
"Assalamualaikum....mami, papi, Reva yang cantik, imut sudah datang ini" teriak Reva memenuhi mansion milik Erik.
Salah satu kebiasaan putrinya yang tak pernah bisa di hilangkan, selalu berteriak jika masuk ke dalam rumahnya.
"Berisik kak, papi sama masih belum pulang" Sahut Ethan dari atas tangga.
"Terus kapan pulangnya?" tanya Reva seraya mengajak Reynand untuk duduk.
"Sebentar lagi mungkin" jawab Ethan.
"Kalau begitu kita main game aja yuk Than" Ajak Reynand.
Ethan mengangguk setuju, mereka bermain game sambil menunggu Erik pulang, sementara Reva hanya menonton Tv sambil memakan kudapan yang di buat oleh pelayan di rumah Erik.
Ethan senang jika Reva datang kerumahnya, kerna membuat dia ada temannya, lahir sebagai anak tunggal terkadang membuatnya kesepian, apalagi orang tuanya sibuk mengurus perusahaan.
Tiga puluh menit berlalu, Reva mendengar suara deru mesin mobil di luar rumah papinya. Dia menebak kalau yang datang pasti orang tuanya.
Dan ternyata dugaan Reva benar, Erik dan Viona yang masuk sambil bergandengan tangan.
"Kau di sini sayang" sapa Erik, Reva mendekat lalu mencium punggang tangan Erik dan juga Viona.
"Iya pi, Reva sudah dari tadi di sini sama Rey" Sahut Reva sambil kembali duduk di sofa dan di ikuti Erik dan Viona.
"Tumben kamu kesini sama Rey, biasanya sendiri" tanya Erik.
"Ngga tahu, dia yang ngajakin Reva kesini" jawab Reva sambil menunjuk ke arah Rey.
Kini Erik beralih melihat ke arah Reynand.
"Ada apa Rey? kenapa kalian berdua sangat mencurigakan" tanya Erik penuh selidik.
Reynand menghentikan permainan game nya, lalu dia duduk berhadapan dengan Erik.
"Rey sudah pacaran sama Reva om, dan Rey ingin segeran menikahinya" kata Rey langsung. ia memang tak punya niatan untuk berpacaran lama sama Reva, ia ingin segera menikahi Reva dan menjadikannya seorang istri.
Sudah cukup dia selama ini menunggu Reva, jadi sekarang Rey tidak akan melepaskannya lagi.
Gercep memang babang Rey guys 😂
"Secepat itukah Rey? bukankah kalian baru berpacaran" tanya Erik tak percaya mendengar ada seseorang yang ingin menikahi putrinya.
"Iya om, karena Rey tak mau kehilangan Reva, dan menurut Rey tidak perlu lama-lama, karena Rey sudah mengenal Reva sejak kecil." sahut Rey
"Tidak boleh" tolak Erik tegas.
"Kenapa pi?" tanya Reva bingung.
"Kamu masih kecil, tidak boleh menikah dulu, jangan sampai kamu di sakiti seperti waktu sama Brian dulu"
"Beda pi, ini kan Rey bukan Brian, Rey mah sudah tahu latar belakang Reva. Tidak seperti Brian"
Mana berani Reynand menyakiti Reva, yang ada dia di coret dari Kk oleh kedua orang tuanya, apa lagi mommy nya yang sangat menyayangi Reva seperti putrinya sendiri.
"Sekalinya tidak tetap tidak, kamu masih kecil, papi tidak setuju jika kamu cepat menikah" tegas Erik tak mau di bantah setelah itu ia beranjak dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan mereka.
Viona menghela nafas panjang, lalu melihat ke arah putri sambungnya yang terlihat bingung.
Kalau cuma alasan umur Viona kira itu tidak lah mungkin, pasti ada alasan lain yang mendasari suami nya tidak menyetujui putrinya menikah di usia dini.
"Pulanglah dulu, biar nanti mami yang akan bicara sama papi. Mungkin papi hanya belum rela saja putrinya di miliki orang lain" kata Viona mencoba menjelaskan kepada putrinya.
"Baiklah, kalau begitu Reva sama Rey pulang dulu mam, nanti tolong sampaikan salam sayang Reva untuk papi" ucap Reva dan pamit kepada ibu sambungnya sambil mencium pipi Viona.
