
EPISODE 7 (S2)
Hal yang kurang dari kekurangan ialah kelebihan itu sendiri.
Sebuah kalimat filosofis aku dapati dari pria berkumis tipis dengan gaya merokoknya yang khas, terdapat alat filter tambahan di pangkal tembakaunya. Candra tak segan mencoba rokok lintingan yang tak biasa kami gunakan sebagai Candu, Pak Cik Milsa pun tak mempermasalahkannya selagi kami nyaman mendengarkan segala pembicaraan yang ia ucap. Pria yang pernah berkuliah Matematika di Universitas Gajah Mada itu menceritakan aku hal sangat bermakna bagaimana butuhnya seeorang berpikir filosofis. Walaupun tak sempat menyelesaikan kuliah karena sibuk berdagang, tentu saja sebagian ilmu itu masih melekat padanya.
Hari semakin siang saja. Terik membakar kami seperti oven karena panasnya mentari memancar dari atap seng. Debu tanah mulai naik ke atas berkat angin yang bergerak. Keringat yang bertebaran di dahi membuat Pak Cik Milsa meneriaki Zainab untuk membawakan kipas angin keluar. Tentu saja Pak Cik Milsa berteriak karena Zainab yang datang dengan headset di telinga, pertanda anak perempuannya itu sibuk mendengarkan musik di kamar. Sembari menggulung kertas linting dengan tembakau yang padat, ia kembali melanjutkan kalimatnya walaupun terbatuk berkali-kali. Sudah berapa batang ia habiskan tembakau dalam sesi diskusi ini. Layaknya kereta api, sambung menyambung tanpa henti. Candra pernah hampir muntah karena kutantang seperti itu sewaktu membuat tugas di rumahku.
“Ada yang salah di dalam sistem pendidikan kita. Anak-anak hanya disuapi ilmu satu tambah satu ialah dua tanpa pernah tahu angka dua itu datang dari mana. Siswa disibukkan menghafal perkalian seratus angka tanpa pernah tahu filosofis apa yang sedang bermain di dalamnya, setelah itu mereka dihukum berdiri di depan karena tidak hapal perkalian sampai angka seratus.”
Kami pun mendengarkannya dengan seksama, memerhatikan bibirnya yang bergerak membentuk kata. Masih diselingi dengan batuk, ia masih melanjutkan kalimatnya itu. Ingin sekali aku menarik kertas lintingan itu agar ia berhenti menambah asap, namun itu tidak mungkin aku lakukan agar kami dapat makanan gratis siang ini.
“Bapak seperti anak Filsafat, bukan Matematika,” balasku.
Ia tertawa kecil. Asapnya menyembur padaku
“Anak muda, kau harus tahu jika seluruh ilmu yang kau pelajari di kampus itu berasal dari bapaknya, Filsafat. Contohnya kau anak Psikologi, ribuan tahun yang lalu filosof sudah memikirkan karakter manusia manusia untuk dibagi-bagi dalam beberapa kategori. Kau kenal Hippocrates? Ia membagi empat kategori temperamen, sanguine, melankolik, kholeric, dan plegmatik. Kau Candra, walaupun kau anak Psikologi, tapi kau cukup bagus karena tertarik dengan ekonomi. Aristoteles pernah membahas seni memperoleh kekayaan, Karl Marx mengkritik pemilikan modal para liberal, hingga ke bapak ekonomi modern, Adam Smith. Sedangkan Matematika, kalian pasti tahu rumus Pythagoraz? Tentu saja kalian enggak lupa sudut segitiga itu. Bahkan, agama pun tak luput dari filsafat. Kaum mistisme mengajarkan kita bagaimana penyatuan hamba kepada Tuhan dari sebuah penyucian diri. Hal itu ada dalam berbagai agama, Tasawuf contohnya.”
Kami pun terpelongo mendengar kalimatnya yang berbobot. Tiada aku sangka pria tua dari desa ini mengetahui hal-hal yang sebagaian besar belum pernah aku dengar. Ia cengar-cengir melihat kami yang terdiam, apalgi Candra yang menghela napas panjang berkat kalimat Pak Milsa. Pembicaraan pun semakin seru, Pak Milsa menuangkan cangkir kopi kami yang telah kosong. Kami tidak dibiarkan pergi sebelum memasang diri mendengarkan segala ilmu darinya. Memang, ilmu ini merupakan ilmu yang tak akan bisa kami dengar di bangku sekolah kecuali mencarinya sendiri pada sumber-sumber buku.
