
Seminggu berlalu Erik terus saja berusaha untuk mendekati Alisya tapi selalu berakhir dengan kecewa. Jangankan untuk mendekatinya melihatnya saja Erik tidak bisa, karena sudah seminggu ini Arsen melarang Alisya untuk pergi ke restorannya. Ia meminta istrinya itu untuk mengerjakan pekerjaanya di kantornya saja.
Arsen sudah tahu kalau akhir-akhir ini Erik sering menguntit istri cantiknya, bahkan Erik juga mencari keberadaan Reva. Beruntung Reva di jaga ketat oleh max orang kepercayaan Arsen.
Sedangkan siang ini di kantor Dinata tengah terjadi ketegangan. karena terjadi korupsi cukup besar yang di lakukan oleh manager keuangan, sehingga membuat proyek pembangunan hotel mangkrak. Terlebih proyek itu merupakan kerja sama antara perusahaan Dinata dan juga Perusahan Global Group. Arsen sudah menginvestasikan dananya untuk pembangunan hotel bintang lima tersebut.
"Ini tuan berkasnya, perusahaan kita mengalami kerugian hampir 500Milliar karena kasus korupsi yang di lakukan oleh bagian keuangan" ucap Riko asisten David.
"Apakah pihak Global Group sudah tahu kalau terjadi mangkrak dalam pembangunan itu" tanya David setelah membaca berkas yang di berikan Riko. Ia takut kalau pihak Arsen akan menuntut ganti rugi dan menarik semua investasinya. Karena sudah 3 hari ini pembangunan hotel di hentikan, karena pihak perusahaan tidak bisa membayar bahan material bangunan.
"Belum tuan, tapi kita harus cepat menangani masalah ini, kalau pihak Global Group mencabut investasinya bisa bangkrut perusahaan kita tuan" jawab Riko menjelaskan kemungkinan yang akan terjadi.
David memijat kepalanya yang terasa mau pecah.
"Cari pelakunya dan jebloskan dia ke penjara" perintah David.
"Baik tuan," Ucap Riko patuh, setelah itu dia pergi meninggalkan ruangan David.
Tak lama Erik dan Aldrik masuk ke dalam ruangan David.
"Ada apa Dad" tanya Erik yang baru saja masuk ke dalam ruangan ayahnya.
"Manager keuangan tengah menggelapkan dana perusahaan sebesar 500Miliar" lirih David.
Aldrik dan Erik cukup terkejut dengan pernyataan ayahnya.
"Bagaimana bisa ini terjadi? Memangnya selama ini apa yang kalian lakukan ha" Bentak Aldrik . Marah Aldrik karena merasa putra dan cucunya tak becus dalam mengelola perusahaan. Dia tak ingin perusahaan yang sudah ia rintis selama ini akan jatuh bangkrut.
"Dan kau Erik! Berhenti bermain dengan semua wanita jal*ng itu, fokuslah untuk mengelola perusahaan ini. Opa tak ingin perusahaan ini bangkrut karena ketidak becusan kalian dalam bekerja" tegas Aldrik dengan emosi yang meluap luap.
Itulah alasannya kenapa Aldrik belum sepenuhnya melepas perusahaanya ke tangan cucunya. Karena Erik belum bisa di andalkan dalam semua hal.
"Sekarang, apa yang akan kalian lakukan untuk menutupi kerugian ini?" tanya Aldrik setelah bisa mengendalikan emosinya.
David menghela nafas berat lalu berkata.
"Dengan terpaksa, kita akan menjual sebagian aset milik keluarga Dinata untuk menutupi kerugian ini sebelum pihak Global Group datang untuk menekan kita" ucap David pasrah.
"Apa kau tidak bisa meminta bantuan kepada rekan bisnismu son" tanya Aldrik. Menurut Aldrik kenapa tidak berusaha minta tolong ke rekan bisnisnya dulu.
"Memang menurut Daddy siapa yang bisa bantu kita, bahkan kasus yng dulu aja tidak ada yang mau bantu kita , bersyukur ada Hendrawan dan perusahaan Global Group yang mau berinvestasi ke perusahaan kita" jawab David putus asa.
"Apa kamu tidak punya teman yang bisa membantu kita Rik" sindir Aldrik. Menurut Aldrik cucunya itu hanya beban, tidak ada kontribusinya sama sekali untuk perusahaan, setiap ada kasus dia tak pernah punya solusi untuk menyelesaikan.
