Baby Girl

Baby Girl
S2~5



Kini giliran Erik yang masuk kedalam ruangan Reva.


Erik duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang sambil menciumi tangan Reva yang tak terpasang infus.


"Assalamuailaikum putri papi, putri papi yang hebat dan kuat, sadar yuk sayang, kami semua rindu sama Reva, kangen celotehan Reva yang selalu membuat suasana menjadi ramai.


"Hai girl, apa kamu masih ingat, dulu ketika kamu kecil papi pernah bilang, kalau papi akan membuatkan kantor biro jodoh untukmu, nanti kalau Reva sembuh papi janji akan membuatkan kantor itu untukmu. bukankah waktu itu kamu berhasil menjodohkan aunty Dewi dengan om Nino, berkat kamu akhirnya mereka menikah dan di karuniani anak, pasti kamu juga bisa mencarikan orang lain jodoh seperti mereka." ucap Erik sambil menangis sekaligus tertawa mengingat tingkah konyol putrinya dulu ketika masih kecil.


Erik memgusap pipi putrinya yang masih setia memejamkan matanya.


"Maafkan papi sayang, maafkan papi yang dulu sempat tak mengakuimu, tapi sekarang papi sangat menyayangimu, Andai saja papi bisa menggantikan posisimu saat ini, pasti papi sudah menggantikannya demi kamu, Apapun masalah yang sedang Reva hadapi sekarang, papi berharap Reva bisa sabar dan selalu kuat menghadapinya.


Meskipun tak ada sahutan dari putrinya, Erik terus mengajaknya berbicara sambil sesekali menghapus air matanya.


Sampai sekarang Alisya belum menceritakan masalah putrinya sama Erik. mereka sepakat untuk fokus dengan kesembuhan Reva terlebih dahulu.


Ceklek.


Erik keluar dari ruangan tersebut dengan mata yang sembab.


"Kalian pulanglah dulu, biar aku yang menunggunya di sini" kata Erik.


Alisya menggelengkan kepalanya.


"Benar kata Erik sayang, besok kita kembali lagi kesini, kasihan Gavin pasti mencari keberadaan mu" ucap Arsen memberi pengertian kepada Alisya.


Arsen juga khawatir dengan keadaan istrinya, pasalnya sampai sekarang Alisya belum mau makan malam.


"Besok pagi kita bisa kesini lagi menggantikan Erik" imbuhnya


Alisya menghela nafas berat, lalu menganggukkan kepalanya setuju, dia juga tidak boleh egois, karena di rumah masih ada Gavin yang membutuhkan dirinya.


"Kita pulang dulu, besok pagi kami akan kesini lagi" pamit Arsen kepada Erik.


"Iya hati-hati, kalau ada perkembangan aku akan mengabari kalian" kata Erik.


Arsen mengangguk setuju lalu berjalan bersama Alisya meninggalkan rumah sakit.


"Hubby" panggil Viona sambil menatap suaminya yang terlihat kacau.


"Aku tak apa, pulanglah sama Ethan, aku akan di sini menunggu Reva sadar" kata Erik sambil mengusap pipi istrinya.


"Aku akan di sini menemanimu" ucap Viona.


"Tidak, dokter hanya memperbolehkan satu orang yang masuk ke dalam ruangan" sahut Erik tak setuju.


"Tapi aku bisa menunggu di luar, atau menyewa kamar kosong di sini" kekeuh Viona.


"Kali ini aja nurut ya sayang, aku tak mau kamu sakit" ucap Eri lembut.


"Baiklah, nanti aku akan menyuruh asistenmu untuk membawakan baju ganti serta makanan untukmu" ucap Viona.


Erik mengangguk sambil tersenyum, lalu mengecup kening istrinya.


"Hati-hati di jalan, maaf tak bisa menemanimu tidur malam ini" ucap Erik.


Viona memeluk tubuh suaminya sebentar, lalu melepaskannya.


"Jaga mami boy, papi di sini dulu jagain kak Reva" ucap Erik kepada putranya.


"Kabarin Ethan kalau ada apa-apa sama kak Reva" kata Ethan.


"Iya, nanti papi akan kabarin kalian" ucap Erik.


Meskipun beda ibu, tapi Ethan sama Reva saling menyayangi, karena Reva selalu mengajak adik-adiknya untuk bermain.


