
Stelah memakan perjalanan selama kurang lebih tiga jam, akhirnya mereka tiba di mansion Max yang berada di tengah hutan.
"Tita dimana ata' "tanya Revan yang merasa asing dengan sekitarnya.
"Ayo turun, kita sudah sampai di rumah om Max" jawab Reva sambil membantu adiknya turun dari mobil.
"Tenapa lumah om Max banak pohon-pohon na" tanya Revan yang masih penasaran.
"Karena rumah om Max ada di hutan" jawab Reva yang ia tahu saja.
Pasalnya Reva juga tidak tahu alasan Max, kenapa membangun rumah di tengah hutan.
Reva menggandeng tangan Revan sambil mengikuti Max dari belakang.
"Selamat datang tuan" sapa penjaga rumah milik Max.
"Hmmm" gumam Max dengan wajah datarnya.
Max melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumahnya.
"Om kita boleh keliling di hutan om nda? Reva ingin tahu ada hewan apa aja di hutan om " pinta Reva dengan tatapan penuh harap.
"Nanti saja, kita istirahat dulu... kasihan adik kamu, pasti lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh" sahut Max memberi saran pada Reva, Max kasihan melihat wajah lelah Revan, sepertinya bocah kecil itu baru pertama kali melakukan perjalanan yang lumayan jauh.
"Iya deh" sahut Reva.
Lalu berbalik menatap wajah adiknya.
"Revan capek Nda?" tanya Reva kepada adiknya.
"Van haus ata' "jawab Revan
"Bentar boy, om Max akan mebuatkanmu minum dulu ya" sahut Max.
Revan mengangguk. lalu ia duduk sambil bersandar di lengan kakaknya.
"Kamu ngantuk" tanya Reva sambil mengusap kepala adiknya.
Revan menggelengkan kepalanya.
Tak lama Max datang sambil membawa minuman untuk mereka.
"Ini boy. katanya tadi haus" ucap Max sambil memberikan segelas air minum ke Revan.
"Matacih om" ucap Revan seraya menerima gelas tersebut dari tangan Max.
Revan langsung meminumnya, hingga sisa setengah lagi Revan menaruh kembali gelasnya di atas meja.
"Kenapa tidak di habiskan boy" tanya Max.
"Ntal aja om, Van cudah tenyang" jawab Revan.
Setelah di rasa cukup beristirahat, Max membawa Revan dan Reva ke hutan buatan yang ada di belakang rumah.
Hal pertama yang ia lihat ketika sampai di hutan adalah burung hantu.
"om itu burung apa" tanya Reva.
"Itu burung hantu sayang" jawab Max yang masih menggendong Revan.
"Tenapa nama na bulung hantu, apa kalena bulungna belteman cama hantu, maka na di kacih nama bulung hantu" tanya Revan sambil mendongak ke atas melihat wajah Max.
Revan termasuk anak yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, dia akan terus menanyakan tentang sesuatu yang tak ia mengerti.
Max terkekeh mendengar ucapan polos Revan.
"Bukan begitu boy, kenapa di namakan burung hantu, karena burung ini termasuk hewan nokturnal yang aktif di malam hari, untuk kesan seramnya karena burung ini memiliki mata yang bulat besar menghadap ke depan tidak kesamping seperti burung pada umumnya, serta suaranya yang khas dan menyeramkan di pepohonan.
Revan dan Reva mengangguk seolah mengerti dengan penjelasan Max.
"Van minta tatu ya om, Van mau natutin Vin cama Chel" pinta Revan sambil tertawa kecil.
Max menggelengkan kepala, ia kira Revan benar-benar kaku seperti kulkas 4 pintu, tapi ternyata ia salah, bocah kecil itu punya sifat jahil juga.
Mereka berjalan menuju ke tempat hewan yang lain.
"Ini namanya Panda sayang, ia merupakan seekor mamalia yang di klasifikasikan kedalam keluarga beruang, hewan ini berasal dari tiongkok tengah, dia biasanya memakan bambu" terang Max.
