
Sebelum ke kantor Arsen, Max terlebih dahulu menjemput Reva di sekolahnya. Tadi bosnya itu menghubunginya lalu menyuruhnya datang ke kantor.
Max membantu Reva masuk ke dalam mobil, lalu memasangkan seatbelt ke tubuh Reva.
"Kita ke kantor papa kamu dulu ya" ucap Max.
"Ngapain kita ke kantor papa om" tanya Reva sambil memiringkan wajahnya menghadap Max.
"Tadi papa kamu menyuruh om datang kesana" Jawab Max sambil fokus menyetir.
"Kebiasaan, suka suruh-suruh orang" gerutu Reva.
Max terkekeh sambil melirik ke arah Reva yang terus menggerutu.
"Om Max sudah punya pacar belum? biar kek om Nino, dia kan mau nikah sama onty Dewi" tanya Reva sambil memiringkan wajahnya menatap Max.
"Belum nona" jawab Max tak ambil pusing.
"Mau nda Leva jodohin seperti om Nino" tawar Reva.
"Hah? Sama siapa" tanya Max yang memang sudah tahu cerita tentang Nino yang di bantu Reva buat dekat dengan Dewi.
Reva diam sejenak sambil mengetuk dagunya seperti sedang berfikir.
"Oh...Reva tahu om, di restoran mama kan banyak yang masih jomblo seperti om Max, hihihihi" ceplos Reva membuat Max kaget.
"Nanti Reva tanya dulu, mereka ada yang mau nda kenalan sama om Max ya" ucapnya.
Max melongo, bagaimana bisa anak kecil itu punya pemikiran untuk mencarikan jodoh untuknya.
Akibat terlalu sering bergaul sama orang dewasa, jadinya Reva tahu tentang masalah orang dewasa 😂
Max melajukan mobilnya ke perusahaan Arsen. Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit, mobil yang di kemudikan Max sampai di depan perusahaan Global Group.
"Jangan turun dulu nona, nanti kamu jatuh, biar om Max bantu" cegah Max ketika melihat Reva yang mau membuka pintu mobil.
Reva mengangguk patuh.
Max pun turun dari mobil, lalu memutari mobil dan membukakan pintu untuk Reva.
Setelah pintu terbuka Max membantu Reva keluar dari mobil.
Bugh
Suara pintu mobil di tutup oleh Max.
Max langsung membawa Reva ke lantai atas dimana ruangan Arsen berada, tanpa ke resepsionist terlebih dahulu.
Mereka sudah paham betul siapa Max dan nona mudanya. Tentu saja mereka tak akan berani mengusirnya.
Tok
Tok
Tok
Tok
Tok
Reva sengaja ngerjain papanya dengan terus mengetuk pintu ruangan papanya.
"Masuk" Teriak seseorang dari dalam ruangan.
Akan tetapi suara itu masih membuat Reva enggan masuk.
"Nona, kenapa masih belum masuk? itu tuan Arsen sudah mempersilahkan kita masuk" tanya Max bingung.
"Jangan berisik om, biarin aja papa yang membukakan pintu untuk kita, kan papa yang menyuruh ke sini" lirih Reva sambil tertawa cekikikan.
Tok
Tok
Tok
Reva kembali mengetuk pintu.
Sedangkan Arsen yang ada di dalam ruangan di buat kesal.
"Sebenarnya siapa sih yang datang, sudah di suruh maauk masih aja ketuk-ketuk pintu" gerutu Arsen seraya beranjak dari kursinya.
Dia berjalan mendekati pintu sambil terus ngdumel. Pasalnya dia malas berjalan untuk membuka pintu.
"Siapa sih, nyusahin banget" gumam Arsen.
Klek
Sedangkan Max menggaruk kepalanya yang tak gatal ketika melihat wajah kesal tuannya.
"Heheheh.... siang papa" sapa Reva nyengir kuda sambil mengajungkan jarinya membentuk huruf V.
"Kamu sengaja ya ngerjain papa hmm" gemes Arsen melihat wajah innocent putrinya.
"Tidak, kan katanya kalau masuk ruangan papa harus ketuk pintu dulu" ucap Reva mencari pembelaan.
Sebenarnya tidak salah dengan apa yang di lakukan putrinya.
