Baby Girl

Baby Girl
S2~11



Siang hari setelah makan siang Erik memutuskan pergi kerumah sakit bersama Viona. Seperti biasa, mereka akan bergantian menjaga Reva.


"Kau sudah datang Rik" tanya Alisya yang baru saja melihat Erik dan Viona masuk kedalam ruangan putrinya.


"Iya Al, kami baru saja dari kantor langsung kesini" sahut Erik.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya, kasihan Gavin sudah ngantuk" tutur Alisya.


Viona dan Erik menganggukkan kepalanya.


Lalu Alisya mendekati ranjang putrinya.


"Sayang, mama pulang dulu ya.. kamu di sini sama papi Erik dulu, nanti malam mama sama papa kesini lagi" ucap Alisya pamit kepada putrinya.


"Baik ma," sahut Reva.


Sebelum pergi Alisya mencium kening putrinya terlebih dahulu, Gavin juga tak mau kalah dengan ibunya, bocah kecil itu mencium pipi kakaknya.


"Kak Leva, Gavin mau pulang dulu ya, Gavin ngantuk mau tidul dulu, nanti Gavin kesini lagi jagain kak Leva" pamit Gavin.


"Iya boy," sahut Reva tersenyum sambil mengusap kepala Gavin.


Setelah menitipkan Reva kepada Erik, Alisya dan Gavin beranjak dari ruangan Reva, karena sopirnya sudah menunggu di luar.


Setelah Alisya pergi, Erik dan Viona mendekati ranjang putrinya.


"Bagaimana? apa masih ada yang sakit sayang" tanya Viona sambil mencium kening Reva.


"Masih mami, Kaki Reva kalau di gerakan rasanya sakit sekali" rengek Reva seperti anak kecil.


Viona terkekeh sambil mengusap lengan Reva.


"Lain kali tidak boleh bawa mobil kebut-kebutan lagi, atau ngga nanti mami akan suruh papa kamu agar kamu pakai sopir" kata Viona.


Bukan hanya candaan belaka, Viona benar-benar akan membicarakan ini sama Arsen, Viona akan menyuruh Arsen untuk menyita mobil putrinya, biar nanti Reva pakai sopir pribadi, tidak menyetir sendiri, pasalnya putrinya itu belum bisa mengendalikan emosinya.


Hampir saja mereka di buat jantungan ketika tahu putrinya kecelakaan.


Reva merubah ekpresi wajahnya, yang tadinya cemberut sekarang menjadi mode serius.


"Reva mau bertanya sama papi boleh?" tanya Reva dengan wajah serius.


Erik memejamkan matanya sesat lalu mengambil nafas dalam-dalam, setelah itu ia hembuskan lewat mulut.


Ia tahu apa yang akan putrinya itu tanyakan kepada dirinya.


"Iya girl" sahut Erik sambil duduk di sebelah Viona yanga da di samping ranjang.


"Apa benar Reva putri kandung papi?" tanya Reva sambil menatap lekat wajah Erik.


"Iya benar, Reva putri kandung papi" jawabnya jujur.


"Lalu, dulu papi kemana ketika Reva masih kecil? kenapa Reva cuma di asuh mama?, apa karena Reva anak haram pi, makanya papi meninggalkan Reva sama mama?" Reva mebrondong Erik dengan banyak pertanyaan, banyak hal yang ingin ia tahu dari ayah kandungnya itu.


"Maaf girl, semua ini murni kesalahan papi di masa lalu," sahut Erik.


Erik akhirnya menceritakan semua dosa yang ia perbuat pada Alisya dan juga putrinya, tak ada yang Erik tutup-tutupi, karena Erik takut nanti putrinya akan dengar dari mulut orang lain, dan akhinya menyebabkan putrinya seperti ini lagi.


Reva meneteskan air matanya, ia merasa bersalah kepada mamanya, karena kemarin ia sempat marah sama mamanya.


Ia membayangkan betapa berat hidup mamanya pada waktu itu, terlebih mamanya hidup sebatang kara di dunia ini. ia juga sempat berpikiran buruk tentang Arsen karena terpengaruh dengan obrolan keluarga Brian waktu itu.


"Apa papi malu mempunyai anak seperti Reva pi? hingga membuat papi tak mau mengakui Reva?" tanya Reva sambil sesegukan, Viona menenangkan putrinya, takut nanti kondisinya drop.


