Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 78 (S2)



EPISODE 78 (S2)


Nama yang sempat membuar urat kecemasanku tegang itu akhirnya mencuat kembali di satu detik pada malam ini. Reira menyebutkannya secara tiba-tiba, sementara aku dihentak oleh perkatannya tersebut. Bagaimana bisa ia tahu bahwasanya aku sedang mecemaskan sebuah nama? Aku tidak tahu bagaimana ia ia bisa mengetahui hal tersebut. Mungkin saja ia lebih peka bagaimana memerhatikan perilaku dan gerak-gerik diriku. Atau ia baru saja mendapatkan bisikan dari makhluk yang berada di keris panjang tersebut. Entahlah, aku tidak tahu jalan pikirannya yang berbayang itu.


Mobil bergerak lamban di jalanan. Reira sedang tidak di dalam mode 'pembalap' yang sering ia lakukan bersamaku. Aku heran mobil sedan tua ini masih bisa sekencang mobil-mobil baru. Mengenai nama tersebut, ia masih tidak menjelaskan setelah menyebutkannya padaku. Salahnya aku juga tidak membahasnya kemudian. Di tujuan yang tidak aku ketahui ini, aku menoleh padanya. Mata Reira sedang fokus menatap ke jalanan. Matanya sayu dengan rona hitam di bawah kelopak matanya itu. Aku rasa ia berjuang dengan keras untuk menyelesaikan skripsinya tersebut.


Lihatlah wajah lelahnya tersebut. Reira masih saja memaksakan diri untuk satu hal yang terkadang tidak masuk akal. Anehnya, kami masih memakan nasi, bahkan porsiku lebih banyak. Namun, semangat yang ia tampakkan seakan menutupi seluruh sedih dan lelah, semua perasaan yang sedang merundunginya pada saat ini. Aku bukan tidak tahu ia sangat khawatir dengan mamanya itu. Sorot yang ia tunjukkan tak secerah sebelum-sebelumnya, tepat di mana semuanya masih baik-baik saja. Terdapat gurat-gurat wajah tak terduga di balik senyum manis yang ia tunjukkan. Apakah setelah ia tersenyum atau tertawa, raut wajahnya menunjukkan hal yang lain.


Terkadang benar juga, orang yang paling banyak tertawa merupakan orang yang juga paling banyak menangis. Tangis yang ia helat di ujung malam tepat pada sebuah sudut ruangan dingin menjadi saksi yang tak akan bisa dilupakan, meski pun setelah itu ia kembali mengelap topeng yang sedari tadi basah.


Kami sama-sama menyebutkan nama untuk memanggil. Isyarat tanganku memintanya untuk duluan berbicara.


“Pasti lo heran,” ucap Reira.


“Nauren itu siapa ?” Aku membuang muka secara halus, malu menatap wajahnya. “Gue sama sekali enggak tahu.”


“Masa lo enggak tahu?” Reira menaikkan sebelah alis matanya.


Aku menangguk. “Benar, gue enggak tahu. Kayanya baru ini gue denger.”


“Hahahah ... lo itu manusia yang tidak pandai berbohong.” Ia menoleh padaku kembali. “Setiap lo buka dompet gue, lipatan pada foto itu selalu hilang. Padahal, gue selalu menandainya dengan lipatan, pertanda seseorang baru aja mengambilnya. Dan asal lo tahu, hanya satu orang di dunia ini yang berani membuka dompet gue. Yaitu, lo sendiri. Cuma lo doang.”


Aku tidak tahu membuang wajahku ke mana saat ini. Ia telah menjebakku lebih dahulu agar suatu hari aku tidak bisa mengelak untuk disela olehnya. Salah satu keahlian Reira, cermat menjebak lawan bicara untuk menguak kejujuran dengan cara-cara yang tak biasa. Aku menarik senyumku kecut kemudian.


“Hmmm ... sepertinya lo tahu. Iya, memang ... gue ngelihat foto itu. Tapi gue enggak tahu namanya siapa.”


“Masa?” tanya Reira.


“Bener, gue cuma lihat fotonya doang, enggak ada tulisan apa pun.” Aku kembali menyembunyikannya.


