
EPISODE 152 (S2)
Manusia adalah tubuh yang hidup di masa kini, tetapi merasakan hal yang ada di masa lalu. Seperti yang dikatakan Mawar seperti layaknya cahaya bintang, benda di depan pun membutuhkan waktu di pengolahan indra, meskipun waktunya mungkin nol koma seperjuta sekian detik karena saking cepatnya. Sentuhan kekasih yang lembut pada tangan membutuhkan waktu di bagian syaraf untuk tiba di otak, hingga manusia bisa merasakan betapa hangatnya tangan kekasih. Maka, dapat aku simpulkan bahwasanya apa yang dirasakan sekarang merupakan subtansi dari masa lalu. Oleh karena itu, tak akan bisa lepas bagiku dengan masa lalu.
Mustahil untuk berdamai dengan masa lalu karena ia selalu melekat di sekeliling, membuntuti masa depan yang masih abu-abu rupanya. Kita hanya bisa menerka, mengantisipasi masa depan. Waktu diciptakan Tuhan agar manusia bisa mengantisipasi masa depan yang terjadi di dalam ruang. Tugas manusia untuk menjaga dinamika waktu agar bisa memprediksi masa depan sesuai yang diharapkan. Tak ada celah bagi Reira salah bahwasanya hal yang dipentingkan itu bukanlah hasil, melainkan proses.
Menyederhanakan proses bukan berarti mementingkan hasil. Fokus terhadap hasil dilihat bagaimana proses terjadi, sehingga terjadi penyederhanaan. Perlulah pula dilakukan penyderhanaan dalam hidup, di mana manusia bisa hidup semerdeka mungkin tanpa ada kekangan. Manusia adalah majikan dari dirinya sendiri. Hidup bebas dengan koridor yang jelas mulai aku mengerti semenjak aku mengenal banyak orang seperti Reira dan Bang Ali. Mereka seperti filsuf bagiku. Filosofinya sangat bermakna untuk aku terapkan.
Dengan kebebasan, mereka lebih bisa menikmati hidup yang sedang dijalani tanpa pernah kahwatir tentang masa depan. Proses dilalui dengan senang hati, tanpa tekanan, tapi dengan tujuan. Pengantisipasi masa depan tetap dilakukan, melainkan dengan cara yang berbeda dari orang kebanyakan. Mereka menikmati hidup dari itu, aku masih berusaha untuk mempelajarinya.
Beginilah hidup di desa, di mana setiap manusia saling membutuhkan manusia lainnya. Sawah penuh dengan orang yang menangguk keong sawah dan mencari ikan untuk dimasak sebagai jamuan makan pesta pernikahan. Tidak hanya itu, mereka yang datang pun turut menikmati lelah mereka dengan masakan buatan sendiri. Dapur rumah Pak Uwo dan Mak Uwo dipenuhi oleh ibu-ibu yang memotong bahan makanan, merebus sesuatu, dan menyalakan tungku api. Bapak-bapak berkerumun di kebun karet belakang karena sehabis menyembelih kambing. Riang candaan mereka dengan bahasa yang tak aku mengerti. Bisa jadi mereka membicarakan aku, Candra, dan Razel. Namun, kami malah ikut tertawa oleh gelak mereka.
Nikmat terasa hasil masakan kampung khas Kuantan Singingi. Aku tak menyangka keong sawah hitam itu digulai dengan kentang. Cara memakannya dihisap dari lubang keong hingga dagingnya terhisap, lalu cangkangnya dibuang ke wadah khusus. Kami kesusahan ketika menghisapnya, tak seperti anak balita di sini yang sudah pandai menghisap keong sawah. Makanan kecil pun disuguhkan, seperti kue sepit, lepat pisang, kerupuk sagu, dan lain-lain. Makanan kecil itu disajikan di atas nampan besar. Siapa saja boleh mengambil asalkan habis.
Ramah tamah kupelajari dari penduduk desa. Mereka sangat menghargai para pendatang. Hal berbeda aku lihat dari penduduk perkotaan yang cenderung individualis, termasuk diriku sendiri kadang. Budaya kota memperlihatkan kita bahwasanya privasi diri itu penting, kebebasan dilakukan untuk diri sendiri dan untuk kesenangan sendiri. Berbeda hal dengan yang aku lihat di sini. Semuanya sama rata tanpa ada batas privasi yang lebar. Semuanya berbagi dengan senyum, menyapa begitu hangat kepada hatiku yang luluh.
Lelah kami tuntun setelah mandi di sungai kecil tepat belasan meter di sebelah kiri sawah. Penduduk desa masih bertahan di rumah Bang Ali, sementara itu kami tepar di atas rumah panggung. Kembali aku, Candra, dan Razel tidur berdempetan di ranjang kapuk tipis berbau debu.
