi, aku akan menang.


***