“Okelah, itu terserah lo mau enggak ngebaca tulisan di belakangnya atau tidak. Yang pasti, lo pasti khawatir tentang hal itu, bahkan bertaruh surat tanah sekali pun.” Ia membelokkan stir mobil. “Sepertinya lo enggak terlalu memerhatikan hal kecil. Kayanya setiap ngelihat selembar foto, pasti ngebolak-balikin pakai tangannya.”


“Hmmm ... mungkin aja gue begitu, Rei. Jadi, kesimpulannya dia siapa?”


“Apa selama ini lo enggak penasaran masa lalu cinta gue, atau bisa jadi gue udah punya tunangan, atau bisa juga gue simpanan pejabat DPR?” Reira tidak menjawab pertanyanku.


Itulah yang sering membuatku kesal darinya. Pertanyaan malah dibalas dengan pertanyaan. Aku rasa ia tak lulus pelajaran Bahasa Indonesia bahwasanya pertanyaan dibalas dengan penjelasan, bukan bertanya balik.


Aku pun menghela napas karena itu. “Rei ... gue enggak peduli dengan kisah cinta masa lalu lo. Yang penting sama gue adalah lo yang sekarang. Sama halnya lo ke gue. Dan yang terakhir, lo enggak mungkin jadi simpanan pejabat DPR. Mereka tentu aja nyari cewek montok dan sexy.”


“Hahah ... lo itu ....” Reira tertawa sekencang-kencangnya, lalu mencubit lenganku. “Hahah ... Nauren itu temen SMA gue. Tapi, dia nyakitin seseorang. Dan seseorangnya itu lo enggak perlu tahu.”


“Jadi, kita mau ngapain?” tanyaku.


Reira tersenyum licik. “Mau ngapain lagi? Kita bakalan ngehancurin kapal seseorang.”


Tanpa aku duga, Reira berbelok ke sebuah restoran ayam cepat saji di mana aku dan Reira pernah melumuri mobil Bagas dengan telur. Tempatnya nyaman untuk dijadikan tongkrongan karena luas dan banyaknya. Selain itu, bagian outdoor bisa menampung banyak orang sekaligus sebagai tempat merokok dan vapping. Ketika sudah masuk di wilayan restoran ini, Reira berhenti sembari menunjuk sekelompok pemuda yang sedang duduk di pojokan tempat outdoor.


Aku tercengang melihat pria tersebut, sangat persis seperti yang ada di foto tersebut. Wajahnya maskulin dengan rahang tegas dan alis tebal yang hampir menyatu. Postur tubuhnya tentu saja jauh dengan diriku yang tingginya bahkan tak sampai menyamai Mawar. Kental sekali gaya-gaya pria metropolis kaya dan begitu pula dengan teman-temannya.


“Kalau dia cuma teman SMA lo? Kenapa lo simpen foto dia?” tanyaku.


“Dia pernah suka sama gue dan minta nyimpan foto dia.” Reira menoleh padaku. “Begini-begini, gue selalu ngehargain perasaan seseorang yang suka sama gue. Gue enggak pernah nolak orang mentah-mentah, atau ngebuang bunga yang pernah dia kasih, atau barang-barang lainnya. Paling tidak, gue kasih lagi sama yang membutuhkan.”


Aku memicing. “Tapi, masalahnya kenapa lo simpen itu di dompet? Gue kesentak jadinya karena tiba-tiba ada foto cowok lain di dompet lo!”


“Hahaha ... gue senang lo protektif seperti ini. Hahah ....” Reira memukul stir mobi dan hampir memencet klakson. “Gue cuma mancing lo buat perhatian.”


Senyumku kecut. “Pandai banget, ya ....”


Tangan Reira menggapai tas ransel di belakang. Ia mengeluarkan dua buah benda yang menarik. Benda tersebut merupakan topeng tengu khas Jepang yang sering dipakai untuk menghadiri sebuah festival.


“Pakai ini ... kita enggak kepingin bermalam di Polsek. Plat mobil ini udah gue ganti sama yang palsu juga.”


“Lo gila terkadang ....” Aku mengambilnya dan mengunakannya pada wajahku.


Berangkatlah kami ke parkiran belakang perlahan. Reira mencari letak mobil Nauren dengan membaca setiap plat nomor kendaraan. Ia berhenti tepat di muka sebuah mobil.


