Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 19 (S2)



EPISODE 19 (S2)


 


Tiga tahu yang lalu ...


Tepat di mana rasa kaku menatap dunia tengah menghantui para mahasiswa baru di fakultasku. Belum hilang romantisme orientasi yang penuh hujatan para senior sok keren―hingga Candra berani menantang adu jotos di lapangan bola―terngiang-ngiang di dalam benak kami. Suasana prasisi kedewasaaan bertambah kental dengan segudang tugas yang selama ini tidak pernah kami dapatkan semasa bangku sekolah. Tidak hanya itu, kental tatap mata kembang satu angkatan pun masih aku ingat, walaupun hatiku pada saat itu masih menatap Fasha. Aku pun juga pria, tentu saja tertarik dengan bening senyum gadis-gadis baru yang aku kenal. Pantaslah para wanita menganggap jika seluruh pria itu sama. Sama-sama tak bisa menolehkan mata.


Aku tak mengingkari masa-masa awal kuliah itu benar-benar penuh kenangan. Bagaimana kami berjibaku di terik siang pada masa orientasi, canda tawa teman\-teman baru yang beragam, hingga gedung megah tingkat tiga fakultas dengan arsitektur ilmu pengetahuan murni. Prasisi itu memaksa kami untuk terus beradaptasi dengan lingkungan baru. Mulailah ada keluh kesah mulut-mulut munafik yang menyatakan bahwasanya ia sedang salah masuk jurusan. Padahal, jemarinya yang menekan jurusan ini pada portal pendaftaran.


Candra sekelas denganku pada saat itu. Pertemanan kami dimulai tatkala ia memberikanku sebungkus rokok di kamar mandi. Tujuan kami sama, memenuhi candu di kala jam-jam kuliahan yang padat. Padahal, saat itu mata kuliah sedang berlangsung. Aku meminta izin ke kamar mandi sebentar sembari menunggu dosen yang tak berhenti bercerocos mengenai teori di depan kelas. Barulah aku menemui seorang sahabat yang penuh loyalitas itu, walaupun tangannya berbau pakan kucing. Pada saat itu, rambutnya hampir sempurna seperti anak-anak afro. Bergumpal seperti permen kapas sebelum aku meminta untuk memotongnya karena menghalangiku untuk melihat Fasha dari kejauhan.


Sepulang kuliah, aku selalu membersamai Fasha di mobil sedannya. Kami merendahkan tempat duduk sembari melihat pertandingan latihan klub bola kampus di lapangan. Tangannya tak terhitung lagi menepukku tatkala ujung jemari ingin menarik sebatang tembakau. Fasha pantang sekali ada seseorang yang merokok di mobilnya. Momen-momen itu dijadikan Fasha untuk tempat bercerita. Bercerita mengenai keluh kesahnya di kelurga yang super sibuk, tugas yang menumpuk, dan sejumlah lelaki yang mengajaknya kencan. Namun, tak sekali pun aku mendengar nama Bagas saat itu.


Serangkaian ingatan masa lalu itu membawaku kepada satu hari di mana aku sangat membutuhkan buku sebagai bahan referensi makalah. Makalah individual yang aku miliki dicap sebagai makalah 'sampah' oleh salah satu dosen karena masih sanggup mengambil materi di salah satu blog internet. Padahal, ia berulah kali mengingatkan kami jika seluruh referensi harus berasal dari jurnal ilmiah dan jurnal terkait. Hujatan dosen yang menurutku sangat membangun itu menggerakkan hatiku untuk mengunjungi perpustakaan. Kunjungan aku itu merupakan kunjungan pertama kali setelah tiga bulan mendapatkan kartu perpustakaan.


Rak buku-buku Psikologi yang tebal lagi berbahasa Inggris aku lewati satu per satu menuju buku yang aku cari. Timbullah seuntai kaki melintang di ujung rak, bergerak ke atas dan ke bawah dalam baringnya. Sontak aku langsung menoleh. Siapa gerangan yang sedang berbaring di perpustakaan dengan begitu santai, padahal pustakawan di sini terkenal berwajah sangar. Setelah jemariku menarik buku yang aku inginkan, perlahan aku melangkahkan kaki menuju dirinya.


 


Tampaklah seorang gadis bermata sipit dengan kacamata lebar bergagang lebar tengah membaca buku sembari berbaring. Setelan outfit perempuan metropolitan melekat pada dirinya. Tak ubah layaknya anak TK yang membawa botol minum, ia meletakankan botol bermotif binatang panda itu di sampingnya.


 


“Woi, lo tahu ini perpustakaan?” tanyaku padanya.


Ia melihat kepadaku. Wajahnya datar tak berekspresi. Lalu, ia duduk bersandar pada rak tanpa peduli kehadiranku.


“Kalau lo ingin baring, baring saja ....”


Aku menghela napas.


“Iya, gue paham kok baca buku yang paling enak itu sambil baring. Tapi, ini perpustakaan ... bukan kamar pribadi lo.” Aku menunjuk arah ruang baca. “Di sana tempat membaca buku.”


Matanya bergerak kembali kepadaku. Tangannya perlahan menutup buku setelah mememberikan segaris lipatan tanda baca terakhir.


