Baby Girl

Baby Girl
BAB 132



"Benar begitu honey" tanya Alisya sambil menatap tajam ke arah Arsen.


Arsen menelan salivanya kasar, melihat tatapan tak biasa istri cantiknya itu.


"Reva tolong jaga adiknya sebentar ya, mama ada urusan dulu sama papa," ucap Alisya. "Dan kamu Rey tolong bantu Reva jaga adik-adiknya ya" imbuhnya.


"Iya mama" ucap Reva.


"Siap aunty" ucap Reynand sambil melirik ke arah Arsen.


"Rasakan, siapa suruh dekat-dekat dengan tante badut itu" ejek Reynand.


Alisya menarik lengan Arsen dan membawanya ke kamar atas.


"Matilah aku" batin Arsen.


Alisya ingin meminta penjelasan dari suaminya tentang pelakor itu, akan tetapi ia tidak mau membahasnya di depan anak-anak. Dia akan membicarakan hal tersebut hanya berdua saja tanpa di dengar anak-anak.


"Jelaskan honey" ucap Alisya setelah mereka berdua sudah berada di dalam kamar dan duduk di sofa kamar saling berhadapan.


"Baby, dia hanya sekretaris baru Nino yang sedang membawakan kopi untukku, lalu tak sengaja kaki dia tersandung,dan menyebabkan kopi itu tumpah mengenai celanaku, terus ketika dia sedang mengelap celanaku tiba-tiba kedua bocah itu datang, dan menuduhku bermain api dengan sekretaris baru itu" jawab Arsen gugup.


"Apa? Di membersihkan celanamu?,Terus kenapa kamu tidak melarangnya? kalau tidak ada Reynand sama Reva masuk pasti kalian akan melakukan hal yang lebih jauh lagi bukan, apa karena aku belum bisa kau sentuh lantas kamu ingin mencari kepuasan di luar sana begitu? Atau karena badanku yang membengkak terus kamu ingin mencari wanita lain yang lebih seksi hah" cerocos Alisya dengan nafas naik turun karena marah.


Arsen menghela nafas kasar, setan kecil itu benar-benar membuat istri cantiknya murka, Arsen bangkit dari duduknya lalu beralih duduk di samping istrinya.


"Sayang itu hanya salah paham, kedua bocah itu saja yang berlebihan" ucap Arsen sambil memegang tangan Arsen tapi langsung di tepis oleh Alisya.


"Setelah kamu melakukan kesalahan, sekarang kamu malah menyalahkan mereka untuk menutupi kesalahanmu begitu, aku tak menyangka ternyata kamu sepicik itu Arsen Davidson" sinis Alisya dan menekankan kata Arsen


Arsen tercengang mendengar istrinya hanya memanggil namanya saja. ia gelagapan karena ternyata kesalah pahaman ini benar-benar membuat istrinya marah.


"Kalau kamu memang sudah tak menginginkanku lagi, maka aku akan membawa Reva serta kembar pergi dari rumah ini" ucap Alisya dengan mata yang sudah berkaca-kaca sambil bangkit dari tempat duduknya.


Entahlah pasca melahirkan perasaan Alisya menjadi lebih sensitif.


Memang, fluktuasi hormon pasca melahirkan kerap membuat ibu menjadi lebih sensitif, sehingga mudah sedih , menangis,marah, tersinggung dan bisa juga mengalami beragam keluhan fisik, seperti sulit tidur, perubahan nafsu makan, pusing, mudah lelah, lemas, nyeri kepala dan sebagainya.


"Maafkan aku Baby, aku tak bermaksud menyakitimu, tolong jangan seperti ini, baby, sungguh aku tak melakukan apapun, aku sangat mencintaimu aku tak akan mungkin tega menghianatimu. bagaimana mungkin aku menduakanmu sedangkan di hatiku hanya tersemat satu nama yaitu kamu" cegah Arsen seraya memeluk tubuh istrinya dari belakang dan tanpa sengaja air matanya menetes di bahu Alisya.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku hikss, aku tak bisa hidup tanpa kalian" pinta Arsen sambil menangis.


