Baby Girl

Baby Girl
S2~21



"Assalamualaikuam aunty" ucap Reynand ketika memasuki rumah Arsen.


"Waalaikumsalam" balas Alisya.


"Kamu mau ketemu Reva ya Rey?" lanjutnya bertanya kepada Reynand.


"Iya Aunty kita mau jalan-jalan ke taman, katanya dia bosan kemarin kelamaan di rumah sakit" ucap Reynand.


Kemarin waktu Reynand ngantar Reva pulang dari rumah sakit, Reva ngeluh bosan sama Reynand, dia terus merengek ke Reynand minta di ajak jalan-jalan, dekat pun tak apa yang penting keluar, karena dia merasa suntuk setelah seminggu full di rawat di rumah sakit.


Sebenarnya Reynand tidak mau, karena kondisi Reva belum seratus persen pulih, tapi anak itu dari dulu tidak akan berhenti merayu jika belum di turuti kemauannya.


"Ayo kita belangkat, Gavin sudah siap ini" ajak Gavin yang sudah memakai topi, pakai sweater hitam, dan menggendong tas di punggungnya.



(Visual Gavin udah langsung kurus 😂 )


"Lah kamu mau ngapain Gav, orang kak Reva ngga mau ajakin kamu" tanya Reva yang tiba-tiba muncul sambil duduk di kursi rodanya.


"Gavin mau ikut, kata kak Lavin tidak boleh pelgi belduaan, nanti yang ketiga setan" jawab Gavin.


"Kamu dong berartu setannya, kan ketiganya kamu" ledek Reva.


"Nda apa Gavin di katai setan, yang penting Gavin mau ikut kak Leva sama kak Ley pelgi." kata Gavin. " Gavin udah kelen begini masak kak Leva tega nda mau ajak Gavin" lanjutnya dengan tampang puppy eyes nya.


Kalau sudah begitu mana ada yang tega menolaknya. Mau tak mau akhirnya Reva mengajak adiknya.


"Gavin ngga ikut sama mama saja sayang? nanti kamu malah ngrepotin kak Rey" bujuk Alisya.


"Gavin jalan sendili mama nda minta di gendong kak Ley, telus dimana Gavin nglepotinnya" kekeuh Gavin tak mau ikut mama sama papanya, dia lebih suka ikut pergi kakaknya.


"Yasudah mama mau pergi sama papa aja" sahut Alisya sambil menghela nafas panjang.


"Bagus, bial mama nda stless mikilin Gavin telus" kata Gavin malah mendukug keputusannya mamanya.


Akhirnya dengan berat hati Alisya membiarkan putranya pergi ikut kakanya.


Di rumah Alisya jadi sepi hanya ada dirinya dan sang suami, sedangkan putra putrinya sudah pergi masing-masing.


Reynand mengajak Reva ke sebuah taman bunga yang ada di pusat kota, sebenarnya Reynand ingin mengajak Reva ke danau, akan tetapi jalan menuju kedanau sulit di lalui oleh kursi roda, jadi Reynand urungkan.



"Wowww....bagus sekali taman bunganya Rey" ucap Reva takjub ketika melihat tanaman yang berbentuk seperti boneka teddy bear miliknya.


"Apa kau suka hmm" tanya Reynand yang masih setia mendorong kursi roda Reva semabri menyusuri taman bunga.


"Sangat, sejak kapan ada taman bunga di tempat ini Rey" jawab Reva lalu bertanya sama Reynand, pasalnya setahu dia dulu di tempat ini tidak ada tanaman bunga.


"Ini baru, baru jadi" sahut Reynand asal, padahal taman ini sudah ada sekitar 2th yang lalu.


"Tapi kenapa taman ini sepi Rey" tanya Reva lagi sambil clingukan kesana kemarin mencari pengunjung lain tapi tak menemukannya.


Sebenarnya taman ini sengaja Rey buat khusus untuk Reva, belum sempat Reynand menunjukkan taman ini ke Reva, Revanya sudah lebih dulu jadian sama Brian.