...****************...


"Mama, kak Leva kemana? kenapa Gavin nda lihat kak Leva" tanya Gavin di sela-sela makan paginya.


"Kak Reva sedang tidak di rumah sayang" jawab Alisya.


"Maksud mama kak Leva sedang pelgi" tanya nya lagi.


Alisya bingung menjelaskannya, kalau ia bilang Reva sedang di rumah sakit, pasti Gavin akan sedih, karena di banding kakak nya yang lain, dia lebih dekat dengan Reva, terkadang dia juga ikut Reva nongkrong bersama teman-temannya, dan Reva tidak malu membawa adiknya.


"Ini nda bisa di bialkan, pasti kak Leva sedang libulan sama kak Blian" gerutu Gavin.


Alisya diam saja tak menjawab ocehan putranya.


"Mama ini dali tadi di ajak ngomong malah diam saja" omel Gavin.


"Ada apa boy, kenapa masih pagi sudah marah-marah hmm" tanya Arsen yang baru saja gabung di meja makan.


"Gavin mau telpon kak leva papa, Gavin mau suluh kak Leva jemput Gavin, Gavin mau ikut Kak Leva libulan" ucap Gavin.


Arsen mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.


"Kak Reva bukan pergi liburan boy, tapi kak Revanya sedang sakit di rawat di rumah sakit" jelas Arsen memberitahu putra bungsunya itu.


"Kak Leva sakit?" tanya Gavin memastikan.


Arsen mengangguk mengiyakan.


"Sakit apa, kenapa kak Leva nda bilang sama Gavin kalau Kak Leva sakit" ucap Gavin dengan mata berkaca-kaca.


Alisya mengusap punggung putranya, guna menenangkan putranya agar tak menangis.


Huwaa...... " tangis Gavin pecah.


"Kak Levana Gavin nda boleh sakit, nanti siapa yang akan kasih Gavin uang jajan lagi, hiksss... hiksss," ucap Gavin sambil menangis di pelukan papanya.


"Ck, dasar bocil cengeng, nanti kak Ravin kasih uang" ejek Ravin.


"Nda mau, kak Lavin pelit, Gavin mau sama Kak Leva aja" ketus Gavin.


Ravin dan Gavin seperti tikus dan kucing, mereka tak pernah akur.


"Jangan nangis lagi ya, papa sama mama mau ke rumah sakit, Gavin mau ikut ngga?" tawar Arsen.


"Gavin halus ikut, Gavin mau jagain kak Leva" ucap Gavin sambil menarik ingusnya.


"Kalau gitu jangan nangis lagi, nanti papa tinggal kamu" ucap Arsen.


"Ini ail matana yang nda mau belhenti papa" seru Gavin.


"Alasan saja, bilang aja cengeng" timpal Ravin.


Gavin yang kesal karena terua di ejek, dia melepas sandalnya lalu di lemparnya mengenai kepala Ravin.


"Awww...." teriak Ravin memegangi kepalanya.


"Bocil, kamu bener-bener ya" pekik Ravin.


"Sukulin, siapa suluh ejek-ejek Gavin" ejek Gavin sambil menjulurkan lidahnya.


Alisya yang sedang pusing malah tambah pusing melihat putranya yang malah berantem.


"Ravin, selesaikan sarapanmu, setelah itu langsung berangkat ke sekolah, mama pusing melihat kalian pada berantem" tegas Alisya.


"Iya ma" ucap Ravin patuh.


Ravin melototkan matanya menatap Gavin penuh permusuhan, Gavin juga tak mau kalah, meniru apa yang Ravin lakukan.


"Ravin" panggil Arsen dengan suara baritonnya.


"Iya pa, ini Ravin mau berngkat" ucap Ravin takut.


Ravin berdiri dari tempat duduknya, lalu pamitan kepada kedua orang tuanya.


"Ayo Chel kita berangkat" ajak Ravin.


"Ayo" sahut Rachel sambil mengelap mulutnya menggunakan tissu.


Mereka pergi berdua menggunakan mobilnya, sedangkan Revan dari tadi hanya diam saja, entah apa yang sedang pria itu pikirkan.


Revan berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motornya.


Bersambung


Happy reading guys🙏


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