
"AWAS AUNTY....." teriak Mattew sambil melemparkan gelas ketangan wanita tersebut.
PYARRR....
"REVAAA...." teriak semua keluarga memanggil nama Reva.
"Akhhh...." pekik wanita tersebut karena merasa sakit di tangannya akibat lemparan gelas dari Matthew.
Gelas pecah bersamaan dengan pisau yang jatuh ke bawah akibat lemparan Matthew yang tepat mengenai tangan wanita tersebut.
Semua mata menoleh menatap kearah bocah kecil itu, Arsen terperangah melihat lemparan anak Max yang tepat sasaran, bahkan anak itu mempunyai tingkat kewaspadaan yang tinggi.
Gavin juga di buat melongo dengan aksi Matthew, bocah kecil itu kagum dengan kehebatan Matthew.
Matthew sudah di latih tentang kewaspadaan dan juga ketangkasan oleh max.
Dari kejauhan Matthew melihat gerak gerik mencurigakan yang di lakukan oleh Jenni, dari kejauhan Matthew terus mengamati Jenni, dan ternyata dugaannya benar, dia melihat pisai yang di sembunyikan di balik dompet yang Jenni pegang.
Dan dengan gerakan cepat Matthew langsung melemparkan gelas agar pisau itu terjatuh dan tak melukai Reva.
"Lupana dia sangat hebat dan kelen, kalau Gavin bisa sepelti dia pasti nanti banyak cewek yang mau sama Gavin. Tapi lihatlah mukana datal sekali, setelah melempal dia belaga tidak teljadi sesuatu, dia malah asik memakan kuena itu, ingin lasana aku pukul kepalana, tapi Gavin takut di lempal piling sepelti aunty itu." gumam Gavin.
Sementara Max hanya tersenyum tipis sambil mengusap kepala sang putra.
Sedangkan dia atas pelaminan.
Saat mendengar ada yang meneriaki namanya, Reva reflek langsung menoleh dan menghindari wanita asing yang ingin menyerangnya.
"Kamu..." pekik Reva kaget mengenali sosok wanita yang ingin mencelakainya, ternyata wanita tersebut adalah Jenni.
"Iya ini aku, gara-gara kamu wanita ja*ng papah ku di penjara dan akan di hukum mati" sentak Jenni.
Ternyata Jenni ingin balas dendam kepada Reva, dia menyalahkan Reva atas tertangkapnya sang papa oleh polisi.
Padahal disini Reva tidak ada sangkut pautnya dengan tertangkapnya Julian, kalau mau balas dendam harusnya sama suaminya bukan dengan dirinya, karena suaminyalah yang memasukkan Julian kedalam penjara.
Jenni maju ingin menyerang Reva.
Dugh..
Belum sempat mengenai Reva, Reynand sudah menendang Jenni terlebih dahulu, hingga membuat Jenni terjungkal kebawah.
"Tangkap dia cepat, dan seret dia kekantor polisi" teriak Reynand menyuruh penjaga untuk membawa Jenni keluar dari gedung pernikahan.
Lima penjaga langsung bergerak maju menghampiri Jenni, mereka langsung menyeret dan membawa keluar Jenni.
Jenni terus meronta dan mengucap sumpah serapah untuk Reva.
"Awas kamu wanita ja*ang, aku akan membunuhmu" teriak Jenni sambil terus meronta.
Petugas kebersihan membersihkan bekas pecahan gelas yang di lempar Matthew tadi.
Arsen langsung membubarkan para tamu undangan, ia tak ingin ada kejadian lagi yang membahayakan nyawa sang putri.
Akhirnya para tamu undangan pergi meninggalkan ballroom hotel.
Arsen juga memperingati wartawan untuk tidak meliputi kejadian yang menimpa sang putri.
"Sayang, kamu tidak ada yang terluka kan" tanya Reynand panik.
"Tidak honey, pisau itu tidak sempat mengenai tubuhku" jawab Reva Membuat Reynand bernafas lega.
"Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika pisau itu berhasil melukai tubuhmu sayang" ucap Reynand sambil memeluk tubuh istrinya erat.
Keluarga Reva dan Reynand berbondong-bondong naik keatas pelaminan, untuk melihat keadaan Reva.
"Sayang kamu tidak apa-apa kan" tanya Alisya panik sambil memutar-mutar tubuh putrinya, takut ada yang terluka.
"Berhenti mam Reva pusing, Reva tidak apa-apa beruntung tadi ada yang menyelamatkan Reva" sahut Reva yang belum tahu siapa yang menyelamatkannya.
"Kamu harus berterima kasih dengan Matthew sayang, karena dia yang sudah menyelamatkanmu" ucap Alisya.
