Baby Girl

Baby Girl
BAB 162



Masih dengan keributan tentang harimau guys🙏


...----------------...


Keesokan harinya di rumah Reagan.


Dorrr


Dorrr


Dorr


"Daddy bangun, katanya mau ketemu sama om Max" teriak Reynand di depan kamar Orang tuanya.


"Mommy..Daddy" Reynand terus berteriak memanggil orang tuanya.


Pagi-pagi sekali Reynand sudah menggedor gedor pintu kamar orang tuanya, anak kecil itu sudah membuat kehebohan seisi rumah.


Padahal waktu masih menunjukkan pukul 05.30 pagi, sepertinya Reynand sudah tidak sabar untuk bertemu Max.


Klek


Pintu kamar terbuka dari dalam, terlihat sosok Reagan dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur.


"Ada apa boy" tanya Reagan lesu dengan muka bantalnya.


"Kenapa daddy baru bangun, katanya hari ini mau ketemu om Max, Rey sudah tidak sabar ingin kehutan Dad" cerocos Reynand.


Dengan malas Reagan menoleh ke belakang, dia melihat jam yang menempel di dinding kamarnya.


"Astaga Rey, ini masih jam setengah enam pagi, ngapain kamu sudah berisik di depan kamar Daddy, sudah kek orang demo saja, om Max juga belum bangun jam segini" kesal Reagan kepada putranya yang tak sabaran.


"Rey nda mau tahu, pokoknya sekarang Daddy harus mandi, dan setelah itu kita langsung ke rumah om Max" desak Reynand.


Reagan menatap jengah wajah putranya. Ia berbalik lalu melangkahkan kakinya mendekati ranjang.


Tiba di dekar ranjang, Reagan langsung naik lalu merebahkan tubuhnya di sebelah istrinya yang masih terlelap.


Reagan kembali memejamkan matanya sambil memeluk istrinya, dia mengabaikan keberadaan putranya. Bahkan hidung Reynand sudah kembang kempis karena melihat Daddynya yang kembali terlelap.


"Daddy... " Teriak Reynand di telinga daddynya, membuat Reagan terlonjak kaget. langsung membuka matanya.


"Dasar Max setan, perkara harimau saja ngga kelar-kelar, sampai membuat tidurku terganggu" umpat Reagan dalam hati.


Regan bangkit, dan duduk sambil menatap wajah putranya.


"Astaga Reynand, kau mau membuat Daddy mati jantungan hah" omel Reagan.


"Salah sendiri daddy nya malah tidur" balas Reynand.


"Kamu ini bisa sabar tidak sih, ini masih pagi untuk bertamu ke rumah orang, nanti agak siangan daddy ajak kamu ketemu om Max" marah Reagan.


Renata pun terbangun, karena merasa terusik dengan suara perdebatan antara ayah dan anak itu.


Renata mendudukan tubuhnya di sebelah suaminya, seraya bersandar di headboard ranjang.


"Kamu kenapa teriak-teriak boy, mommy sampai kaget" tanya Renata sambil menggulung rambutnya.


"Ini kenapa lagi masih pagi sudah mengajak Daddy ribut" lanjutnya.


"Rey mau kerumah om Max mommy" rengek Reynand.


"Ngapain pagi buta begini ke rumah om Max? mommy yakin om Max pasti belum bangun, apa lagi kalian masih libur sekolah, jadi om Max tidak ada jadwal jemput Reva" tanya Renata yang memang tidak tahu masalah harimau.


Kemarin dia tidak ikut jalan-jalan bersama Arsen, karena Cia sedang tidak enak badan. Jadi hanya Reagan yang ikut bersama Reynand.


Reagan menarik tubuh putranya, dan membawanya naik ke atas ranjang, ia dudukan putranya di atas pahanya.


Di lihatnya mata anaknya yang sudah berkaca-kaca.


"Tidur lagi ya, Daddy janji nanti akan membawaku bertemu dengan om Max" ucap Reagan lembut. Reynand mengangguk kecil.


Reagan merebahkan tubuhnya dan juga putranya di ranjang. Reynand memeluk daddy nya, Reagan mengusap usap punggung putranya agar cepat terlelap.


"Sepertinya dia sudah tidur Dad" ucap Renata memberi tahu suaminya.


"Syukurlah, aku tidur lagi ya mom, gara-gara semalam kau mengajakku begadang" ucap Reagan tanpa dosa.


