Baby Girl

Baby Girl
BAB 143



**Othor ngga bikin konflik yang berat-berat ya guys, karena hidup othor sudah berat jadi othor mau bikin konflik yang ringan saja🙏


jangan lupa like, koment, vote🙏


Happy reading guys💞**


...****************...


Brakkkk....


Terdengar suara pintu di dobrak dari luar,


Nino dan Nessa terlonjak kaget di buatnya.


Terlihat gadis kecil masuk dengan mengguankan pakaian sekolah ke ruangan Nino dengan gaya angkuhnya.


"Om Nino" panggil Reva sedikit menaikkan dagunya.


"Iya Nona? Ada apa nona kemari?" sahut Nino


"Reva kesini mau memecat tante badut itu dari pelusahaan papa, tadi Reva sudah bilang sama papa, dan kata papa Reva boleh pecat tante badut" jawab Reva sambil menunjuk ke arah Nessa.


"Hahahah....kamu hanya anak kecil, bagaimana mungkin kamu bisa memecatku dari perusahaan ini. Kalau mau main jangan di perusahaan ini, lebih baik ke taman bermain sana" Nessa tertawa meremehkan Reva.


"Oh jadi tante badut menantang Reva" ucap Reva sinis. "Om Nino tolong telpon papa sekarang, biar tante badut ini percaya kalau Reva bisa pecat dia dari pelusahaan papa" perintah Reva dengan gaya sok bossy.


Nino yang sudah pusing pun akhirnya menuruti perintah dari nona kecilnya, dia juga penasaran dengan ucapan Reva. Bagaimana mungkin Aren memperbolehkan Reva memecat karyawannya.


Nino merogoh kantong celananya dan mengambil ponselnya.


Lalu Nino memncet nomer telpon Arsen dan menghubunginya.


"Hallo tuan" sapa Nino ketika panggilannya terhubung, dia juga menloadspeaker panggilannay supaya bisa di dengar oleh Nessa.


"Ada apa kau menelponku No, biasanya kamu langsung datang ke ruanganku" sahut Arsen dari sebrang sana.


"Anu tuan, non Reva memecat Nessa, apa benar tuan sudah mengijinkannya?" tanya Nino.


"Oh masalah itu, iya aku yang menyuruhnya" jawab Arsen santai.


Nino tercengang dengan jawaban bos nya itu, ternyata bos nya itu sengaja melibatkan Reva untuk mengusir Nessa dari perusahaanya.


"Baiklah tuan" ucap Nino mengakhiri panggilannya.


Nino memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya.


"Sekalang, tante percaya kan...kalau Papa lah yang menyuruh Reva pecat tante, siapa suruh tante menghina mama Reva." ucap Reva denagn senyum penuh kemenangan.


"Om Nino, suruh tante badut itu segela pergi dari kantor papa. Reva mau balik ke ruangan papa" perintah Reva seraya pamit meninggalkan ruangan Nino.


Nino menghela nafas pasrah, ternyata gadis kecil itu tak jauh beda dengan papanya. Tegas dan tak mau di bantah.


"Tunggu apa lagi Nessa, sekarang kemasi barang-barang mu dan cepat pergi dari kantor ini" tegas Nino.


"Tapi pak, bapak tidak bisa mecat saya dengan alasan yang tak jelas" kekeuh Nesaa.


"Apa ucapan nona Reva kurang jelas hah, asal kamu tahu kalau nyonya Alisya itu istri kesayangan tuan Arsen, bahkan kalau Nyonya meminta tuan Arsen membunuhmu pun dengan senang hati tuan Arsen akan melakukannya." balas Nino.


Nessa mengepalkan tangannya erat. Dengan terpaksa dia mengemasi barang-barangnya, dia akan pikirkan caranya nanti untuk menjatuhkan Alisya di depan Arsen.


"Ternyata tuan Arsen bertindak cepat" gumam Nino.


*Flasback on*


Arsen yang curiga dengan tingkah tak biasa Nessa kepada dirinya pun akhirnya menyuruh Nino untuk mencari tahu seluk beluk tentang Nessa.


"Apa yang kamu dapatkan No" tanya Arsen.


"Semua ada di berkas itu tuan" jawab Nino sambil memberikan map itu kepada Arsen.


"Terima kasih, kau boleh keluar" ucap Arsen.


Setelah Nino keluar, Arsen membuka map yang baru saja di berikan Nino kepadanya.


Arsen membaca isi map tersebut dengan serius, dia tak ingin melewatkan informasi satupun tentang Nessa.


"Ck, ternyata duagaanku benar, dia sengaja melamar perjaan di sini untuk mendekatiku. Dasar keluarga tak tahu malu" kesal Arsen setelah membaca informasi tersebut.


