
28 Agustus 2017
Bertahun-tahun yang lalu, setelah aku memutuskan untuk membunuh diriku sepenuhnya, menghilang dari ingatan-ingatan orang lain.
Aku tidak spesial seperti yang dikatakan orang-orang. Mereka hanya kagum pada diri luarku, tanpa tahu sebenarnya aku antagonis di dalam cerita ini. Sudah banyak yang mengatakan padaku jika aku sangat menyukai dominasi. Sebagaimana yang dikritik oleh Kakek Syarif kepadaku, dibutuhkan pendamping yang kuat untuk mengimbangi dominasi tersebut. Namun, sampai saat ini aku masih belum bisa menemukan pendamping yang bisa mengimbangi hasrat itu.
Tanganku selayaknya seorang dalang yang memegang gagang wayang, lalu menggerakkannya sesuai rancangan skenario. Aku tidak peduli jika mereka itu orang terdekatku, atau pacarku sendiri, mereka tetap saja alat yang bisa aku peras hingga mencapai suatu tujuan. Namun, mereka mendapatkan imbalan setimpal sesuai dengan yang mereka kerjakan. Pengalaman mungkin, uang aku punya semuanya, atau cinta, bahkan benci.
Tatkala aku memainkan skenario itu, aku terjebak di dalam ruang yang menghimpitku untuk tidak bergerak. Aku tidak dapat mengira jika orang selemah dirinya hampir bisa mengendalikanku. Hampir, bukan berarti mampu. Aku tetap berada di atasnya sebagai pengendali tali temali boneka kayu agar ia terus bergerak. Ia tidak akan bergerak jika tidak dicambuk, oleh karena itu aku heran kenapa aku jatuh cinta kepada orang bodoh.
David namanya … pria yang aku temukan tidak berdaya dalam rasa patah hati begitu dalam karena ia dengan beraninya jatuh cinta kepada sahabat sendiri. Hobinya menulis, tetapi tidak pernah bisa menulis sendiri skenario hidupnya yang terombang-ambing itu. Besar tanpa orangtua, diasuh oleh kakak yang sama bodohnya, lalu berteman dengan sahabat yang juga hampir sama.
Aku mengambilnya karena ia sangat cocok menjadi sebuah boneka yang bisa aku gunakan sebagai jalan untuk tujuanku sendiri. Berharap Papa setuju untuk tidak menjodohkanku dengan Nauren, ternyata intri politisnya lebih menguasai. Bernardo itu tidak pernah melihat David sebagaimana mestinya, hingga aku terlalu lama bersama pria itu untuk jatuh terpeleset ke dalam palung cinta.
Di gubuk belakang rumah Kakek Syarif, aku menceritakan semuanya. Ia jelas khawatir jika aku hampir saja di penjara karena kasus narkoba, bahkan ditemukan tanpa busana.
“Kau berhasil Reira. Apa kau yakin untuk pergi?” tanya Kakek Syarif.
“Iya, Reira yakin. Reira akan bawa Razel sebagai penjaga. Dia akan bersekolah, tetapi bilang saja kepada mereka kalau Razel bekerja di kapal pesiar.” Aku mengambil rokok kretek Kakek Syarif untuk aku patahkan dan memberikan serbuk tembakaunya pada patukan ayam. “Bunda punya perusahaan, sahamnya lebih dari lima puluh persen. Jika Razel ingin berkarir di sana, ia bisa memulai dari bawah untuk belajar. Sekarang, saham perusahaan itu milikku. Kak Reina juga membeli sahamnya sekitar sepuluh persen dan orang kepercayaan Bunda juga banyak memiliki saham di sana.”
“Kau ini ingin jadi seorang petualang atau pembisnis?”
“Semua orang butuh uang, Kakek. Aku bukan orang bodoh yang berkenala tanpa uang. Kak Reina akan meng-handle perusahaan itu sebelum aku yang menggantikannya.”
Ia menatap padaku. “Menjadi pemimpin perusahaan tanpa ijazah, kau hebat.”
“Rektor itu takut dengan Papa. Aku dapat ijazah lebih dahulu daripada mereka yang wisuda. Asal kakek tahu, aku cumlaude meskipun sering cabut kuliah.”
Razel datang dengan dengan kopernya. “Gue udah siap Kak.”
Pelukan tertuju dengan Kakek Syarif. Wanginya hampir sama dengan kakekku, bau tanah. Hanya dirinya yang mampu membuatku merasa dekat dengan kakekku sendiri. “Razel akan hidup, ia lebih berhasil jika bersamaku daripada dengan Kakek.”
Tangan Kakek Syarif membelai rambutku. Di sana ada istrinya yang sedang melihat drama haru kami ini. “Kau selalu sombong seperti Kumbang. Dia adalah anakku, tetapi kenapa aku lebih percaya dia hidup bersamamu.”