"Tapi kan papa sudah menyuruh masuk" ucap Arsen tak mau kalah.
"Tetap saja, nanti Reva di bilang nda sopan kalau langsung masuk begitu saja" kekeuh Reva.
"Maaf, tuan ada perlu apa menyuruh saya datang kesini" tanya Max menghentikan perdebatan antara anak dan orang tuanya itu.
"Masuklah terlebih dahulu, ada yang mau saya tanyakan" ucap Arsen.
Max dan Reva masuk mengikuti langkah Arsen dari belakang.
Mereka duduk di sofa begitu juga Reva.
"Sayang, kamu ke ruangan om Nino dulu ya, ada yang mau papa obrolkan sama om Max" pinta Arsen kepada putrinya.
"Tidak mau, paling papa mau ngobrol masalah onty badut kan" tebak Reva.
"Kenapa dia jadi cenayang ya" batin Arsen.
Arsen menghela nafas pelan, putrinya kalau sudah kepo akan sulit di bujuk.
"Biarin saja tuan, memangnya apa yang mau anda tanyakan?" tanya Max.
Sebenarnya Arsen tak mau membicarakan tentang Nessa di depan putrinya, apalagi tentang kekejaman yang mereka lakukan. tapi mau bagaimana lagi, bocah kecil itu tak mau pergi.
"Apa kau sudah melakukan tugasmu Max" tanya Arsen.
"Sudah tuan, semalam saya sudah membuangnya ke hutan" jawab Max enteng.
Arsen mendelik mendengar jawaban Max.
"Hah, kenapa jadi ke hutan Max" ucap Arsen kaget.
"Biarin saja mereka tidak bisa kembali ke sini" balasnya tanpa beban.
"Wow... om Max keren," puji Reva kepada bodyguard setianya itu.
"Pasti wajah onty badut itu lucu pas lagi ketakutan, hihihihi" ucap Reva tertawa sambil membayangkan wajah Nessa.
"Tentu nona, bahkan om yakin kalau tante badut itu tak berani keluar dari gubuknya" sahut Max.
"Gubuk itu apa om? Reva nda ngerti" tanya Reva polos.
"Gubuk itu seperti rumah yang terbuat dari kayu nona" jawab Max. Reva mengangguk seolah mengerti.
"Terus di hutan onty badut ada apa aja" tanya Reva antusias.
"Ada harimau, burung, serigala, masih banyak yang lain lagi nona" jawab Max.
Sejak tadi Arsen hanya memperhatikan obrolan mereka sambil merotasi bola matanya malas.
Percuma dia memanggil Max, kalau pada akhirnya dia di cuekin.
"Boleh nda Reva ikut ke hutan, Reva mau lihat harimau sekalian jenguk onty badut" pinta Reva dengan tatapan memohon.
Arsen dan Max melongo mendengar permintaam extrim putrinya itu.
"Tidak ya Reva, nanti yang ada kamu di makan harimau" tolak Arsen tegas.
"Tapi Reva ingin pa, boleh ya Reva ikut om Max ke hutan" rayu Reva kepada papanya.
"Jangan ngadi-ngadi deh, bisa ngga mintanya yang wajar saja, jangan yang aneh-aneh, lihat burung kek, kelinci kek" omel Arsen.
"Kan Reva mau lihat harimau bukan kelici papa" kekeuh Reva.
"Nanti papa ajak kamu lihat harimau di kebun binatang, gak usah ke hutan segala" bujuk Arsen.
"Nda mau, Reva maunya di hutan yang ngga di kandangin, jadi Reva bisa elus bulunya nanti, kalau di kebun binatang kan jauh, terus nanti Reva nda boleh dekat-dekat" Reva merajuk sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ya Allah, dulu Alisya ngidam apa ya" gumam Arsen menyebut sang khaliq, pertanda dia sudah sangat frustasi menghadapi keinginan putrinya itu.
"Bawa pulanglah Max, aku pusing. bisa-bisanya mau ke hutan lihat harimau, nanti kalau dia di makan gimana. Susah nanti mendapatkan pengganti yang seperti dia lagi" ucap Arsen.
Tentu saja susah mendapatkan anak yang seperti Reva lagi Ar, orang Reva yang membuat itu Erik sama Alisya, bukan kamu sama Alisya 😝
Bersambung