
Awalnya tidurku nyenyak, beberapa mimpi terputar dalam imajinasi malam mengenai keluarga yang pernah meninggalkan. Namun, aku terbangun oleh suara yang pelan berbisik.
"David," ucapnya. "Ini gue."
Aku langsung terduduk. Ia menepuk wajahku dengan pelan. Dengan sigap aku mundur untuk menghindari sosok yang hadir dalam kegelapan kamar. Aku takut jika itu merupakan makhluk yang tidak diinginkan.
"Ini gue, Reira." Ia menyalakan layar handphone-nya dan mengarahkan ke wajah.
"Reira?" Mataku meneliti wajahnya dengan seksama. Detail wajahnya tepat seperti Reira. Ya benar, itu memang Reira. "Kenapa─"
"Ikut gue." Ia menarik tanganku.
Pintu balkon belakang terbuka pelan. Dinginnya malam begitu mencekam oleh angin yang mengarah kepada kami. Ia langsung mengencangkan sweater dan mengenakan kupluknya. Giginya terdengar menggeretak menahan dingin, terdengar dengan jelas ketika aku duduk disampingnya. Sweater-nya tampak begitu tipis. Itu tidak akan cukup menahan dingin di kawasan gunung, terutama pada dini hari.
"Tunggu sebentar," kataku. Aku kembali ke kamar untuk mencari selimut.
Kupasangkan selimut hingga menutup punggungnya. Namun, ia melebarkan selimut itu agar aku dapat bergabung dengannya. Selimut itu cukup besar, sehingga dapat menutupi kami berdua. Terasa begitu hangat ketika duduk dengan dilapisi selimut bersamanya. Hanya kepala kami yang terjulur keluar untuk menikmati keindahaan bayang-bayang Gunung Bromo yang gelap.
"Gue ada ini." Reira mengeluarkan sebotol minuman besar. "Vosne Romance Cros Parantoux tahun 1993. Wine premium hadiah wisuda dari teman kakakku di Perancis. Ia bilang kalau sebotol ini, bisa mencapai puluhan juta rupiah."
Seumur hidupku, aku hanya sekali meminum wine. Itu pun wine buatan lokal yang harganya puluhan ribu. Reira membawa barang dengan kasta berkali-kali lipat lebih tinggi dari yang pernah aku cicipi. Aku mengambil botol itu dari tangan Reira. Wine ini benar-benar memiliki umur yang sangat tua.
"Sangat cocok untuk suasana dingin seperti ini," balasku.
"Lo pernah minum wine sebelumnya, kan?" tanya Reira.
Aku mengangguk. "Pernah, hanya sekali."
"Segelas saja, cukup. Gue anti sekali dengan mabuk."
Reira mengeluarkan dua buah gelas wine dari tasnya. Bunyi berdesis terdengar ketika ia membuka tutup botol wine. Ia menuangkannya untukku, kemudian pada gelasnya.
Wangi wine yang pekat tercium ketika aku memutarnya di dalam gelas. Warnanya hitam keungu-unguan. Ini benar-benar wine premium. Sensasi hangat terasa ketika wine mengalir dalam tenggorokanku. Hidung serta pipiku terasa mulai panas. Fantasi-fantasi seketika muncul dalam sekejap. Tenang oleh bagaikan permukaan minuman yang sedang kutenggak.
"Bukan lo satu-satunya alasan buat gue pergi. Namun, puncak gunung itulah kenangan terakhir gue bersama Kakek." Ia menelan wine dalam sekali tenggak. Wajahnya berubah menjadi kecut.
"Terima kasih. Gue senang banget kita bertemu di sini." Ia menyipitkan matanya padaku. "Hari itu Kakek membawaku mendaki. Ia bercerita jika dunia ini di kelilingi oleh tembok es raksasa. Itulah ujung dunia yang kita kenal sebagai Antartika. Setiap kita berlayar di garis yang lurus, kita akan hanya menemui tembok raksasa itu. Ia telah membuktikan itu bersama teman-teman Australia-nya. Dari sana ia percaya jika bumi itu datar."
"Entahlah, gue hanya meyakini teori yang udah gue pelajari di bangku sekolah bahwa bumi itu bulat. Lo percaya apa yang dibilang kakek lo?"
"Gue enggak akan percaya, kalau bukan gue sendiri yang membuktikannya. Tapi, entahlah. Barangkali ada satu hal yang disembunyikan dunia dari kita," balasnya.
Kepalaku mengangguk kagum. "Kakek lo petualang sejati, gue yakin itu."
"Hal itu menurun ke gue. Hahaha ..." Ia kembali menampakkan tawanya. "Seminggu kemudian, Kakek menyeberang ke Australia untuk mengantarkan barang ekspor ke sana. Namun, ia tidak pernah kembali."
"Apa yang terjadi?" tanyaku.
"Satu hal yang membuat gue dilarang buat berlayar, laut selalu menyimpan misterinya. Kadang, laut bisa saja tenang. Dalam sekejap, ia bisa menampakkan dirinya yang sebenarnya. Laut itu kejam, namun gue enggak pernah takut. Kabarnya, kapal yang dikemudikannya tenggelam. Tidak ada bangkai kapal dan jasad awak kapal yang ditemukan, termasuk Kakek gue."
"Ajal tidak mengenal tempat, Rei. Bisa terjadi di mana saja. Tuhan yang udah merencakanannya." Tanganku menari kepalanya untuk mendekat. Helaian rambutnya bergeser helai demi helai ketika belaian lembutku menyentuhnya.
"Gue rindu sama Kakek, makanya gue ke sini."
"Gue rindu sama lo, makanya gue ke sini."
"So sweet ..." Ia menempelkan kepalanya ke pundakku. "Mendaki bersama gue. Ini perintah dari Kapten."
"Kapan?" tanyaku.
"Satu jam lagi. Gue belum sepenuhnya melihat mentari membalas senyum yang gue tunjukkan. Tadi, gue cuma sibuk mengurus lo yang sedang pingsan." Ia berdiri sembari menunjuk puncak Bromo yang gelap.
Dingin semakin mencekam seiring dengan denting jam tangan yang kukenakan. Napasku mulai berembun seperti berada di negara salju. Kadang, gadis itu bisa saja gila seketika. Hanya dia orang yang merencakan mendaki sebuah gunung, sejam sebelum ia melaksanakannya. Namun, wajahnya memberikanku keyakinan dan semangat. Raut bahagia yang ia tunjukkan tidak pernah luntur, walaupun di kala sedih sekali pun. Ia pandai menahan air mata yang terbendung dalam kesedihan.
"Gue ikut, Kapten!"
***