Baby Girl

Baby Girl
BAB 95



"Oma nda kasihan ya sama Leva, Leva kan masih kecil oma" ucap Reva dengan wajah memelas.


"Tidak ada kecil-kecilan, kamu juga salah jadi kamu harus bantu papa beresin semua kekacauan ini" sela Arsen sebelum bunda nya luluh dengan tipu muslihat putrinya itu.


"Lihat oma, papa itu kejam sekali sama Leva, masak Leva masih kecil di suluh belsih-belsih, ini namanya penindasan anak di bawah umul" ucap Reva lebay, dia masih terus berusaha mencari pembelaan dari omanya.


Arsen melongo mendengar aduan putrinya, bagaimana bisa dirinya di katai menindas anak di bawah umur. Padahal Arsen hanya ingin mengajarkan putrinya tanggung jawab dengan apa yang sudah dia perbuat.


Belinda Terkekeh, cucunya benar-benar pinter berkata-kata.


Tiba-Tiba Alisya keluar dari lift setelah selesai membersihkan diri, dia mencari suaminya karena belum juga naik ke kamarnya.


Reva menepuk keningnya. "gawat ada mama, pasti Leva nda akan bisa lolos dali hukuman" lirih Reva yang masih di dengar oleh Arsen dan juga Belinda.


Mereka berdua menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawanya agar tidak pecah.


"Ada apa bund, kenapa dapurnya berantakan seperti kapal pecah" tanya Reva mendekati mertuanya.


Belinda menuntun tangan Alisya, dia tak mau menantunya tergelincir."Hati-hati sayang, lantainya licin karena tepung" peringatnya kepada Alisya.


Alisya menatap ke bawah lantai."kenapa bisa ada banyak tepung di sini" tanya Alisya.


Alisya mengikuti arah mata Belinda, Alisya geleng-geleng kepala melihat putri dan suaminya sudah tak berbentuk, seluruh badan nya sudah putih semua karena tepung.


"Ini semua pasti ulah kalian kan" tuduh Alisya sambil menatap kedua tersangka dengan tatapan intimidasi.


"Bukan aku sayang, tapi Reva...kan dari tadi dia yang sibuk membuat kue di dapur" bohong Arsen, karena Arsen tak mau kalau sampai di suruh tidur di luar.


Reva melototkan matanya tak terima. "Bukan ma, papa duluan yang mengolesi mukana Leva pakai tepung. "sahut Reva tak mau di kambing hitamkan."Papa nda boleh bohong pa...Leva nda like sama papa kalau begitu" lanjutnya.


Alisya pusing mendengar mereka yang saling menyalahkan. "Kalian berdua harus membersihkan semua kekacauan ini, setelah itu bersihkan tubuh kalian" tegas Alisya tak mau di bantah. sambil mendudukan bokongnya di kursi yang ada di meja makan.


Mereka berdua langsung berdiri, tak ada yang berani membantah perkataan Alisya. dengan patuh mereka berdua membersihkan lantai.


"Sungguh malang sekali nasibna Leva,, masih kecil sudah di suluh belsih-belsih" drama Reva sambil mengepel lantai.


Arsen selalu di buat melongo dengan kata-kata ajaib yang keluar dari mulut putrinya itu.


"Sudah cepat bersihkan, jangan banyak drama kamu" sahut Arsen.


Reva memanyunkan bibirnya kesal. "Halusna papa yang beltanggung jawab bukan Leva" dumal Reva.


Butuh waktu setengah jam akhirnya mereka selesai membersihkan lantai.


"ini minum" titah Alisya sambil memberikan minuman kepada Reva dan Arsen.


Mereka berdua menerima gelas yang di berikan Alisya kepadanya. "Telima kasih mama" usap Reva.


"Terima kasih baby" ucap Arsen.


Mereka berdua meminum minuman tersebut hingga tandas tanpa sisa.


"Sekarang Reva mandi sama papa ya" titah Alisya, Reva menganggukkan kepalanya.


Reva merentangkan kedua tangannya minta di gendong Arsen. "Gendong Leva pa, Leva capek habis belsih-belsih" pinta Reva.


Arsen gemas dengan tingkah putrinya, padahal Reva hanya membersihkan sedikit saja, banyakan juga dirinya tapi ngeluhnya udah kek bersihin satu ruangan.


Arsen menggendong tubuh ringan putrinya seperti koala. "Ayo kita mandi, setelah itu kita baru makan malam" ajak Arsen.


Arsen membawa Reva ke kamarnya yang berada di lantai dua. Sementara mereka membersihkan diri, Alisya menyiapkan makan malam dengan di bantu Belinda.


Di sinilah keluarga Arsen berada, usai selesai makan malam mereka memilih ngobrol di ruang keluarga.


Belinda menepuk sofa di sampingnya."Kenapa bunda" tanya Alisya yang langsung duduk di sebelah mertuanya.


"Sayang, apa kalian tidak ingin mengadakan acara resepsi hmm? Setelah ijab qabul kalian tidak mengadakan acara apapun bukan," ucap Belinda.


Alisya mengeryit menatap Belinda heran. "Buat apa bunda, kan kita sudah menikah bahkan Alisya juga sedang hamil" tanya Alisya.


