Baby Girl

Baby Girl
BAB 69



"Kau lama sekali Rik, dari mana saja hah" tanya Andra kesal. Yang baru melihat kedatangan Erik.


"Aku habis mengikuti Alisya menjemput putrinya" jawab Erik seraya duduk di sebelah Irfan.


Andra dan irfan mengerutkan dahinya.


"Ngapain kamu mengikuti Alisya" tanya Andra.


"Tentu saja ingin membawa dia kembali ke ranjangku" jawab Erik


Mereka menggelengkan kepala, sepertinya kegilaan sahabatnya itu makin menjadi.


"Bukankah kau sudah tahu kalau putri Alisya itu putrimu Rik, apa kau tak sedikitpun terbesit rasa di hatimu ingin mengakuinya Rik? Tanya Andra.


"Tidak, aku hanya ingin merasakan tubuh Alisya yang selalu membuatku berga*rah" ucap Erik sambil menyesap rokoknya.


Selama ini Erik menjadikan Alisya sebagai bahan fantasi liarnya, kerap kali Erik membayangkan wajah Alisya ketika sedang berhubungan intim dengan wanita lain.


"Ternyata kegilaanmu masih sama seperti dulu bro" seloroh Irfan.


"Dan kau sudah mengikuti kegilaanku bukan, kau menikahi istrimu karena hamil duluan" sindir Erik


Irfan sudah menikah seminggu yang lalu dengan tunangannya, karena hamil duluan makanya ia mempercepat pernikahannya.


"Setidaknya aku bertanggung jawab, tidak seperti kau yang menelantarkan anakmu itu" cibir Irfan tak kalah pedas.


"Ndra apa kamu tahu pekerjaan Alisya sekarang? " tanya Erik mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja tidak, aku hanya tahu dulu dia menjadi pelayan cafe, itu saja." jawab Andra.


"Bukankah kemarin kamu bilang Alisya menjadi waiters di sebuah restoran mewah itu" sahut Erik.


"Itu masih dugaanku saja Rik, tapi aku tak yakin karena aku tak melihat Alisya memakai seragam seperti pelayan yang lain" jawabnya.


Erik ingin mencari tahu dari mana Alisya bisa membayar seorang bodyguard untuk menjaga putrinya. Terlebih beberapa hari yang lalu Erik juga melihat Alisya memasuki mobil mewah.


"Kenapa kamu menanyakan itu Rik" tanya Irfan.


"Aku hanya penasaran saja, aku melihat putrinya di jaga oleh seorang bodyguard dan aku juga melihat dia di jemput oleh seseorang dengan menggunakan mobil sport limited edition" terang Erik.


"Apa itu kekasihnya Rik, atau bisa saja itu suaminya....kau sekarang bisa lihat kan kalau Alisya berubah cantik, pria mana yang tak menyukainya. Kau saja sekarang sudah tergila gila dengannya, karena gengsi saja kau tak berani mengakuinya" tebak Andra lalu meledek Erik.


"Tak mungkin itu suaminya, mana ada laki-laki yang mau menikahi wanita yang sudah mempunyai anak, apa lagi di luar nikah" Erik berusaha menyangkal ucapan Andra.


"Kalau sudah cinta mah mau seburuk apa juga pasti akan menerimanya, memang kamu gengsi doang gedhein" ucap Andra lalu menatap sinis Erik.


"Jangan suka meremehkan wanita Rik, sekarang Alisya sudah glow up, pria mana coba yang bisa menolak pesona Alisya," sahut irfan.


Erik semakin gusar setelah mendengar ucapan kedua sahabatnya itu.


Tanpa Erik sadari, Erik juga merasakan berubahan itu, dia bisa melihat perubahan besar pada diri Alisya, apa lagi tadi dia juga melihat Alisya menyetir mobil mewah salah satu pemberian dari Arsen untuknya.


"Apa benar Alisya sudah menikah, lalu laki-laki mana yang sudah menikahinya" batin Erik.


*


*


*


Di dalam mobil Alisya Reva terus merengek ingin ke kantor papanya, tapi Alisya tak mengijinkannya.


"Besok saja Reva ke kantor papa nya, papa hari ini sedang sibuk sayang" bujuk Alisya.


"Papa nda cibuk mama, talau Leva di cana papa cuma tidulan di kulsi" kekeuh Reva.


"Terus mama di restoran sama siapa, kalau Reva ikut papa" cicit Alisya.


"Mama cama onty Dewi saja. Cepat telpon papa ma" pinta Reva tak mau kalah.


Alisya akhirnya mengalah, dari pada dianpusing mendengar putrinya yang terus merengek kepadanya.


Alisya menghubungi Arsen, dia meloudspeaker panggilanya lalu memberikan ponselnya sama Reva.


"Hallo, baby ada apa" tanya Arsen dari sebrang telpon ketika sudah terhubung.


"Papa cibuk nda, Leva mau ke kantol papa tapi nda boleh cama mama" adunya kepada Arsen.


"Kenapa tidak boleh sayang" tanya Arsen lembut.


