Baby Girl

Baby Girl
S2~83



"Huwaaa....papah, kita halus susul kak Leva sekalang papah, kalau kak Leva nda pulang nanti siapa yang ngasih uang Gavin" tangis Gavin pecah meminta papahnya untuk menyusul kakaknya yang sedang bulan madu dengan Reynand.


"Hai, kak Reva sama kak Rey hanya bercanda boy, minggu depan Kak Reva sudah pulang, lagian masih ada papah yang bisa memberimu uang" rayu Arsen agar putranya berhenti menangis.


"Ngga mau, Gavin mau susul kak Leva sekalang" kekeuh Gavin.


Arsen menghela nafas panjang, menantu sama putri sulungnya memang kurang ajar, giliran Gavin sudah menangis mereka berdua langsung menghilang.


Gavin terus menangis minta nyusul kakaknya, dia takut kalau kakaknya benar tidak akan pulang.


"Berisik Gav ah, kamu kira kak Reva di sedang di bogor bisa langsung di samperin, kak Reva itu sedang berada di negara J Gavin, astaga masak iya kita mesti nyusul kesana" ucap Ravin frustasi dengan tingkah adiknya.


"Papah kan banyak duit, masak nda bisa susul kak Leva ke negala J, slurrrppp..." sahut Gavin sambil menarik ingusnya agar tidak keluar.


"Bisa saja, tapi kan ngga sekarang juga atuh Gavin, nu bageur, nu kasep" sahut Ravin gemas.


Sesaat Gavin menghentikan tangisnya ,dia menatap kakanya sambil mengerutkan dahinya.


"Apa?" tanya Ravin yang di tatap oleh adiknya.


"Kak Lavin ngomong apa? Gavin nda ngelti, bageul apaan?" tanya Gavin sambil mengusap ingusnya menggunakan kaos papahnya.


Membuat Arsen menghembuskan nafas sabar, dia malas negur putranya nanti malah ngereog.


"Kak Ravin nda tahu artinya Gav" kata Ravin jujur , dia hanya copy paste ucapan temannya saja.


"Kalau nda tahu altinya kenapa bicala begitu hah, nda ada otakna emang omel Gavin sedikit terlupakan masalah Reva.


Terlihat Alisya baru saja datang menghampiri suami serta anak-anaknya., dia melihat wajah Sembab Gavin.


"Gavin nangis kenapa sayang" tanya Alisya mengambil alih putranya dan mendudukannya di atas kedua pahanya.


"Huwaaa...mamah, Gavin mau susul kak Leva kata kak ley meleka nda mau pulang kesini lagi. Sakit sekali pelasaan Gavin dengelna" raung Gavin tidak jelas.


Alisya yang bingung pun menatap suaminya seolah minta penjelasan.


"Anakmu cuma di kerjain sama mereka mah, tadi Reva menghubungi nomer kamu tapi tidak kamu angkat, makanya tadi Reva menghubungi nomor papah" jelas Arsen.


"Tadi aku sedang di kamar mandi pah, makanya tidak tahu kalau ada telpon dari Reva" ucap Alisya, Arsen mengangguk dan mengelus kepala istrinya dengan sayang.


Kini Alisya beralih menatap putranya yang masih sesegukkan.


"Jangan nangis, kamu ini cuma di bohongi sama kak Reva aja langsung percaya" ucap Alisya lembut sambil mengusap mata Gavin yang basah karena air mata.


"Kalau nanti benelan nda pulang gimana" tanya Gavin.


"Nanti kita susul, kalau kak Revanya ngga pulang" ucap Alisya supaya putranya berhenti nangis.


"Janji" ucap Gavin sambil menyodorkan jari kelingkingnya kepada Alisya.


"Iya mamah janji" jawab Alisya sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking putranya.


Akhirnya Gavin berhenti menangis, dia menduselkan wajahnya ke dada mamahnya karena mengantuk, dan tak lama ank itu tertidur di pangkuan mamahnya.


"Lihatlah pah, kalau sedang tidur begini bawaannya adem aja, tapi kalau lagi melek ada aja tingkahnya yang bikin kepala pusing" ucap Alisya sambil memperhatikan wajah putranya yang terlelap.


