Baby Girl

Baby Girl
BAB 76



Dengan penuh kasih sayang Reva tidur di sebelah mamanya, terus mengusap usap rambut mamanya, seperti seorang ibu yang tengah menidurkan putrinya.


"Cup..cup..cup mama bobo lagi ya" ucap Reva seraya melihat wajah mamanya yang agak pucat.


"Ck, sok tua,....sudah kek emak emak yang sedang berusaha menidurkan anaknya." decak Arsen dalam hati.dia gemas dengan tingkah putrinya.


Tanpa sengaja Reva yang sedang menyibakkan rambut mamanya melihat tanda merah yang ada di leher mamanya, dia yang penasaran pun memajukan wajahnya lalu mengusap tanda merah itu dengan jarinya.


"Shittt...mati aku, aku lupa kalau putriku suka kepo" batin Arsen.


"Kenapa lehel mama melah" tanya Reva. Alisya menepuk dahinya.


"Mungkin karena di gigit nyamuk sayang" jawab Alisya.


"Leva talau di gigit nyamuk ngga kayak gini" sahut Reva lagi sambil mengusap leher merah Alisya.


Belinda cekikikan melihat wajah frutasi putranya.


"Ini pasti di gigit papa kan" ceplos Reva sambil memicingkan matanya menatap Arsen.


"Tidak girl, mana berani papa gigit mama" kilah Arsen, Reva manggut-mangut percaya.


"Sudah ayo Reva berangkat sekolah, hari ini oma yang akan mengantarmu" ajak Belinda menghentikan kekepoan cucunya, bisa panjang urusannya kalau tidak di hentikan.


Reva menghela nafas seolah tak rela meninggalkan mamanya yang sedang sakit.


"Baiklah, mama Leva belangkat cekolah dulu ya" pamit Reva seraya mencium pipi mamanya.


"Hati-hati sayang, maaf ya mama tidak bisa mengantar Reva" ucap Alisya sambil mengusap pipi lembut Leva.


"No ploblem mama, macih ada oma yang akan mengantal Leva, mama istilahat aja di lumah bial cepat cembuh" sahut Reva bijak membuat Alisya tersenyum.


Reva turun dari tempat tidur mamanya, sebelum keluar dia pamit terlebih dahulu dengan papanya. Setelah itu dia keluar meninggalkan mama dan juga papanya.


Arsen duduk di tepi ranjang sambil menyibak rambut Alisya yang menutupi dahinya.


"Honey, kamu tidak berangkat ke kantor" lirih Alisya.


"Mana bisa aku ke kantor kalau istriku sedang sakit begini hmm" jawab Arsen lembut sambil melihat wajah Alisya.


"Aku hanya masuk angin biasa saja honey, nanti juga sembuh, kamu kan ada meeting pagi ini" ucap Alisya mengingatkan jadwal Arsen.


"Kamu jangan memikirkan itu, lebih baik kamu sarapan dulu ya, aku akan menyuapimu" ucap Arsen. Seperti biasa meeting akan di wakilkan ke Nino.


"Tapi aku tak lapar honey" tolak Alisya.


"Makan sedikit saja, kali ini nurut ya" bujuk Arsen. Alisya pun mengangguk. Arsen memencet tombol dekat ranjangnya, dia meminta pelayan untuk membawakan sarapan untuk dirinya dan juga Alisya.


"Tolong bawakan sarapan untuk nyonya ke kamar ya" pinta Arsen.


"baik tuan" jawab pelayan.


Arsen dengan telaten memijit kepala istrinya sambil menunggu pelayan mengantarkan makanannya.


Tok


Tok


Tok


Ceklek....pintu terbuka dari dalam.


"Ini tuan makanannya" ucap pelayan sambil menyodorkan nampan yang beri makanan dan juga minuman ke pada Arsen.


"Terima kasih bi" ucap Arsen seraya menerima nampan tersebut.


Arsen menutup pintunya kemudian berjalan menghampiri istrinya. Arsen meletakan nampan di atas nakas setelah itu dia membantu istrinya duduk sambil bersandar di headboard ranjang.


Arsen memberi Alisya minum terlebih dahulu.


Usai itu dia menyuapkan nasi ke mulut Alisya, namun belum juga masuk Alisya sudah kembali mual.


Alisya bangkit dari ranjang dan langsung berlari ke kamar mandi.


"Baby.." pekik Arsen lansgung menyusul istrinya ke kamar mandi.


Huweekk


Huwekk


Arsen memijat tengkuk istrinya, sungguh dia tak tega melihat istrinya yang terus muntah.