Reva dan Reynand pergi dari mansion Erik, Reva yakin maminya bisa membujuk papinya.
*
Sedangkan di sebuah di dalam kamar yang mewah, Erik sedang duduk di sofa sambil menatap kearah keluar dari jendela kamarnya.
Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, hanya Erik lah yang tahu.
Viona membuka pintu kamarnya, ia melihat suaminya sedang duduk termenung, kemudian dia menghampirinya.
"Ada apa? Apa ada yang sedang ingin kamu ceritakan hmmm" tanya Viona lembut sambil duduk di sisi suaminya dan mengelus punggung suaminya.
Erik menghela nafas panjang. lalu menoleh dan menatap istrinya.
"Kenapa? kenapa secepat ini" tanya Erik sambil menatap manik hitam istrinya.
"Apanya" tanya Viona.
"Kenapa putriku secepat ini akan menikah, rasanya baru kemarin aku dekat dengannya"
Viona menangkup kedua pipi suaminya, sambil menatap mata sendu suaminya.
"Bukankah sekarang atau nanti sama saja sayang, Reva pasti akan menikah dan menjadi milik orang lain"
"Kalau begitu tidak usah menikah saja, aku masih mampu memenuhi kebutuhan hidupnya hingga dia tua nanti"
Viona menghela nafas panjang, dia tahu perasaan suaminya, mungkin kalau cuma pacaran suaminya tak masalah, tapi kalau menikah berarti putrinya itu akan menjadi hak milik suaminya.
Dia merasa baru kemarin dekat dengan putrinya, apalagi setelah putrinya itu masuk sekolah Menengah atas, putrinya lebih sering menghabiskan waktu berasama temannya ketimbang dengan dirinya.
"Kalau begitu kau menghalangi kebahagiaan putrimu sayang. Biarkan saja dia menikah dengan Rey, Rey anak baik, bukankah sejak kecil kita juga sudah mengenalnya? lalu apa lagi yang kai risaukan? ,ucap Viona mencoba membuka hati suaminya.
"Apa kamu yakin kalau Rey tidak akan menyakiti putri kita, aku takut dia kembali merasakan sakit hati seperti waktu itu" sahut Erik ragu.
"Kalau kita tidak mencobanya mana kita tahu Rey akan menyakitinya atau tidak. Tapi aku yakin 100% dia tidak akan menyakitknya." ucap Viona.
Erik mencoba mencerna ucapan istrinya, yang menurutnya ada benarnya juga, kalau nanti Rey menyakitinya dia bisa mendatangi rumah Rey dan membawa Reva pergi menjauh darinya.
Sebelum mengambil keputusan Erik mengambil nafas dalam-dalam dulu lalu ia hembuskan.
"Baiklah, aku akan merestui hubungan mereka" ucap Erik.
"Kau papi yang baik, pasti Reva bangga memiliki papi sepertimu" ucap Viona sambil tersenyum manis kepada suaminya.
Erik kuga tersenyum manis membalas istrinya, dan membawa tubuh istrinya kedalam pelukannya.
*
*
"Kau kenapa Kak" tanya Arsen kepada putrinya yang terlihat lesu.
"Papi Erik tidak menyetujui Reva sama Rey pa" lirih Reva.
Buakanya ikut sedih, Arsen justru bahagia mendengar ucapan dari putrinya.
"Ternyata bukan hanya papa saja yang tak menyetujuimu, hahaha" sahut Arsen tertawa senang. Akhirnya ada yang satu suara dengan dirinya.
"Mama gimana ini" rengek Reva kepada sang mama.
"Pelan-pelan saja ya kak, kamu juga kan belum lama pacaran sama Rey" ucap Alisya. membuat Reva mencebikkan bibirnya.
"Kak Leva kenapa" tanya Gavin yang melihat sang kakak sperti sedang kesal.
"Kak Reva tidak boleh menikah sama kak Rey" jawab Reva ngadu ke adiknya.
"Kak Leva bisa nikah lalai sama kak Ley, gampang kan" sahut Gavin nyleneh membuat Arsen dan Alisya melototkan matanya.
Visual Reynand
Bersambung
Happy reading guys 🙏