“Kenapa, sih? Gue ngebayar di kampus ini.”


“Iya, gue juga bayar, walaupun enggak semahal kalian. Tapi, gue punya etika.”


Ia menepuk lantai beberapa kali. “Di sini tempat paling nyaman buat gue baca buku. Sesekali lo harus mencobanya. Sendirian di tempat sunyi, sambil membaca bacaan ilmu pengetahuan.”


Aku rasa gadis tak menyukaiku tatkala itu. Ia perlahan berdiri dengan berdecak kesal samar-samar. Hanya wangi parfum yang ia tinggalkan. Bayang-bayangnya pada lantai sudah pergi menghilang. Aku merasa sudah keterlaluan meningatkan gadis itu, hingga terdapat satu orang di fakultas itu yang menaruh ketidaksukaan padaku.


Hari berganti hari, aku masih mendapatkan coretan merah tanda ada yang salah pada makalahku. Sungguh, dosen itu sangat tidak suka dengan ketidaksempurnaan, orangnya begitu perfeksionis. Padahal, ia sama sekali hanya membaca sekilas makalahku, namun ia menemukan letak-letak kesalahan yang ada. Mulailah ada rasa muak untuk pertama kali di lembaran sakit hati para mahasiswa yang terus aku isi hingga di catatan semester akhir.


Kendala uang tak menjadi masalah untuk mendapatkan buku. Jajanku yang terbatas dan Dika yang tidak peduli aku kuliah atau tidak, membuatku mengakali untuk membawa buku perpustakaan ke rumah. Cara ini aku dapati dari Candra yang cerdik itu. Seluruh buku referensi aku pinjam dari perpustakaan, lalu mem-fotocopy di salah satu toko buku yang harganya sangat memahasiswakan. Daripada membeli buku baru dan aku tidak bisa makan, lebih baik aku melakukan hal itu. Sungguh pikiran kotor untuk sebuah kecerdikan.


Namun, hal itu tidak cukup untuk membuat dosen yang bersangkutan puas dengan apa yang aku buat. Ia merekomendasikan sebuah buku yang harus aku baca dan memasukkannya pada makalah mandiri milikku. Baiklah ... kala itu aku sudah bertekad mengiyakan seluruh permintaannya yang terus saja berubah. Aku kembali ke perpustakaan untuk mencari buku setebal buku Harry Potter edisi terakhir yang pernah aku baca. Sangat tebal, aku saja pusing membacanya.


Menurut pustakawan, data komputer menunjukkan jika buku sudah banyak dipinjam dan belum dikembalikan. Hanya satu yang tertinggal, namun aku belum bisa menemukannya di rak buku. Judul buku jelas tertera jika ia benar-benar masih berada di antara ribuan buku yang ada di perpustakaan. Pada rak buku sejenis yang aku cari, tidak ada aku dapati buku tebal itu. Hingga, aku kembali bertemu dengan seuntai kaki yang menjulur pada ujung rak. Bergerak-gerak ke atas dan ke bawah layaknya seorang yang tengah kegirangan di atas sebuah kasur. Hanya saja, kasur itu kini berbentuk licinnya lantai dengan keramik.


Lagi-lagi aku menemukan gadis berkacamata bermata sipit sekali. Kami saling menyorot di garis lurus yang sama, hingga pada akhirnya aku melihat bibirnya yang bergerak perlahan menggerutu keci. Gadis itu tampaknya tak suka denganku saat itu. Ia seakan tidak nyaman dengan kehadiranku dan cepat-cepat berberes diri untuk pergi.


“Eh, tunggu ....” Aku berisyarat menggunakan tangan agar ia tidak mengerti. Buku tebal yang aku cari kini sedang berada di anatar tumpukan buku yang letak di atas lantai. “Lo boleh duduk di sini, hanya saja gue mau baca buku tebal itu.”


“Psikologi Abnormal? Lo mau baca ini di semester awal?” tanya gadis itu.


“Apa salahnya gue baca ini walaupun sebenarnya mata kuliah semester atas,” jawabku.


Ia menepuk sepetak keramik di hadapannya.


 


“Duduk di sini, jangan bawa buku ini.”


 


Aku ragu untuk duduk di sana karena pada umumnya orang membaca di ruang baca, tanpa ada satu pun orang yang berbaring di lantai seperti dirinya. Namun, aku tahu tipe orang sepertinya tidak akan rela membagi buku itu untuk aku bawa pergi ke ruang baca.


 


 


“Lo mau cari materi apa?” tanya gadis itu.


“Nama lo?” tanyaku balik. Tidak baik rasanya berbicara empat mata tanpa tahu siapa gerangan seuntai nama yang ia punya.


“Apa penting sebuah nama?” Sebelah alisnya bergerak.


“Oh, baik ... gue pinjam dulu. Gue David ... senang berkenalan.” Tanganku menggapai buku yang ia sodorkan.


Baris daftar isi aku buka untuk mencari materi yang diminta oleh dosen garang itu. Padahal, aku sudah mencarinya di beberapa buku terkait, namun ia masih mengatakan jika materiku belum sempurna.


