Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 67 (S3)



Setiap momen itu bukan mengenai waktu, melainkan mengenai rasa. Tidak pernah ada momen yang sama, waktu bisa berulang sepanjang hidup, tetapi perasaan yang bermain di sana akan selalu berbeda. Berulang kali melakukan hal yang sama akan terasa bosan jika kita hanya berkutat menghitung waktu. Waktu hanyalah hantu yang bersembunyi, tetapi kita bisa meneranginya dengan rasa.


Benarkah aku hanya menghitung waktu? Aku dikelilingi oleh keramaian, tetapi aku tetap merasa sunyi, sendiri, dan kesepian. Aku berucap mengenai makna dengan semua orang, tanpa aku sadari aku tetaplah seorang manusia yang perlu untuk mendapatkan makna itu. Terkadang, aku berpikir jika aku seorang pembual kosong dengan berharap merubah semua orang. Tetapi, aku tetap tidak berubah. Aku dingin ….


Mataku tertuju dengan kelopak mata keriput Papa yang sedang mengendarai mobil. Kami sama sekali tidak berkata-kata, hanya bunyi klakson pengendara yang menyelinap di telingaku. Sampailah kami di depan rumah Pak Ahiong, sang pembuat pangsit legendaris. Aku tidak mengerti kenapa ia berhenti terlalu cepat untuk terus membuat pangsit ketika aku masih berseragam SMA, lalu berganti dengan anaknya sendiri sebagai penerus usaha keluarga.


Tanpa kami panggil, Pak Ahiong tua keluar dengan masih menggunakan singlet putih. Rambutnya pun sama putih dengan pakaiannya. Sama seperti dulu, ia mengucapkan salam sebagaimana keyakinan keluarga kami, padahal ia seorang Budhis. Bunda bilang karena ia pernah kenal dengan Kakek Kumbang, lalu terbiasa menyebutkan salam tersebut kepada kami.


“Bernardo! hayya… kenapa lu ga bilang mau ke sini?”


Segar ingatanku logat orangtua perempuan dari Mawar, maka seperti itulah Pak Ahiong.


“Aduh Bapak Ahiong!” Papa memeluk Pak Ahiong. “Kalau kami kabari, Bapak pasti repot. Semuanya aja disiapkan untuk kami, padahal kami cuma berdua.”


“Owe minta maaf kalau ga datang waktu ibukmu wafat.” Ia memegangi kedua lenganku. “Reira …. Reira …. Udah besar kamu sekarang.”


“Pak Ahiong, diberitahu siapa kalau Bunda meninggal?” tanyaku.


Setahuku, keluarga kami tidak lagi mengunjungi rumah Pak Ahiong atau kedai pangsitnya semenjak Pak Ahiong pensiun sebagai pembuat makanan.


“Waktu itu ada surat dari Kumbang yang bilang kalau Fany udah meninggal. Walau bagaimana pun, aku tahu Fany semenjak pertama kali di Jakarta. Kumbang bilang, kalau masih ada utang pangit Fany, silahkan ditagih kepada Syarif.”


Aku menghela napas mengingat kakek bodoh itu. Ia menyurati orang lain sewaktu anaknya sendiri meninggal, sementara cucunya sendiri sibuk tuntang lantang mencarinya di sini.


“Kami masih bisa makan pangsit, kan?” tanya Papa.


“Mau pakai Bak?”


Bak berarti daging celeng


“Daging ayam saja,” ucapku.


Kami dibawa menuju belakang rumah. Kami disuguhi minuman aneh yang Pak Ahiong sebut sebagai jamu cina. Rasanya kelat, tetapi manis di ujung lidah. Ia kemudian meminta kami menunggu sebentar karena akan menyiapkan pangit untuk kami. Jika pagi hari begini, hanya Pak Ahiong sendiri yang bertahan di rumah. Istrinya sudah meninggal lama, sementara anaknya sibuk bekerja di toko-toko usaha mereka.


Pangit daging ayam terlezat se-Jakarta⸺bagiku, belum tentu bagi orang lain⸺tiba di hadapan. Teh hangat menjadi teman pada sesi sarapan kali ini. Sudah lama sekali aku tidak menikmati pangsit Pak Ahiong. Ingin sekali minta tambah, tetapi aku kasian Pak Ahiong tua akan berjalan lagi ke dapur.