"Nda tau papa, papa tanya saja sama mama" ucap Reva.


"Nanti aku di restoran sendirian kalau Reva ikut kamu honey" rengek Alisya sedikit mengeraskan suaranya.


Alisya cemburu kalau Arsen asik berdua dengan putrinya tanpa mengajak dirinya. Sunggu masih kekanakan bukan. Arsen seperti memiliki dua anak.


"Aku masih banyak kerjaan honey" sahut Alisya. Kalau sudah masalah pekerjaan tentu saja Arsen tidak bisa memaksa Alisya.


"Reva sayang, Reva ikut mama dulu ke restoran ya, nanti papa akan menjemputmu ke restoran" ucap Arsen supaya putrinya itu berhenti merengek.


"Oteh papa" sahut Reva.


Setelah itu Reva mematikan panggilannya, dan mengembalikan poselnya kepada mamanya.


Seperti biasa ketika di restoran Reva akan bermain di taman, atau dia akan bermain dengan beberapa pelayan.


Hari ini kebetulan Gilang sedang mengantar Rani makan siang di restoran Alisya, istrinya itu terus merengek minta makan di tempat Alisya, ntar bawaan bayi atau memang ada yang sedang ia tuju.


Tanpa sengaja Rani melihat Reva yang sesang bermain di taman sekitar restoran.


"Sayang lihat, itu sepertinya Reva yang sedang bermain sayang" Rani menunjuk ke arah Reva.


"Iya sayang, ayo kita samperin keponakan mu itu" ajak Gilang.


Rani dan Gilang pun menghampiri Reva yang sedang bermain dengan kucing milik Alisya.


"Hai girl, masih ingat sama om tidak" sapa Gilang. Membuat Reva memiringkan kepalanya menatap wajah Gilang.


"Leva ingat om, Om cedang apa di cini" tanya Reva lalu mendekat menghampiri Gilang dan Rani yang sedang duduk di bangku taman.


"Om sedang mau makan siang bersama istri om sayang" jawab Gilang.


"Om lagi mau matan di lestolan milik Leva ya" ucap Reva dengan polosnya.


Rani dan Gilang mengerutkan dahinya.


"Restoran milik Reva" tanya Rani.


"Iya aunty, ini lestolan milik mama Leva" jawab Reva.


Rani hanya diam mencerna kata-kata Reva.


Reva mendekati Rani lalu mengelus perut buncit Rani.


"Pelut aunty lucu, hihihihi" Ucap Reva terus mengelus perut Rani sambil cekikikan, tak lama ada pergerakan dari perut Rani.


"Huwaaa....aunty tenapa pelutnya gelak-gelak" pekik Reva heboh, ia kaget tiba-tiba perut bayi dalam perut Rani menendang.


"Tak apa sayang, berarti dedek bayi nya senang di usap oleh Reva" ucap Rani lembut.


"Di pelut aunty ada dedek bayina" tanya Reva seolah tak percaya.


"Iya sayang" jawab Rani, lalu Reva mencoba memberanikan diri untuk kembali mengusap perut Rani. Tak lama perut Rani pun bergerak lagi. Reva berjingkrak sambil tepuk tangan.


Rani dan Gilang terkekeh melihat tingkah lucu Reva yang sangat menggemaskan.


"Nanti Leva minta papa culuh buatin dede buat Leva banak-banak" ceplos Reva.


"Memangnya siapa papa Reva sayang" tanya Rani yang penasaran.


"Nama na papa Alsen aunty," jawab Reva polos.


Tiba-tiba dari arah belakang ada suara uang memanggil Reva.


"Reva sayang, kamu di cari sama papa" panggil Dewi di suruh Alisya.


"Cudah dulu ya aunty om, Leva cudah di caliin papa dantengna Leva, hihihi" pamit Reva, dia berjalan sambil lompat-lompat girang karena kedatangan papanya.


tinggal lah Gilang dan Rani di taman, mereka mencoba mengartikan tadi ucapan Reva.


"Sayang, apa benar ini restoran milik Alisya" tanya Rani.


"Sepertinya benar sayang, kalau Alisya hanya pekerja tak mungkin pihak restoran memperbolehkan ia bekerja sambil membawa anak." jawab Gilang masuk akal. Apa lagi pekerja restoran, akan merepotkan jika bekerja sambil membawa anak.


"Berarti kak Erik salah mencari info tentang Alisya sayang, dari penampilan Reva saja sudah ketebak kalau Alisya bukan gadis miskin yang seperti kak Erik bilang" sahut Rani.


"Tadi dia juga bilang papa, apa Alisya juga sudah menikah" tanya Rani lagi.


"Kalau itu aku tidak tahu sayang" jawab Gilang yang memang tidak tahu.


"Semoga saja benar sayang, aku senang jika ada orang baik yang mau menerima Alisya dan juga putrinya. Mereka juga pantas bahagia bukan" ucap Rani seraya tersenyum


Rani dan Gilang sepakat akan merahasiakan ini dari keluarganya.


Bersambung


Happy reading guys🙏