Sayangnya, aku tidak terlalu suka membaca buku. Kecuali buku-buku sastra yang aku koleksi sebagai inspirasi menulis puisi di rumah.
“Lalu, apa hubungannya dengan sistem pendidikan kita?”
“Oh, iya … Bapak ingin membicarakan hal itu. Jadi, lupa … Hahaha ….” Ia memetik ujung tembakaunya, namun terlalu kuat hingga bara apinya turut terjatuh. Dengan sigap Candra memantikkan api agar Pak Milsa tidak sibuk meminjamnya dari tangan Candra. “Bapak lanjutkan kenapa terdapat hal yang salah pada sistem pendidikan kita. Hal itu didasari dari sistem yang membuat para siswa hanya menerima mentah-mentah tanpa pernah memikirkan sebuah subtansi nilai. Contohnya yang sudah aku sebutkan tadi, mereka hanya tahu bahwa satu tambah satu adalah dua, tanpa pernah tahu bagaimana proses mendapatkan angka dua.”
“Bukannya hal itu sederhana, Pak Cik? Pasti anak SD tahu … satu es krim ditambah satu es krim sama dengan dua es krim,” sanggahku.
“Kau benar … namun tak sepenuhnya benar. Ada kalanya satu ditambah satu itu sama dengan sepuluh.”
Bapak ini gila, kataku dalam hati.
Mana pernah satu tambah satu adalah sepuluh. Jika itu kukatakan kepada guruku, orangtuaku sudah ditelpon untuk menanyakan bagaimana pola belajarku di rumah. Saat ini, aku menyadari bahwasanya ada yang lebih gila perkataannya dari Reira, yaitu Pak Cik Milsa. Pria pemborong goni ini sedang membuatku bingung.
“Bapak jangan bercanda. Hahah ….” Candra tampak menahan tawanya, namun tetap saja terlepas.
“Kau harus tahu Candra satu hal. Bahwa perspektif bermain dalam hasil. Misalnya, aku beri kau sebungkus rokok hari ini.” Ia menggeser bungkus rokok filter milik kami ke arah Candra. “Bisa jadi sebungkus rokok ini bernilai sepuluh bungkus karena kau enggak merokok sebulan gara-gara enggak punya uang. Beda hal kalau kau punya banyak uang dan merokok setiap hari, satu bungkus ini tidak berarti apa-apa. Semua itu hanyalah angka matematis, kita harus tahu juga angka-angka filosofis.”
Candra kembali tertawa. “Tapi Pak, mana bisa kita ajarin hal itu sama anak SD. Mana ngerti mereka.”
“Jika kau bertanya sama Bapak tentang hal itu, jadi apa gunanya orang-orang di Jurusan Pendidikan. Harusnya mereka menemukan cara paling tepat untuk mengajarkan hal seperti itu kepada anak SD. Hahah … bingung pasti kalian, kan?”
“Hahah … bapak ini sama gilanya dengan Reira. Kadang Reira berpikir seperti itu.”
“Hahah … kau benar, David. Pak Kumbang juga berpikir seperti ini. Reira adalah cucu Pak Kumbang. Mereka pasti punya kesamaan."
“Tapi, ngomong-ngomong … ada benarnya juga, Pak. Kami hanya tahu dua kali lima adalah sepuluh, tanpa pernah tahu angka sepuluh itu dari mana. Tentu saja dari hapalan. Setelah aku berpikir lebih jauh, barulah aku tahu jika ternyata itu prosesnya.”
“Nah itu, kita diajarin buat disuapkan, bukan mencari. Waktu di SMA, kalian diajarkan rumus berat dan gravitasi tanpa pernah tahu asal muasal rumus itu. Contoh lainnya, kalian tahu kenapa pengurangan dengan angka minus akan diubah menjadi positif terlebih dahulu? Pasti kalian pernah diajarkan seperti itu.”
Aku lihat Candra menadahkan wajah ke atas untuk berpikir. Otak anak yang sering menghitung penjualan toko pasti sudah biasa berurusan dengan angka-angka, tidak sepertiku yang harus berurusan dengan sifat seseorang. Aku turut memikirkan hal yang sama, namun tidak aku temukan jawaban yang pasti untuk aku ucapkan.