“Seberapa dekat Pak Ahiong dengan kakekku?”


“Seberapa dekat? Enggak dekat, tapi dia tiap pagi ke kedai sama Fany. Setiap hari raya islam, dia kasih kami parcel. Kalau kami sedang imlek, Fany kami kasih angpao. Ya … begitulah.”


“Kakek sekarang di Bengkalis,” ucapku.


Papa terkejut mendengarnya. Ia sama sekali belum tahu keberadaan kakekku sekarang.


“Bengkalis? We punya saudara di sana. Dia buka toko beras. Anaknya buka bengkel mobil di Jakarta.”


“Sangat chinesee sekali punya toko. Kami berpikir kalau udah besar bakal jadi PNS heheh,” candaku.


“Ah … setiap orang punya prinsip masing-masing.” Ia menoleh kepada Papa. “Bagaimana jadi orang politik?”


“Begitulah Pak, ada banyak permasalahan yang harus diselesaikan. Akhir-akhir ini sibuk karena ada sengketa lahan tambang di Kalimantan. Warga ada yang mengadu kalau ganti rugi lahan belum sesuai.”


“Persekusi masyarakat atas tanah jangan pernah disampingkan. Kalian selalu begitu, kalau udah viral baru diurus,” sindirku.


“Hayya … udah paling benar we buka warung pangsit. Yang penting cuan terus datang,” balas Pak Ahiong.


“Benar, daripada menyusahkan masyarakat.”


Papaku memandang sinis padaku, padahal mie pangsitnya belum putus di ujung bibir.


Kami berlalu setelah mie pangsit dan segelas kopi melengkapi sarapan pagi hari ini. Kontras sekalis senuuk Pak Ahiong melepas kami untuk pergi. Di tengah keberadaanku bersama Papa di dalam mobil, entah kenapa aku memintanya  untuk berlayar sejenak di atas kapal. Ia menolak ikut, tetapi ia sedang bernegosiasi dengan seorang mafia muda, terlebih lagi diriku yang mengendarai mobil mewahnya ini. Alhasil, ia aku bawa kembali menuju tepian dermaga.


“Reira … Papa tidak bisa naik ke kapal.”


“Kenapa? Tidak fair jika aku memenuhi keinginan Papa ke rumah Pak Ahiong, tapi Papa enggak mau ke Kapal Leon. Itu milikku sekarang, bukan kakek bodoh itu.”


“Bukan masalah siapa pemiliknya sekarang, ini sebuah sumpah. Kakekmu melarang Papa buat ke sana.”


“Papa masih percaya sama dia?” Aku menunjuk keningku sendiri. “Aku lebih percaya Bapak Triplek tukang ganja tepi Sungai Siak daripada Si Kumbang. Bisa-bisanya dia bilang berada di Australia, tapi lebih dulu berkeliaran di sini. Siapa yang enggak kesal?!”


Bukannya meminta Papa untuk naik ke kapal, aku malah jadi kesal sendiri. Dari dulu memang ingin aku campakkan surat-surat kirimannya tersebut tepat di dahi Kakek Kumbang. Tapi aku tidak ingin malam harinya di terkam harimau penunggu Kapal Leon.


“Kita main komidi Putar di Ancol. Kan lumayan dekat.”


“Aku bukan anak kecil lagi. Lebih baik Papa ajak Reina naik itu karena di antara kami berdua, cuma Reina yang suka bersenang-senang di taman hiburan.”


“Kita bisa makan seafood, naik biang lala, banana boat, atau apalah itu yang penting kamu hari ini sama Papa.”


Aku tertegun mendengar kalimat itu. Sama sekali pada kalimatnya tidak ada satu pun hal-hal yang aku sukai. Sungguh kami begitu berjarak, hingga ia sendiri tidak tahu apa saja hal faforitku. Ia hanya tahu Reina yang sangat suka taman hiburan, keramaian, dan glamoritas. Sementara aku lebih tertarik bergerak di dunia bawah tanah.


“Oke … ayo kita ke taman hiburan di Ancol. Tiga jam lagi kita berangkat.” Aku menoleh padanya. “Tapi aku mau Papa menuruti keinginanku malam ini.”