Aku terbangun setelah itu oleh orang yang sama. Reira mengetuk keningku.
“Tidak ada kata terlambat untuk senja,” ucapnya pelan. Dahiku dikecup olehnya. Aku tersenyum, betapa lembut perlakuan tatkala mataku baru saja terjaga.
Candra dan Razel masih tidur berhimpit tangan. Sementara itu, aku duduk di atas ranjang untuk mengembalikan kesadaran.
“Udah selesai masak-masaknya?” tanyaku.
Reira mengangguk. “Sekitar dua puluh menit yang lalu.”
“Mawar dan Bang Ali mana?”
“Bang Ali di rumah, enggak boleh ke mana-mana karena besok resepsi. Mawar lagi istirahat di kamar.” Ia bangkit setelah jongkok di hadapanku. “Ikut gue sebentar.”
“Ke mana?”
“Menikmati senja,” jawabnya singkat.
Melangkah Reira ke ujung pintu. “Ayo bersepeda. Bang Ali punya dua sepeda gunung. Pak Uwo bilang kalau sepuluh menit dari sini ada danau buatan. Katanya pernah jadi tempat lomba dayung sewaktu PON.”
Aku menghela napas. Reira memang tidak pernah membiarkan diriku untuk istirahat dengan tenang. Wanita itu tidak pernah lelah aku rasa. Sensor lelahnya sudah dibuang jauh-jauh hari di permukaan laut.
Tidak ada kata untuk menolak apabila Reira sudah mengajakku. Aku pun tidak bisa menolak, ia selalu punya cara untuk membuatku ikut. Seperti yang diucapkan Reira, kami menaiki sepeda menuju tempat yang dimaksud. Segar udara pedesaan aku rasakan, berbau tipis-tipis pepohonan karet yang ada di kanan, membukit tinggi dengan asri. Sementara itu, pemandangan di sebelah kiri lebih menarik, yaitu sawah tergenang yang di sana bermain kerbau-kerbau dengan lonceng di lehernya. Lonceng itu bergema tatkala diriku mengayuh sepeda, mengikuti Reira yang lebih kencang dariku.
Perjalanan lima belas menit kami lalui. Terlihatlah dari atas sini danau luas dengan pantulan cahaya mentari barat. Jalanan lintas bermedan menurun hingga ke sana. Sepeda kami melaju bebas ke bawah. Reira membuka tangannya lebar-lebar, membiarkan angin memasuki pakaiannya.
“Inilah hidup! Hoo!” Reira kegirangan di atas sepeda.
Aku cemas melihatnya begitu karena jalanan ini sangat landai. Trus saja berjalan seperti kura-kura untuk mendaki.
“Hat-hati, Rei! Rumah sakit jauh dari sini!”
“Orang desa enggak butuh rumah sakit, mereka butuh ritual tabib!”
“Itu enggak empiris!” balasku. Bisa-bisanya ia berkata begitu.
“Persetan dengan hukum empiris! Gue bukan saintis!”
Reira berbelok ke kanan. Berjumpalah kami dengan danau luas itu. Pemuda-pemudi desa ternyata berkumpul di sini. Tepian danau terbuat dari semen, sehingga mereka bisa memadu kasih berdua di sana sembari menikmti suasana senja.
Aku menyamakan kecepatan sepedaku dengan Reira.
“Ini indah banget,” ucapku.
“Jakarta mana ada tempat beginian. Lihat di sana, ada pegunungan Bukit Barisan, memanjang hingga Sumatera Barat.”
“Wow, lo dari mana tahu?” tanyaku.
“Gue buka di peta. Kita dekat banget sama Sumatera Barat. Pantes di sini bahasanya kaya hampir-hampir sama gitu.”
Hampir satu putaran danau ini kami kelilingi bersama. Penat pun tidak terasa karena kami menikmati perjalanan. Masih sama yang aku lihat, kebun karet tak lepas dari mataku. Penduduk desa tampak menggunakan gerobak untuk membawa hasil perkebunan mereka. Itulah benda yang menjadi penyambung hidup bulan ini, yaitu getah karet yang berbau menyengat.
Reira tiba-tiba berhenti ketika kami melintas di depan bendungan danau. Anak-anak berenang tepat di sungai bendungan. Beberapa mereka ada yang loncat dari ketinggian, ada pula yang meluncur tepat di gerbang bendungan.
“Mari kita berenang!”
“Jangan! Kita bukan untuk itu ke sini!”
Reira menggeleng. Ia parkirkan sepeda itu di tepi jalanan, setelah itu meletakkan semua barang di tas selempang yang ia pakai. Kakinya mengambil ancang-ancang untuk berlari, lalu melesat dengan cepat hingga tercebur di sungai. Anak-anak pun bersorak gembira dengan kedatangan kapten kapal Leon.
***