
Setelah Reva dan Reynand pergi dari ruangan Siskan, David menemui dokter yang selama ini merawat Siska.
David sudah memikirkan saran dari cucunya itu, apa salahnya dia mengikuti saran cucunya siapa tahu dengan Siska dekat dengan keluarga akan membuat Siska cepat pulih.
"Ada apa tuan David menemui saya? apa ada sesuatu terjadi dengan nyonya Siska tuan" tanya sang dokter.
"Saya ingin merawat istri saya di rumah dok, bagaimana menurut dokter?" tanya David mencoba meminta saran kepada sang dokter.
"Bisa saja tuan kebetulan kondisi nyonya Siska juga sudah ada perubahan, Nyonya Siska sudah tidak mengamuk lagi jika di temui seseorang, tapi tuan tetap harus rutin membawa nyonya Siska kontrol ke psikiater dan jangan sampai lupa memberikan obat ke nyonya Siska" sahut sang dokter.
"Baik dok, lalu kapan saya bisa membawa istri saya pulang"
"Lusa tuan bisa membawa nyonya Siska pulang, tunggu hingga kondisi nyonya Siska membaik"
David pun mengangguk setuju, pasalnya Siska baru saja siuman, jadi dia perlu di rawat untuk beberapa hari kedepan agar kondisinya kembali stabil.
Usai berbicara dengan dokter David kembali ke ruang rawat Siska, terlihat Siska sedang terlelap.
"Istirahatlah sayang, lusa aku kan membawamu pulang kerumah, aku sangat senang karena akhirnya kamu akan kembali tinggal bersama kita semua" ucap David sambil mengelus kepala Siska dengan sayang.
David membiarkan Siska terlelap, dia memberikan kabar bahagia ini kepada kedua anaknya serta cucunya.
Mereka sangat senang mendengar kabar baik dari David, mereka juga tidak sabar ingin menyambut kepulangan Siska.
"Lihatlah sayang, bahkan mereka sudah tidak sabar menyambut kepulanganmu" David terkekeh sambil mengajak ngobrol Siska yang terbuai dia alam mimpinya.
*
*
Dua hari berlalu, Reva buru-buru menuruni tangga, ia sudah tidak sabar ingin pergi kerumah Erik menyambut kedatangan sang nenek.
"Kamu mau kemana kak? kenapa buru-buru seperti itu" tanya Alisya yang melihat putri sulungnya menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
"Reva hampir telat mama, sebentar lagi nenek Siska mau sampai di rumah papi Erik" sahut Reva membuat Alisya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.
"Kau pergi di antar sopir saja, mama takut ngebut lagi seperti waktu itu" ucap Alisya membuat Reva mencebik kesal.
"Baiklah ma, Reva pergi sama sopir aja kalai gitu" kata Reva sambil salim kepada mamanya.
"Dahh... ma" pamit Reva sambil berlari kecil keluar dari rumahnya.
Alisya kembali membereskan mainan Gavin yang berserakan di lantai, Dan menaruhnya kembali ke dalam keranjang mainan Gavin.
"Mama, kak Leva kemana" tanya Gavin yang baru saja datang dari taman belakang.
"Kak Reva pergi ke rumah papi Erik, kenapa?" sahut Alisya lalu bertanya kepada Gavin.
"Kenapa kak Leva nda ajak Gavin?, Gavin nda like ah"
"Kenapa kak Reva harus ngajak kamu" tanya Alisya bingung.
"Tentu saja halus ajak Gavin, Gavin kan ingin main ke rumah uncle Elik mama" sahut Gavin.
"Tidak boleh, nanti kamu ngerusuh disana" larang Alisya.
"Semua olang selalu saja bilang Gavin tukang lusuh, nanti kalau Gavin belubah jadi olang kalem semuana pada bingung, jadi selba salah hidup Gavin"
Alisya mengulum senyum geli mendengar keluhan Gavin, memang semua orang akan di buat pusing ketika Gavin berulah, tapi kalau dia diam kakaknya akan menggoda Gavin supaya rumah menjadi ramai.