“Sebut saja asal jangan ke Kapal Leon.”


“Kita berkemah. Aku lebih suka berada di bawah bintang daripada lampu-lampu taman hiburan.”


Ia menghela napas. “Nada bicaramu seperti Fany. Angkuh, terus terang, dan dalam.”


“Jangan mengalihkan pembicaraan. Intinya, Papa mau ikut?”


“Kita berkemah ke mana?”


“Area helipad rumah sakit milik keluarga Alfian.”


“Tapi Alfian itu milikku.” Aku keluar dari mobil tanpa basa-basi. Akan lebih banyak perdebatan dengan pria tua itu jika berlama-lama di dalam mobil.


Begitulah kami, tiada hari tanpa perdebatan jika sudah berdua. Mungkin saja kami sama-sama diciptakan untuk menjadi orang yang keras kepala, teguh pendirian, dan tidak ingin dikalahkan. Bernardo turut mengajarkan hal itu kepadaku, membentuk karakter dasar yang aku bawa ke dunia ini.


Tidak ada yang mengantarkankan aku pulang, kecuali pemuda supir pengangkut ikan ke kawasan Bogor. Aku sudah mengenali pria itu karena teman sepermainan Razel. Ia berkata jika hanya baru tidur selama tiga jam, lalu kembali berkerja untuk menyambung hidup. Oleh karena itu, aku pun yang menyupiri mobil pick up itu hingga ke rumah.


“Kau dari mana?” tanya Borneo di garasi kayu. Wangi tubuhnya selayak cat akrilik yang sedang ia gunakan pada kanvas lukis.


“Dari suatu tempat yang enggak perlu kau tahu.”


“Tadi Abimana  ke sini sama satu laki-laki.”


“Laki-laki?” tanyaku penasaran. Baru aku ingat jika Abimana memiliki seorang kekasih. “Isaac?”


“Nah … itu dia namanya. Agak kemayu gitu orangnya. Bajunya juga kekecilan, pusarnya hampir nampak.”


“Jangan urusin pakaian orang lain.” Aku melihat lukisan yang sedang ia buat. “Sebenarnya siapa sih cewek yang kau buat ini?”


Jika tidak pemandangan, ia selalu melukis perempuan pada kanvasnya.


“Ini? Pemain pilem biru.”


“Dasar laki-laki …..”


Aku pun pergi dari garasi itu. Borneo seperti tidak mengerti saja jika aku tahu wanita itu ialah Semara. Mungkin saja Borneo menyimpan rasa, terhalang masalah keyakinan, Setahuku, Hindu menolak pernikahan beda agama.


Siang ini aku bersiap-siap untuk pergi ke taman hiburan ancol. Kembali mengenang masa kecil kami tatkala keluarga masih dikatakan utuh. Reina yang senang hiruk pikuk keramaian sangat suka dibawa ke taman hiburan, sementara aku hanya mengutuk di dalam hati tatkala melihat anak-anak manja yang digandeng oleh orangtuanya di sana. Aku hanya ingin bebas, berkeliaran di mana saja aku mau. Sementara itu, Bunda selalu saja tidak mengizinkan aku pergi jauh, katanya agar tidak hilang.


Bernardo tidak aku izinkan untuk menjemput, aku memintanya untuk segera ke sana. Tunggu dulu, akhir-akhir ini aku lebih senang memanggilnya dengan nama saja. Terdengar miris kadang, tetapi Reina juga begitu semenjak Papa sering berulah.


Di parkiran tempat janjian, aku melihat Papa sedang merokok sendirian tanpa penjagaan dari para bodyguard-nya. Kacamata hitam besarnya tidak lepas. Rambut klimis pun enggan membuat angin mengacaknya. Jika diperhatikan kembali, Papa sewaktu muda bisa dikatakan memiliki paras yang tampan. Ia cukup menarik di antara teman seangkatannya.


“Reira … kamu datang ….”


“Jangan peluk aku, aku bukan anak kecil,” protesku.


Ia tersenyum sembari membelai rambutku.


“Kau mau eskrim? Atau kembang gula?”


“What?” Dahiku menyerngit. “Aku bukan anak belasan tahun. Aku lebih pilih alkohol.”