"Ahh....anak itu rupanya" ucap Reva sambil mencari keberadaan Matthew.
"Iya mam, nanti Reva berterima kasih dengan anak itu" ucap Reva.
Alisya mundur, dan kini giliran Erik yang memeluk putrinya.
"Hampir saja jantung papi berhenti berdetak sayang, papi tidak bisa membayangkan jika pisau itu berhasil mengenaimu" ucap Erik sambil memeluk erat tubuh putrinya.
Erik sangat takut kejadian kemarin terulang lagi, dia tak sanggup melihat sang putri terbaring lemah di rumah sakit.
Erik melerai pelukannya, di pandangnya wajah putrinya lekat-lekat, lalu dia mencium kening pitrinya.
Dia sangat berterima kasih kepada putra Max yang sudah menyelamatkan putrinya.
*
"Kamu sangat kelen, bisa nda ajalin Gavin begitu" puji Gavin sekaligus minta di ajarin.
"Ogah. Bilang huruf R dulu nanti aku ajarin" tolak Matthew seraya mengejek Gavin.
"Aku minta di ajalin om Max aja, dali pada sama kamu pelit. Jangan pelit jadi olang nanti kubulanna sempit balu tahu lasa" Gavin tak terima di ejek sama Matthew.
"Itu daddy ku, kamu minta ajarin saja sama papah kamu sendiri" sahut Matthew tanpa mengalihkan tatapannya dari ipad nya.
Gavin merotasi bola matanya malas.
Tiba-tiba Reva datang menghampiri mereka berdua.
"Hai boy makasih, sudah menyelamatkan Kak Reva" ucap Reva sambil memeluk tubuh Matthew dari belakang.
"No problem aunty," sahut Matthew.
"Bisakah kamu panggil kakak saja, jangan panggil aunty, kau membuatku terlihat tua dengan panggilan itu" protes Reva.
"Terserah Matt mau panggil aunty apa" sahut Matthew yang membuat Reva jengkel.
"Ternyata lebih ngeselin dari Gavin, untung anak om Max, kalau anak ku sudah aku masukkan lagi kedalam perut" gerutu Reva.
"Kamu kenapa sayang" tanya Reynand menghampiri istrinya.
"Anak ini ngeselin honey, dia terlalu arogan beda jauh dengan bapaknya" adunya kepada suaminya.
Reynand terkekeh melihat istrinya yang terus mendumal gara-gara Matthew.
Sedangkan di sudut meja lain ,Gavin sedang duduk berdua bersama Aruna.
"Aluna, kamu mau ngga nanti nikah sama kak Gavin sepelti kak Leva sama kak Ley" tanya Gavin kepada Aruna.
Aruna yang polos hanya menganggukkan kepalanya malu-malu.
"Alhamdulillah, akhilna ada yang mau nikah sama Gavin" ucap Gavin sambil mengusap wajahnya.
"Ayo kita temuin mama sama papahna aku" ajak Gavin kepada Aruna.
Bocah kecil itu menggandeng tangan Aruna dan membawanya menemui kedua orang tuanya.
"Mamah, kenalin ini Aluna calon mantu mamah" ucap Gavin membuat Alisya tersedak.
Uhukkk.....
"Ya ampun Al, anakmu masih kecil sudah punya jodoh aja" timpal Viona sambil terkekeh.
🌹🌹🌹🌹
Sedangkan di tempat lain, dengan berbekal uang tabungan yang ada di rekeningnya Btian pergi dari rumahnya, sementara dia nginep di hotel sambil mnemukan tempat yang cocok untuk ia tinggali.
Di dalam kamar hotel Brian sedang menonton televisi yang menayangkan pesta pernikahan Reva dan Reynand. Melihat itu tentu semakin membuat Brian frustasi.
Reva terlihat bahagia bersanding dengan Reynand. Membuat dada Brian semakin sesak.
Kini dia tidak ada harapan lagi untuk kembali bersama Reva, mantannya itu sudah menjadi milik orang lain.
"Ternyata aku terlambat, kini kamu sudah menjadi milik orang lain. Berbahagialah dan maaf sudah pernah menyakitimu" ucap Brian tulus sambil melihat ke arah televisi.
Brian tak ingin mengganggu kehidupan Reva dengan suami barunya, ia sadar kalau dulu dirinya yang salah.
Dia lebih memilih mempertahankan Listy ketimbang Reva.
Dan ternyata wanita yang ia pertahankan justru menghianatinya, dan wanita yang ia khianati justru terlihat bahagian bersama orang lain.
Mungkin ini yang di namakan karma pikir Brian.
Bersambung.
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
Happy reading guys🙏