“Lo mau cara kriminal atau cara gila?” tanya Reira.


“Sebenarnya gue enggak mau kedua-duanya.”


Suara kami sama-sama tersamarkan karena sudah memakai topeng.


“Gue bisa aja mecahin kacanya pakai busi. Tapi, sebenarnya gue bukan mau itu.” Ia mengambil kembali benda yang ada di dalam tas. “Mari kita menggambar.”


Empat buah cat semprot ia tampakkan padaku. Aku pun dibuat menelan ludah karena hal itu. Ia ingin melukis di badan mobil seseorang. Alih-alih menghindari hal kriminal, aku rasa ini juga bentuk kriminalitasi yang ditambahi bumbu kejahilan. Aku tidak bisa membayangkan berapa biaya yang akan dikeluarkan untuk mengecat kembali. Namun, aku rasa teman-teman Reira di luar kampus merupakan dari kalangan elit. Untuk memperbaiki hal seperti itu bukanlah hal yang rumit bagi mereka.


Untuk menghindari ada orang yang melihat, Reira memberhentikan mobilnya tepat di muka mobil Nauren, lalu melihat kiri dan kanan agar tidak ada orang yang melihat aksi ini. Setelah memastikan semuanya aman dan terkendali, Reira keluar dari mobil dan diikuti oleh aku dengan pintu yang sama.


“Suka gue dong mau menggambar apa!” tegasku sembari melangkah ke sisi kiri mobil.


Bunyi cat pun terdengar. Semprotan menimbulkan bau yang menyengat hingga aku harus menutup hidung. Aku hanya mencoret asal-asalan, seperti garis yang tak bertuan. Sementara Reira, aku tidak tahu apa yang sedang ia gambar di sana. Aku harap ia tidak menggambar hal-hal jorok seperti di bangunan-bangunan terbengkalai. Aku pun yakin Reira tidak sampai pikirannya ke sana. Di detik-detik terakhir, terpikir olehku untuk mencoret lambang partai buruh Jerman pada Perang Dunia I yang pernah menggempur Rusia dengan gagah beraninya.


Aku lihat pergerakan Reira yang cepat seperti seekor **** yang dikejar dari kebun. Ia masuk ke dalam mobil, meloncat seakan tidak ingin kepalanya terhantam dengan keras. Jantungku yang sedari tadi berdetak hebat karena takut ketahuan, kini kembali menghujam darah untuk dipompa dengan gerakan tiba-tiba memasuki mobil.


Kami berdua pun menghela napas yang panjang di dalam mobil. Tanpa memulai perbincangan, Reira mengegas mobil menuju keluar area restoran cepat saji tersebut.


Baiklah, ini aksi menghancurkan kapal yang ketiga kali. Setelah yang pertama menghasilkan penyok pada vespa dan biru di wajahku akibat balasan dari Bagas, kedua melumuri mobil Ketua DPR dengan telur, kini aku tidak tahu apa yang akan menimpa diriku kemudian. Sementara itu, Reira dengan tenang tertawa sekeras-kerasnya seakan tidak ada hal buruk yang akan menimpa selanjutnya. Reira melajukan mobil dengan cepat, menelusuri jalan-jalan tikus agar menghilangkan jejak. Barulah ketika di jalan sepi, Reira menepikan mobilnya untuk mendinginkan diri dari adrenalin tadi.


“Hahahah ... gila-gila!” Reira membuka pintu mobil agar udara masuk. Mobil Reira tidak dilengkapi dengan pendingin udara.


Aku mengambil sebatang tembakau, lalu menyulutnya. “Lo ini memanglah, ya ... ada-ada aja kelakuannya.


“Hahah ... lo sih mau aja ikut gue. Apa jadinya ya kalau kita tertangkap? Haa gue enggak bisa membayanginya,” balas Reira.


“Selama ini lo selalu lolos. Ada waktunya lo nanti apes banget dan ketangkap. Gue memang serahin sepenuhnya lo kepada polisi.”


“Hahaha ... lo orang terwaras yang mau ikut sama gue.”


“Terwaras?”