Max seperti tour guide kedua bocah kecil itu, ia akan memberikan informasi tentang hewan yang ia lihat, untuk menambah pengetahuan mereka.
"Itu apa nama na ata' "tanya Revan menunjuk ke arah panda.
"Kata om Max namanya Panda dek, lucu kan" jawab Reva dengan antusias.
"Sepelti boneta ata'yang ada di lumah" ucap Revan. Reva mengangguk,...Reva masih menyimpan boneka yang dulu di kasih Arsen.
"Tenapa dia nda belgelak om" tanya Revan yang sejak tadi mengamati Panda yang sedang tidur.
"Dia sedang tidur boy" jawab Max.
"Huff.. Dasal Panda pemalas, cudah ciang ini tenapa nda banun-banun, Van lempal batu nanti bial tau lasa" omel Revan.
"Jangan dek, nanti Panda nya sakit terus nangis" Reva melarang adiknya menyakiti hewan tersebut.
"Iya ata' "ucap Revan patuh.
Kemudian Mereka melanjutkan melihat binatang yang lain, kali ini ada kelinci.
"Kalau hewan yang satu ini namanya Kelinci Angora, adalah salah satu jenis tertua dari kelinci domestik. Mereka biasanya memakan rumput, kangkung, buah pepaya, apel ydan yang lainnya." terang Max.
"Oh...ini yang kelinci buat Reva ya om" ucap Reva.
Max menghela nafas berat, sejujurnya Max masih belum rela melepaskan hewan-hewannya kepada orang lain, Max takut orang itu tidak bisa merawatnya.
"Boleh sayang" ucap Max lesu.
Dia tidak bisa bilang tidak, pasalnya dia sendiri yang sudah bilang akan memberikan kelinci itu.
"Asikk... Reva punya kelinci baru, nanti Reva pamerin ke papi sama Reynand" sorak Reva sambil tepuk tangan dan lompat-lompat.
Revan hanya diam tanpa minat.
"Tapi nanti di rawat ya, jangan sampai kelincinya meninggal" peringat Max kepada Reva.
"Baik om, terima kasih sudah mau memberikan kelinci itu kepada Reva" ucap Reva tersenyum manis sambil menatap wajah Max.
Max mengangguk kecil.
"Ayo kita lanjut jalan lagi" ajak Max.
"Ini namanya Ular Piton Albino merupakan spesies dari Afrika Barat. Ular ini tidak berbisa dan juga tidak suka menggigit, akan tetapi ia memilih melingkar dan membentuk seperti bola, Binatang ini sama kayak Burung hantu, bersifat nokturnal akan lebih aktif di malam hari. Pakan ular ini adalah tikus putih, burung dan yang lain" jelas Max.
"Tenapa nda matan lumput caja ci, tan tasihan cama tikus na om" protes Revan.
"Karena ular termasuk hewan Karnivora boy" jawab Max.
"Apa itu Kalnivola, Van nda ngelti" tanyanya lagi.
"Karnivora itu hewan pemakan daging dek" jawab Reva.
"Telus yang matan lumput nama na apa ata' "Revan tanya lagi.
"Kalau pemakan tumbuhan namanya Herbivora" jawab Reva.
Revan mengangguk ngangguk seolah mengerti dengan jawaban Reva.
"Telus talau Van bawa ulal ini telumah bisa nda? nanti dia matan bulung hantu na Van nda om" tanya Revan.
Nafas Max semakin terasa berat.
"Jangan boy nanti burung hantunya di makan" ucap Max menakuti Revan, memang ular itu bisa makan burung, tapi kalau di masukin kekandang yang berbeda sudah paati ular itu tidak akan bisa memakannya.
Itu hanya akal-akaln Max saja, supaya Revan tidak membawa ularnya.
Bersambung
Happy reading guys🙏
Jangan lupa like
koment
vote
gift💕