*Flasback Off*


Setelah mengetahui maksud dan tujuan Nessa, Arsen berencana memecat Nessa, dia tidak mau terjadi sesuatu dengan rumah tangganya, dan kebetulan ada kejadian dimana Nessa menghina istrinya, jadi Arsen menggunakan alasan itu untuk memecat Nessa.


...****************...


Reva kembali dengan wajah sombongnya menatap wajah mamanya.


"Kenapa kamu menatap mama seperti itu" tanya Alisya yang tak suka di tatap putrinya dengan wajah sombongnya.


"Mama payah, sekarang Reva sudah pecat tante badut itu, jadi sekarang papa aman dari gangguan tante badut. Mama harus berterima kasih sama Reva" jawab Reva dengan sedikit mengejek mamanya.


Alisya mendengus kesal sambil melengoskan wajahnya.


"Haiss....anak papa hebat, sudah bisa memecat orang" puji Arsen bangga sambil tertawa puas.


"Reva gitu lho" ucap Reva sambil mengibaskan rambut panjangnya.


Arsen tertawa gemas meraih tubuh putrinya, lalu membawanya ke dalam pelukannya.


Arsen percaya kalau suatu hari nanti putrinya biasa menjadi pembisnis yang handal, sikap tegasnya sudah kelihatan sejak dini.


"Ayo kita pulang, lihat mereka sudah mengantuk" ajak Arsen sambil menunjuk wajah ketiga anaknya yang sudah dengut-dengut.


"Memangnya pekerjaanmu sudah selesai honey" tanya Alisya.


"Sudah, biar Nino yang melanjutkannya" jawab Arsen cuek.


Begitulah Arsen, dia akan meluangkan waktunya untuk keluarga di sela-sela kesibukannya dalam bekerja.


Dia tetap tidak mau kehinlangan melihat tumbuh kembang anak-anaknya.


Arsen menggendong Rachel yang sudah terlelap sambil menggandeng tangan Reva, sedangkan Alisya mendorong stroller Revan Dan Ravin.


Mereka berjalan keluar dari kantor, banyak karyawan yang kagum dengan sosok Arsen, Apa lagi Arsen sambil menggendong dan menggandeng putrinya, kegantengan Arsen semakin bertambah.


Banyak hati karyawannya menjerit melihatnya, mereka berharap mendapatkan sosok pendamping seperti Arsen.


"Aku dengar tadi nona Reva memecat sekretaris Nessa" ucap Karyawan A.


Mereka mulai bergosip setelah memastikan bos nya itu pergi dari kantor.


"Hah? Serius kamu? Bagaimana mungkin nona Reva yang masih kecil bisa memecat sekretaris Nessa yang sombong itu" sahut karyawan lain, yang cukup terkejut mendengar kabar tersebut.


"Nona Reva tidak terima sekretaris Nessa menghina nyonya Alisya, makanya dia memecat sekretaris Nessa atas ijin tuan Arsen" jawabnya.


Prok


Prok


Prok


"Benar-benar bibit unggul, pasti nona Reva terlihat keren pas waktu memecat sekretaris Nessa, sayang aku tak melihatnya"


Khemmm


Tiba-tiba mereka di kagetkan dengan deheman Nino yang baru saja keluar dari lift.


"Kerja, bukan malah bergosip, atau kalian ingin menyusul Nessa keluar dari sini" tegur Nino tegas.


"Tidak tuan" sahut mereka kompak.


Mereka langsung bergegas kembali ke mejanya masing-masing.


"Ck, sudah pasti nona Reva terlihat keren, aku saja terpesona melihat keberanianya." batin Nino memuji Reva.


*


*


Sedangkan di salah satu rumah mewah yaitu rumah orang tua Nessa.


"Kenapa kamu jam segini sudah pulang Nes" tanya mama Nessa.


"Nessa di pecat sama anak Alisya mam" jawab Nessa dengan wajah yang di tekuk.


"Bagaimana bisa kamu di pecat sama anak kecil, bikin malu saja kamu" ucap Mama Nessa.


"Tadi Nessa keceplosan menghina Alisya di depan tuan Arsen mam, makanya tuan Arsen menyuruh putrinya memecat Nessa" jelas Nesaa semakin membuat ibunya marah.


"Kamu terlalu ceroboh Nessa, kalau seperti ibu bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan hati tuan Arsen" hardik mama Nessa.


"Mama kira mudah mendekati tuan Arsen, bahkan hampir setahun lebih Nessa tidak bisa mendekatinya, bahkan membuat dia memandang Nessa saja susah" gerutu Nessa.


"Tidak ada cara lain, kamu buka saja bukti tentang anak haram Alisya di media, biar semua orang membenci Alisya termasuk Arsen, tak mungkin tuan Arsen akan mempertaruhkan nama besarnya demi Alisya dan anak haramnya itu" usul mama Nessa.


Bersambung