“Entah kenapa aku membesarkan monster. Reina juga sama anehnya.”


Mataku memerhatikan ke sekitar untuk memastikan jika kami benar-benar berdua. Terkadang ia meminta penjaganya untuk menjaga jarak. Untuk kali ini, sama sekali tidak aku lihat tanda-tanda itu. Kami pun melenggang masuk ke dalam. Ia membelikanku tiket masuk, lalu kami mencoba berbagai wahana yang menarik.


Ia tidak dingin, hanya saja aku yang terlalu canggung. Belasan tahun tidak berhubungan akbrab sebagai orangtua dan anak menyisakan kesenjajangan yang cukup jauh di antara kami. Bahkan, Papa sendiri tidak tahu apa yang sukai, begitu pula sebaliknya. Kami berbicara seadanya, menjawab apa yang ditanyakan, mengulang lagi apa yang sudah dibicarakan, setidaknya aku masih berusaha untuk berinteraksi dengan baik. Meskipun itu cukup membosankan dan melelahkan, aku tetap menghargai usahanya untuk kembali menjalin komunikasi.


Kami menyempatkan makan siang di sebuah kursi kayu. Isaac tadi siang berbaik hati untuk memberikan kami tester rice box dari client yang memintanya untuk membuat design logo usaha. Bekal itu cukup mengenyangkan perut kami berdua, hingga tidak perlu lagi membeli makanan di sini yang cukup mahal.


“Sudah lama kita tidak ke sini. Terakhir kali ….” Kalimatnya berhenti di ujung lidah.


“Setahun sebelum kalian bercerai.”


Tentu saja aku mengingat kapan itu terjadi. Kakek juga menghilang di tahun yang sama.


“Iya, Papa juga ingat itu. Papa senang kalian mau diajak waktu itu, padahal Papa dan Bunda sedang enggak baik-baik aja.”


“Aku enggak pernah suka dibawa ke sini. Jujur … aku harus berdebat dulu dengan Bunda karena aku lebih suka dititipkan ke Kakek Syarif. Razel punya banyak mainan di rumahnya.”


“Bukannya kau juga aku belikan mainan dulu?”


“Mainan pakai baterai itu membosankan. Razel bisa bikin mainan dari dahan pisang. Kami main perang-perangan,” balasku.


“Ada banyak hal yang sebenarnya Papa bicarakan. Saking banyaknya, Papa enggak tahu mau mulai dari mana.”


“Keluarga Nauren bagaimana?” tanyaku tiba-tiba.


Angin yang menerpa kami berdua, berhidang dengan bau dedaunan di antara kami. Ia medongak ke atas sementara sebelum kembali melihat diriku.


“Papa dan keluarga sedang bermusuhan. Ada banyak bisnis yang kami batalkan, lalu hubungan fraksi partai sedikit merenggang semenjak kami gagal maju di pilkada.”


“Nauren bajingan. Dia kira aku mudah buat dikendalikan. Ia berusaha mempermainkan aku, tanpa sadar sebenarnya dia sedang ngikutin alur permaian yang aku bikin sendiri. Dia cowok angkuh yang mengira semuanya bisa dia dapatkan.”


“Sebaiknya berhati-hati dengan Nauren. Mereka sama sekali belum menerima rasa malu itu.”


Aku tersenyum mendengar hal tersebut. Dampak yang selama ini aku inginkan, ternyata masih terasa oleh mereka, terutama Nauren.


“Selagi Kapal Leon masih berlayar, aku masih setangguh itu. Papa jangan khawatir.”


“Oh iya … siapa cowok yang dulu dekat sama kamu itu? Waktu kamu kuliah. Cowok kurus yang sering datang ke rumah itu.”


“Oh Davi⸺” Kalimatku terhenti.


“David? Oh iya, Papa baru ingat namanya David. Sekarang dia gimana sama kamu?”


“Dia sedang berada di dunianya sendiri. Begitu juga aku.” Aku pun segera berdiri. “Ayo kita pulang, Pa. Ada banyak hal yang mau aku persiapkan buat nanti malam.”


“Oh oke … kalau begitu, Papa juga mau mempersiapkan sesuatu.”


***