
"Assalamualaikum mommy meltua, Leva cantik sudah datang ini" teriak Reva sambil melangkahkan kaki kecilnya masuk kedalam rumah Reynand.
Renata yang tidak tahu perihal kedatangannya pun tertegun melihat Reva yang ada di rumahnya.
"Sayang, kamu kesini sama siapa hmm" tanya Renata lembut sambil mendekati Reva yang clingukan seperti mencari sesuatu.
"Leva sendilian mom, Leva di antal sama om Max...tapi Leva sudah ijin mama sama papa kok" jawab Reva.
Renata meminta Reva untuk memanggil dirinya Mommy, Reagan pun sama dia menyuruh Reva memanggilnya Daddy. orang tua Reynand sudah menganggap Reva seperti putrinya sendiri, terlebih Renata yang tengah mengharapkan anak perempuan namun sampai sekarang dirinya belum juga hamil. Namun Renata tak berkecil hati karena dia sudah memiliki Reynand.
"Kamu ada perlu apa kesini sayang" tanya Renata.
"Leva sudah janjian mau ikut Ley belatih bela dili" jawab Reva sambil duduk di sofa menggoyangkan kaki kecilnya.
"Oh...Rey lagi ada di kamarnya sayang, coba kamu lihat sudah siap belum Rey nya" ucap Renata. Reva mengangguk lalu naik ke lantai dua ke kamar Rey.
"Anak itu selalu membuatku gemes" kekeh Renata.
Karena sudah terlalu sering menginap dan bermain di rumah Reynand jadi Reva sangat hafal letak dimana kamar Reynand berada.
Tokk..tokk...tokk...
"Ley, Leva sudah datang ini...kapan kita akan belangkat" teriak Reva dari luar kamar.
Ceklek...pintu kamar terbuka, terlihat Reynand sudah rapi dengan memakai "Karategi" (baju karate).
"Belisik Leva, Ley juga sudah siap ini" tegur Reynand. Reva cengengesan.
"Kapan kita belangkat Ley? Leva sudah tidak sabal melihat Ley belatih." tanya Reva tak sabar
Rey merotasi bola matanya malas. Sahabatnya ini tak sabaran banget.
"Ayo, kita belangkat sekalang" ajak Reynand sambil menggendong tas di punggung kecilnya.
Mereka berdua menemui Renata untuk berpamitan, seperti biasa Rey akan di atar orang kepercayaan Reagan untuk mengantar putranya berlatih beladiri.
"Mom, Ley belangkat dulu sama Leva ya" pamit Reynand sambil mencium punggung tangan mommy nya, Reva pun melakukan hal yang sama.
"Hati-hati sayang, jaga adik nya ya" pinta Renata seraya mengecup kening kedua bocil itu.
Kedua bocil itu sudah terbiasa berpergian tanpa orang tuanya, bukan karena tidak sayang...tapi Reagan dan Arsen melatih anaknya untuk mandiri, tapi tetap masih dalam pantauan orang kepercayaan nya.
*
Sedangkam di rumah Dinata.
"Bagaimana keadaan Viona son" tanya Jasmine ketika melihat wajah datar putranya yang memancarkan kemarahan.
Bukannya menjawab David justru mendekati Sisak lalu mencengkram rahangnya. "Puas kamu hah? Puas kamu sudah membunuh calon cucumu sendiri?, sebenarnya apa yang kamu inginkan Siska" Bentak David dengan sorot mata tajam penuh amarah. Sambil menghempaskan wajah Siska ke samping.
"Ssssstttt....."ringis Siska merasa sakit di rahangnya akibat cengkraman dari David.
Siska berdiri tegak sambil membalas tatapan tajam suaminya. "Hahahaha....ya aku puas, dengan begitu aku bisa menikahkan Erik dengan wanita lain yang lebih kaya, karena aku tidak mau hidup miskin" Siska tertawa lalu teriak marah kepada suaminya.
"Apa kamu pikir masih ada perempuan yang mau dengan putramu mantan napi itu? Kau tak pernah berubah Siska" balas David. "Berubahlah Siska, kita mulai dari nol lagi hidup di kampung bersamaku dan juga mommy" lirih David.