Alisya menutup matanya mencoba menetralkan amarahnya. Alisya sangat yakin kalau suaminya tak mungkin mengkhianatinya, tapi hatinya sulit sekali di kendalikan.


"Lepas honey" pinta Alisya.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu memaafkanku" ujar Arsen.


"Tapi kamu memelukku terlalu erat, membuatku sesak" ketus Alisya.


"Maaf baby, aku takut kamu lari lalu pergi meninggalkanku" ucap Arsen sambil melerai pelukannya.


Arsen membalikkan tubuh Alisya, sehingga posisi Alisya kini menghadap dirinya.


"Apa kamu cemburu hmm" ucap Arsen sambil mengelus lembut pipi istrinya.


"Tidak, mana ada aku cemburu, secara kamu sudah sangat bucin kepada ku" kilah Alisya.


"Ck, tidak usah bohong nyonya, kalau cemburu bilang saja kenapa harus jual mahal seperti itu" goda Arsen memeluk istrinya sambil mengecupi pipi chubby Alisya.


"Sudah ih, aku harus ke bawah... Kasihan Reva sama Reynand menjaga ketiga bayi itu" cegah Alisya sambil menahan wajah suaminya yang ingin menciumnya.


"Bilang dulu, kalau kamu sudah memaafkanku" paksa Arsen.


"Tergantung kalau itu mah" dengus Alisya. "Aku tak menyangka ternyata suamiku cenggeng juga" cibir Alisya.


Arsen menghela nafas sabar dan melepas istrinya. Arsen mengekor di belakang Alisya beranjak dari kamarnya menemui anak-anaknya.


"Mama ngapain saja sih, kenapa lama sekali, meleka dali tadi nangis, untung ada bibi yang kasih meleka susu" dumal Reva saat melihat mamanya datang.


"Maaf sayang" sahut Aliysa.


Alisya mengambil alih dot yang ada di tangan putrinya. Sedangkan Reynand tengah asik memegang dot sekaligus yang sedang di sesap oleh Revan dan Ravin.


"Reva" panggil Aliysa.


"Iya mama" sahut Reva.


"Mulai besok setiap pulang sekolah kamu harus ke kantor papa" perintah Alisya.


"Kenapa halus ke kantol papa" tanya Reva bingung.


"kamu harus awasin papa, agar tak di ambil sama tante badut itu" jawab Alisya.


Alisya sengaja menyuruh putrinya untuk pergi ke kantor Arsen, ia percaya kalau suaminya itu tidak akan berani berkutik jika sudah di jaga oleh putrinya itu.


Bukan Alisya tak percaya dengan suaminya, tapi bagaimana pun seorang pria pasti akan luluh jika di suguhkan yang enak-enak bukan, ibarat kucing di kasih ikan asin pasti akan di embat juga. Apa lagi sekarang Alisya masih tidak bisa di sentuh olehnya.


"Ada bayalannya nda?, kalau gelatisan Leva nda mau" tawar Reva.


"Kamu ini kenapa mata duitan sekali sih" kesal Alisya.


"Nda ada yang gelatis mama. Kalau mama nda mau ya udah nda apa-apa, Leva mending pulang ke lumah Ley aja" ucap Reva santai.


"Yasudah nanti mama kasih kamu uang, tapi kamu harus janji jagain papa" ucap Alisya berdecak. Putrinya memang terkenal matrealistis.


Arsen menghela nafas panjang, sekarang pergerakannya di awasi oleh putrinya sendiri.


Arsen menatap tajam ke arah Reynand, Reyanand menjulurkan lidahnya meledek Arsen yang habis di omelin Alisya.


"Dasar setan kecil itu suka sekali membuat ulah" kesal Arsen dalam hati.


Arsen menahan tawa mendengar keluhan putrinya. Meskipun begitu putrinya bisa di andalkan.


...****************...


Hari berlalu begitu cepat, hari ini kebetulan hari weekend. Hari dimana Reva janjian untuk pergi bersama Nino untuk menjalankan misi mendekati Dewi karyawan Alisya.


Pukul sembilan pagi Nino datang ke rumah Arsen untuk menjemput Reva.


