
EPISODE 3 (S2)
Dari balik gelembung air dan suara gemuruh kedap di telinga, ia memanggilku dari gerak mulut menguntai sebuah nama. Senyumnya tersimpulkan makna jika ia ingin aku tetap dalam teguh pendirian memberanikan diri masuk ke dalam sesuatu yang ia sebut sebagai zona tak nyaman. Zona tak nyaman melewati garis yang direngkuh oleh tentram yang mengekang, sebuah kesenangan yang mengepungku dari hal-hal di luar sana. Detik ini, ketika ia dekatkan wajahku dan menyimpulkan kecup pada garis-garis bibir ini, aku merasakan bahwasanya aku tak lagi berada di titik itu. Aku perlahan bisa keluar dari analogi garis jempol dan telunjuk yang berdempetan, hanya sebatas itulah dunia yang selama ini kujalani. Tak seperti tangan Reira yang melebar bebas tanpa hambatan, tak satu pun yang menghalanginya dan berani untuk membentangkan dinding-dinding itu.
Mati tak akan mengobati hati yang terkekang, walaupun kesengangan harta didapati dengan begitu mudah. Hidup yang kurengkuh dalam setiap hela napas per detik, tak akan menjadi makna ketika kugunakan untuk berputar pada poros tak berpindah. Bahkan, hitungan jutaaan senyum yang telah kusampaikan selama ini pada dunia, tak akan berarti apabila tak dapat mengubah dunia kecilku. Aku memperlajari hal itu dari serak suara Reira yang berteriak senang oleh hal-hal gilanya. Maka dari itu, aku rekatkan rengkuh pelukku padanya di dalam gemuruh air, hingga gelisah yang resah itu tak lagi membuncah.
Kami bangkit ke atas oleh ayunan kaki yang kami selaraskan bersama. Masih tangannya merangkulku, membenamkan wajahnya pada dadaku yang tak bidang seperti standar maskulinitas pria-pria metropolitan. Kurasakan apa apa yang tak terjadi ketika kutatap wajah riang anak-anak nelayan yang menanti kehadiran kami ke permukaan, yaitu euforia.
Napas yang sedari tadi tertahan, kini dilampiaskan dendamnya pada segarnya udara pagi walaupun mata tetap terpejam oleh pedihnya air laut yang asin. Anak-anak nelayan tersebut mengelilingi kami sembari menepuk kencang air hingga terpercik ke atas. Mata Reira merah, namun lebih merah senyum yang ia pancarkan. Sifat kaku yang kumiliki pun berubah, aku turut menepuk air mengikuti ritme ayunan tangan mereka. Semakin kencang aku menepuknya, Reira semakin erat memelukku karena tak tahan jika matanya tersapu oleh air laut.
“Menarilah!” teriak Reira. “Karena pagi ini kalian enggak akan kedinginan, kita makan-makan!”
“Hore!!!” sahut mereka bersamaan.
Reira menatapku dengan hangat. Ia jatuhkan dahinya pada keningku. Matanya terpejam, hidung kami saling bersentuhan. Hangatnya desahan napasnya beradu denganku yang tersenggal karena menahan beban dirinya untuk tetap mengapung.
“Kita melakukannya, Rei,” ucapku pelan.
“Anak-anak ini bahagia banget.”
“Itulah yang gue sebut sebagai harmoni. Merekalah harmoni itu. Lo harus tetap menjadi agen penyebar harmoni kepada setiap orang,” balasnya.
Aku mengangguk. Dahi kami pun bergesekan. “Tuntun gue untuk melakukan semuanya untuk lo.”
“Bukan buat gue, tapi ini ....” Ia menarik kepalanya dari dahiku, lalu menggeleng pelan seraya memejam mata. Telunjuknya tegas menyentuh dadaku. “Untuk hati lo ….”
“Baiklah, gue akan melakukannya buat hati gue,” pungkasku. “Ayo, kita kedaratan. Gue khawatir Candra ngajakin anak-anak buat ngerokok. Hahahah …”
Ia tertawa pelan. “Tenang, gue udah edukasi mereka, enggak kaya kalian!”
