Baby Girl

Baby Girl
S2~2



"Kak Revaaa.... " Teriak Ravin dari dalam mobil, lantas Ravin keluar dari mobil lalu berlari menghampiri mobil kakaknya.


Begitu juga Revan, ia meninggalkan mobilnya begitu saja, Revan meninggalkan mobilnya di tengah jalan lantaran ingin segera menyelamatkan kakaknya. Ia takut kalau mobil kakaknya meledak.


Ramai suara klakson akibat mobilnya terhalang oleh mobil Revan, tapi Revan tak memperdulikan itu semua, yang ada di otaknya saat ini hanya keselamatan kakaknya.


Sedangkan di dalam mobil, Reva seolah tuli, dia tak bisa mendengar apa-apa lagi.


Ia mencoba keluar dari mobil, tapi tubuhnya seolah tak lagi bisa di gerakan.


Kaki Reva terjepit jok mobil, dengan wajah berlumuran darah akibat pecahan kaca yang menegenai wajahnya, kepala Reva juga mengalami benturan akibat mobil yang terguling.


Reva akhirnya pasrah di dalam mobil.


"Selamat tinggal" lirih Reva sambil tersenyum lalu dunianya langsung gelap, Reva tak sadarkan diri dengan keadaan yang menyedihkan.


Ketika sudah dekat dengan mobil kakaknya, Ravin langsung melihat keadaan kakaknya dari jendela mobil.


"Kak Reva, bangun kak, ini Ravin kak" panggil Ravin degan tangan bergetar Ravin menempelkan jarinya di hidung Reva guna mengecek kakaknya masih bernafas atau tidak.


Ravin merasa sedikit lega karena kakaknya masih bernafas.


Ravin membuka pintu mobil Reva dengan di bantu orang-orang yang sudah mengerumuni mobil kakaknya.


Namun ketika Ravin ingin mengangkat tubuh kakaknya ternyata tidak bisa karena kaki Reva terjepit antara kursi mobil dan setir kemudi.


"Tolong siapapun bantu saya mengeluarkan kakak saya yang terjepit" pinta Ravin dengan bibir bergetar karena air mata nya sudah menetes.


"Sabar dek, kita akan membantu mengeluarkan kakakmu" ucap pak polisi yang baru saja sampai di lokasi, lalu ia meminta Ravin untuk segera menyingkir.


Mendengar ada kejadian kecelakaan, polisi dan tim rescue langsung datang ke lokasi.


Langkah Awal yang mereka lakukan adalah mengecek keadaan korban dan mengecek ada tidaknya kebocoran dari mobil, karena jika ada kebocoran, bisa menyebabkan mobil terbakar.


Sedangkan Revan meskipun hatinya, merasa takut, panik, khawatir campur jadi satu, tapi dia mencoba tetap tenang, dia harus mencari langkah yang tepat untuk keselamatan kakaknya.


Revan menghubungi ambulance untuk segera datang ke lokasi.


Setelah memakan waktu selama dua puluh menit akhirnya tubuh Reva bisa di keluarkan dari mobil.


Mereka langsung memasukan Reva ke dalam mobil ambulan yang sudah terdapat beberapa tenaga medis untuk memberikan pertolongan pertama pada Reva.


Ravin ikut bersama mobil ambulance yang kini sedang melaju menuju ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Ravin terus menggenggam tangan kakaknya sambil terus berdoa kepada tuhan untuk keselamatan kakaknya.


Revan mengemudikan mobilnya sambil mengikuti mobil ambulance dari belakang.


"Ya Allah, tolong selamatkan kak Reva" Revan terus berdoa sambil fokus mengemudikan mobilnya.


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit lamanya, akhirnya ambulan yang membawa Reva tiba di rumah sakit, perawat mendorong brangkar Reva ke ruang UGD.


...****************...


Pyarrr...


Gelas yang di pegang Alisya jatuh begitu saja.


Deg


Alisya langsung memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


"Kamu kenapa sayang" tanya Arsen khawatir.


"Aku tidak tahu pa, tiba-tiba dadaku terasa sesak, dan perasaanku mendadak gelisah" jawab Alisya.


Arsen mengangkat tubuh istrinya ala bridal style, ia takut istrinya menginjak pecahan beling.


"Bi tolong bersihkan pecahan gelas ini, takut nanti Gavin kesini" titah Arsen kepada aang pelayan.


"Baik tuan" jawab sang pelayan.


Arsen membawa istrinya beranjak dari dapur lalu mendudukannya di sofa ruang keluarga.


"Tunggu di sini, aku akan mengambilkan minum untukmu" ucap Arsen.