“Bukannya itu udah hukum matematisnya, Pak? Lima dikurang dengan minus tiga akan jadi delapan karena angka tiga akan diubah menjadi positif dahulu,” balasku lebih dahulu.
“Aku rasa memang itu hukumnya,” sambung Candra.
“Dengarkan aku, kalian harus tahu asal muasal dari sebuah hukum. Alasan kenapa sebuah durian matang jatuh ke bawah bukan karena hukum segala sesuatu yang di atas pasti jatuh ke bawah. Alasan yang tepat ialah gravitasi. Tapi kalian harus tahu apa itu gravitasi, tidak hanya daya tarik bumi, tetapi kenapa daya tarik itu ada.”
“Hal yang kurang dari kekurangan ialah kelebihan itu sendiri. Misal, kekurangan dari orang buta ialah dapat melihat. Hal yang kurang dari orang tuli ialah mendengarkan suara. Maka, angka-angka itu harus diubah menjadi positif dahulu karena kekurangan dari yang negatif adalah hal yang positif itu sendiri. Contoh, kekurangan orang jahat adalah kebaikannya itu sendiri.”
Aku termenung sesaat. Kalimat yang ia katakan benar-benar filosofis. Ia memikirkan subtansi dari hal yang sederhana sekali pun, bahkan aku tidak pernah berpikir kepada pikiran tersebut.
Hal yang kurang dari sebuah kekurangan ialah kelebihan itu sendiri. Jika aku merupakan orang yang serba memiliki kekurangan tanpa celah sedikit pun, maka hal yang kurang dariku ialah kelebihan itu sendiri. Hal yang harus aku lakukan ialah mencari kelebihan itu agar menjadi bagian dari diri.
“Sangat menakjubkan. Aku baru mendengar kalimat seperti ini,” pujiku.
“Nah, kalian yang sekolah tinggi-tinggi harus bisa berpikir seperti itu. Masa bisa kalah sama Bapak yang cuma pedagang dan penyadap karet. Hahah … bapak percuma pernah sekolah kalau ujung-ujung jadi penyadap karet. Harusnya dulu Bapak melanjutkan kuliah biar jadi Kepala Sekolah. Walaupun begitu, Bapak tetap suka baca buku"
“Benar, Pak. Kami kayanya harus baca buku.”
Aku menyinggung Candra yang pernah membuang buku dari lantai atas rumahku karena kesal menghapal bahan ujian akhir semester.
“Tapi, walaupun bapak cuma pedagang dan penyadap karet, cuan-nya Bapak lebih besar daripada kepala sekolah,” sambung Candra. Ia menunjuk truk yang membawa kami ke sini tadi. “Bapak punya rumah besar, gudang, dua kolam ikan besar, truk, dan usaha. Bapak lebih sukses walaupun tidak berkuliah.”
“Itu rezeki dari Allah, semuanya udah ada yang ngatur. Bapak enggak berharap jadi begini. Dulu, Bapak cuma berharap jadi guru biasa. Siang pulang makan sebentar, lalu balik lagi mengajar di sekolah. Uang dapatnya bulanan walaupun tidak terlalu besar. Namun, kau harus terus berusaha. Kuliah itu sebenarnya batu loncatan saja untuk kesuksesan, bukan berarti kita anggap orang-orang enggak berkuliah enggak bisa sukses.”
“Abangku hanya lulusan SMA, tapi punya bengkel yang lumayan buat menghidupi kami berdua. Bahkan, ia membayar uang kuliahku. Kami enggak lagi punya orang tua.” Aku bercerita sedikit.
Pak Cik Milsa tersenyum. “Kau kira aku juga punya orangtua sewaktu kuliah? Ayah sudah meninggal semenjak SMA, sedangkah Ibu sudah tua renta di rumah. Aku berkuliah sendiri ke Pulau Jawa dengan biaya sendiri. Berharap dari saudaraku yang lain? Hidup mereka lebih susah dariku saat itu. Hahah … untung saja di Jawa aku belajar berdagang.”