“Gue Mawar,” ucapnya pelan. Matanya masih tidak menatapku.


“Oh, baik ....”


Dari balik mataku yang membaca daftar isi, pikiranku tertuju apa gerangan yang membawa anak ini membaca beberapa buku yang bertumpuk. Sebagai bagian dari mahasiswa baru pemalas tingkat tinggi sepertiku, hal itu merupakan sesuatu yang aneh. Aku rasa, aku belum menemukan mahasiswa setingkat denganku yang langsung memborong membaca materi tingkat lanjut, kecuali dirinya.


“Lo cari materi apa?” tanya Mawar kembali.


“Autisme ... dosen pengampu gue minta gue cari materi dari buku ini.”


“Halaman 163,” jawabnya dengan cepat. Matanya masih tertuju dengan buku yang ia pangku.


Sontak aku terkejut tatkala jemariku menunjuk nomor halaman yang sama pada daftar isi. Nomor halaman yang ia sebutkan tepat sempurna tanpa celah. Pertanda, ia sudah membaca materi itu sebelumnya.


“Bagaimana lo bisa tahu dengan tepat?”


Akhirnya kami bertatapan. Garis lurus tatap mata yang kami sambung menyimpulkan sosok senyum dari seorang Mawar untuk pertama kali. Tipisnya sudut bibir yang menarik diri, membuatku turut melakukan hal yang sama. Sunyi perpustakaan pun berbicara, kini aku mengenal orang baru.


“Karena gue baca buku itu. Sederhana, kan?”


Aku melihat tangannya yang menarik sweater dan mengeluarkan botol tumblr berbahan besi. Lalu, tutupnya ia buka untuk menjadi wadah menuangkan air di dalamnya. Terdengar gemericik kecil tuangan air yang menggema di sekitar kami, seiring dengan aroma kopi yang samar\-samar menyeruak ke hidungku. Tidak hanya tutup kecil tumblr itu yang ia tuang, ternyata Mawar menyediakan sebuah cangkir plastik kecil di dalam tasnya. Setelah menuangkan kopi tersebut ke dua wadah, salah satunya ia geser padaku.


Detik itu aku pun berpikir, manusia mana yang berani-beraninya menuang minuman di perpustakaan. Lagi pula, peraturan menuliskan jika kami dilarang membawa tas, apalagi minuman yang bisa membuat bercak basah pada buku\-buku.


“Lo tahu peraturan di sini di larang bawa minuman, kan?” tanyaku.


“Gue cuma ingin ngopi dengan nyaman di sini sambil baca buku.”


“Makanya lo duduk sambil baring di sini?” tanyaku kembali.


“Salah satunya itu.” Ia menggeser tutup tumbler berisikan tuangan kopi itu kembali. “Kalau lo menolak minum, ya tidak apa\-apa.”


Aku menggeleng. “Kopi adalah minuman sakral. Pantang menolaknya.”


Kami pun saling menyeruput kopi yang masih hangat. Langit-langit mulutku mulai merasakan pekatnya pahit kopi yang menghidangnya sensasi tersendiri. Semakin aku gerakkan lidah ke langit-langit, semakin aku ingin menarik ujung tembakau ke bibirku. Namun, aku urungkan niat untuk itu karena bisa jadi aku dikenai sanksi drop out dini oleh pihak fakultas.


“Lo lumayan bisa bikin kopi,” pujiku dengan jujur.


“Gue memang anak dari penjual kopi,” balasnya singkat.


Tidak ada percakapan yang terjadi selanjutnya. Aku sibuk membaca materi autisme yang berisikan teori-teori dari tokoh barat. Otakku semakin mengekerut mengingat semuanya tanpa bisa mencatat satu pun. Lagi pula, aku tidak suka menyatat materi di secarik kertas.


“Yang mana ya yang bisa gue masukin. Kayanya semuanya udah lengkap,” kataku pada diri sendiri.


“Foto aja ... lo kan punya teknologi yang bernama handphone.”


“Anda adalah cerdikiawan.” Aku menunjuknya seraya tersenyum.


Pertemuan kami di perpustakaan fakultas menjadi saksi perkenalanku bersama Mawar, sang anak pemilik warung kopi keturunan Tionghoa itu. Tepat rasanya kopi yang aku cicip dari Mawar tatkala di perpustakaan tiga tahun yang lalu, ternyata ia sudah membiasakan diri memahitkan jemari dengan serbuk-serbuk kopi, lalu menciptakan senyum di masing-masing bibir pelanggan. Semenjak pertemuan yang kedua di fakultas, tidak ada lagi rekam jejak percakapan yang kami ciptakan. Kami sibuk ternggelam di kesibukan kampus dan sumpah serapah kejamnya tugas yang diberikan.


Inilah pertemuan ketiga kami. Ia masih dengan tatapan yang sama, tanpa ekspresi, dan mata yang tajam. Aku ingin mengenalnya lebih jauh, terutama kenapa ia tampak cerdas dengan buku-buku bertumpuk tatkala itu.


Sontak aku mengalihkan pandangan. Reira telah menyenggol lenganku.


 


***