Reira berpindah posisi pada punggungku, lalu mengapitnya dengan kedua kakinya. Aku diminta untuk berenang sembari membawanya seperti itu. Memang, bukanlah beban yang ringan jika kubawa ia ketika berenang. Namun, kupaksa tubuhku untuk memutari kapal Leon yang besar ini. Anak-anak tersebut pun saling berkejaran untuk sampai ke daratan. Hujatan canda yang mereka lemparkan menjadi kesenangan tersendiri ketika menyindir teman yang telah berbuat curang dengan cara mendorong lawan. Reira tertawa terbahak-bahak di belakangku, tak peduli dengan aku yang sedang bersusah payah membawanya.
Berbicara tentang posisi ini, aku pernah berada di punggung seseorang yang dengan senang hati tanpa beban membawaku mengaruhi sebuah kolam renang. Isak tangisku beberapa jam yang sebelumnya di masa lalu tersebut menjadi sebuah saksi betapa aku membutuhkan orang\-orang sepertinya di dunia ini. Rio selalu memposisikan diri sebagai kakak terbaik yang pernah kumiliki, bukan berarti Dika saudara yang tak baik, setidaknya dalam keadaan saat itu. Aku yang menangis tak lagi menumpahkan air mata karena suara rantai sepeda Rio yang bergerak menuju kolam renang. Ia menghiburku dari perkelahian kecil bersama Dika sehingga menyebabkan kedua tangan kami berdua memerah akibat rotan yang dimiliki oleh Ayah. Persis seperti ini, aku berada di punggung Rio sembari mengejek anak-anak lain yang tak bisa mencapai ke tengah kolam. Aku pun berteriak saat itu, menghujat Dika yang tak diajak oleh Rio.
“Ke atas cepat, punggung gue pegal banget!” ucapku pada Reira.
“Yah, gini aja capek. Lemah banget sih lo!” protes Reira.
Ia pun bergerak ke atas tangga kayu basah dan berdecit tersebut. Sebelah tangannya menjulur untuk membantuku naik ke atas.
“Namanya juga berenang, lo sendiri juga ngos-ngosan kalau berenang sendiri, Rei.”
“Hahah … suka-suka gue, dong!” Ia pergi tanpa rasa bersalah.
Entahlah … anak itu selalu begitu. Sifat cueknya yang membebalkan tersebut kadang terselipkan sisi manis. Ia hanya ingin kuperhatikan, tanpa ia meminta untuk diperhatikan. Aku menyadari hal itu, mengobservasi segala perilaku aneh yang ia tunjukkan. Perlahan, tanganku menjulur mengacak rambut Reira yang basah, hingga kelihatan kusut.
“Kakek Syarif pasti marah kalau kita lihat seperti ini.” Aku tertawa kecil.
“Mau taruhan?” tantangnya.
Ia ingin mencela kalimatku. Lika-liku pikirannya yang bercabang sangat sulit untuk kutebak. Penuh dengan rahasia dan intrik untuk menjatuhkan lawan bicara.
“Setiap taruhan gue pasti kalah, lo ini cenayang, ya?” tanyaku.
“Bukan, itu firasat. Firasat gue ini valid sedunia. Berasal dari hati dan pengalaman. Makanya lo selalu kalah!” pungkasnya.
Tak ada komentar dari kalimatnya. Aku hanya tersenyum sembari mengikuti langkah Reira melangkah di atas tangga landau dermaga. Tatkala aku mendongak, ternyata Candra dan lima orang awak kapal Reira tengah berbincang ria di atas sana. Masih dengan tembakau yang terselipkan di jemari Candra, ia terlihat tertawa riang bersama mereka.
“Ih, Rei … rokok gue jatuh!” Ia menunjuk Reira. “Kalian habis ngapain, sih? Mandi?”
“Gue enggak mau mandi pakai air laut, bikin kulit gue kesat dan kering!” protes Reira.
Aku mendekati wajahku padanya. “Sejak kapan lo peduli sama masalah kulit? Biasanya mainin lumpur juga.”
“Hahah … barusan tadi, dua detik yang lalu semenjak gue lihat rambut kriwil Candra.” Ia menoleh kepada Candra. “Lain kali, gue mau coba keritingin rambut kaya lo.”
“David, nih cewek lo normal atau enggak, sih?” tanya Candra.
Aku pun berbisik ke telinnga Candra. “Dia alien betina, bukan manusia wanita.”
Kening Reira mengernit. “Kalian bicarain apa?”
“Enggak ada ….” Aku tersenyum.
“Ayo pergi makan!”
“Ayo!” Kami menggenggam tangan ke atas bersamaan.