“Itu karena aku Reira, bukan Reina.”
Aku dan Razel pergi meninggalkan rumah itu menuju Kapal Leon yang tengah bersender di dermaga. Petualangan ini dimuali dengan tamparanku ke wajah Mawar yang aku pinta untuk datang meskipun hari sedang hujan deras. Bagaimana aku tidak marah ketika pacarku sendiri berhubungan badan dengannya. Aku tahu ia tidaklah sekuat diriku, tetapi ia lebih menarik dariku. David tidak akan bisa menolak Mawar karena pria itu sangatlah lemah. Ia selemah debu yang berterbangan ketika aku hembus. Itulah yang aku tidak sukai dari pria itu.
Kapal bergerak setelah Mawar pergi. Ia tentu saja senang karena aku sudah memberikan hak kepemilikan David padanya. Hak kepemilikan? Tentu saja David hanyalah barang yang kini tidak bisa aku gunakan lagi. Aku sudah bisa menebak jika Mawar tidak akan melepaskan David. Sedari awal aku sudah melihat bagaimana Mawar melihat David. Ia jatuh cinta, lebih besar daripada cintaku pada pria itu. Cintanya tulus, sementara cintaku hanyalah ketidaksengajaan ketika aku menjalankan skenario.
Dermaga Teluk Ratai sebelah selatan Kota Bandar Lampung menjadi tujuanku. Salah satu surat dari Kakek Kumbang mengatakan jika ia pernah menetap di sana. Kakek Syarif juga mengakui jika di sana ada rekan Kakek Kumbang semasa mereka masih melaut.
“Lo ingin berpetualang atau ingin liburan?” tanyaku pada Razel yang membawa seluruh barangnya.
“Hadeeh ….” Aku menepuh keningnya, lalu menarik tas yang sedang sandang. “Lo bawa apa ini? Banyak sekali pakaian? Lalu di koper ada lagi. Lo mau bikin kita sakit pinggang dengan semua bawaan ini?”
Aku membawa kopernya ke sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di tepi dermaga.
“Kak mau ke mana?”
Senyumku melebar kepada enam orang anak-anak di sana. “Adik-adik, abang itu mau bagi-bagi pakaian. Ini untuk kalian, mana tahu di rumah sedang kekurangan pakaian.”
“Kak! Kenapa lo kasih ke mereka?!” Ia melihat diriku yang membuang koper itu ke laut. “KOPER GUE! GUE BELI ITU DENGAN UANG SENDIRI!”
“Udah … sana pergi ke rumah.” Aku mengusir anak-anak itu, lalu berbalik diri ke arah Razel. “Bawa tas saja. Kau ingin dipalak preman karena dikira turis? Perjalanan kita jauh sekali, jadi bawa yang penting saja. Nanti aku belikan baju kalau yang kita pakai sudah lusuh. Ayo pergi ….”
Tali tas aku eratkan, lalu pergi menuju sebuah rumah seseorang yang berada di tepi dermaga. Angin laut yang berhembus dan terasa ejuk, berbeda dengan masamnya wajah Razel yang mengutuk-ngutuk kepadaku setelah kopernya melaut sendiri. Ia tidak ingin berbunyi ketika aku mengulang candaan yang sering ia ucapkan. Namun, ia tetap saja mengikutiku karena tidak ada jalan lagi untuk kembali. Tangannya sudah bersumpah dengan tanda ludah yang saring menempel pada kedua tangan kami. Ia tidak akan berani meninggalkanku, apalagi ini hari pertama.
“Assalamualaikum ….”
Aku mengetuk rumah itu setelah bertanya-tanya dengan warga sekitar.
Tidak lama kemudian, keluarlah pria tua dengan tongkat kayu sebagai penopang tubuhnya.
“Mau cari siapa?” tanya kakek itu tanpa menjawab salamku.
“Kumbang … kumbang hijau di tepian batu zamrud …..”
Matanya lemahnya tampak melebar. Ia menadahkan tongkatnya, sementara satu tangannya bertumpu pada daun pintu. Ia buka kemeja berlapir kaos milikku untuk melihat kalung yang sedang aku gunakan.
“Dari mana aku dapat ini?”
Batu amber indah warna kuning itu terdapat fosil serangga semacam kumbang di dalamnya. Ia tampak memerhatikan dengan seksama.
“Aku Reira, cucu dari Kumbang.”
“Itu punyaku, kembalikan!”
Ujung tongkatnya menarik tali kalung itu hingga kepalaku tertunduk. Razel di belakang sontak menghindarkan diriku darinya.
“Anda kalah berjudi dengan Kakekku, jadi ini sekarang milikku!” Aku menyembunyikan kalung itu kembali ke dalam kaos.
“Mari kita berjudi untuk batu itu lagi!”
***