
"Kapan?" tanya Arsen tiba-tiba kepada Reynand.
"Kapan apanya? Reynand tidak ngerti om" sahut Reynand sambil mengerutkan dahinya, ia tidak paham dengan pertanyaan Arsen.
"Kapan kau akan melamar Reva" jawab Arsen sambil menghela nafas panjang.
"Apa om sudah merestui hubungan Rey sama Reva? kalau memang sudah Rey akan menyuruh Daddy sama mommy untuk melamar Reva" tanya Reynand sambil menatap wajah om nya.
Setelah menyelesaikan makan siang Arsen mengajak Reynand ngobrol berdua, ia ingin memastikan keseriusan Reynand dalam menjalani hubungan dengan putrinya.
"Sebesar apa kamu menyayangi putri om" bukannya menjawab pertanyaan Reynand, Arsen justru bertanya lagi sama Reynand. Membuat Reynand menghela nafas sabar.
Padahal pertanyaan Reynand cukup jelas, Arsen cukup bilang sudah atau belum gitu aja tapi malah muter-muter.
Menghadapi om nya memang harus extra sabar, apalagi ini menyangkut putrinya jadi dia harus memiliki stock kesabaran lebih untuk menghadapinya.
"Rey tidak tahu sebesar apa cinta Rey untuk Reva om, tapi yang jelas Rey akan selalu melindungi serta membahagiakan Reva dengan segenap jiwa Rey om. Meskipun nyawa Rey yang jadi taruhannya Rey akan tetap lakukan demi kebahagiaan Reva." ucap Reynand tegas sambil menatap om nya yang sekaligus menjadi calon mertuanya itu.
Arsen tak meyangka ternyata sebesar itu perasaan Rey terhadap putrinya, bahkan dia rela mengorbankan nyawanya demi sang putri.
"Ajak lah kedua orang tuamu datang kerumah" ucap Arsen semakin membuat Reynand bingung.
"Untuk apa?" tanya Reynand bingung.
"Untuk melamar putri om. Apa kau tidak mau hah" sahut Arsen kesal, menurutnya otak keponakannya itu lemot.
"Apa artinya om sudah merestui hubungan Rey" tanya Reynand memastikan.
"Hmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Arsen, ia terlalu gengsi untuk bilang IYA.
"Yess... " sorak Rey sontak saja langsung memeluk Arsen.
Membuat Arsen langsung mendorong tubuh Reynand.
"Apa kau sudah tidak waras hah, kenapa kau malam memeluk om. Jangan bilang kau menyukai sesama jenis."
Reynand merotasi bola matanya jengah. Yang benar saja dirinya di katai penyuka sesama jenis. Om nya ini kalau berbicara memang tidak ada filternya.
Reynand memilih meninggalkan Arsen dan bergabung dengan yang lain.
"Kamu kenapa honey? kau seperti orang gila yang terus tersenyum" tanya Reva.
PLETAKK....
Reynand menyentil dahi kekasihnya, tadi di katai omnya pwnyuka sesama jenis, dan sekarang di katai kekasihnya kek orang gila. Malang sekali nasibnya Reynand.
"Ssstttt.... Sakit honey kenapa kamu menyentil dahiku" protes Reva sambil mengusap dahinya.
"Lagian kamu kenapa mengataiku orang gila. Aku itu lagi bahagia bukan menjadi gila" ucap Reynand sambil mengusap usap kening Reva.
"Bahagia kenapa?" tanya Reva penasaran.
"Rahasia" sahut Reynand tersenyum sambil menguyel nguyel pipi Reva.
Reynand masih ingin merahasiakannya dari sang kekasih, ia ingin membuat kejutan untuk Reva.
"Bisikin dikit honey, biar yang lain tidak tahu" rengek Reva. Ia penasaran sama rahasia yang di miliki kekasihnya.
"Tak lama juga kamu akan tahu" ucap Reynand sambil menjawil hidung Reva.