Alisya tak terlalu minat membuat acara-acara seperti itu, karena hanya akan membuat dirinya capek, apa lagi dengan kondisinya yang sedang hamil.


"Iya Alisya benar bund, Arsen tak mau kalau nanti Alisya kelelahan karena terlalu lama berdiri menerima banyak tamu" sahut Arsen.


Arsen menghela nafas tahu apa yang sedang bundanya pikirkan."nanti kita bikin acara tujuh bulanan Alisya saja ya bund" tawar Arsen yang tidak mau mengecewakan bundanya.


"Baiklah, kalau begitu bawa istrimu istirahat nak, tidka baik ibu hamil tidur terlalu malam, biar Reva nanti bunda yang akan menidurkannya."titah Belinda."ini susu nya di minum dulu sayang" imbuhnya.


Alisya pun menurut dengan pengaturan mertuanya.


Alisya terenyuh dengan kasih Sayang Belinda kepada dirinya tak ubahnya seperti kasih sayang seorang ibu terhadap putri kandungnya sendiri.


Alisya seperti merasakan kembali kasih sayang ibunya yang tengah lama hilang.


"Terima kasih sudah mau menerima Alisya dan menyayangi Alisya" ucap Alisya setelah meminum susunya.


Belinda merengkuh tubuh menantunya.


"Bunda sudah menganggapmu seperti putri bunda sendiri sayang, jadi jangan pernah sungkan" ucap Belinda lalu melerai pelukannya.


Bagi Belinda Alisya merupakan menantu idaman, Bahkan terkadang Belinda lebih membela menantunya ketimbang Arsen putranya sendiri.


*


"Honey, apa kita tidak terlalu jahat sudah memenjarakan Erik?, aku kasihan pada Viona dia sedang mengandung, aku pernah merasakan mengandung tanpa ada suami dan itu rasanya berat, aku juga kasihan dengan anaknya nanti" ucap Alisya sambil memeluk suaminya dan merebahkan kepalanya di atas dada Arsen.


"Kita tidak jahat sayang, Erik di hukum karena kesalahannya sendiri. Jadi itu sudah menjadi resiko untuknya" jawab Arsen. "biarkan saja dia di penjara untuk merenungi kesalahannya, siapa tahu nanti setelah keluar dari penjara dia akan berubah dan menjadi pria yang lebih bertanggung jawab" ujar Arsen


Arsen tahu hubungan pernikahan Erik dengan Viona tak cukup baik, bahkan Erik pernah menolak janin yang ada di kandungan Vio, Erik tahu semua informasi itu dari anak buahnya.


Arsen tidak akan memaafkan keluar Dinata begitu saja, Arsen tetap akan memberikan hukuman kepada mereka yang sudah berani mengusik hidupnya.


"Tidurlah baby, tak usah terlalu di pikirkan...tapi aku ingatkan sama kamu, pasti cepat atau lambat akan ada keluarga Dinata yang akan datang menemui kita untuk meminta belas kasihan."ucap Arsen memperingati istrinya.


"Bagaimana kamu tahu honey? Bahkan aku saja tak sampai berpikiran ke sana" tanya Alisya heran.


"Apa kamu pikir Siska akan terima melihat anaknya di penjara hmm" sahut Arsen.


Alisya berpikir sesaat, dia juga tak yakin kalau Siska menerima begitu saja."hufff....aku malas berurusan dengan nenek lampir itu" desah Alisya.


Arsen memencet hidung istrinya. "kamu ini kenapa jadi ngikutin Reva menyebutnya nenek lampir" ucap Arsen.


"Karena muka dia memang menakutkan honey" sahut Alisya.


Arsen mengusap usap punggung istrinya supaya cepat tidur."Terus apa kamu takut baby"tanya Arsen.


"Tentu saja tidak, percuma saja aku memilikimu bukan" sahut Alisya menyombongkan diri.


Arsen membenamkan bibirnya ke bibir istrinya agar berhenti mengoceh.


Arsen me lu matnya dengan lembut, ciuman yang tadinya biasa saja kini berubah menjadi lebih panas.


Hasrat Alisya langsung naik, mungkin karena hormon kehamilannya.


"honey, aku ingin" pinta Alisya dengan tatapan memohon setelah Arsen melepaskan tautanya.


Arsen mengusap bibir basah istrinya dengan menggunakan ibu jari."tapi aku takut nanti menyakiti anak-anak kita baby" sahut Arsen.


"Tidak akan, bukankah dokter juga mengijinkannya asal kita melakukannya dengan lembut tidak boleh kasar" kekeh Alisya.


Arsen mendudukan tubuhnya sambil bersandar di headboard ranjang.


Alisya pun ikut bangkit, dan langsung naik ke atas pangkuan suaminya. Alisya sengaja menduduki adik kecilnya yang sudah mulai mengeras.


"Sayang" panggil Arsen dengan suara yang sudah mulai berat.


"Kenapa honey" tanya Alisya pura-pura bodoh sambil terus menggoyangkan pinggulnya.


"Apa kamu sengaja menyiksaku hmm" ucap Arsen sembari kedua tangannya terlihat sudah bertengger di atas pay**ara Alisya. Arsen mer*masnya dengan begitu pelan.


Bersambung


Happy reading guys😂🙏