"Iya, sebegitu sayangnya dia sama kakaknya, sampai nangis takut kakaknya ngga pulang" sahut Arsen terkekeh sambil menoel noel pipi gembil putrnya.


"Sini sayang biar aku yang gendong ke kamarnya" ucap Arsen mengambil alih tubuh Gavin dari pangkuan istrinya.


Dia menggendong putranya yang terlelap dan membawanya menuju ke kamarnya.


"Kalian berdua masuk ke kamar sekarang, besok kalian harus sekolah jangan sampai kalian telat bangun" ucap Alisya.


"Baik mah" ucap mereka berdua patuh.


Rachel dan Ravin beranjak dari sofa yang tadi ia duduki, dan naik lantai dua menuju ke kamarnya masing-masing.


Sedangkan di posisi Reva dan Reynand mereka berdua tertawa puas karena sudah berhasil membuat Gavin menangis.


"Hahahhaha...pasti si Gavin sedang ngamuk-ngamuk sama papah"


"Dan pasti om Arsen kuwalahan menenangkan Gavin" sahut Reynand yang masih kagok panggil papah mertua.


Mereka berdua tertawa keras sambil guling-guling dia atas kasur.


"Haduhhh....gara-gara menertawakan Gavin perutku sampai sakit honey" ucap Reva sambil memegangi perutnya.


"Sudah lebih baik kita tidur jangan menertawakan adikmu terus" Kata Reynand setelah bisa menghentikan tawanya.


"Atau kita mau olah raga dulu baby" goda Reynand sambil menaik turunkan alisnya.


"Gaskeun pak..." sahut Reva.


Bak gayung bersambut Reynand langsung menindih tubuh istrinya dan me lu mat bibir istrinya dengan begitu rakus.


(Akhirnya terjadilah adegan iya-iya, lanjutkan imajinasi kalian guys othor males bikin adegan yang vulgar-vulgar, reviewnya dua hari dua malam soalnya).


Mereka berdua melewati malas panas hingga dini hari, Reynand seolah tak pernah puas menggempur tubuh istrinya, dia sudah merasa candu dengan tubuh istrinya hingga membuatnya ingin lagi dan lagi.


Reva tepar dalam pelukan suaminya. Mereka berdua tertidur dengan saling berpelukan satu sama lain.


*


Pukul 10 pagi Reynand membuka matanya, dia merenggangkan otot tubuhnya yang terasa pegal-pegal akibat aktivitasnya semalam.


Dia melihat ke samping ternyata istrinya sedang terlelap sambil memunggunginya.


Dengan perlahan Reynand turun dari atas ranjang, dia berjalan menuju ke kamar mandi.


Keluar dari dalam kamar mandi Reynand melakukan sedikit olahraga agar bentuk tubuhnya tetap ideal.


Selesai berolahr aga Reynand membangunkan istrinya.


"Sayang bangun kamu belum makan pagi" ucap Reynand menepuk nepuk pipi istrinya.


Reva menggeliat karena merasa ada yang mengusik tidurnya.


"Jam berapa honey" tanya Reva sambil menguap.


"Udha mau jam 11 siang sayang, kita mandi dulu setelah itu makan pagi dan langsung pergi jalan-jalan, dari kemarin kita cuma di kamar saja tidak jalan-jalan keluar" ucap Reynand.


"Itu kan emang mau kamu honey, dari kemarin kamu terus menggempurku tanpa ampun" kesal Reva.


"Tubuhmu sudah membuatku candu sayang" ucap Reynand sambil mengerlingkan matanya.


Reva mencebikkan bibirnya sebal, dia bangung sambil membawa selimut untuk membungkus tubuh polosnya menuju ke kamar mandi.


Dia ingin mmebersihkan tubuhnya yang sudah lengket akibat pertempuran semalam.


Reva keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang di lilitkan di d4d4nya hingva sebatas paha.


Reynand mendekati Reva lalu memeluknya dari belakang.


"Lepas honey, aku mau ambil baju dulu" pinta Reva.


"Tidak mau, aku ingin memeluk tubuhmu dan menghirup aroma tubuhmu yang begitu memabukkan honey, aroma tubuhmu bagaikan morfin yang membuatku candu" gombal Reynand sambil mencium leher jenjang istrinya.


Bersambunh


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏


Happy reading guys🙏