"Nanti aku akan mencium mu hoeny, tapi beri tahu aku dulu rahasiamu itu" rayu Reva.
"Kalau aku beritahu namanya bukan rahasia lagi sayang" ucap Reynand terkekeh.
"Papa ayo kita pulang" ajak Reva sambil berjalan menghentak hentakan kakinya. Reva berjalan mendahului mereka.
Reynand hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan kekasihnya itu.
"Sayang kau meninggalkan ku" teriak Reynand membuat Reva menoleh.
"Bodo, aku marah sama kamu" ketus Reva setelah itu berbalik dan melanjutkan jalannya menuju ke parkiran motor.
Reynand justru tertawa keras melihat kekasihnya yang sedang merajuk.
"Kau apakan dia Rey, kenapa dia marah begitu" tanya Arsen bingung.
"Dia hanya sedang kesal sama Rey om" jawab Reynnad sambil tertawa kecil.
Setelah itu Reynand berlari menyusul Reva.Lalu merangkul bahu Reva dari belakang tapi di tepis oleh Reva.
"Jangan marah. Bagaimana kalau kita belanja ke mall" ucap Reynand mencoba membujuk kekasihnya.
"Tidak mau" ketus Reva.
"Baiklah kalau begitu aku ajak Gavin aja" goda Reynand.
Dia tahu kelemahan kekasihnya itu, Reva kalau sedang marah biasanya akan mudah di bujuk dengan iming-iming belanja atau makan.
"Gavin mau ikut kak Rey ke mall tidak" tanya Reynand mengeraskan suaranya supaya bisa di dengar oleh Reva.
"Tidak boleh" sahut Reva cepat membuat Reynand menahan tawanya.
"Kan yang di ajak Gavin, kenapa yang jawab malah kak Leva, dasal aneh" ucap Gavin.
"Biarin saja, kak Rey itu kan pacarnya kak Reva jadi suka-suka kak Reva" sahut Reva tak mau kalah.
"Balu pacal belum jadi istli, nanti kalau di lebut sama pelakol balu tahu lasa" ejek Gavin membuat Alisya membelalakan matanya.
Putranya itu tahu istilah pelakor darimana pikir Alisya.
"Gavin jangan ngomong kek gitu tidak baik sayang. Kamu tahu dari siapa kata pelakor itu" ucap Alisya memperingati putranya, dia juga bertanya dari siapa dia dapat kata-kata seperti itu.
"Dali ibu-ibu di sekolah Gavin, katana suamina di godain sama pelakol" jawab Gavin, Alisya hanya bisa mengelus dadanya sabar.
"Memangnya kamu tahu pelakor itu apa hmm" tanya Alisya.
"Tidak, Gavin cuma dengal kalau pelakol itu olang yang suka lebut suami olang" jawab Gavin dengan polosnya.
"Kamu jangan bicara seperti itu lagi, itu tidak baik" tegas Alisya.
"Baik mama" sahut Gavin patuh.
Terkadang ibu-ibu tidak bisa kontrol ucapannya kalau sedang berada di dekat anak kecil, mereka berpikir kalau anak kecil tidak akan mengerti ucapannya, tapi pemikiran seperti itu sebenarnya salah. Anak kecil justru mudah menangkap apa yang mereka dengar meskipun mereka tidak tahu makna yang sebenarnya.
Inilah susahnya jadi orang tua, di rumah kita berusaha mendidik anak-anak kita dengan sebaik mungkin.
Sedangkan di luar rumah kita tidak tahu karena kita tidak berada di dekatnya selama 24jam, jadi kita tidak tahu dengan siapa mereka bergaul dan dengan siapa mereka berteman. Dan kita juga tidak tahu kalimat apa yang mereka dengar ketika sedang berada di luar rumah.
Karena lingkungan itu sangat mempengaruhi perkembangan anak.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