Alisya mengangguk kecil, pikiran Alisya melayang memikirkan putrinya, dia belum mendapatkan kabar dari putranya yang tadi sempat menyusul putrinya.


"Mamaaa....." Teriak Rachel tiba-tiba, ia berlari menuruni tangga sambil menangis menggenggam ponsel di tangannya.


Alisya terlonjak kaget mendengar teriakan putrinya, ia menoleh melihat Rachel yang berlari menuruni tangga dengan derai air mata.


"Hati-hati sayang, nanti kamu jatuh" peringat Alisya kepada putrinya.


"Ada apa dengan kak Reva sayang, katakan sama mama nak" kata Alisya dengan bibir bergetar sambil memegang kedua bahu Rachel.


Mendengar nama putri sulungnya, pikiran Alisya sudah kemana-mana.


Bibir Rachel mendadak terasa kelu, ia tak sanggup untuk menjawab pertanyaan dari mamanya.


"Sayang jawab mama, jangan seperti ini.. ada apa dengan kak Reva" desak Alisya sambil menggoyangkan tubuh Rachel.


Arsen yang baru saja datang dari dapur bingung melihat istri serta putrinya menangis secara bersamaan.


"Ada apa ini sayang" tanya Arsen seraya meletakkan gelas di atas meja.


Alisya tak menjawab pertanyaan suaminya. ia terus mendesak putrinya untuk berbicara.


Arsen yang tak mendapat jawaban dari keduanya akhirnya mengambil ponsel putrinya dari tanganya.


Ia mengecel pesan masuk di ponsel putrinya, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa, akhirnya ia melihat history panggilan masuk, dan di sana tertera nama Revan yang baru saja menghubunginya.


Arsen yang penasaran langsung saja menekan nomor putranya, dan menghubunginya.


"Son, ada kamu menghubungi Rachel dan membuatnya menangis" tanya Arsen to the point ketika panggilannya terhubung.


"......."


"Apa? " lirih Arsen dengan tatapan yang berubah kosong.


Arsen mengakhiri panggilannya.


Lalu mengambil nafas dalam-dalam, ia harus kuat demi istrinya, kalau dia rapuh lalu siapa yang akan menguatkan istri serta anak-anaknya.


"Reva kecelakaan ma, sekarang Revan dan Ravin sedang di rumah sakit menunggu Reva." ucap Arsen ketika sudah menetralkan perasaannya.


"Apa? Reva kecelakaan?, ayo kita segera kerumah sakit pa, mama takut terjadi sesuatu dengan Alisya" ucap Alisya panik.


Arsen mengangguk.


"Rachel kamu di rumah jagain Gavin dulu ya, nanti kalau oma sudah oulang kamu bisa susul kita ke rumah sakit" kata Arsen.


"Iya pa" sahut Rachel patuh.


*


*


Sedangkan di rumah Erik.


Dia yang sedang menonton tv bersama keluarganya tiba-tiba di kagetkan dengan suara ponselnya yang berdering.


Erik melihat ponselnya ternyata Arsen yang menghubunginya.


"Hallo Ar" sapa Erik ketika sudah tersambung.


"Segera ke rumah sakit, Reva kecelakaan...aku sedang dalam perjalanan menuju kesana" ucap Arsen panik dari sebrang telpon.


Tak sempat Erik bertanya, Arsen langsung mematikan panggilannya.


Erik langsung berdiri dan mencari kunci mobilnya dengan tergesa-gesa.


"Kamu kenapa seperti orang panik begitu pi" tanya Viona.


"Aku harus ke rumah sakit sekarang, Reva kecelakaan" jawab Erik langsung berlari meninggalkan istrinya.


Yang ada di pikiran Erik saat ini hanya putrinya, ia tak memperdulikan teriakan Viona yang ingin ikut.


"Ethan cepat ikut mami, kita harus segera susul papi kamu ke rumah sakit, kak Reva kecelakaan" ucap Viona kepada putranya.


Viona langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, menyusul suaminya yang sudah lebih dulu ke rumah sakit.


Bersambung.


Kalau ada yang bilang, kenapa Reva kaget ketika tahu Arsen bukan orang tuanya padahal dulu dia manggil Arsen dengan sebutan om.


othor : waktu itu Reva masih umur tiga tahun, mana mungkin Reva paham kalau di anak tiri Arsen, dan hingga Reva dewasa tidak pernah ada yang menjelaskan status aslinya.


Othor hari ini lagi baperan, yang ngga suka ceritanya tinggal skip aja🙏


Happy reading guys🙏


jangan lupa like, koment, vote, gift🙏