Ia mengangguk. “Ya ... yang pengen ikut begini cuma lo dan Bang Ali. Dan lo paling waras di antara kalian berdua.”


“Hahah ... siapa lagi yang bakalan lo giniin?” tanyaku.


“Mau mobil Bagas kembali?” tanya Reira merayu. Wajahnya terbenam di permukaan stir mobil dan mengintipku dengan sebelah mata.


“Hahah ... jangan lagi! Dia enggak ada cari masalah lagi,” balasku.


Tawa yang lepas benar-benar lepas, tak ditahan berkat serunya apa yang kami lakukan tadi. Reira masih tertawa dengan membenamkan wajah di atas stir, sementara itu aku memerhatikannya dengan tersenyum. Ada energi berlebih yang ia tunjukkan kali ini.


Namun, satu titik membuat hatiku tersentak.


Ia terdiam, berlanjut dengan suara menarik isak dari hidungnya. Tawa yang tadi menggelegar, kini berganti dengan menahan tangis, diredam sebegitu kuat agar tidak terdengar. Sontak, aku menyentuh punggungnya untuk memastikan apa yang sedang terjadi.


“Rei ... lo kenapa?” tanyaku dengan terheran-heran.


Reira menangkat wajahnya, lalu memeluk diriku dengan erat.


“Gue enggak ingin semua ini berakhir. Saking sayangnya gue ke elo, gue semakin takut untuk kehilangan lo. Lo adalah pria terbaik yang bisa mengerti gue luar dan dalam.”


Aku mengelus rambutnya. Siapa yang tidak tersentak batinnya melihat orang menangis tiba-tiba setelah kami tertawa lepas?


“Rei ... cerita sama gue apa yang sedang terjadi?” tanyaku kembali.


Kepala menggeleng di dekap tubuhku. “Gue enggak tahu perasaan apa ini, David. Gue ditekan banyak hal. Gue takut kehilangan Mama, gue benci sama Papa, gue takut kehilangan lo, gue merasa bersalah dengan banyak hal.”


Ia menangis sekeras yang ia mampu. Tak aku ajukan pertanyaan kembali. Aku biarkan ia menghabisi rasa yang ingin ia lampiaskan melalui tangis. Biarkan dirinya tenang dalam dekapanku.


***


**Hai semuanya?


Apa kabar?


Kira-kira apa ya yang sedang terjadi dengan Reira?


Hmm ... silahkan ditebak sendiri. hahaha ...


Nah, Author mau ngasih tahu kalau Captain Reira akan hiatus hingga akhir bulan. Jadi, akan kembali update pada tanggal 1 bulan besok.


Hal ini dipertimbangin author karena author lagi sibuk-sibuknya KKN dan membuat sinopsis penelitian. Ditambah lagi ada satu proker yang dikerjakan bersama teman-teman di luar kota, salah satu desa di Kabupaten Kampar, Riau. Bulan besok bakalan sibuk banget.


Nah, oleh karena itu ... cerita ini bakalan Hiatus sementara. Dengan adanya hiatus, author enggak bakalan keteteran di bulan depan yang sibuk dengan segala aktivitas. Masa hiatus akan dimanfaatin dengan nulis buat bulan depan, sekaligus mengejar target bulan depan.


Jadi, maapin author yaa ... :) Author berharap bisa update dua kali sehari bulan esok jika masa hiatus dimanfaatin dengan efektif buat menulis.


Oh, iya ... mau nanya ... momen terbaik apa yang kalian ingat di cerita Captain Reira? tulis yaa ...


Jangan lupa terus dukung cerita ini karena dukungan merupakan doa terbaik untuk author semangat terus.


Akhir kata, author ucapkan terima kasih. Tetap sehat selalu, jangan banyak minum es, nanti sakit tenggorokan dikira corona sama temen-temen bangke di tongkrongan.


"*Untukmu .... Aku rasa kita sudah mulai lepas. Senyumlah seterang mentari di lautan, menggulung ombak yang seindah lentik matamu. Aku hanya sekadar kelopak senja yang menanti kedip matamu di malam hari, lalu berharap menjadi embun yang membelai bangunmu di pagi hari. Kita sejauh denting jam antara sekat-sekat waktu gelap dan cahaya sunyi. Terima kasih*** ...."