Tiap kali Reynand kangen sama Reva, Reynand akan datang ke taman ini, untuk mengobati rasa kangen kepada Reva, semua bunga yang di tanam di taman ini merupakan bunga kesukaan Reva.


"Karena taman ini sudah aku booking semuanya, jadi khusus hari ini taman ini tidak di buka untuk umum" sahut Reynand, padahal taman ini memang tidak di buka untuk umum.


"Untuk apa kamu booking Rey, biarin aja ada pengunjung" ucap Reva.


"Mentang-mentang banyak duit kamu tuh..." ucap Reva lalu berhenti.


"Ini kenapa semua tanaman yang ada di sini tanaman kesukaanku semua ya Rey" ucap Reva bingung sambil menoleh kesana kemari melihat tanamannya.


"Mungkin hanya kebetulan saja" sahut Reynand.


"Kebetulan yang aneh" gumam Reva membuat Reynand tersenyum tipis mendengarnya.


Gavin dari tadi hanya duduk di kursi taman saja tanpa minat sedikitpun melihat bunga.


"Kenapa kita pelgina kesini sih kak, mending kita lihat binatang dalipada lihat bunga" protes Gavin.


"Salah sendiri tadi ikut, sudah bener tadi kamu ikut mama aja, eh malah ngotot ikut kak Reva" sahut Reva.


"Masalahnya Gavin di sini sendiilian, sedangkan Kak Leva sama kak Ley, coba kalau Gavin bawa pacal, pasti Gavin betah di sini nda gabut sepelti ini"


"Pacar Gav pacar, bukan pacal, ngomong aja masih belepotan sudah sok mikirin pacar" ledek Reynand.


"Kan Gavin lagi belajal bilang huluf L, dulu Kak Ley sama kak Leva juga sama sepelti Gavin, nda langsung bisa bilang huluf L" sahut Gavin tak mau kalah.


...****************...


Sementara Reva menikmati jalan-jalannya bersama Reynand dan juga Gavin, berbeda dengan Listy yang sedang panik di rumah sakit.


Setelah mendapat panggilan dari pihak kepolisian, Listy langsung meluncur ke rumah sakit, untuk menegok keadaan Brian.


"Dimana kamar korban kecelakaan semalam mbak" tanya Listy panik kepada sang resepsionis yang ada di sebuah rumah sakit.


"Ada di UGD nona" sahut sang resepsionis.


"Terima kasih" ucap Listy langsung saja berlari menuju ke ruang UGD.


Dengan nafas ngos ngosan Listy tiba di depan ruang UGD.


"Bagaimana keadaan korban kecelakaan semalam dok" tanya Listy kepada dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.


"Korban yang selamat dua-duanya laki-laki, yang satu terpaksa kita harus segera melakukan amputasi karena tulang kakinya remuk. Sedangkan korban satunya lagi belum sadar hingga sekarang, kemungkinan pasien mengalami koma." terang dokter.


"Maksud dokter yang perempuan meninggal?" tanya Listy dengan tubuh bergetar karena shock.


"Iya, dan sekarang jenazahnya ada di kamar mayat" jawab dokter.


Tubuh Listy luruh ke lantai, ia tak menyangka Debora akan meninggalkannya secepat ini, bahkan kemarin ia masih bertemu dengan beliau.


Beberapa menit kemudian ekpresi wajah Listy berubah, yang tadinya sedih kini menjadi berbinar.


"Bukankah bagus kalau wanita tua itu meninggal, dengan begitu aku bisa menguasai Brian dan juga hartanya.


"Meskipun mereka bangkrut aku yakin mereka masih mempunyai aset yang lain yang tidak aku ketahui" gumam Listy dengan senyum liciknya.


Dari awal memang tidak tulus menyukai Brian, Ia bertahan sama Brian karena hartanya saja bukan karena cinta.


Listy selama ini hanya menjadikan Brian sebagai ATM berjalannya saja. Karena Brian selalu menuruti semua permintaan Listy.


Dari tas branded, apartement, uang, semua Brian kasih demi cintanya ke Listy.


Bersambung


Happy reading guys 🙏