"Tumben, weekend begini kamu datang kemari No" ucap Alisya melihat kedatangan Nino ke rumahnya.


"Saya ingin menjemput nona Reva nyonya" jawab Nino.


"Memangnya kalian mau kemana?" tanya Alisya mengerutkan dahinya.


"Mau jalan-jalan ke taman hiburan nyonya, sebelumnya saya sudah janjian sama nona Reva" jawab Nino. Alisya mengangguk mengerti.


"Sebentar saya akan panggilkan Reva terlebih dahulu" ucap Alisya


Pada saat berbalik Alisya melihat putrinya yang sudah berdandan rapih turub dari tangga.


"Om Nino sudah datang telnyata" ucap Reva.


"Gimana sudah siap belum non" tanya Nino.


"Leva sudah siap om" jawab Reva


Om nino panggil Leva saja gak usah pakai non, bial kita tambah aklab" ujarnya. Nino mengangguk mengerti.


Reva menghampiri mamanya untuk berpamitan.


"Kalian berdua mau kemana" tanya Arsen yang bari saja muncul dari dapur.


"Lahasia, Leva kan sudah pelnah bilang sama papa kalau Leva ada ulusan sama om Nino" jawab Reva.


"Papa nda kasih kamu ijin, jadi hari ini kamu harus di rumah" tegas Arsen.


Reva mendengus kesal lalu mendudukan tubuhnya ke sofa.


"Biarin saja honey, kenapa harus di larang sih" ucap Alisya.


"Tidak, mereka merencanakan sesuatu yang entah kita sendiri tidak tahu apa yang mereka rencanakan, kalau kalian mau pergi papa harus ikut" kekeuh Arsen.


"Lencana apa, Leva hanya ingin pelgi jalan-jalan sama om Nino, papa olang tua di lumah saja jaga kembal, kasihan mama ngasuh meleka sendili" sahut Reva tak mau kalah.


Alisya pusing melihat perdebatan antara ayah dan anak itu.


"Sudah sana kalian pergi, ngga usah hiraukan papa" titah Alisya jengah.


"Telima kasih mama, mama memang yang telbaik" ucap Reva girang.


Reva menyalami mamanya dan juga Arsen, begitu juga Nino...dia juga pamitan sekaligus minta ijin pada mereka berdua karena mengajak putrinya keluar.


"Kita langsung ke lestolan mama saja jemput onty Dewi om" usul Reva ketika sudah duduk di dalam mobil sambil jok kemudi.


"kamu sudah bilang sama onty Dewi belum? Nanti kalau dia bolos kerja terus di marahi mama kamu bagaimana" tanya Nino.


"Nda usah bilang, kita culik onty Dewi langsung saja, nanti masalah mama bial jadi ulusan Leva" ucap Reva jumawa.


Nino menepuk keningnya, dia kira Reva sudha bilang sama Dewi kalau ingin mengajaknya pergi.


Sementara di rumah, Arsen sedang merengek seperti anak kecil ke istrinya.


"Baby, kenapa kamu ijinkan mereka pergi, kita harus susul mereka sekarang" rengek Arsen sambil mondar mandir membuat Alisya pusing melihatnya.


"Biarin saja, toh Reva perginya sama Nino bukan sama orang lain" sahut Alisya.


"Tapi kemarin aku dengar mereka menyebut nyebut nama Dewi, baby, pasti ada yang sedang mereka rencanakan" ucap Arsen.


"Hah? Dewi siapa? Apa mungkin mbak Dewi yang ada di restoran?" tanya Alisya kaget.


"Aku tidak tahu, maka dari itu lebih baik kita menyusul mereka sekalian kita jalan-jalan" ajak Arsen.


"Kamu ini sembarangan saja, kasihan anak-anakmu kalau di ajak keluar panas-panas begini" tolak Alisya.


Alisya pusing mendengar suaminya yang terus mengoceh, suaminya itu bukan khawatir karena Reva pergi sama Nino, Tapi Arsen kepo dengan rencana mereka berdua, sungguh suaminya seperti emak-emak bukan.


.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Gift


Happy reading guys🙏