"Lebih baik Gavin naik motol balu saja pelgi ketaman" gumam Gavin sambil melangkahkan kaki kecilnya menuju ke garasi untuk mengambil motor barunya yang baru saja di beliin oleh Revan.
Gavin menaiki motor elektrik tipe Desmosedici GP 12V, motor ini di peruntukan untuk anak usia diatas 3th.
Bip
Bip
Bip
Bunyi klakson Gavin meminta penjaga gerbang untuk membukakan pagarnya.
"Den Gavin mau kemana naik motor" tanya sang penjaga rumah.
Ngadi-ngadi nih bocah, mana mungkin nyonya Alisya mengusir anaknya.
"Buluan buka, kenapa malah bengong begitu" pinta Gavin memaksa sang penjaga.
"Nanti kalau di marahin nyonya bagaimana" ucap penjaga rumah takut kena marah.
"sudah buluan buka, jangan banyak dlama"
Mau tak mau penjaga gerbang pun membuak pintu gerbang rumah Arsen.
"Paman punya uang tidak?" tanya Gavin.
"Punya, kenapa memangnya den?"
"Gavin utang dulu,"
Sang penjaga pun mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari saku celananya dan di berikan kepada anak majikannya itu.
"Telima kasih paman" ucap Gavin dan pamit.
Dia langsung mengendarai motornya keluar dari pekarangan rumah menuju ke taman yang ada di komplek perumahannya.
"Enaknya jalan-jalan sole sambil cuci mata" ucap Gavin yang masih fokus mengendarai motornya.
Gavin tiba di taman, terlihat ada anak cewek yang berumur tiga tahunan sedang duduk sendiri sambil melihat anak lain bermain bola.
Gavin menghentikan motornya dan berjalan menghampiri anak gadis tersebut.
"Hai cantik, kenapa kamu sendilian? kenapa kamu tidak ikut belmain belsama meleka" cerosos Gavin sok kenal sok dekat sambil mendudukan bokong di sebelah anak gadis tersbeut.
Gadis kecil itu menoleh melihat Gavin yang tengah duduk di sebelahnya.
"Aluna tidak bica main bola" sahut gadis kecil itu yang bernama Aruna.
"Bola memang pelmainan anak laki-laki, kamu anak pelempuan main boneka balbie saja" sahut Gavin mendapat anggukan dari Aruni, karena gadis kecil itu lebih suka bermain boneka daripada bermain bola.
"Kamu mau es klim nda" tawar Gavin.
"Aluna mau kak" sahut Aruna dengan malu-malu.
Gavin mengangguk lalu berdiri dan berjalan menuju ke tukang es krim.
"Jadi galau ini Gavinna, Dhea cantik, tapi Aluna juga tidak kalah cantik dali Dhea. Hufff...nanti aku tanya kak Leva aja ah" ucap Gavin.
Dia kembali menemui Aruna sambil membawa dua cup es krim di tangannya.
"Ini es klimnya buat kamu satu" ucap Gavin sambil memberikam satu cuo es krim kepada Aruna.
"Telima kasih" ucap Aruna sambil tersenyum manis menatap Gavin.
Gavin membalasnya dengan mengangguk kecil.
Sementara Alisya di buat pusing mencari keberadaan Gavin, yang di cari malah asik menikmati es krim dengan di temani oleh seorang gadis kecil yang baru saja ia temui.
"Reva.. Ravin.. Rachel... tolong bantu mama cari adik kamu" Alisya memanggil semua nama anaknya.
Alisya sudah mencari kesetiap ruangan yang ada di rumah itu namun tak menemukan Gavin.
"Ada apa ma" sahut mereka kompak.
"Adik kamu hilang, bantu mama mencarinya" ucap Alisya dengan perasaan takut, ia takut anaknya benar-benar hilang.
"Jangan bercanda ma, mana mungkin si Gavin hilang, mama sudah cari ke kamarnya belum" Ravin tak percaya kalau adiknya hilang.
"Mama sudah mencarinya namun tidak ada di kamarnya Vin" sahut Alisya.
Mereka bertiga akhirnya berpencar mencari keberadaan Gavin kesetiap sudut rumah.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