"Ngaca dad ngaca, siapa yang semalam merayuku minta jatah" sindir Renata.


Reagan menarik sudut bibirnya, dia tersenyum geli melihat bibir istrinya yang mengerucut.


"Sana tidur, aku mau ke kamar Cia" Renata turun dari ranjangnya, setelah itu keluar kamar menuju ke kamar putrinya.


*


*


Setibanya di rumah Arsen, Reagan langsung turun begitu juga Reynand.


Reagan masuk kedalam rumah Arsen.


"Rey lagi Rey lagi, bosen Reva lihatnya" kedatangan Reynand langsung di sambut denagn ucapan Reva yang menjengkelkan.


"Kalau begitu tidak usah di lihat" balas Reynand tak kalah ketus.


Kedua bocah itu kalau ketemu sebentar akur, sebentar lagi gelut, heran lihatnya.


"Mana Max, Ar" tanya Regan to the point.


"Belum datang, sebentar lagi mungkin. Ada apa kau mencarinya" jawab Arsen, lalu bertanya dengan sepupunya itu, tak biasanya Regan mencari Max.


"Tuh, mau minta anak macan seperti punya Reva" jawab Regan sambil menunjuk ke arah Reyannad menggunakan dagunya.


"Ambil aja punya Reva" ucap Arsen dengan entengnya.


Reva yang mendengarnya langsung ngreog.


"Tidak boleh, minta saja sendiri sama om Max, om Max masih punya satu lagi namanya Dexter" tolak Reva.


"Hah? om Max masih punya lagi? " tanya Arsen tak percaya.


"Iya, kemarin Reva minta dua-duanya tapi nda boleh sama om Max, makanya Reva cuma bawa Snow." jawab Reva.


"Ya tuhan, sebenarnya apa yang ada di pikiran Max, bisa-bisanya dia bertenak harimau" ucap Reagan tak habis pikir dengan jalan pikiran Max.


Tak


Tak


Tak


Terdengar suara langkah orang memasuki ke rumah Arsen.


"Akhirnya datang juga kau" ucap Reagan langsung ketika melihat Max yang baru datang di rumah sepupunya.


"Ada apa tuan mencari saya" tanya Max.


"Gak usah berlagak polos kamu, berikan Dexter atau aku akan membakar apartemenmu itu" ancam Reagan. Dia sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya, karena gara-gara dia putranya terus meregek.


"Dexter siapa tuan?" tanya Max berlagak tidak tahu. "Lagian kalau mau bakar ya tinggal bakar, saya juga masih punya tempat tinggal yang lain" ucap Max santai.


"Kamu emang si*lan Max, cepat bawa Dexter kemari," perintah Reagan.


Arsen hanya menonton saja, dia menikmati sepupunya yang sedang adu mulut dengan bodyguardnya.


Arsen ingin lihat siapa yang menang.


"Tuan ini sebenarnya bahas siapa? Dexter siapa tuan? saya tidak kenal" kekeuh Max, dia tidak rela harus kehilangan Dexter, dia sudah kehilangan Snow jangan sampai dia kehilangan Dexter juga.


"Harimau Max Harimau, ya tuhan... boleh ngga sih ngbunuh orang" ucap Reagan dengan penuh penekanan, dia benar-benar frustasi menghadapi Max yang pura-pura polos.


"Om Max jangan bohong, om Max kan masih punya Dexter di hutan, kasih saja ke Rey... karena Reva tak mau Rey ambil Snow" timpal Reva ikut memojokkan Max.


"Nanti harimau saya abis tuan," kekeuh Max mempertahankan Dexter.


"Suruh hamil lagi aja, gampang kan" sahut Reagan tak mau pusing.


"Kelinci aja mau ngga Rey, om Max punya 5 ekor, buat Rey semua tidak apa-apa, asal jangan Dexter" rayu Max.


"No om, Rey mau anak harimau seperti punya Reva." tolak Reynand tak goyah dengan rayuan Max.


"Rasakan, salah sendiri bawa-bawa Snow kesini, ribet sendiri kan" ejek Arsen.


Max merotasi bola matanya malas, tau begini Max juga tidak bakal kasih Snow ke Reva.


"buat Chel kelinci na antel" pinta Rachel sambil menarik narik kemeja yang di kenakan Max.


Max menoleh ke bawah, menghembuskan nafasnya frustasi.


Bisa-bisa dia kehilangan semua peliharaannya.


Bersambung.