David masih memberikan kesempatan untuk istrinya, bagaimana pun juga David sudah mejalani biduk rumah tangga dengan Siska sejak dulu, susah senang sudah mereka lalui bersama, Rasanya sayang kalau harus kandas di tengah jalan dengan umur yang sudah menua.
David mengepalkan tangan nya erat mendengar ucapan Siska, jadi selama ini istrinya mau menikah dengan nya karena harta Dinata saja.
David memejamkan matanya sambil mengambil nafas dalam, dia ingin meyakinkan keputusannya sebelum akhirnya dia membuka matanya.
"Aku menjatuhkan talak padamu, dan mulai sekarang kamu bukan istriku lagi" ucap David lantang sudut matanya mengeluarkan cairan bening. "Maafkan aku yang tak bisa membahagiakanmu lagi, sekarang aku membebaskan mu memilih sesuai keinginanmu sendiri." lanjutnya.
Siska tertegun, hingga akhirnya dia tertunduk dan tubuhnya hampir saja limbung mendengar kata talak dari mulut suaminya.
Suami yang dulu menikahinya kini memutuskan untuk berpisah karena keegoisannya.
Siska menggeleng gelengkan kepalanya sambil memukul mukul kepalanya sendiri.
"Tidak...tidakk...aku tidak mau cerai, aku tidak mau hidup miskin, hahahahhaha...." Siska menangis sambil tertawa bersamaan seperti orang gila.
Siska terus meracau tak jelas sambil membentur benturkan kepalanya ke dinding.
"Cegah dia Vid, nanti yang ada kepala dia bocor" titah Jasmin yang melihat Siska terus membenturkan kepalanya sendiri.
David mencoba mendekati Siska lalu memegangi kedua bahunya."Sis...Siska sadar sayang" panggil David mencoba menyadarkan Siska sambil terus menepuk pipinya pelan.
"Hihihihihi.....aku tidak mau miskin hiks..hiks" racau Siska sambil terus memberontak di pelukan David.
Rani dan Gilang baru sampai di kediaman Dinata, dia mengeryit melihat ayahnya sedang memegangi mommy nya yang terus memberontak seperti anak kecil.
"Mommy kenapa oma" tanya Rani.
"Kamu jangan dekat-dekat sayang, oma khawatir Siska akan menyerangmu" peringatnya.
"Tapi kenapa mommy menjadi seperti ini" tanya nya lagi.
Jasmin pun menceritakan dari awal kejadian Siska yang mendorong Viona hingga David yang menjatuhkan talak kepada Siska.
Rani menganga tak percaya mendengar cerita dari omanya. "Dad sepertinya mommy perlu di bawa ke Psikiater" usul Rani setelah sadar dari keterkejutannya.
"Iya nak, Daddy juga berpikir seperti itu" sahut David.
"Ayo dad, biar Gilang bantu membawa mommy" ucap Gilang. "Sayang kamu di sini saja ya sama oma" ujarnya kepada Rani, Rani pun mengangguk tanda setuju.
David dan Gilang menelusupkan tangannya di ketiak Siska lalu mengangkatnya.
Siska terus berteriak histeris dengan ucapan yang tak jelas di dengar.
"Kalian mau bawa aku kemana hah, pasti kalian akan bawa kau belanja ya, hahahahha....aku harus belanja" ucap Siska sambil tertawa sambil terpuk tangan girang.
Rani menatap punggung mommy nya yang mulai menjauh sambil di seret oleh ayah dan juga suaminya, karena Siska terus saja meberontak.
Hati Rani merasa berdenyut, seperti di tikam benda tajam yang menusuk jantungnya. Sakit sungguh sakit melihat wanita yang di sayanginya berubah menjadi gila hanya karena obsesinya yang tak mau miskin.
Rani merasa miris dengan nasib keluarganya yang hancur karena keserakahannya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi dan tak mungkin bisa kembali seperti semula. Ia berharap setelah kejadian ini keluarganya mau berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.
"Bumi ini cukup untuk semua orang, tapi tak bisa memuaskan satu orang serakah"
"Ingin memiliki ini dan itu adalah serakah, dan orang yang serakah pada akhirnya akan kehilangan segalanya."
Bersambung