"Sudah" tanya Arsen. Alisya mengangguk kecil.


Arsen langsung menggendong istrinya dan membawanya ke ranjang.


Alisya tidak menyahut dia sudah lemas, energinya seolah terkuras abis


Tanpa persetujuan istrinya Arsen langsung saja menghubungi dokter keluarga.


Arsen merebahkan tubuhnya di sebelah istrinya, Arsen membawa istrinya ke dalam pelukannya lalu mengusap usap punggung istrinya, sedangkan Alisya malah mengendus ngendus aroma tubuh Arsen yang membuatnya tenang.


Tok


Tok


Tok


"Sebentar baby, mungkin itu dokternya sudah datang" ucap Arsen sambil melerai pelukannya.


Arsen meninggalkan Alisya yang manyun, istrinya tak mau lepas dari pelukannya.


Ceklek pintu terbuka, Arsen langsung menyuruh dokter untuk masuk ke dalam.


"Tolong periksa istriku, dari tadi pagi terus muntah" pinta Arsen.


"Baik tuan" jawab dokter.


Dokter mulai memeriksa kondisi Alisya. Dokter mengeryit ketika memeriksa denyut nadi Alisya.


"Kenapa dok" tanya Arsen.


"Jangan khawatir, nyonya Alisya baik-baik saja tuan" jawab dokter.


"Apa kamu bilang, istriku dari pagi muntah-muntah dan dengan entengnya kamu bilang istriku tidak apa-apa" marah Arsen.


Dokter menghela nafas sabar, dia sudah hafal dengan tabiat Arsen.


"Honey" lirih Alisya supaya suaminya itu tak marah-marah.


"Kapan nyonya terakhir datang bulan" tanya dokter. Alisya mencoba mengingat ngingat tapi lupa.


"Sepertinya sebulan yang lalu, oh my...bukankah seharusnya kamu sudah haid baby" justru Arsen yang lebih tau jadwal haid istrinya. Karena di sudah sebulan ini tak pernah absen menggempur istrinya.


"Sepertinya nyonya Alisya hamil tuan, untuk memastikannya tuan bisa membawa nyonya Alisya ke dokter kandungan." ucap dokter.


"Apa dok? Hamil?" tanya Arsen yang sadar dari keterkejutannya.


"Iya tuan, untuk lebih rinci tuan bisa membawa nyonya ke dokter spesialis kandungan. "Jawab dokter. Setelah itu dia langsung pamit meninggalkan kamar Arsen.


Arsen memeluk sambil mengecupi setiap inci wajah istrinya.


"Makasih baby, kamu sudah mau mengandung anakku" lirih Arsen di ceruk leher Alisya.


Alisya merasakan lehernya basah, dia tak menyangka kalau suaminya itu akan menangis mendengar kehamilannya.


"Kamu menangis honey, bukankah ini sudah kewajibanku untuk mengandung anakmu, anak kita" jawab Alisya seraya menangkup wajah suaminya, dia bisa melihat jejak air mata di pipi suaminya.


"Terima kasih, aku sangat menyayangimu" lirih Arsen sambil memeluk erat Alisya.


"Aku juga sangat menyayangimu honey" jawab Alisya.


Sementara Alisya dan Arsen tengah larut dalam kebahagiaan karena mendengar kabar kehamilan Alisya.


Berbeda dengan Siska yang marah-marah di restoran, memaksa ketemu dengan Alisya.


"Ada yang bisa saya bantu nyonya" tanya Dewi.


"Saya ingin bertemu dengan Alisya" jawab Siska dengan nada angkuh.


"Maaf, Nyonya Alisya hari ini tidak datang kemari nyonya." ucap Dewi.


"Jangan bohong, bagaimana mungkin dia tidak datang ke restorannya" sentak Siska.


"Bisa saja nyonya, dia pemiliknya jadi bebas saja dia mau datang atau tidak" ketus Dewi.


"Kalau begitu saya minta alamat rumahnya" Siska maksa.


"Saya tidak berani nyonya, karena itu privasi" tolak Dewi.


Dewi tidak akan memberikan alamat rumah Alisya ke sembarang orang, apalagi Dewi tidak tahu siapa Alisya.


"Aku ini neneknya Reva, jadi sudah seharusnya kamu memberikan alamatnya kepada saya" Siska tak menyerah.


"Kalau anda neneknya, seharusnya anda tahu alamat rumah cucunya" telak Dewi membuat Siska bungkam.


Bersambung


Happy reading guys🙏