"Maafkan papi sayang, maaf, kamu boleh hukum papi, tapi tolong jangan membenci papi, bertahun-tahun papi menyembunyikan setatus papi sebagai ayah kandungmu, itu saja sudah membuat hati papi sakit dan begitu tersiksa, terlebih putri papi justru menganggap orang lain sebagai ayah kandungnya.


Reva nangis di pelukan Viona, Viona juga ikut menitihkan air matanya, ia tahu betul bagaimana hancurnya hati putrinya ketika tahu kalau dirinya dulu merupakan putri yang tak di inginkan.


Erik memeluk keduanya, mereka bertiga menangis dengan saling berpelukan.


"Jangan sedih sayang, yang terpenting sekarang ...semua orang menyayangi Reva, Reva harus lebih bisa bersyukur karena semua orang tua Reva menyayangi Reva, tak semua orang di dunia ini seberuntung Reva. Seperti papa Arsen yang selalu menyayangi Reva. Bahkan tak sedikit pun dia membedakan kasih sayangnya kepada Reva." kata Viona sambil memeluk putri sambungnya.


Reva berpikir yang di ucapkan oleh Viona, bahkan ia banyak melihat anak-anak di panti asuhan yang kehilangan orang tuanya, bahkan ada sampai tega membuangnya.


Bersyukur dulu mamanya masih mau melahirka dirinya meski tanpa sosok suami di sampingnya.


"Apa karena ini Reva tak pantas di cintai mi, bahkan mereka hanya memanfaatkan Reva karena tahu Reva putri papa Arsen...hiksss" ucap Reva mengeluarkan uneg-uneg nya.


"Siapa yang berani memanfaatkan putri mami, nanti mami akan hilangkan orang itu dari muka bumi ini." sahut Viona di sertai candaan.


"Sakit mi, ketika kita tahu kalau orang yang kita sayangi justru malah memanfaatkan kita," curhat Reva.


Viona sebenarnya bingung dengan apa yang di maksud putrinya, sebenarnya putrinya ini menangisi apa, menangisi papinya yang dulu tak mengakuinya, atau menangisi yang lain.


Viona melerai pelukannya, lalu menangkup wajah Reva.


"Kamu marah sama papi Erik?" tanya Viona.


Reva menggelengkan kepalanya pelan.


"Lalu?" tanya Viona lagi.


Ia ingin tahu, sebenarnya siapa yang membuat putrinya sakit hati.


Reva hanya diam saja, ia bingung harus cerita tentang Brian atau tidak, karena dia tadi hanya keceplosan saja cerita sama Viona.


Ceklek....


"Lagi ada apa ini, kenapa Reva menangis" tanya Rani yang baru saja masuk bersama Gilang, Bara dan David.


"Kaki Reva sakit aunty" kilah Reva malu.


"Dasar cengeng, katanya jagoan tapi begitu doang ngeluh sakit" ejek Bara.


"Ck, Bala-Bala... ngapain kamu gorengan ikut kesini, harusnya kamu itu sama kang gorengan bukan sama Aunty Rani," Reva balik ejek Bara.


Membuat Bara mencebik kesal dengan ledekan sepupunya yang dari dulu tidak pernah berubah.


Erik dan Viona menggelengkan kepalanya melihat mood Reva yang berubah ubah, tadi melo sekarang malah gelut.


"Keadaan cucu kakek bagaimna hmm" sela David menghentikan perdebatan mereka.


"Lihat kek, muka Reva lecet-lecet, kaki Reva di perban, kepala Reva juga, membuat kecantikan Reva berkurang saja" adu Reva sambil memanyunkan bibirnya.


"Papa sama papi kamu banyak uang girl, jadi kamu bisa minta ke dokter kulit untuk mengembalikan kulit kamu seperti semula" sahut David.


"Oh ya, kakek benar... Reva hampir saja lupa kalau mereka kaya" kata Reva sambil tertawa kecil.


Reva tak mau memusingkan kerumitan di masa lalu, biarkan yang lalu biarlah berlalu, yang terpenting sekarang dia sudah megetahui semuanya dari orang tuanya.


Sakit sudah pasti, tapi semua itu sudah terjadi, tidak akan bisa dirubah lagi.


Bersambung