Pelajaran hari ini usai tatkala kami mendengar kumandang adzan Dzuhur memanggil dari mushollah. Masing-masing dari kami mematikan rokok yang terselipkan di jari, lalu membersihkan debu yang keluar dari asbaknya. Pak Milsa mengajak kami pergi ke mushollah untuk beribadah. Sudah lama aku tidak ibadah berjemaah selain satu kali seminggu di Hari Jum`at. Pertemuan ini menghasilkan dua hal, ilmu filsafat gila yang aku dapati darinya, yang lain ialah aku mendapatkan nilai pahala yang kudapati dari mengikuti langkahnya.
Aku pun berpikir tentang perspektif nilai yang disebutkan oleh Pak Cik Milsa. Seseorang akan menganggap nilai sesuatu hal berlebih apabila ia sudah lama tidak menjadi kebiasaan. Sebagaimana analogi sebungkus rokok yang ia katakan kepada Candra, aku pun menganalogikannya kepada ibadah yang aku lakukan kali ini. Aliran air wudhu dari pancuran mushollah begitu dingin dan segar, padahal setiap hari aku juga mengaliri air kepada beberapa anggota tubuhku sebelum beribadah. Takbir pertama yang aku angkat sangat bermakna, padahal lim waktu dalam sehari aku juga mengangkatkan tangan di awal ibadah. Baru aku sadar, hal yang bermain adalah perspektif itu sendiri. Ibadah yang aku lakukan lebih bermakna dikarenakan aku tidak terbiasa melakukannya bersama-sama di rumah suci.
Hari semakin terik saja. Bola panas yang diam di langit itu seakan-akan terasa hanya sejengkal saja, padahal jauh berjuta-juta tahun cahaya jauh jaraknya. Pak Milsa sampai-sampai melepaskan sarung yang ia miliki, lalu menjadikannya pelindung kepala. Persis seperti anak-anak yang bermain lari-larian di malam puasa, seperti itulah Pak Cik Milsa kali ini. Melihat Pak Cik Milsa yang berlari, kami pun ikut berlari.
Bukannya karena panas terik mentari, namun karena sesuatu yang mengejar kami.
“Awas anjing!” Pak Cik Milsa berlari sekencang-kencangnya.
Candra yang sudah biasa jogging sambil menggerek anjing, ia bisa melaju lebih jauh daripada diriku. Aku pun berusaha keras memacu mereka berdua. Bapak itu pun lebih laju dariku yang masih muda ini. Apa aku terlalu lemah? Aku tidak tahu. Yang kutahu kali ini ialah memperjauh jarak anjing murka─entah apa yang membuatnya marah, semoga saja bukan karena bau tubuh Candra yang seperti kucing─yang hanya beberapa meter di belakangku. Anak-anak di warung tepat kami lewat ikut tertawa melihat kami yang lari terbirit-birit. Gonggongan anjing itu semakin membuatku takut. Ujung rumah Pak Milsa yang tampak semakin memercepat gerak langkah kakiku berlari.
Tepat di batas area rumah dan jalanan aspal ini, tampak batang hidup seorang wanita berambut terikat yang sedang meregangkan tubuhnya. Wanita itu tampak terkejut melihat aku dan yang lain berlari dikejar oleh seekor anjing murka. Bukannya malah ikut masuk ke dalam rumah, ia malah melawan arah lariku.
“Reira, ada anjing!” teriakku.
Seketika gonggongan anjing itu pun berhenti. Aku lihat Reira berjongkok sembari menjulurkan lidahnya kepada anjing yang sedang menggila itu. Tidak lama setelah anjing itu berbalik arah, Reira menatap kepadaku.
“Kalau ada anjing ngejar, jongkoklah!” protes Reira. “Nampak banget masa kecil lo enggak pernah dikejar anjing.”
Napasku naik turun setelah berpacu lari. Aku lihat Pak Milsa dan Candra sudah sampai di atas teras rumah sembari menertawaiku.
“Pak Cik Milsa lari, tentu gue lari. Panik tahu!”
“Dasar lemah!”
Reira menarik tanganku. Ia memarahiku gara\-gara tidak tahu cara mengatasi kejaran anjing. Bukan seperti wanita lain yang memarahi kekasihnya dikarenakan chat-nya lama dibalas. Ia bukanlah wanita biasa. Ia adalah alien betina yang aku kenal di malam puisi, kebetulan bernama Reira.
***