Langkah Reira menuntun kami untuk belajar saling berbagi hari ini. Mulai dari kobar semangatnya tanpa resah mengeluarkan uang pecahan besar berbalut plastik kresek yang ia lemparkan kepada anak-anak nelayan tadi, hingga ucapan terima kasih yang kami ucapkan tatkala ia mengajak kami untuk sarapan. Berbagi merupakan hal yang biasa bagi setiap orang, namun bisa kukatakan jika ia sudah sangat berlebihan berbagi kepada setiap insan yang ia temui. Entah terbuat dari apa hati wanita itu hingga tak tahu bagaimana cara menghabiskan uang dengan normal, bukan untuk diri sendiri dan berfoya-foya seperti wanita kaya pada umumnya.
Jika dunia terbuat dari air seperti Thales nyatakan seribu tahun lebih yang lalu, aku dapat menyimpulkan jika hatinya benar\-benar terbuat dari air yang diteteskan pada goa terdalam dan paling murni. Air memberikan kehidupan pada dunia dengan menumbuhkan tanaman dan menghidupi hewan\-hewan, hingga manusia sendiri memanfaatkannya untuk bertahan. Perubahan tersebut berasal dari air yang mengalir deras pada aliran sungai. Hatinya begitu pula, memberikan manfaat pada orang banyak, impuls pencuat senyum terbaik pada bibir yang kaku sepertiku.
Mungkin saja, namun kurasa ada benarnya.
Pernahkah kulihat ia menolak untuk berbagi?
Menggelengkan kepala tatkala seseorang menadahkan tangan meminta pertolongan dan seonggok nasi?
Tanpa diminta pun, Reira menempatkan diri sebagai orang pertama yang mengulurkan tangan. Ia pernah berkata padaku bahwa ia membutuhkan orang yang kesusahan, parahnya lagi ia khususkan untuk orang-orang yang berpatah hati karena ia sendiri belum pernah merasakannya sebelumnya. Makna apa yang sebenarnya ia sembunyikan ketika membutuhkan orang-orang yang kesusahan.
Bukankah kesusahan merupakan beban terberat bagi orang-orang yang membutuhkan? Baginya tidak, ia membutuhkan wadah untuk berbuat kebaikan. Ia mengizinkan kami untuk menjadi wadah-wadah dan bejana untuk menuangkannya.
Kulihat wajar riang dari awak kapal Reira yang menepuk perut setelah sepiring lontong sayur pakis dengan tambahan dua buah bakwan berhasil membuat mereka kekenyangan. Sendawa yang kudengar bukanlah sebuah hinaan bagi standar kesopanan, namun rasa syukur dan terima kasih jika kubawa dari pendengaran Reira. Entahlah, kami yang tak tahu malu ini mungkin saja dianggap jorok jika kami bawa kebiasaan ini di tengah kota. Di sini tepatnya, aku tak melihat wajah kecut Reira. Bahkan parahnya, ia melakukannya juga.
Dua gelas kopi untuk aku dan Candra dan lima cangkir teh hangat untuk mereka berenam menjadi penutup sesi sarapan pagi ini. Tanpa ragu Reira mengeluarkan uangnya dan melangkah ke arah wanita Melayu paruh baya yang tengah duduk menonton acara pagi.
“Rei,” panggilku padanya. Aku menyerahkan sejumlah uang padanya. “Gue dan Candra bayar buat kami. Lo bayarin anak-anak ini aja.”
Ia berpikir sejenak, terlihat dari alisnya yang naik. Namun, ia tetap mengambil uang tersebut. “Setidaknya ini lebih baik daripada kalian belikan untuk batangan candu berasap itu.”
Candra mencolekku. Ia paling muak jika Reira mencela setiap kalimat yang kami katakan. Aku sudah terbiasa dengan hal itu. Bukan Reira namanya jika tidak membungkam lawan bicaranya.
“Oke, tolong ya.”
Ia mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Tatkala ia menghampiri wanita Melayu pemilik kedai lontong tersebut, berbunyi gelak tawa Reira seiring tangannya memberikan sejumlah uang sebagai bayaran. Seakan merasa paling sudah mengenal semua orang, Reira menghantam pembawannya begitu santai dengan kata-kata yang menarik. Entah dari mana ia belajar tak canggung untuk bertemu dengan orang baru.
“Ayo, kalian akan menyikat kapal!” Reira menepuk meja kami seiring langkahnya keluar kedai lontong.
***