" Tidak opa" jawab Erik.
Aldrik terkadang heran dengan cucunya, tiap hari kerjaannya main tapi tak punya teman satupun yang bisa di andalkan.
Aldrik menghela nafas berat, memang sudah tak ada jalan lain selain menjual aset yang di milikinya.
"Untuk sementara blokir kartu kredit istrimu itu. Jangan sampai tagihan dia juga ikut membengkak, yang ada nanti akan menambah masalah" titah Aldrik. Karena di tahu kebiasaan menantunya yang suka foya-foya dengan teman sosialitanya.
Di ruangan kerja Arsen.
"Bagaimana" tanya Arsen kepada Nino.
"Sudah sesuai rencana tuan" jawab Nino seraya memperlihatkan laporan yang ia dapat dari anak buahnya yang ada di perusahaan Dinata. Arsen tak hanya menempatkan satu orang saja di perusahaan Dinata, melainkan ada tiga orang di divisi yang berbeda.
"Tekan semua perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Dinata, supaya tidak bisa membantu perusahaan mereka." lirih Arsen supaya tidak di dengar oleh istrinya yang sedang fokus dengan laptopnya. Nino pun mengangguk patuh setelah itu ia pamit keluar dari ruangan Arsen.
Setelah Nino keluar Arsen menghampiri dua kesayangannya.
"Hai anak cantiknya papa, lagi apa kamu" tanya Arsen seraya duduk di sebelah Reva melihat apa yang sedang di lakukan putrinya itu.
Tiap pulang sekolah Reva akan di antar ke kantor Arsen oleh max.
"Lagi belajal menulis papa, papa janan danduin Leva dulu" jawab Reva tanpa memalingkan matanya dari buku, dia lagi fokus belajar menulis huruf.
"Katanya kamu sudah pintar...terus ngapain belajar" iseng Arsen sambil melihat tulisan Reva yang cukup berantakan.
"Kata bu gulu, tulisan Leva macih jelek jadina Leva di suluh belajal menulis lagi papa" sahut Reva.
"Ok, lanjutkan belajarmu nanti kalau sudah selesai papa akan memberimu es krim" ucap Arsen supaya putriny itu tambah giat lagi belajarnya. Reva hanya mengangguk seraya melanjutkan belajarnya.
Arsen yang kesel karena di cuekin Reva, kini dia ganti menganggu istrinya.
"Baby, kenapa makin hari kamu makin cantik sih, kalau kek gini kan aku jadi makin cinta" gombal Arsen seraya menciumi pipi istrinya.
"Gombalanmu terlalu garing tuan. Tanpa kamu bilang begitupunsemua orang sudah tahu kalau aku cantik" sahut Alisya narsis.
"Yakkk.....,percaya diri sekali istri ku ini" balas Arsen seraya mengunyel ngunyel wajah istrinya setelah itu ia merebahkan kepalanya ke pangkuan Alisya.
"Tentu saja aku cantik, kalau tidak mana mau kamu menikahi ku" sinis Alisya.Arsen menarik kepala Alisya lalu membisikan sesuatu ke telinganya.
"Kata siapa aku menikahimu karena cantik, aku menikahimu karena kehebatanmu di ranjang nyonya" bisik Arsen.Langsung mendapatkan pukulan dari istrinya. Arsen tertawa terbahak-bahak melihat wajah merona istrinya.
"Apa lagi kalau kau sedang bergoyang di atas tubuhku, kamu akan terlihat semakin seksi baby" lirihnya membuat wajah Alisya makin memerah ia membuang wajahnya kesamping. Ia malu dengan gombalan suaminya yang gak punya akhlak itu.
"Pa badus nda tulisan na Leva" tanya Reva menghampiri kedua orang tuanya, ia menunjukkan hasil latihan nulisnya.
"Bagus sayang, tapi Reva masih harus banyak belajar lagi ya" puji Arsen seraya memberi saran untuk belajar lagi, karena tulisannya masih cukup berantakan.
"Oteh papa, telus mana es klim Leva" ucap Reva sambil menengadahkan tangannya kepada Arsen. Arsen yang di tagihpun menggaruk kepalanya yang tak gatal, pasalnya stok es krim di kulkasnya habis.
Bersambung
Happy reading guys🙏